THE LAST DANCE

“Miss, pentasnya kapan sih?”

“Hmm…mungkin pertengahan November.”

“Oh. Aku udah mulai ngekos nih, Miss, abis lebaran.”

“Yaaah. Jadinya ngekos di mana?”

***

That was my last dance. That was my very last thank you.

Jumat, 25 Juli 2014 adalah titik akhir dari 13 tahun perjalanan saya menari ballet. Hari terakhir. Pertemuan terakhir. Tidak menari ballet lagi. Sedih, tentu. Ibaratnya seperti tidak akan makan ayam goreng lagi—makanan favorit saya—setelah selama hidup di dunia ini hanya bisa makan ayam goreng. Sedih. Dan kehilangan.

Menengok ke belakang, saya sudah menjadi murid ballet sejak usia 4 tahun. Sejak semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni saya ikuti—ballet, lukis, piano, vokal—dan akhirnya yang bertahan hingga sekarang hanya ballet (berhenti belajar lukis dan vokal karena kendala waktu, berhenti belajar piano karena malas latihan jadi jarang ada kemajuan). Hanya ballet yang bertahan, dan dipertahankan.

Selama 13 tahun belajar ballet, mood saya tidak selalu sama. Ketika memasuki usia 12-13 tahun, saya mulai malas ballet. Selalu mencari alasan untuk tidak masuk les—”Capek ah, Ma!”, “Duh, Cici banyak tugas nih.”, “Ya udah telat dong Ma kalo dateng jam segini.”, “Gapapa, lagi males aja. Minggu depan deh pasti ngeles.”—sampai akhirnya saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada Mama saya, “Ma, Cici boleh berhenti ballet gak?” Sesuai dugaan, hujan wejangan keluar dari mulut Mama saya—”Nggak, nanti kamu gak ada olahraga lagi!” Ya hanya wejangan itu sebenarnya yang saya ingat—dan tentunya tidak dikabulkan, setelah Mama saya menuruti kemauan saya untuk keluar dari les Mandarin. Dan selama tahun-tahun itu, saya semakin kreatif mencari alasan untuk menghindar dari les ballet.

Menjelang tahun-tahun terakhir di SMP, saya merasa ada sebagian dalam diri saya yang menginginkan perubahan. (Dan perubahan itu memang terjadi.) Saya menambah kelas ballet menjadi dua kali seminggu dan selalu menyisihkan waktu untuk ballet di hari Rabu dan Jumat. Saya tidak malas lagi, saya bisa menemukan kesenangan dalam menari ballet lagi, dan teknik ballet saya mengalami kemajuan. Tapi justru di tengah kemajuan itu, saya harus “rehat” dari ballet selama 7 minggu untuk persiapan Ujian Nasional. (Oh, oh, astaga.)

Setelah semua persiapan dan ujian sekolah selesai, semangat ballet saya tidak hilang. Saya tetap rajin masuk les, teknik saya sudah jauh lebih baik, dan bisa mengingat semua gerakan yang diajari. Puncak meningkatnya semangat ballet saya adalah ketika akan menghadapi ujian grade 8. Saya tahu bahwa ujian ini mungkin adalah ujian terakhir untuk saya (karena saya sudah memutuskan untuk berhenti ballet saat kuliah nanti) sehingga saya menargetkan untuk mendapat predikat distinction. Saya selalu datang tepat waktu saat les, ikut semua les tambahan persiapan ujian, berusaha menari dengan feel, dan melakukan masukan-masukan dari guru saya sebaik mungkin. Tapi, ujian itu gagal. Saya salah menarikan gerakan yang seharusnya sudah saya ingat luar kepala, kemudian saya mengacaukan tarian berikutnya karena sudah tidak fokus dan terlalu terpukul. Ah, ucapkan selamat tinggal pada predikat distinction. (Ketika hasil ujian keluar, hasilnya lebih baik dari yang saya perkirakan. Saya masih mendapat predikat merit, hehehe.)

Saya senang pernah belajar ballet. Saya senang pernah menjadi murid ballet. Saya senang karena saya pernah memutuskan (mengikuti keputusan Mama sebenarnya) untuk tidak berhenti ballet. Ballet memberikan saya hak untuk melepaskan semua beban pikiran atau amarah melalui gerakan-gerakan dan lagu-lagunya. Ballet memberikan saya kewajiban untuk menjadi diri saya sendiri dan membuat sebuah gerakan bersatu dengan diri saya sesuai style dan feel yang saya punya. Ballet telah memberikan saya kebebasan dan kebahagiaan, yang mungkin tidak saya temui dalam kegiatan lainnya sehingga hanya ballet yang bertahan. Yang mendapat tempat di hati saya. Yang susah saya lepaskan karena akan ada yang kurang. Hilang.

