SATU TANGKAI EDELWEISS UNTUK MAMA

Hobi Mama memelihara berbagai jenis tanaman hias berdampak pada obsesinya untuk memiliki seikat edelweiss. Beberapa kali saya atau adik saya pergi naik gunung, pesan dari beliau hanya satu: Beliin Mama edelweiss ya, seikat aja. Dan berkali-kali pula saya bertitah bahwa edelweiss tidak boleh diambil apalagi dibeli (karena berarti sudah diambil secara ilegal oleh sang penjual). Tapi, karena hari ini Mama ulang tahun, setiap kebohongan yang pernah saya lakukan akan saya hargai satu tangkai edelweiss.

###

Tidur siang layaknya sebuah malapetaka bagi anak kecil karena harus menghentikan aktivitas bermain barang satu atau dua jam. (Sungguh, berbahagialah kamu yang masih punya waktu untuk tidur siang karena ketika dewasa, tidur siang adalah sebuah hadiah, indah dan sangat jarang didapat.) Dan hal itu pun terjadi pada saya. Waktu tidur siang saya bersamaan dengan jam tayang film-film India di televisi, yang sudah menjadi kegemaran saya karena tertular si Mbak yang suka menontonnya hampir setiap hari. Walaupun Mama tidak di rumah, tapi si Mbak tepat berada di hadapan saya dan kalau saya mangkir dari jadwal tidur siang, si Mbak bisa melapor kepada Mama. Jadi, tak ada gunanya memperdebatkan tidur siang dengan si Mbak. Saya masuk ke kamar, namun tetap gelisah. Guling-guling, bolak-balik, ingin nonton film India. Sekitar setengah jam kemudian, sebuah ide muncul. Saya mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit di bawah mata saya. Tahu kan seperti apa minyak kayu putih? Akhirnya mata saya menjadi lebih sipit, seperti orang baru bangun tidur, karena bau dan rasa diolesi minyak kayu putih. Ditambah acak-acak rambut sedikit, pasang muka agak lesu, kucek-kucek mata, masih membawa selimut, keluarlah saya dari kamar dan kewajiban tidur siang. Kok tidurnya cepet? tanya si Mbak. Iya, lagi gak bisa tidur. Dijawab dengan tetap lesu, tapi penuh kemenangan di dalam hati. Yes, film India! (Film India favorit saya adalah Mohabbatein.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Mudah bagi saya untuk masuk ke dalam peringkat 10 besar ketika duduk di bangku kelas satu dan dua SD. Mudah bagi saya, sebab mudah pula mencontek ketika ulangan berlangsung sehingga nilai saya bisa menjulang tinggi. Mudah untuk mencontek, sebab ada kolong di bawah meja untuk membuka buku cetak dan mencari jawaban dari soal-soal ulangan. Saya selalu belajar satu hari sebelum ulangan, Mama tahu itu. Tapi saya sering mencontek saat ulangan, saya rasa Mama tidak tahu soal itu.. (Untunglah, saya bertobat di kelas tiga SD, karena sudah tidak ada kolong lagi di bawah mejanya, dan perilaku mencontek yang saya lakukan bisa dihitung dengan jari sejak hari pertobatan itu hingga hari ini. Yang ini jujur, ya.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Kebiasaan selalu diantar dan dijemput membuat izin naik kendaraan umum adalah hal paling ribet untuk didapatkan dari Mama, dulu ketika saya duduk di bangku SMP hingga SMA. Kalaupun diizinkan, itu adalah keputusan yang terpaksa dan banyak wejangan yang dicurahkan. Ci, jangan lupa nomor taksinya BB ke Mama. Ci, kalo naik busway tasnya ditaroh di depan ya jangan di belakang. Dan untuk menghindari curahan wejangan itu, saya selalu mengatakan akan naik mobil teman untuk mencapai tempat yang dituju. Ma, nanti Cici naik mobilnya Marissa kok, dianterin papa-nya. Padahal yang saya lakukan adalah berpindah dari satu bus Transjakarta ke bus Transjakarta lainnya. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Prinsip saya adalah selalu jujur kepada Mama jika akan mendaki gunung. Dengan siapa saja, berapa hari, naik apa menuju ke daerahnya. Namun, dalam pendakian ke Gunung Prau, terjadi juga penodaan terhadap prinsip tersebut. Bilangnya, pergi berlima dengan tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Nyatanya, hanya pergi berdua dan perempuan semua. Bilangnya, sudah di basecamp tapi tidak bisa pulang di hari itu karena tidak keburu mengejar bus. Nyatanya, masih di atas gunung dan baru akan turun gunung esok harinya (syukur ada sinyal di atas gunung waktu itu). Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Ci, sudah sampai kost? Sudaah ma. Sdh makan malam dan mandi? Sudah ma. Ok, istirahat yah. Oke ma. Whatsapp dari Mama setiap hari sekitar pukul 18.00 dibalas dengan kebohongan hampir setiap hari. Pukul 18.00, saya masih di kampus dan belum ada niatan untuk pulang. Pukul 18.00, saya sudah makan siang dan tidak akan makan malam. Pukul 18.00, saya tentu belum mandi malam karena masih di kampus. Satu tangkai edelweiss untuk Mama. (Rasanya ingin memberi seribu tangkai karena kebohongan ini kemungkinan besar masih akan berlanjut hingga akhir kuliah.)

