FROM KONNICHI WA TO ARIGATOU

Bukan seorang penggemar anime atau apapun yang diproduksi Jepang, namun negara ini menyuguhkan hal-hal yang tetap bisa mencuri hati saya. Melalui foto-foto ini, saya ingin bercerita tentang Jepang dan apa yang membuat saya ingin kembali ke sana.

***

Processed with VSCO with a6 preset

Pertama sampai di Jepang, saya langsung jatuh cinta dengan gang-gang yang saya lihat, salah satunya gang yang ada di chinatown di Kobe  di mana foto di atas diambil. Penampakan kebanyakan gang di Jepang mirip dengan yang ada di kartun-kartun yang sering saya tonton saat kecil, seperti Doraemon, mulai dari pertokoan, rumah, mobil, sampai tiang lisrtiknya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mencoba street food di suatu negara adalah wajib hukumnya. Dan itulah salah satu hal yang saya lakukan di Jepang. Saya mencoba onde-onde berisi kacang merah, yang saya lupa namanya apa, sate crabstick, dan sate chicken karage. Sebetulnya masih banyak street food lainnya yang menggoda mata, namun apa daya lambung dan usus tak kuat menampungnya. Es krim rasa green tea juga sangat sering dijumpai di tempat-tempat wisata. Paha bawah ayam yang ukurannya dua kali lebih besar daripada ayam KFC juga sempat menarik perhatian saya. Takoyaki yang biasanya dijumpai di mall-mall di Jakarta, bahkan ada di depan toko-toko di pinggir jalan.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dari foto di atas. Pertama, foto ini diambil saat Indonesia sedang merayakan hari Lebaran pertama dan Jepang tidak merayakannya karena mayoritas penduduk Jepang beragama Shinto. Aktivitas sekolah maupun kerja berlangsung seperti biasanya. Kedua, seragam sekolah siswa-siswa di Jepang terlihat sederhana, warna dan bentuknya, dan rok seragam perempuannya tidak sependek yang ada di kartun-kartun. Ketiga, persimpangan jalan di Jepang sangat disiplin dan rapih. Semua kendaraan mematuhi lampu lalu lintas yang berlaku sehingga jarang sekali terjadi kemacetan dan pejalan kaki juga mendapatkan hak sepenuhnya untuk menyeberang jalan. Motor yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota di Jepang bukanlah sebuah pemandangan umum, alias sangat sedikit jumlahnya. Keempat, ada dua jenis plat kendaraan di Jepang, yaitu plat kuning dan putih. Perbedaan dari kedua warna plat ini adalah besarnya cc dari kendaraan tersebut, yang akan membedakan pula besarnya pajak yang harus dibayar.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Saya senang mengunjungi berbagai toko pernak-pernik di Jepang. Walaupun yang dijual kurang lebih hampir sama (gantungan kunci, gunting kuku, kipas, sandal, kartu pos, kertas washi, tas, miniatur bangunan-bangunan ternama, tempelan kulkas, mochi, cokelat, dan masih banyak lagi), tetapi suasana dan peletakan barang-barang yang dijual sangat lucu dan menarik. Selain itu, pramuniaga yang melayani juga sangat ramah dan sopan. Selesai membayar barang yang akan dibeli, barang tersebut akan dibawakan dan diberikan kepada pembelinya saat mereka akan keluar dari toko, kemudian pramuniaga tersebut akan mengucapkan “Arigatou!” sambil membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda hormat dan terima kasih.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca sebuah artikel di majalah National Geographic Traveler tentang sebuah desa di Jepang. Desa tersebut kemudian dijadikan sebagai situs atau tempat wisata, yang dikenal dengan Shirakawa-go. Rumah-rumah di dalam desa tersebut kebanyakan berarsitektur sama: atap berbentuk segitiga dengan sisi miring yang sangat curam dan tebal yang disusun dari jerami. Bentuk yang demikian berfungsi untuk menahan salju saat musim dingin tiba (salju jadi akan jatuh ke bawah dan tidak menggumpal di bagian atap). Salah satu rumah memang sengaja dibuka untuk dikunjungi oleh wisatawan dan rumah tersebut memiliki lima sampai enam tingkat (digunakan untuk menyimpan berbagai jenis barang yang dimiliki tuan rumah) karena atapnya yang tinggi. Selain itu, pertanian juga menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk di sana dengan banyaknya hamparan sawah yang terlihat di sana. Namun, nama desa yang identik dengan kata ‘tradisional’ tidak sepenuhnya melekat pada desa satu ini. Hampir di setiap rumah terlihat mobil atau motor di depannya yang digunakan untuk keperluan pergi ke kota. Cerita tentang Shirakawa-go yang saya baca di majalah NatGeo Traveler sesuai dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke sana kemarin (lebih baik mengunjungi Shirakawa-go saat musim dingin karena salju akan turun dan mulai menutupi rumah-rumah di desa tersebut).

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mengunjungi beberapa kuil di Jepang, ada satu hal sama yang sering saya temukan: fortune teller. Karena keterbatasan bahasa dan belum rela mengeluarkan sejumlah uang, saya jadi tidak mencobanya dan hanya mengamati dari jauh orang-orang yang menggunakan “jasa” ini. Cara kerja fortune teller ini adalah dengan menuliskan harapan kita pada sebuah kertas. Kemudian, kita akan mengambil satu tongkat pendek yang diaduk atau dicampur dengan tongkat pendek lainnya dalam sebuah gelas. Setiap tongkat pendek tersebut memiliki nomor masing-masing. Nomor yang kita pilih akan ditukar dengan tulisan yang akan menggambarkan “nasib” atau harapan yang sudah kita tulis sebelumnya. Biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan “jasa” fortune teller ini kurang lebih sebesar ¥200 atau Rp26,000,00.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ginza, Tokyo. Surga bagi para penggila belanja. Di sepanjang jalan di Ginza, toko-toko brand lokal Jepang maupun yang ternama berjejer menanti datangnya para pengunjung. Uniqlo dengan dua belas lantai juga turut meramaikan daerah ini. Di akhir pekan, mulai sore hari, jalanan di Ginza akan ditutup untuk kendaraan sehingga pengunjung bebas menyeberang jalan dan berfoto ria seperti yang tertangkap dalam foto di atas. Mungkin butuh satu hari penuh untuk memasuk semua toko yang ada di Ginza, ditambah satu mall di ujung jalannya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ramalan cuaca di Jepang patut diacungi jempol. Jika hari ini diramalkan cerah, maka matahari akan berada di singgah sananya sepanjang hari. Jika besok diramalkan hujan, maka hujan akan turun satu hari penuh dan payung harus selalu siaga di hari itu. Karena ramalan cuaca yang akurat, hujan tidak menghentikan aktivitas orang-orang Jepang. Mobilitas mereka tetap tinggi, berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, ditemani payung-payung yang kebanyakan berjenis transparan. Saya juga menemukan sebuah toko yang menjual payung dengan warna polos, tetapi akan keluar motif tertentu jika terkena air. Wah!