Ah, saya tidak mengira akan sesedih ini. Terlalu banyak kenangan manis selama menari ballet. Tarian bermain pasir saat masih kecil, menggunakan anting yang harus disambung dengan karet karena saya tidak punya lubang anting di telinga, ada yang mengompol saat les, teman-teman ballet yang terus berganti karena saya termasuk murid paling bertahan, masa-masa merasa sebal sama Angel karena dia sangat bagus dalam menari ballet yang mungkin menjadi sebab saya malas masuk les dan setelah dia berhenti les kemudian saya menjadi rajin, ngetawain Gaby yang sering lola saat diajarkan gerakan baru, sering ngobrol sama Kathy sampai ditegur Miss Susan, dan…oiya! And there’s Miss Susan.

Miss Susan. Begitulah saya memanggil guru ballet saya. Guru ballet saya yang sudah memasuki usia kepala 5 tapi ukuran tubuhnya bahkan lebih kecil daripada saya. Sangat talented. Sangat sabar. Sangat banyak pengalaman. Sangat anggun. Sangat elegan. Saya sungguh ingin memutar balik waktu dan menonton Miss Susan ketika menjadi penari ballet dulu. Dan hari Jumat kemarin, tepuk tangan yang diiringi ucapan “Thank you Miss Susan. Good bye Miss Susan.” menjadi yang terakhir bagi saya. Thank you and good bye, Miss Susan. And my beloved ballet friends.

***

“Di Depok, Miss.”

“Oh, kamu keterima ya di UI?”

“Iya, Miss, keterima makanya kos di Depok.”

Ada rasa bangga dan sakit ketika menjawab pertanyaan itu. Ketika tahu sebentar lagi ada yang hilang.

Dan mungkin ada yang baru untuk menggantikan.

JAKARTA (BUKAN) CUMA SEBUAH BENCANA

“Jakarta itu kaya luar negri ya.” Untuk pertama kalinya, saya mengatakan hal itu ketika hari ini naik Transjakarta menuju Kota. Apa yang saya lihat selama di dalam bus dan apa yang saya lihat ketika naik kendaraan umum di luar negri, ya kurang lebih hampir sama. (Para wanita di bagian depan dan para lelaki di bagian belakang atau sebagain wanita dan sebagian lelaki berbaur di bagian tengah, yang beruntung bisa mendapatkan kursi lalu duduk dan menikmati perjalanan, yang kurang beruntung bisa berdiri memasrahkan nasib keseimbangan tubuhnya pada pegangan yang telah disediakan.) Kecuali macetnya. Kecuali orang-orangnya yang tidak mau bersabar sedikit untuk masuk ke dalam bus sehingga harus terjadi adu dorong. Kecuali trotoarnya yang digunakan sepeda motor bukan pejalan kaki. Kecuali…

Tujuan pertama hari itu adalah Museum Bank Indonesia. (Tidak ada alasan tertentu mengapa mengunjungi museum ini lebih dulu, ya karena museum ini yang buka paling pagi, yaitu 08.30, maka kami langsung melangkah ke sana.) Masuk ke gedung museum ini, kami disuguhkan dengan ruang-ruang seperti kamar berukuran kecil yang dulu digunakan untuk transaksi antara teller dan nasabah pada zaman Belanda. (Museum ini dulunya memang berfungsi sebagai bank, De Javasche Bank namanya.) Komunikasi antara teller dan nasabah selama transaksi berlangsung dipisahkan oleh jeruji-jeruji, bukan bertatap muka secara langsung seperti di bank-bank sekarang ini, mungkin untuk menghindari adanya perampokan atau hal lain yang tidak diinginkan. Di ruangan berikutnya, disajikan perjalanan uang mulai dari zaman Marco Polo hingga sampai di genggaman masyarakat Indonesia, hingga peredarannya dari zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, jatuh-bangun inflasi, krisis moneter, dan saat ini. Informasi yang disajikan cukup menarik dengan adanya diorama-diorama berukuran sebesar manusia (bukan dalam bentuk kecil seperti di Lubang Buaya) dan dikelompokkan per periode sesuai zamannya. Di ruangan lain, kami menemukan koleksi uang dari zaman kerajaan yang bentuknya hanya sebesar kancing baju hingga uang kertas dengan seri Jenderal Soedirman!

Diorama berukuran sebesar manusia - Peletakkan logo
Diorama berukuran sebesar manusia – Peletakkan logo “BI” setelah nasionalisasi De Javasche Bank
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Bagian tengah Museum Bank Indonesia
Bagian tengah Museum Bank Indonesia

Jika sudah menonton film Comic 8, pasti tidak asing dengan setting-nya, yaitu di bank. Bank yang digunakan sebagai latar tempat film tersebut adalah Museum Mandiri. Museum yang terletak bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia ini terkesan lebih old dan lebih berasa vintage-nya. Terdapat banyak koleksi mesin tik, alat pemotong kertas, mesin penghitung uang, dan yang membuat saya sangat tertegun dan “waaah!” adalah lift pengantar surat! Lift ini sudah tidak berfungsi lagi, hanya ada kertas bertuliskan “Lift Pengantar Surat” di depannya sehingga saya tahu ini adalah lift pengantar surat. Lift ini letaknya di dalam tiang penyangga dan bisa mengantar surat naik ke atas atau turun ke bawah sehingga memudahkan komunikasi para pegawai. Itu hanya asumsi saya.

Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik
Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik

Menyebrang sedikit, kami sudah sampai di Taman Fatahillah yang luas. Sebelum memasuki museum yang berisi sejarah kota Jakarta itu, kami memanjakan mata di Jakarta Artspace yang terletak di lantai dua Kantor Pos Fatahillah. Dibutuhkan beberapa lembar rupiah untuk menikmati karya seniman-seniman di pameran ini, yaitu Rp 25.000,00 untuk pelajar dan mahasiswa dan Rp 50.000,00 untuk umum. Seperti pada pameran lainnya, banyak karya seni yang, saya pribadi, tidak mengerti apa arti dan maksudnya namun ada juga karya seni yang membuat saya sadar dan terhenyuk. Tapi, itulah seni. Diinterpretasikan orang secara berbeda sesuai selera masing-masing, kan? Itulah juga mengapa saya suka melihat pameran seni. Tidak perlu orang yang pintar untuk menikmati seni. Kalau saya tidak mengerti seni yang Anda buat, bukan berarti saya bodoh, melainkan interpretasi seni saya yang berbeda dengan interpretasi Anda. (Ah, sudahlah.)

IMG_0200

IMG_0210

IMG_0216

Walalupun kaki sudah merengek ingin berhenti, kami tetap memaksa mereka untuk melangkah sedikit lagi menuju Museum Fatahillah. Sayangnya, museum ini baru saja selesai mengadakan konservasi sehingga banyak barang yang mungkin dipindahkan atau belom dikembalikan ke tempat semula sehingga banyak ruangan yang kosong atau tidak terisi secara lengkap. Meriam Si Jagur saja tidak terlihat di singgah sananya. Kami juga harus menggunakan sandal yang disediakan pengelola museum selama menjelajahi museum ini, entah apa maksudnya.

Bagian depan Museum Fatahillah
Bagian depan Museum Fatahillah

Pemberhentian terakhir adalah Museum Wayang. Sesuai dengan namanya, baru menjajakkan kaki di pintunya saja kami sudah disambut dengan wayang-wayang dari kisah Ramayana dan Punakawan. (Ternyata Bagong memang memiliki perut yang besar ya dalam bentuk wayangnya!) Selanjutnya, ada koleksi boneka Si Unyil dan kawan-kawannya, Si Jampang dan orang-orang Belanda, serta kisah Mahabharata. Sangat kecewa karena saya tidak bisa menemukan wayang Ekalaya.. Terdapat juga wayang-wayang dari luar Indonesia, seperti dari India dan Brunei Darussalam. Boneka-boneka kayu dari negara-negara Eropa juga menjadi koleksi Museum Wayang.

Koleksi boneka Si Unyil
Si Unyil dan kawan-kawan

Eksplorasi hari itu membuat saya yakin akan satu hal. Jakarta, bukan cuma sebuah bencana. Ya, mungkin Jakarta adalah sebuah bencana, tapi bencana yang akan segera usai, yang sudah menemukan titik terang untuk bangkit memulai hidup baru dari keterpurukan yang diakibatkan bencana itu. Jakarta adalah sebuah kebobrokan, tapi Jakarta juga adalah sebuah harapan. Harapan inilah, yang walaupun hanya sebesar biji jagung, harus dipertahankan untuk mengubah kebobrokan itu. Untuk menjadikan Jakarta sama kerennya seperti kota-kota besar di luar negri tanpa ada “kecuali…”.

Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga
Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga

MENUNGGU

Kata orang, menunggu adalah hal yang paling membosankan, hal yang paling dibenci, hal yang menghambat pekerjaan ini dan pekerjaan itu. Kataku, definisi menunggu tergantung pada suasana hati Anda. Ketika Anda sedang jengkel atau kesal, menunggu adalah momen di mana satu menit terasa seperti satu abad. Jarum panjang dan pendek yang bergerak tanpa henti seolah sedang mogok kerja bagi Anda, diam dan tak ubah. Udara panas Jakarta yang sudah biasa Anda rasakan setiap hari, bagaikan api neraka yang menggerogoti tubuh Anda. Pernyataan-pernyataan mengeluh keluar setiap detik dari mulut Anda. Rasanya, Anda hanya ingin marah karena telah dibuat menunggu, dibuat merasakan satu abad dalam neraka. Berbeda dengan suasana hati yang sedang damai dan tenang, menunggu adalah kegiatan paling menarik yang bisa mengasah kreativitas otak. Imajinasi.