###

Mama yang cantik, yang awet muda, yang pintar, yang teliti, yang sabar, yang ramah, yang pandai memasak, yang cara makannya elegan, yang sangat suka sambal, yang rapih dan bersih, selamat ulang tahun.

Dan sejujurnya, saya tetap tidak bisa memberikan bertangkai-tangkai edelweiss untuk membayar kebohongan saya kepada Mama. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Advertisements

TRASHFORMATION

“Kamu jangan gak sopan kaya gitu ya, telepon ini saya rekam!!”

“Keterlaluan banget deh.. Semua serba gak punya aturan.. Kalian yang bener dong..”

“Saya juga pusing lihat kalian kalau tidak mau diajak kerja sama gini.”

“Jaga kesehatan jangan lupa kalau begadang.”

“DE AYO NANGIS TERUSIN AJA TAPI JANGAN NYERAH YAAAA.”

“Acara yang bagus banget halangannya nggak mungkin kecil.”

Riweh-riweh sejak satu minggu sebelum hari H

***

Melalui ini, saya ingin bercerita, meminta maaf, dan berterima kasih. Bercerita tentang saya yang untuk pertama kalinya memiliki peranan besar dalam sebuah acara yang diharapkan berdampak besar pula. Meminta maaf untuk perilaku saya yang saya sadari masih jauh dari dewasa. Berterima kasih atas bantuan orang-orang yang membuat acara ini terjadi.

Ketika beberapa orang mengacu pada LPJ (Lembar Pertanggungjawaban) dari acara tahun lalu untuk membuat acara yang lebih baik di tahun ini, saya tidak punya LPJ apapun. Ini adalah acara baru di tahun ini yang harus dimulai dari nol. Entah itu hal yang baik (karena orang jadi tidak punya ekspektasi dan pembanding) atau itu hal yang kurang baik (karena semua harus dimulai dari nol dan abstrak). Tapi, marilah kita mulai dari nol.

Semua kegiatan dalam acara ini dirancang sejak bulan April, mulai dari acara gradual, acara eventual, dan bagaimana menarik benang merah dari acara gradual menuju acara eventual. Setelah konsep, teknis perwujudan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut mulai membuat pusing lagi. Dari nol, kami sudah sampai di angka dua puluh sekarang.

Karena suatu dan lain hal, kegiatan-kegiatan gradual baru bisa dilaksanakan di semester genap, yaitu mulai bulan September. Walaupun demikian, persiapan terus berjalan dan menyita waktu liburan yang panjang tapi tak terasa panjang. Persiapan ini cukup menarik perhatian orang sekaligus membuat mereka heran. Dari angka dua puluh, kami tiba di angka empat puluh.