*

Processed with VSCO with a6 preset

Kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo, kurang lebih mirip seperti Jakarta. Gedung-gedung perkantoran yang tinggi, padat bangunan perumahan, banyak kendaraan dan macet, dan dipenuhi banyak orang. Oleh karena itu, saya lebih senang berada di kota-kota kecil Jepang, seperti Nara. Tidak terlalu padat dengan bangunan, kendaraan, dan orang. Akan tetapi, kesamaan dari kota besar dan kota kecil di Jepang adalah jam beraktivitas orang-orangnya. Kebanyakan toko dan mall sudah tutup pada jam sembilan malam, begitu juga jalanan yang mulai sepi. Hanya stasiun kereta yang masih beroperasi hingga larut malam.

***

Masih banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari Jepang, yang menarik dari Jepang, yang membuat ingin kembali ke Jepang. Mulai dari Gunung Fuji yang menjadi tempat favorit untuk bunuh diri, tingkat kelahiran yang rendah hingga pemerintah Jepang bersedia membiayai kelahiran anak pertama dan kedua, jam kerja supir bus yang harus dua belas jam dan tidak boleh lebih, orang-orang yang tidur di depan vending machine di stasiun karena kelelahan bekerja, sampai pemandian air panas atau onsen tanpa menggunakan sehelai benang untuk menutupi anggota tubuh.

This post is how I viewed Japan, from day one to day six, from konnichi wa to arigatou.

Advertisements

SINAR TERAKHIR

Di antara lapisan awan
dan ribuan bintang
aku memilihmu
yang selalu memberi senyum terindah

Tapi pilihanmu bukan aku
kau selalu pergi
bersama kawan-kawanmu
meninggalkanku yang berusaha menangkapmu

Aku memilihmu
sebab rinduku hanya untukmu
dan di setiap sinar terakhirmu
aku akan menunggu

(Kelas Penulisan Populer, 7 Maret 2016)

SABALEH HARI DI RANAH MINANG

Selamat datang di Sumatera Barat, di mana hamparan pantai serta barisan gunung ada di kanan-kiri jalan dan puluhan piring makanan enak selalu menghiasi setiap hari.

Saya menginjakkan kaki di tanah Minang tanpa banyak persiapan: untuk keterasingan. Cina, tidak berkerudung, tidak bisa sedikitpun bahasa Minang. Kombinasi yang pas untuk membumbui perjalanan ini.

*

HARI 01: Pesisir Selatan

Tujuan pertama adalah Mandeh. Layaknya Kepulauan Seribu, Mandeh juga membutuhkan kapal untuk mengantar para pengunjung menuju beberapa pulau dan sebuah hutan mangrove di dalamnya. Air lautnya masih sangat biru dan bersih, pulau-pulaunya masih banyak yang perawan tanpa penghuni, ikan-ikan dan terumbu karangnya sangat cantik dan indah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kapal yang mengantar ke pulau-pulau di Mandeh
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Gede: sangat sepi jika dikunjungi di hari kerja
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Setan: pelangi yang tiba-tiba muncul

Tujuan utama ke Mandeh adalah high cliff jumping. Salah satu pulau di Mandeh, Pulau Sironjong Ketek, menyediakan “jasa” untuk lompat dari puncak tebingnya. Tak pernah saya pikirkan sebelumnya bahwa memanjat tebing dengan bantuan tali adalah satu-satunya cara untuk sampai ke puncak tebing tersebut. Di ketinggian sekitar enam meter, bapak empunya kapal meneriaki saya untuk lompat dari situ saja—mungkin kemampuan memanjat saya yang kurang meyakinkan atau muka saya yang mulai pucat, lompat dari ketinggian sepuluh meter, seperti yang dilakukan kebanyakan pengunjung pulau ini, harus dikurangi empat meter. Selama sekitar sepuluh menit, saya asik dengan ketakutan saya sendiri: “Eh aduh gimana nih!”, “Duh kenapa sih mau nyoba?!”, “Aduh aduh aduh.”, “Lompat apa turun ya, mau turun gak bisa juga duh.”, “Aduuuh gila gila gila!”, “Hitungin dong dari sepuluh.” Dimulai dari kaki, seluruh raga saya meninggalkan tebing itu menuju air laut yang sangat asin dan membanting bagian belakang paha saya hingga menghasilkan lebam sebesar tangan. Jadilah saya pulang dengan kaki terpincang-pincang, namun senyum berseri di wajah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Ketek: yang memakai kaos abu-abu adalah saya dari ketinggian enam meter

Meninggalkan Mandeh, hari sudah tak lagi terang, namun laut lepas masih terlihat dalam perjalanan kembali ke Padang berkat lampu kuning dari kapal-kapal yang berlabuh. Sungguh indah sampai sakitnya lebam di kaki tak terasa, untuk sejenak.

HARI 02: Padang

Berjalan-jalan di kota Padang sama rasanya dengan berjalan-jalan di kota Bogor. Teduh karena banyak pohon besar di samping kanan dan kiri jalan. Akan terasa berbeda ketika sudah melihat tepi laut, karena di Bogor tidak ada laut, bukan?

Di tepi laut ini, salah satu makanan khas Sumatera Barat bisa dinikmati, yaitu langkitang dan pensi. Sebelum ke makanan utama, disajikan makanan pembuka berupa kerupuk berbentuk bundar. Bagian atas kerupuk ini dibaluri dengan sambal dan mie. Enak memang, tapi agak bosan memakannya karena ukuran yang agak besar hingga menimbulkan rasa yang monoton.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Makanan pembuka: kerupuk dengan bumbu dan mie di bagian atasnya

Langkitang adalah makanan laut yang dimakan dengan cara dihisap dengan mulut. Warna cangkangnya—dan isinya—hitam, bentuknya agak lonjong, dan ada lubang di kedua sisinya. “Kalo gak bisa dihisap di lubang itu, hisap di lubang lainnya, De. Kalo masih gak bisa juga, balik lagi ke lubang pertama.” Begitu saran dari seorang teman. Dalam satu piring kecil, ada puluhan langkitang yang sudah dibumbui sehingga tidak terasa hambar ketika langkitang dihisap.

Pensi berukuran sangat kecil, hanya seruas jari kelingking, dan berbentuk seperti kerang dara. Cara mengambil daging di dalam cangkangnya, pada umumnya, dengan gigi. Namun, sepertinya ukuran gigi saya terlalu besar, jadilah saya mengambil dagingnya dengan jari tangan. Pensi juga sudah dibumbui, seperti langkitang—bumbu keduanya agak serupa.

Pensi (kiri) dan langkitang (kanan)

Kedua makanan utama ini cukup ditutup dengan air putih karena bumbunya yang pedas.

HARI 03: Padang Panjang

Karena agak siang tiba di kota kecil ini, agak tanggung pula untuk pergi ke beberapa tempat wisata. Jadi, marilah saya berbagi fakta yang diceritakan seorang teman tentang tanah Minang.

Padang Panjang terkenal dengan 99 rasulnya sehingga  di sepanjang jalan, terdapat papan-papan—dengan jarak tertentu antarpapan—bertuliskan nomor dan sifat sang rasul, dalam aksara Arab dan bahasa Indonesia.