Aku berdiri dalam keramaian yang sunyi, menjauh dari kerumunan orang, menunggu. Ketika pandangan mata ini beredar, kutemukan sesosok manusia, sepasang manusia, satu kelompok manusia, sesosok manusia lagi, sepasang manusia lagi, satu kelompok manusia lagi, dan lagi, lagi, lagi.

Sesosok manusia yang kutemukan berada pada arah pandang di sebelah kanan. Laki-laki, kira-kira usianya dua puluh akhir menjelang tiga puluh tahun. Sendiri… oh, aku lupa, dia bersama teman kecilnya, sebatang rokok. Dia menyalakan rokok itu dan mulai menghisapnya dan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya tanpa rasa bersalah, seolah semua orang di dunia ini adalah perokok. Tak tau apa yang dia cari dari sebatang rokok, namun dari wajahnya, dia bukan tipe orang yang sedang mengalami beban dan tekanan sehingga menjadikan rokok sebagai pelarian, wajahnya lebih menunjukkan keangkuhan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa sebatang rokok, tanpa ribuan batang rokok, bahwa dia adalah perokok sejati.

Ketika arah pandang ini berpidah 180 derajat dari posisi awalnya, kutemukan sepasang kekasih duduk bersebelahan dengan jarak yang tak lebih jauh dari renggang pada gigiku ini, hehe. Mereka bercerita dan terus bercerita. Muka si perempuan tampak sesekali muram dan si pria mulai merokok dan mereka masih terus berbincang. Aku telaah dari gerak-gerik mereka, pembicaraan itu bukan mengenai hubungan mereka yang makin menjauh atau ada kesalahpahaman di antara mereka, tidak, tidak, menurutku si perempuan sedang menceritakan masalah dalam hidupnya, entah pekerjaan atau teman atau keluarga, dan untuk mencairkan suasana tegang, si pria pun mulai merokok dan terus mendengarkan sementara si perempuan terus berbicara.

Kugerakkan kedua bola mataku sekali lagi dan beberapa meter dari tempat aku berdiri, aku temukan dua lelaki. Skinny jeans, kemeja yang dikancing sampai kancing paling atas hingga menyesakkan leher, press-body, sepatu branded, rambut cetar membahana dengan seribu rupa gel rambut, dan tak lupa sebuah gadget di tangan. Mereka sedang menunggu taksi, berdua. Mereka sehabis menghabiskan waktu di mall, berdua. Entah mereka adalah pasangan, entah hanya teman sepermainan. Ah, di sini terlalu banyak lelaki, yang berdua.

Selesai arah pandang dan kepalaku berputar, lalu kembali ke posisi semula, aku masih menunggu. Menunggu bersama gema klakson mobil-mobil yang bersliweran di depanku, datang menurunkan penumpang atau menjemput majikan. Ramai, sungguh ramai, namun manusia-manusianya hanya diam dalam keramaian ini, terjun bebas dalam lamunan masing-masing. Tetapi ketika dua taksi berhenti tepat di hadapanku dan turunlah sekelompok manusia Kaukasia, pikiran kami, manusia-manusia yang menunggu, telah melebur menjadi satu. Memperhatikan sekelompok manusia itu, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan baru datang pukul segini (bukan belanja, yang jelas), mengagumi pakaian mereka yang modis dan wajahnya yang rupawan, terus mengamati mereka yang tampak kebingungan harus masuk lewat mana untuk menuju ke dalam mall karena pintu utamanya sudah ditutup. Dan mereka pun, sekelompok manusia Kaukasia itu, tidak terlihat risih sedikitpun memerangi tatapan-tatapan mata kami. Ah, mereka sudah terbiasa tampaknya menjadi pusat perhatian.

Mobil-mobil mewah masih berlalu lalang, klakson dari mobil-mobil berisi manusia tak bisa sabar tetap berkumandang, yang lain tetap menunggu. Entah apa yang mereka tunggu.

Aku pun menunggu, dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans, tak lupa menggunakan sepatu hitam bertotol putih kesayanganku, aku masih menunggu. Aku melayang dalam lamunanku, bermain-main dengan imajinasiku. Ketika kembali sepenuhnya ke dunia nyata, aku tetap menunggu.

Menunggu. Toh malam masih panjang.

Menunggu. Aku harus sabar.

Menunggu. Aku mulai gusar.

Menunggu.

Aku tunggu…

Ayahku pun tiba menjemput dengan mobil hitam kesayangannya.

Dan setelahnya, aku pun menunggu, menunggu sampai di rumah dan melepaskan semua rasa lelah ini.

(Plaza Indonesia, 14 September 2013)