Dan tibalah bulan September! Satu per satu kegiatan gradual mulai berjalan, pujian dan hambatan tak berhenti menghadang, nasihat dan cek-cok terus merajam. Tak hanya sampai di kegiatan gradual, kegiatan eventual juga mulai dibedah dari konsep sampai teknisnya. Penyesuaian-penyesuaian harus terus dilakukan karena banyaknya keterbatasan di samping banyaknya keinginan. Empat puluh terbang dan mendarat di enam puluh.

Menuju delapan puluh, akan sangat bosan sesungguhnya kalau diceritakan karena setiap hari hanya akan diisi dengan persiapan – pusing – persiapan – mendengar nasihat – pusing – mendapat masukan – persiapan – pusing – persiapan – pusing. Begitu seterusnya sampai tiga hari menuju hari H.

Tiga hari menuju hari H adalah tiga hari tanpa menyentuh kasur, tiga hari harus menguatkan otak dan mata, tiga hari melatih kesabaran. Pulang ke kos hanya untuk mandi dan bertukar pakaian, sisanya dihabiskan di kampus. Dua kotak Nescafe dalam satu hari untuk mensugestikan kesegaran tubuh. Menjaga tingkat kesensian tapi gagal dan tetap saja menaikkan tensi dengan banyak orang. Sembilan puluh, sampai di sembilan puluh.

Hari H. Naik-turun tangga, pergi sana-sini, cek rundown, titip pesan ke panitia lain, bingung, beli teh susu, cek konsumsi, cek bingkisan, tersenyum. Itulah yang terjadi di hari H, mulai dari hari terasa sejuk hingga matahari terasa membakar tenggorokan.

Acara ini bernama FISIP Trashformation. FISIP Sampah, FISIP Setres, FISIP Sampah Berformasi, begitu kata orang-orang. Dan apapun kata orang-orang, acara ini dimulai dari angka nol dan selesai sampai di angka seratus. FISIP Trashformation, berubah bersama!

*

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang dalam kepanitiaan ini karena turut merasakan naik dan turunnya mood saya, terutama sejak satu minggu sebelum hari H. Sungguh, saya berusaha meningkatkan energi positif pada diri sendiri tapi selalu gagal dan berakhir pada tingkat kesensian yang lebih parah.

Pemintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang di luar kepanitiaan ini yang sudah sangat amat banyak membantu tapi tidak mendapat balasan yang layak dari acara ini. Semoga ke depannya lebih banyak balasan baik yang akan kalian terima dalam hidup. Amin.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang menjadi hambatan dalam acara ini, baik di kegiatan gradual maupun di kegiatan eventual. Maaf, saya belum sepenuhnya memberi maaf kepada kalian.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang belum puas dan merasakan dampak baik dari acara ini. Saya sangat memohon maaf atas segala kekurangan dan berharap diberikan kesempatan lain untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