Daerah Singgalang terkenal dengan sebutan “bule Singgalang”. Sebutan ini muncul karena banyaknya anak yang terlahir albino akibat perkawinan sedarah.

Jangan heran, apalagi diambil hati, jika dilayani secara jutek oleh pramusaji atau pramuniaga di sini. Bahkan pramusaji/pramuniaga bisa marah kalau calon pembeli sudah bertanya tapi tidak membeli dagangannya.

Martabak manis dihargai hanya Rp20.000,00 satu loyangnya! (Ya ampun, luar biasa murah dan membahagiakan.)

Dari abang martabak, saya belajar untuk mengusir laron: bagian dalam plastik diolesi mentega, kemudian bagian dalamnya ditukar menjadi di luar sehingga laron-laron yang hinggap di lampu akan menempel

Padang Panjang dingin sekali di waktu malam. Saya tidur tanpa pendingin ruangan, tapi masih harus menggunakan selimut yang tebal agar hangat. Brr.

HARI 04: Bukittinggi

Menceritakan Bukittinggi akan sama saja dengan menulis novel sebab begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jam Gadang (tidak boleh ada bangunan di Bukittinggi yang lebih tinggi daripada jam ini), Kebun Binatang, Jambatan Limpapeh, Benteng Fort de Kock (digunakan oleh Belanda pada masa Perang Paderi), Ngarai Sianok, Goa Lubang Jepang (jika berada di dalam goa ini lebih dari 15 jam, maka sudah dipastikan akan paru-paru basah), Rumah Bung Hatta (yang tak sempat saya kunjungi).

Jam Gadang: bisa masuk ke dalam bangunannya pada jam-jam tertentu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kebun Binatang: tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak hewan-hewannya
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jambatan Limpapeh: menghubungkan Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock
Ngarai Sianok: jangan hanya melihat dari atas (Panorama Ngarai Sianok), cobalah turun ke bawah!
Goa Lubang Jepang: seluruh goa terbuat dari batu seperti ini dengan suasana yang dingin dan lembap

Begitu pula dengan kulinernya. Pertama, nasi kapau. Saat memasuki belakang pasar, bertemulah saya dengan sebuah petak berisi para penjual nasi kapau. Perbedaannya hanya terletak pada nama penjualnya. Nasi Kapau Ni Er. Nasi Kapau Uni Lis. (Pilih saja yang paling ramai karena biasanya itu yang paling enak.) Nasi kapau adalah nasi putih yang disajikan dengan rebung dan sayur nangka—sebagai ciri khasnya—kemudian pembeli bisa memilih lauk: ayam goreng, rendang ayam, dendeng, usus sapi, masih banyak lagi. Lauk-lauk tersebut dijejerkan secara bertingkat dan penjualnya berdiri lebih tinggi sehingga bisa mengambil lauk untuk pembelinya.

Ni Er sedang membungkus nasi kapau untuk pembelinya
Nasi kapau: siapkan selembar uang Rp20.000,00 dan Rp10.000,00 untuk satu piringnya

Kedua, es cendol. Berisi cendol yang terbuat dari tepung sagu, cendol yang terbuat dari tepung beras, dan lupis. Uniknya lagi, es cendol dimakan di atas piring, bukan di mangkok atau gelas. (Tidak banyak yang berjualan es cendol di petak nasi kapau ini.)

Es cendol: murah meriah hanya Rp6.000,00 per porsinya

HARI 05: Agam

Melihat danau dari ketinggian tertentu jelas lebih menyenangkan ketimbang melihat danau dari tepinya. Itulah yang saya rasakan ketika melihat Danau Maninjau, danau terbesar kedua di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dan hanya bisa membisu di dalam mobil—karena berusaha mengartikan dan mengerti percakapan antara teman saya dan teman-temannya dalam bahasa Minang, dan begitu saya mulai mengerti, percakapan sudah berganti ke topik lainnya—kabut Puncak Lawang mulai menyambut.

Puncak Lawang mirip dengan Gunung Pancar karena penampakan hutan pinusnya. Dilengkapi dengan fasilitas paralayang dan outbond untuk anak-anak. Dilengkapi pula dengan kabut tebal yang luar biasa indah jika diabadikan oleh kamera, namun menutupi pemandangan Danau Maninjau. Karena kabut tak kunjung pergi, meneruskan perjalanan ke tepi danau adalah keputusan yang tepat.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kabut Puncak Lawang
Walaupun berkabut, aktivitas outbond di Puncak Lawang tetap dapat dilakukan, berbeda dengan aktivitas paralayang yang harus dihentikan

Belum jauh meninggalkan Puncak Lawang, kabut mulai memusnahkan dirinya dan tampaklah… Danau Maninjau. Luas, dikelilingi tebing-tebing di bagian kirinya, dikelilingi rumah-rumah penduduk dan tambak-tambak ikan di bagian kanannya. Megah sekali. Sungguh, tak pernah saya sebahagia itu melihat sebuah danau. (Bahkan masih terasa bahagianya ketika menuliskan ini.)

Processed with VSCOcam with hb2 preset
The Magical Lake Maninjau: maaf, danaunya harus terhalangi beberapa pohon

Untuk sampai ke tepi danau, ada Kelok 44 yang datang menantang. Jika kemampuan mengendarai mobil Anda masih di bawah rata-rata atau hanya sedikit di atas rata-rata, jangan mencobai kelok yang penuh dengan tikungan tajam dan membuat sekujur tubuh keringat dingin ini.

Ketika berada di tepi danau, tambak ikan tak ubahnya sebuah tambak ikan. B aja, begitu menurut tren zaman sekarang.

HARI 06: Tanah Datar

Sumatera Barat terkenal dengan rumah adatnya, yaitu Rumah Gadang, yang berbentuk rumah panggung dengan atap yang runcing di bagian ujungnya.

Di Istano Basa Pagaruyung, rumah adat Minang terdiri dari tiga tingkat. Di setiap tingkatan ada beberapa jendela besar. Mulai tingkat dua dan tiga, atap dan dindingnya dihiasi ukiran-ukiran yang cantik dan memiliki makna masing-masing. Terpisah dengan rumah utama, ada dapur di bagian belakang. Bagian bawah panggung yang umumnya digunakan untuk memelihara ayam, digunakan untuk meraup sedikit keuntungan melalui penyewaan pakaian adat Minang dan jasa foto. (Saya pun turut mencoba pakaian adat Minang warna merah, lengkap dengan suntiang. Rancak bana!) Di bagian depan rumah, biasanya ada dua lumbung padi, dibuat tinggi agar tidak dicuri orang.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jendela besar yang ada di setiap tingkatan
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ukiran-ukiran cantik di bagian dinding dan atap
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Rumah dan pakaian adat Minang

Masih banyak yang menganggap sakral pakaian adat Minang, teman saya salah satunya. “Gak mau ah, gue nanti aja dong pakai pertama kalinya pas nikahan.” Dan bintang-bintang di langit tanah Minang menjadi saksi pernyataan itu.

HARI 07: Padang Panjang

Cuaca yang kurang bersahabat, alias hujan cukup deras, membuat hari itu menjadi Tour de Padang Panjang.

Padang Panjang adalah sebuah kota kecil yang akan dilewati jika akan menuju Bukittinggi atau Solok atau Payakumbuh atau Padang. Dengan tagline “Kota Serambi Mekkah”, nuansa Islam memang sangat terasa—saya sempat clingak-clinguk apakah ada perempuan lain yang tidak memakai kerudung selain saya. Oh, ternyata masih ada. Satu orang.

Selain itu, kulinernya wajib diacungi jempol. Sate Mak Syukur (seperti sate padang pada umumnya, tapi dagingnya lebih besar, dan banyak presiden yang sudah bersantap di sini!). Martabak manis seharga Rp20.000,00 per loyang (ini semacam special mention, setelah disebutkan sebelumnya dan sekarang disebutkan lagi, karena begitu murahnya martabak ini). Martabak kubang atau martabak mesir (martabak asin yang dikuahi dengan bumbunya, bukan dicocol). Roti cane isi pisang dan dibaluri keju-susu kental manis. Gorengan (ada ketan hitam goreng!). Bubur kampiun (paduan antara bubur putih, delima, kacang hijau, tape, lupis).

Kata diet tidak pernah ditulis dalam kamus rakyat Sumatera Barat.

HARI 08: Bukittinggi

Kembali ke sini, sebab masih ada kuliner yang belum dicoba: sate agam dan es tebak. Keduanya berjualan di petak yang sama—di Boutique Second—yang satu di bagian depan, yang lainnya di bagian belakang.

Sate agam, seperti sate padang pada umumnya. Empat sampai lima tusuk—kenapa selalu hanya empat sampai lima tusuk?! Apa tidak boleh lebih?!—sate, potongan ketupat, kuah kuning, bawang goreng di atasnya. Setelah beberapa kali makan sate padang, saya menyimpulkan bahwa kerupuk adalah makanan komplementer sate padang. Kerupuk jenis apapun. “Mana enak De makannya gak pake kerupuk?”

Sate agam: porsi full

Es tebak sangatlah menarik perhatian. Mungkin hari itu terlalu terik, mungkin orang di sebelah saya makan terlalu nikmat. Entahlah, es tebak memang menarik buat saya. Es tebak adalah es campur ala Minang yang disajikan dalam mangkok. Isinya mulai dari es serut, cincau, kacang merah, gula merah, susu kental manis, sirop, ketan hitam, hijau-hijau seperti cendol yang saya lupa namanya, sampai tape yang terbuat dari ubi.

Es tebak: e pada tebak dibaca seperti e pada sate

Jangan pula sedang sakit gigi jika berkunjung ke Sumatera Barat.

HARI 09: Padang

“De, lo pake lipstik gak sih? Bibir lo merah banget.”

“Hah, hmm, mungkin kebanyakan makan pedes.”

Bicara soal merah, hari itu saya diajak mengunjungi “kampung” saya. Iya, di mana kebanyakan orang Cina tinggal di Padang, daerah Kota Tua.

Sungguh terasa sekali “Cina”-nya—selain karena banyak bertemu orang-orang berkulit kuning dan bermata sipit seperti saya—masih banyak klenteng yang dipenuhi hiasan lampion menjelang Imlek, rumah duka, dan rumah himpunan keluarga untuk menyimpan abu. Lebih terasa seperti berada di Kampung Cina daripada di Kota Tua, sejujurnya.

Oiya, sempatkan juga minum kopmil (kopi milo) Om Ping! (Tuhkan, Cina banget.)

Kopmil Om Ping: sangat terkenal dan sudah membuka cabang di mana-mana

HARI 10: Padang

Sumatera Barat terkenal dengan cerita rakyat Malin Kundang dan kisah perjodohan Siti Nurbaya.

Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu dapat ditemukan di Pantai Air Manis, bersama kapalnya yang terdampar di pinggir pantai. Baik batuan kapal maupun Malin Kundang, sudah tidak sempurna lagi karena terkikis air laut.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pantai Air Manis: bisa menyebrang ke Pulau Pisang hanya dengan berjalan kaki karena ada daratan di antaranya (disebabkan oleh pertemuan dua arah ombak)

Kuburan Siti Nurbaya dapat ditemukan di Gunung Padang. (Lebih cocok disebut bukit daripada gunung.) Sebelum sampai di puncak, ada sebuah turunan menuju kuburan tersebut. Saya tidak punya cukup nyali untuk mengunjunginya karena lokasinya sedang sepi waktu itu.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Menuju kuburan Siti Nurbaya dan puncak Gunung Padang

Yang tak kalah terkenal dari dua tokoh tersebut adalah fakta bahwa mereka tidaklah nyata. Hanya legenda. Hanya karangan yang dikarang sangat hebat oleh pengarangnya hingga memengaruhi orang-orang yang mendengarnya untuk membuat semacam peringatan akan cerita tersebut.

Kesedihan saya mengetahui cerita Malin Kundang tidaklah nyata seiring dengan kesedihan karena masih ada yang menganggap saya datang dari negara Tiongkok.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ni hao!

HARI 11: Payakumbuh

Setelah hari sebelumnya bermain dengan panas dan matahari, di hari terakhir ini giliran dingin dan lembah. Tujuan terakhir: Lembah Harau.

Begitu memasuki daerah Payakumbuh, paduan warna hijau dan cokelat dari sawah dan lembah langsung menyambut. Angin pun menyentuh wajah dengan lembut tanpa ada sedikitpun bau asap kendaraan. Damai sekali.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Lembah Harau. Mencoba Lembah Echo, berteriaklah maka akan ada gema yang mengikuti. Membeli bunga anggrek, yang aslinya ditanam di tebing-tebing Harau. Bermain air di beberapa air terjun dari tebing Harau yang sangat tinggi. Berjalan-jalan dan mengagumi kemegahan Lembah Harau.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Air terjun dari salah satu tebing Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Mengagumi kemegahan Lembah Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Masih tetap mengagumi Lembah Harau

Tujuan terakhir ini adalah penutup yang merangkum seluruh perjalanan di Sumatera Barat. Mengagumkan.

*

Dalam setiap perjalanan, pasti ada suka-dukanya, pasti ada manis-pahitnya. Duka dan pahitnya adalah keterasingan yang saya rasakan—karena kesalahan saya sendiri juga yang datang tanpa persiapan mental, bukan persiapan kerudung ya—dan hanya lima persen dari keseluruhan sabaleh hari kemarin. Suka dan manisnya adalah tanah Minang itu sendiri yang mengagumkan, membahagiakan, mendamaikan, dan mengajarkan saya untuk berani makan pedas.

Sawahlunto, Solok, dan Lima Puluh Kota belum dijelajahi. Melihat Lembah Harau, Payakumbuh butuh dijelajahi lebih lanjut. Ngalau Indah dan Tarusan Kamang katanya indah. Gunung Singgalang yang misterius sangat menantang untuk disambangi. Kepulauan Mentawai yang masih kental adat dan budayanya membuat penasaran. So, West Sumatra, it isn’t a good bye but just a see you later, is it?