*

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada 31 orang panitia FISIP Trashformation yang nama group-nya di LINE telah bertransformasi ribuan kali. Tupperware sebagai sponsor utama yang membantu menopang beban acara ini. Rindu yang rela diajak chat dan ketemu setiap hari hanya untuk membicarakan kemajuan dan kemunduran acara ini. Neri yang rela mengerjakan hal-hal lain di luar jobdesc-nya sebagai pengurus keuangan, termasuk bikin meme. Chitra, Aish, Eko, Adit yang mau bergabung dengan kepanitiaan ini. Kak Kodel, Kak Prima, Kak Bes, Kak Azka yang memberi banyak masukan untuk keberlangsungan acara ini. Kak Wita dan Kak Iik yang selalu membantu dan mendampingi. Bocosh yang membantu dalam doa, semangat, like dan share publikasi acara ini. Mas Min yang membantu menggergaji triplek dan mengaduk semen-pasir. Kak Argo yang banyak memberi tahu tempat-tempat di Depok untuk membeli barang-barang operasional. Bapak-ibu penjahit baliho di Lenteng Agung yang menyelamatkan baliho bala acara ini. Ibu penjual tali sol sepatu di Pasar Depok. Percetakan Pandawa. Percetakan sebelah Pandawa. Supplier danus. Food Hall. Bapak-ibu saya sendiri. Bapaknya Rindu yang menyempatkan diri datang dan mau memberi uang untuk membayar utang danus anaknya. Bapaknya Neri yang membantu dalam hal perkayuan. Bu Cil, Mang Ari, dan pedagang Takor lain yang membuang botol plastik di Basaltik. Tatank Galaw, film Joshua Oh Joshua, karaoke Eko-Gina, lagu Tak Ada Logika versi Eko, cem-ceman Gina yang memberikan hiburan di kala pusing dengan acara ini. Semua yang meminjamkan galon dan pompanya serta gelas dan piring cantik. Semua pemilik motor yang motornya pernah dipinjam untuk mengantar sampah ke Kukel. Semua yang ikut serta dalam Pre-Event di CFD. Abang sekoteng yang rela digodain sama cabe-cabe kepanitiaan ini. Pak Hasan dan Pak Dadang di Infras. Nanang Kopma, abang gorengan, penjual minuman, pak satpam, cleaning service. Sasari dan Javaz Maniez. Para hambatan yang memberikan sedikit bumbu pahit dalam acara ini. Segala macam gadget dan bentuk komunikasi. Bangmen Gedung G, AJS, Selasar Gedung C, Plasa. Rubem dan berbagai jenis barang ajaib yang tersimpan di dalamnya. Semua yang memberi doa dan semangat. Terakhir, semua yang berpartisipasi dalam acara ini: peserta, komunitas, sponsor, media partner, BEM FISIP UI. Terima kasih.

***

“Bagus kok seminarnya. Maksud gue, dalam empat jam semua terbahas secara mendalam.”

“Ini adalah peserta seminar terbanyak di tahun ini.”

“Nih, lihat dong gue pake tumbler sekarang minumnya.”

TENTANG GUNUNG

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang sedikit orang yang ingin mendengar, tentang banyak orang yang bertanya-tanya apa tujuannya.

***

Semua berawal dari mendengar cerita pendaki lain. Entah secara langsung, melalui buku, ataupun melalui media sosial. Pendakian saya ke Gunung Prau adalah salah satunya, melihat foto-foto pemandangan gunung-gunung lain dari Bukit Teletubbies saat sunrise di Instagram menggugah semangat untuk sampai di gunung itu. Atau, cerita dari para senior yang telah mendaki gunung tertentu sebelumnya untuk melengkapi manajemen perjalanan dan logistik yang dibutuhkan.

Berlanjut ke masalah pangan. “Jauh-jauh ke gunung, kok masaknya masih Indomie sih,” tanggap seorang senior ketika junior-juniornya ini merebus beberapa bungkus Indomie untuk makan malam di Gunung Papandayan. Sejauh ini, makan di gunung memang sedikit lebih mewah daripada makan di kampus. Spaghetti bolognaise dan pudding mangga di Gunung Papandayan, chicken teriyaki dan chocolate fondue di Gunung Gede, chicken cordon bleu dan sup tom yum di Gunung Merapi. Walaupun Indomie rasa soto dengan telur tetap nikmat disandingkan dengan dinginnya malam di gunung, tapi apalah ia, seringkali hanya jadi pengganjal kekosongan di carrier. #janganjumawa