SATU TANGKAI EDELWEISS UNTUK MAMA

Hobi Mama memelihara berbagai jenis tanaman hias berdampak pada obsesinya untuk memiliki seikat edelweiss. Beberapa kali saya atau adik saya pergi naik gunung, pesan dari beliau hanya satu: Beliin Mama edelweiss ya, seikat aja. Dan berkali-kali pula saya bertitah bahwa edelweiss tidak boleh diambil apalagi dibeli (karena berarti sudah diambil secara ilegal oleh sang penjual). Tapi, karena hari ini Mama ulang tahun, setiap kebohongan yang pernah saya lakukan akan saya hargai satu tangkai edelweiss.

###

Tidur siang layaknya sebuah malapetaka bagi anak kecil karena harus menghentikan aktivitas bermain barang satu atau dua jam. (Sungguh, berbahagialah kamu yang masih punya waktu untuk tidur siang karena ketika dewasa, tidur siang adalah sebuah hadiah, indah dan sangat jarang didapat.) Dan hal itu pun terjadi pada saya. Waktu tidur siang saya bersamaan dengan jam tayang film-film India di televisi, yang sudah menjadi kegemaran saya karena tertular si Mbak yang suka menontonnya hampir setiap hari. Walaupun Mama tidak di rumah, tapi si Mbak tepat berada di hadapan saya dan kalau saya mangkir dari jadwal tidur siang, si Mbak bisa melapor kepada Mama. Jadi, tak ada gunanya memperdebatkan tidur siang dengan si Mbak. Saya masuk ke kamar, namun tetap gelisah. Guling-guling, bolak-balik, ingin nonton film India. Sekitar setengah jam kemudian, sebuah ide muncul. Saya mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit di bawah mata saya. Tahu kan seperti apa minyak kayu putih? Akhirnya mata saya menjadi lebih sipit, seperti orang baru bangun tidur, karena bau dan rasa diolesi minyak kayu putih. Ditambah acak-acak rambut sedikit, pasang muka agak lesu, kucek-kucek mata, masih membawa selimut, keluarlah saya dari kamar dan kewajiban tidur siang. Kok tidurnya cepet? tanya si Mbak. Iya, lagi gak bisa tidur. Dijawab dengan tetap lesu, tapi penuh kemenangan di dalam hati. Yes, film India! (Film India favorit saya adalah Mohabbatein.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Mudah bagi saya untuk masuk ke dalam peringkat 10 besar ketika duduk di bangku kelas satu dan dua SD. Mudah bagi saya, sebab mudah pula mencontek ketika ulangan berlangsung sehingga nilai saya bisa menjulang tinggi. Mudah untuk mencontek, sebab ada kolong di bawah meja untuk membuka buku cetak dan mencari jawaban dari soal-soal ulangan. Saya selalu belajar satu hari sebelum ulangan, Mama tahu itu. Tapi saya sering mencontek saat ulangan, saya rasa Mama tidak tahu soal itu.. (Untunglah, saya bertobat di kelas tiga SD, karena sudah tidak ada kolong lagi di bawah mejanya, dan perilaku mencontek yang saya lakukan bisa dihitung dengan jari sejak hari pertobatan itu hingga hari ini. Yang ini jujur, ya.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Kebiasaan selalu diantar dan dijemput membuat izin naik kendaraan umum adalah hal paling ribet untuk didapatkan dari Mama, dulu ketika saya duduk di bangku SMP hingga SMA. Kalaupun diizinkan, itu adalah keputusan yang terpaksa dan banyak wejangan yang dicurahkan. Ci, jangan lupa nomor taksinya BB ke Mama. Ci, kalo naik busway tasnya ditaroh di depan ya jangan di belakang. Dan untuk menghindari curahan wejangan itu, saya selalu mengatakan akan naik mobil teman untuk mencapai tempat yang dituju. Ma, nanti Cici naik mobilnya Marissa kok, dianterin papa-nya. Padahal yang saya lakukan adalah berpindah dari satu bus Transjakarta ke bus Transjakarta lainnya. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Prinsip saya adalah selalu jujur kepada Mama jika akan mendaki gunung. Dengan siapa saja, berapa hari, naik apa menuju ke daerahnya. Namun, dalam pendakian ke Gunung Prau, terjadi juga penodaan terhadap prinsip tersebut. Bilangnya, pergi berlima dengan tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Nyatanya, hanya pergi berdua dan perempuan semua. Bilangnya, sudah di basecamp tapi tidak bisa pulang di hari itu karena tidak keburu mengejar bus. Nyatanya, masih di atas gunung dan baru akan turun gunung esok harinya (syukur ada sinyal di atas gunung waktu itu). Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Ci, sudah sampai kost? Sudaah ma. Sdh makan malam dan mandi? Sudah ma. Ok, istirahat yah. Oke ma. Whatsapp dari Mama setiap hari sekitar pukul 18.00 dibalas dengan kebohongan hampir setiap hari. Pukul 18.00, saya masih di kampus dan belum ada niatan untuk pulang. Pukul 18.00, saya sudah makan siang dan tidak akan makan malam. Pukul 18.00, saya tentu belum mandi malam karena masih di kampus. Satu tangkai edelweiss untuk Mama. (Rasanya ingin memberi seribu tangkai karena kebohongan ini kemungkinan besar masih akan berlanjut hingga akhir kuliah.)

###

Mama yang cantik, yang awet muda, yang pintar, yang teliti, yang sabar, yang ramah, yang pandai memasak, yang cara makannya elegan, yang sangat suka sambal, yang rapih dan bersih, selamat ulang tahun.

Dan sejujurnya, saya tetap tidak bisa memberikan bertangkai-tangkai edelweiss untuk membayar kebohongan saya kepada Mama. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

TRASHFORMATION

“Kamu jangan gak sopan kaya gitu ya, telepon ini saya rekam!!”

“Keterlaluan banget deh.. Semua serba gak punya aturan.. Kalian yang bener dong..”

“Saya juga pusing lihat kalian kalau tidak mau diajak kerja sama gini.”

“Jaga kesehatan jangan lupa kalau begadang.”

“DE AYO NANGIS TERUSIN AJA TAPI JANGAN NYERAH YAAAA.”

“Acara yang bagus banget halangannya nggak mungkin kecil.”

Riweh-riweh sejak satu minggu sebelum hari H

***

Melalui ini, saya ingin bercerita, meminta maaf, dan berterima kasih. Bercerita tentang saya yang untuk pertama kalinya memiliki peranan besar dalam sebuah acara yang diharapkan berdampak besar pula. Meminta maaf untuk perilaku saya yang saya sadari masih jauh dari dewasa. Berterima kasih atas bantuan orang-orang yang membuat acara ini terjadi.

Ketika beberapa orang mengacu pada LPJ (Lembar Pertanggungjawaban) dari acara tahun lalu untuk membuat acara yang lebih baik di tahun ini, saya tidak punya LPJ apapun. Ini adalah acara baru di tahun ini yang harus dimulai dari nol. Entah itu hal yang baik (karena orang jadi tidak punya ekspektasi dan pembanding) atau itu hal yang kurang baik (karena semua harus dimulai dari nol dan abstrak). Tapi, marilah kita mulai dari nol.

Semua kegiatan dalam acara ini dirancang sejak bulan April, mulai dari acara gradual, acara eventual, dan bagaimana menarik benang merah dari acara gradual menuju acara eventual. Setelah konsep, teknis perwujudan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut mulai membuat pusing lagi. Dari nol, kami sudah sampai di angka dua puluh sekarang.

Karena suatu dan lain hal, kegiatan-kegiatan gradual baru bisa dilaksanakan di semester genap, yaitu mulai bulan September. Walaupun demikian, persiapan terus berjalan dan menyita waktu liburan yang panjang tapi tak terasa panjang. Persiapan ini cukup menarik perhatian orang sekaligus membuat mereka heran. Dari angka dua puluh, kami tiba di angka empat puluh.

Dan tibalah bulan September! Satu per satu kegiatan gradual mulai berjalan, pujian dan hambatan tak berhenti menghadang, nasihat dan cek-cok terus merajam. Tak hanya sampai di kegiatan gradual, kegiatan eventual juga mulai dibedah dari konsep sampai teknisnya. Penyesuaian-penyesuaian harus terus dilakukan karena banyaknya keterbatasan di samping banyaknya keinginan. Empat puluh terbang dan mendarat di enam puluh.

Menuju delapan puluh, akan sangat bosan sesungguhnya kalau diceritakan karena setiap hari hanya akan diisi dengan persiapan – pusing – persiapan – mendengar nasihat – pusing – mendapat masukan – persiapan – pusing – persiapan – pusing. Begitu seterusnya sampai tiga hari menuju hari H.

Tiga hari menuju hari H adalah tiga hari tanpa menyentuh kasur, tiga hari harus menguatkan otak dan mata, tiga hari melatih kesabaran. Pulang ke kos hanya untuk mandi dan bertukar pakaian, sisanya dihabiskan di kampus. Dua kotak Nescafe dalam satu hari untuk mensugestikan kesegaran tubuh. Menjaga tingkat kesensian tapi gagal dan tetap saja menaikkan tensi dengan banyak orang. Sembilan puluh, sampai di sembilan puluh.

Hari H. Naik-turun tangga, pergi sana-sini, cek rundown, titip pesan ke panitia lain, bingung, beli teh susu, cek konsumsi, cek bingkisan, tersenyum. Itulah yang terjadi di hari H, mulai dari hari terasa sejuk hingga matahari terasa membakar tenggorokan.

Acara ini bernama FISIP Trashformation. FISIP Sampah, FISIP Setres, FISIP Sampah Berformasi, begitu kata orang-orang. Dan apapun kata orang-orang, acara ini dimulai dari angka nol dan selesai sampai di angka seratus. FISIP Trashformation, berubah bersama!

*

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang dalam kepanitiaan ini karena turut merasakan naik dan turunnya mood saya, terutama sejak satu minggu sebelum hari H. Sungguh, saya berusaha meningkatkan energi positif pada diri sendiri tapi selalu gagal dan berakhir pada tingkat kesensian yang lebih parah.

Pemintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang di luar kepanitiaan ini yang sudah sangat amat banyak membantu tapi tidak mendapat balasan yang layak dari acara ini. Semoga ke depannya lebih banyak balasan baik yang akan kalian terima dalam hidup. Amin.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang menjadi hambatan dalam acara ini, baik di kegiatan gradual maupun di kegiatan eventual. Maaf, saya belum sepenuhnya memberi maaf kepada kalian.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang belum puas dan merasakan dampak baik dari acara ini. Saya sangat memohon maaf atas segala kekurangan dan berharap diberikan kesempatan lain untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

*

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada 31 orang panitia FISIP Trashformation yang nama group-nya di LINE telah bertransformasi ribuan kali. Tupperware sebagai sponsor utama yang membantu menopang beban acara ini. Rindu yang rela diajak chat dan ketemu setiap hari hanya untuk membicarakan kemajuan dan kemunduran acara ini. Neri yang rela mengerjakan hal-hal lain di luar jobdesc-nya sebagai pengurus keuangan, termasuk bikin meme. Chitra, Aish, Eko, Adit yang mau bergabung dengan kepanitiaan ini. Kak Kodel, Kak Prima, Kak Bes, Kak Azka yang memberi banyak masukan untuk keberlangsungan acara ini. Kak Wita dan Kak Iik yang selalu membantu dan mendampingi. Bocosh yang membantu dalam doa, semangat, like dan share publikasi acara ini. Mas Min yang membantu menggergaji triplek dan mengaduk semen-pasir. Kak Argo yang banyak memberi tahu tempat-tempat di Depok untuk membeli barang-barang operasional. Bapak-ibu penjahit baliho di Lenteng Agung yang menyelamatkan baliho bala acara ini. Ibu penjual tali sol sepatu di Pasar Depok. Percetakan Pandawa. Percetakan sebelah Pandawa. Supplier danus. Food Hall. Bapak-ibu saya sendiri. Bapaknya Rindu yang menyempatkan diri datang dan mau memberi uang untuk membayar utang danus anaknya. Bapaknya Neri yang membantu dalam hal perkayuan. Bu Cil, Mang Ari, dan pedagang Takor lain yang membuang botol plastik di Basaltik. Tatank Galaw, film Joshua Oh Joshua, karaoke Eko-Gina, lagu Tak Ada Logika versi Eko, cem-ceman Gina yang memberikan hiburan di kala pusing dengan acara ini. Semua yang meminjamkan galon dan pompanya serta gelas dan piring cantik. Semua pemilik motor yang motornya pernah dipinjam untuk mengantar sampah ke Kukel. Semua yang ikut serta dalam Pre-Event di CFD. Abang sekoteng yang rela digodain sama cabe-cabe kepanitiaan ini. Pak Hasan dan Pak Dadang di Infras. Nanang Kopma, abang gorengan, penjual minuman, pak satpam, cleaning service. Sasari dan Javaz Maniez. Para hambatan yang memberikan sedikit bumbu pahit dalam acara ini. Segala macam gadget dan bentuk komunikasi. Bangmen Gedung G, AJS, Selasar Gedung C, Plasa. Rubem dan berbagai jenis barang ajaib yang tersimpan di dalamnya. Semua yang memberi doa dan semangat. Terakhir, semua yang berpartisipasi dalam acara ini: peserta, komunitas, sponsor, media partner, BEM FISIP UI. Terima kasih.

***

“Bagus kok seminarnya. Maksud gue, dalam empat jam semua terbahas secara mendalam.”

“Ini adalah peserta seminar terbanyak di tahun ini.”

“Nih, lihat dong gue pake tumbler sekarang minumnya.”

TENTANG GUNUNG

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang sedikit orang yang ingin mendengar, tentang banyak orang yang bertanya-tanya apa tujuannya.