Sebelum mendaki Gunung Merapi, perasaan demot (demotivasi: kehilangan motivasi) terbesar akan dirasakan ketika packing. Melihat banyaknya barang yang akan dibawa, kemudian memasukkan ke dalam carrier, dan akan menggendong carrier itu dari kaki hingga puncak gunung. Rasanya keinginan untuk mendaki gunung harus dipertanyakan kembali.. “Ke pantai aja apa ya, bawaannya gak akan seberat ini.”, “Ya ampun, bawa apa sih gue, keranda mayat kali ya?!”, “Ini mah kalo gue duduk, juga yang duduk carrier gue bukan gue-nya.” Saya hanya berdua dengan teman saya, yang juga perempuan, ketika mendaki Gunung Prau. Berarti tenda, nesting, kompor, bahan makanan, air akan ada di pundak saya atau pundak teman saya, tidak ada pundak lainnya. Ketika selesai packing dan coba mengangkat carrier masing-masing, kalimat yang keluar setelahnya adalah: “Jalan-jalan di kota aja yuk, gak usah naik deh.” Tapi, toh, kami tetap berangkat mendaki juga, kami tetap membawa dan menjaga carrier dengan baik juga. Walaupun kami harus memperpanjang pendakian tersebut menjadi dua malam untuk menghabiskan bahan makanan karena tidak ingin pulang membawa beban berat lagi.

Carrier yang besar dan berat itu tentu akan menarik perhatian banyak orang jika digunakan di tempat yang tidak semestinya, seperti di kereta dan di halte TransJogja yang sempit. Memang sudah banyak pendaki yang naik kereta untuk mengantar mereka ke kota terdekat dengan gunung yang dituju, namun membawa carrier masih saja membuat kagum beberapa orang sampai terlontar pertanyaan: “Mau mendaki ke mana, Mbak?” Dan ketika dijawab, perasaan kagum itu akan berubah menjadi perasaan nostalgia. Waktu naik kereta menuju Jakarta setelah mendaki Gunung Merbabu, seorang bapak yang duduk di sebelah saya bercerita, setelah melihat saya membawa dan menaruh carrier di bawah kursi, bahwa ia bekerja di dekat Gunung Jayawijaya dan mendapat libur setiap 40 hari sekali. Waktu menunggu TransJogja di halte, mas penjaga halte bercerita bahwa temannya juga suka mendaki gunung dan ia tidak pernah ikut mendaki karena takut. Waktu di mikrobus menuju Wonosobo, seorang mas bercerita bahwa ia juga suka mendaki gunung saat kuliah, tapi sekarang ini sudah jarang karena tidak bisa libur seenaknya dari pekerjaan. Terakhir, ia mendaki Gunung Prau bersama istrinya beberapa bulan yang lalu. Ternyata, carrier yang mirip keranda mayat itu bisa menjinakkan ruang canggung di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.

Dan, sampailah pada saat pendakian. Setiap gunung memiliki jalur masing-masing yang menjadikannya suatu cerita dan kenangan tersendiri. Pendakian ke Gunung Gede adalah pendakian miskom pertama saya. Karena banyak yang ikut, pendakian ini dibagi menjadi beberapa kelompok dan diusahakan untuk selalu bersama kelompoknya. Setelah pemberhentian di suatu pos, saya disuruh berjalan di depan tapi jangan lupa tengok ke belakang dan tunggu teman yang lain, begitu pesan dari senior saya. Tapi tampaknya, saya berjalan terlalu cepat dan lupa untuk mengecek keberadaan anggota kelompok yang lain sehingga saya sampai di Surya Kencana sekitar satu jam lebih cepat dari anggota lainnya. Yah, memang ini kesalahan saya dan tentunya tidak boleh terulang lagi. Pendakian ke Gunung Prau adalah pendakian malam pertama saya, hanya bersama seorang teman yang juga perempuan. Kaki yang sudah pencot (pencot: pegal, sakit, tidak fit seperti sedia kala) karena habis mendaki Gunung Merapi, pundak yang mulai lemas karena carrier yang berat, rasa takut yang entah akan apa bercampur menjadi satu. Ketika sampai di Bukit Teletubbies dan melihat ratusan headlamp menyala-nyala di dalam tenda yang sudah kokoh berdiri, hanya puluhan “Gila sih!!” yang mampu terucap dari mulut. Pendakian ke Gunung Merapi adalah pendakian di atas pasir pertama saya. Frustasi rasanya mendaki di atas pasir karena jika berpijak terlalu lama justru akan molos ke dalam dan jika menginjak bebatuan justru batu-batu itu akan jatuh ke bawah. Namun, rasa frustasi itu perlahan hilang ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di tengah perjalanan menuju puncak dan ketika saya sampai di puncak itu sendiri.