***

Semua berawal dari mendengar cerita pendaki lain. Entah secara langsung, melalui buku, ataupun melalui media sosial. Pendakian saya ke Gunung Prau adalah salah satunya, melihat foto-foto pemandangan gunung-gunung lain dari Bukit Teletubbies saat sunrise di Instagram menggugah semangat untuk sampai di gunung itu. Atau, cerita dari para senior yang telah mendaki gunung tertentu sebelumnya untuk melengkapi manajemen perjalanan dan logistik yang dibutuhkan.

Berlanjut ke masalah pangan. “Jauh-jauh ke gunung, kok masaknya masih Indomie sih,” tanggap seorang senior ketika junior-juniornya ini merebus beberapa bungkus Indomie untuk makan malam di Gunung Papandayan. Sejauh ini, makan di gunung memang sedikit lebih mewah daripada makan di kampus. Spaghetti bolognaise dan pudding mangga di Gunung Papandayan, chicken teriyaki dan chocolate fondue di Gunung Gede, chicken cordon bleu dan sup tom yum di Gunung Merapi. Walaupun Indomie rasa soto dengan telur tetap nikmat disandingkan dengan dinginnya malam di gunung, tapi apalah ia, seringkali hanya jadi pengganjal kekosongan di carrier. #janganjumawa

Sebelum mendaki Gunung Merapi, perasaan demot (demotivasi: kehilangan motivasi) terbesar akan dirasakan ketika packing. Melihat banyaknya barang yang akan dibawa, kemudian memasukkan ke dalam carrier, dan akan menggendong carrier itu dari kaki hingga puncak gunung. Rasanya keinginan untuk mendaki gunung harus dipertanyakan kembali.. “Ke pantai aja apa ya, bawaannya gak akan seberat ini.”, “Ya ampun, bawa apa sih gue, keranda mayat kali ya?!”, “Ini mah kalo gue duduk, juga yang duduk carrier gue bukan gue-nya.” Saya hanya berdua dengan teman saya, yang juga perempuan, ketika mendaki Gunung Prau. Berarti tenda, nesting, kompor, bahan makanan, air akan ada di pundak saya atau pundak teman saya, tidak ada pundak lainnya. Ketika selesai packing dan coba mengangkat carrier masing-masing, kalimat yang keluar setelahnya adalah: “Jalan-jalan di kota aja yuk, gak usah naik deh.” Tapi, toh, kami tetap berangkat mendaki juga, kami tetap membawa dan menjaga carrier dengan baik juga. Walaupun kami harus memperpanjang pendakian tersebut menjadi dua malam untuk menghabiskan bahan makanan karena tidak ingin pulang membawa beban berat lagi.

Carrier yang besar dan berat itu tentu akan menarik perhatian banyak orang jika digunakan di tempat yang tidak semestinya, seperti di kereta dan di halte TransJogja yang sempit. Memang sudah banyak pendaki yang naik kereta untuk mengantar mereka ke kota terdekat dengan gunung yang dituju, namun membawa carrier masih saja membuat kagum beberapa orang sampai terlontar pertanyaan: “Mau mendaki ke mana, Mbak?” Dan ketika dijawab, perasaan kagum itu akan berubah menjadi perasaan nostalgia. Waktu naik kereta menuju Jakarta setelah mendaki Gunung Merbabu, seorang bapak yang duduk di sebelah saya bercerita, setelah melihat saya membawa dan menaruh carrier di bawah kursi, bahwa ia bekerja di dekat Gunung Jayawijaya dan mendapat libur setiap 40 hari sekali. Waktu menunggu TransJogja di halte, mas penjaga halte bercerita bahwa temannya juga suka mendaki gunung dan ia tidak pernah ikut mendaki karena takut. Waktu di mikrobus menuju Wonosobo, seorang mas bercerita bahwa ia juga suka mendaki gunung saat kuliah, tapi sekarang ini sudah jarang karena tidak bisa libur seenaknya dari pekerjaan. Terakhir, ia mendaki Gunung Prau bersama istrinya beberapa bulan yang lalu. Ternyata, carrier yang mirip keranda mayat itu bisa menjinakkan ruang canggung di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.

Dan, sampailah pada saat pendakian. Setiap gunung memiliki jalur masing-masing yang menjadikannya suatu cerita dan kenangan tersendiri. Pendakian ke Gunung Gede adalah pendakian miskom pertama saya. Karena banyak yang ikut, pendakian ini dibagi menjadi beberapa kelompok dan diusahakan untuk selalu bersama kelompoknya. Setelah pemberhentian di suatu pos, saya disuruh berjalan di depan tapi jangan lupa tengok ke belakang dan tunggu teman yang lain, begitu pesan dari senior saya. Tapi tampaknya, saya berjalan terlalu cepat dan lupa untuk mengecek keberadaan anggota kelompok yang lain sehingga saya sampai di Surya Kencana sekitar satu jam lebih cepat dari anggota lainnya. Yah, memang ini kesalahan saya dan tentunya tidak boleh terulang lagi. Pendakian ke Gunung Prau adalah pendakian malam pertama saya, hanya bersama seorang teman yang juga perempuan. Kaki yang sudah pencot (pencot: pegal, sakit, tidak fit seperti sedia kala) karena habis mendaki Gunung Merapi, pundak yang mulai lemas karena carrier yang berat, rasa takut yang entah akan apa bercampur menjadi satu. Ketika sampai di Bukit Teletubbies dan melihat ratusan headlamp menyala-nyala di dalam tenda yang sudah kokoh berdiri, hanya puluhan “Gila sih!!” yang mampu terucap dari mulut. Pendakian ke Gunung Merapi adalah pendakian di atas pasir pertama saya. Frustasi rasanya mendaki di atas pasir karena jika berpijak terlalu lama justru akan molos ke dalam dan jika menginjak bebatuan justru batu-batu itu akan jatuh ke bawah. Namun, rasa frustasi itu perlahan hilang ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di tengah perjalanan menuju puncak dan ketika saya sampai di puncak itu sendiri.

***

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang kaki-kaki yang lelah, pundak yang terluka, nafas yang terengah-engah, tentang alam yang kemudian mengobati semuanya.

Terima kasih kepada Jejak Mollusca yang memberi banyak ilmu dan menemani setiap perjalanan, kepada Papa-Mama yang tetap mengizinkan anak perempuannya mendaki berbagai gunung di samping kekhawatiran yang luar biasa.

Gunung Papandayan, Jawa Barat
Gunung Merbabu, Jawa Tengah
Gunung Gede, Jawa Barat
Gunung Merapi, Jawa Tengah
Gunung Prau, Jawa Tengah

BAPAK SAYA MEMANG ANEH

“Nanti kamu naik apa dari Stasiun Cikini ke TIM?”

“Ya, gampanglah. Bisa naik taksi kok.”

“Jangan naik taksi. Kamu jalan aja ke TIM dari stasiun, deket kok, kan tinggal lurus aja. Kalo naik taksi nanti harus muter lagi.”

“…Iya, nanti jalan kaki aja…”

***

Jarak dari Stasiun Cikini menuju TIM memang tidak sejauh itu dan dapat ditempuh dengan menggunakan kaki. Benar kata Bapak saya, kalau naik taksi memang akan muter lagi dan membuat jarak yang tidak jauh itu menjadi dua kali lipatnya. Saya tahu itu. Alasan “bisa naik taksi kok” yang saya gunakan adalah untuk mengurangi rasa cemas Bapak terhadap saya. Tapi, apa boleh dikata, Bapak saya memang aneh (dalam arti yang baik).

Bapak saya memang aneh. Tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik tapi kalau passportnya dibuka, cap-cap imigrasi dari banyak negara lain sudah tercantum di situ. Bapak adalah seorang pengusaha yang ulet, merintis usahanya dari pelanggan yang hanya bisa dihitung dengan jari sampai seperti sekarang, sering diajak melihat pameran mesin di luar negri secara gratis. Bapak tidak bisa bahasa Inggris, namun itu bukan penghalang. Masih ada bahasa Tarzan dan bahasa tubuh yang dapat digunakan. Dalam suatu perjalanan ke Korea Selatan, Bapak ingin memesan telur mata sapi pada sang koki tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya (karena tidak tahu bahasa Inggris dari telur mata sapi). Alhasil, yang keluar dari mulut Bapak adalah, “Egg… Eye… Cow…” Ngaco sengaco-ngaconya. Tapi yang tersaji di piring Bapak adalah sebuah telur mata sapi yang sempurna. Dalam perjalanan lain ke Cina, Bapak bahkan membawa kalkulator dagangnya ketika akan berbelanja di sebuah toko. Tawar-menawar terjadi dan Bapak selalu menang dengan harga yang bisa mencapai tiga perempat lebih murah dari harga yang ditawarkan sang empunya toko (yang kemudian bermuka muram). Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau tidak pernah takut mencoba. (“Pede aja kalo ngomong Inggris seadanya di luar negri, wong abis ini gak ketemu lagi kan. Salah-salah dikit gak apalah.”)

Bapak saya memang aneh. Definisi dari kata gengges yang sesungguhnya. (Gengges dalam kamus saya berarti melakukan sesuatu yang tidak penting tapi dianggap penting, mengganggu.) Pernah suatu kali, ketika berhenti di lampu merah, Bapak melihat seseorang berjualan roti dari kejauhan, lalu berkata, “Tuh ada yang jualan roti, Papa makan roti ah, pasti nanti gak ditawarin.” Kemudian Bapak benar-benar makan roti dan benar-benar tidak ditawari roti oleh penjual yang terlihat dari kejauhan itu. “Bener kan gak ditawarin,” kata Bapak. (Gak penting, kan?) Pernah juga, ketika makan di sebuah restoran, Bapak menggunakan serbet makan di kerah bajunya. Kebetulan, baju Bapak saat itu berwarna merah dan serbet yang digunakan juga berwarna merah. Makan berjalan lancar dan kemudian kami pulang. Tepat ketika akan masuk rumah, Bapak nyeletuk, “Lah kok ini serbetnya masih dipake?!” Dan semua hanyut dalam tawa. Bolehlah Bapak aneh, tapi lucu kan?

Bapak saya memang aneh. Diajak menemani ke mana saja pasti di-iya-kan. Bapak sering menemani saya nonton teater, bahkan kadang saya yang ketiduran dan Bapak yang bertahan sampai akhir. Bapak sering menemani saya nonton di bioskop, walaupun Bapak akan sering ketiduran kalau film yang saya pilih bukanlah  film action atau laga. Bapak pernah menemani saya melihat pameran di galeri, walaupun saya tahu keputusan itu dibuat dengan berat hati. Baru parkir mobil saja mukanya sudah tidak enak, tapi toh tetap ditemani. Sampai akhirnya, Bapak terpaku pada sebuah karya. Saya juga bingung kenapa Bapak melihat karya itu lama sekali. Ternyata, “Ci, ini fotoin dong. Ini Papa yang buat. Wah boleh juga nih dipajang di galeri gini.” Muka Bapak langsung berubah seratus delapan puluh derajat dan saya lega melihatnya. Tapi, Bapak tidak pernah menemani saya ke museum. Saya tidak pernah mengajaknya karena beliau sempat berkata begini, “Ngapain sih Ci ke museum? Apa coba yang dilihat?!” Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau adalah teman saya yang paling setia, yang lebih memilih menemani saya daripada tak tega melihat saya pergi-pergi sendiri.

Bapak saya memang aneh. Sering menjadi penggugah tawa, tapi bisa juga menjadi pembangkit air mata. Setidaknya untuk saya. Melihat Ibu saya menangis, sudah biasa, walaupun saya akan turut sedih (bahkan meneteskan air mata) setelahnya. Melihat Bapak saya menangis, jarang sekali, dan akan mengiris hati saya. Melihat Bapak menangis, adalah hal terakhir yang ingin saya saksikan di hidup ini. Bapak adalah sosok yang humoris dan hal-hal kecil dapat membawa kebahagiaan untuknya, seperti tidur-tidur ayamnya yang hanya lima menit. Bapak adalah sosok pemimpi besar tapi tak lupa untuk percaya dan mewujudkannya menjadi nyata. Bapak adalah… Bapak. Yang tidak pernah saya bayangkan dapat menangis.

Bapak saya memang aneh. Tapi saya akan dengan sangat bangga untuk membicarakan Bapak saya, tentang pengalaman-pengalaman konyolnya saat sekolah dan kuliah, tentang kebersamaan dan kekompakan teman-teman kosnya, tentang kerja kerasnya membangun usahanya dari sekecil biji hingga mekar seperti bunga sekarang ini, tentang masa mudanya yang jomblo dan masa apel ke rumah Ibu, tentang kenakalannya dan hukuman-hukuman yang diberikan Oma, tentang keluarga kecil yang ia impikan, tentang anak perempuan dan anak laki-laki yang selalu ia ceritakan ke orang-orang. Tentang Bapak, yang aneh, tapi dilihat dari sisi manapun akan tetap menjadi suatu kebanggaan. (Saya akan sangat berterima kasih kepada orang yang berkata kepada saya, “Ceritakan soal bapakmu.”)

Bapak saya memang aneh. Tapi Bapak ulang tahun hari ini. Selamat bertambah usia, Pak. Ini bukan usia yang muda lagi, jaga makannya dan jangan suka sembarang jajan. Jangan kurangi keanehanmu, Pak, karena keanehanmu yang membuat banyak orang mencintaimu, yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang ini juga. Jangan bosan menjadi teman dan menemani saya, Pak, karena saya tak akan pernah bosan menjadi pengagummu. Jangan cerewet ya, Pak, kalau nanti sudah tambah tua dan pensiun, kasihan nanti Ibu. Sekali lagi, selamat menyandang usia baru, Pak, semoga apa yang dikatakan baik akan menjadi milikmu di usia ini.

Kangen Pak, kangen pulang malam lalu dijemput Bapak dan kita tetap menyempatkan makan nasi goreng kambing di pinggir jalan. Kapan-kapan lagi ya, Pak.