***

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang kaki-kaki yang lelah, pundak yang terluka, nafas yang terengah-engah, tentang alam yang kemudian mengobati semuanya.

Terima kasih kepada Jejak Mollusca yang memberi banyak ilmu dan menemani setiap perjalanan, kepada Papa-Mama yang tetap mengizinkan anak perempuannya mendaki berbagai gunung di samping kekhawatiran yang luar biasa.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Papandayan, Jawa Barat
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Merbabu, Jawa Tengah
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Gede, Jawa Barat
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Merapi, Jawa Tengah
Processed with VSCOcam with lv03 preset
Gunung Prau, Jawa Tengah

BAPAK SAYA MEMANG ANEH

“Nanti kamu naik apa dari Stasiun Cikini ke TIM?”

“Ya, gampanglah. Bisa naik taksi kok.”

“Jangan naik taksi. Kamu jalan aja ke TIM dari stasiun, deket kok, kan tinggal lurus aja. Kalo naik taksi nanti harus muter lagi.”

“…Iya, nanti jalan kaki aja…”

***

Jarak dari Stasiun Cikini menuju TIM memang tidak sejauh itu dan dapat ditempuh dengan menggunakan kaki. Benar kata Bapak saya, kalau naik taksi memang akan muter lagi dan membuat jarak yang tidak jauh itu menjadi dua kali lipatnya. Saya tahu itu. Alasan “bisa naik taksi kok” yang saya gunakan adalah untuk mengurangi rasa cemas Bapak terhadap saya. Tapi, apa boleh dikata, Bapak saya memang aneh (dalam arti yang baik).

Bapak saya memang aneh. Tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik tapi kalau passportnya dibuka, cap-cap imigrasi dari banyak negara lain sudah tercantum di situ. Bapak adalah seorang pengusaha yang ulet, merintis usahanya dari pelanggan yang hanya bisa dihitung dengan jari sampai seperti sekarang, sering diajak melihat pameran mesin di luar negri secara gratis. Bapak tidak bisa bahasa Inggris, namun itu bukan penghalang. Masih ada bahasa Tarzan dan bahasa tubuh yang dapat digunakan. Dalam suatu perjalanan ke Korea Selatan, Bapak ingin memesan telur mata sapi pada sang koki tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya (karena tidak tahu bahasa Inggris dari telur mata sapi). Alhasil, yang keluar dari mulut Bapak adalah, “Egg… Eye… Cow…” Ngaco sengaco-ngaconya. Tapi yang tersaji di piring Bapak adalah sebuah telur mata sapi yang sempurna. Dalam perjalanan lain ke Cina, Bapak bahkan membawa kalkulator dagangnya ketika akan berbelanja di sebuah toko. Tawar-menawar terjadi dan Bapak selalu menang dengan harga yang bisa mencapai tiga perempat lebih murah dari harga yang ditawarkan sang empunya toko (yang kemudian bermuka muram). Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau tidak pernah takut mencoba. (“Pede aja kalo ngomong Inggris seadanya di luar negri, wong abis ini gak ketemu lagi kan. Salah-salah dikit gak apalah.”)

Bapak saya memang aneh. Definisi dari kata gengges yang sesungguhnya. (Gengges dalam kamus saya berarti melakukan sesuatu yang tidak penting tapi dianggap penting, mengganggu.) Pernah suatu kali, ketika berhenti di lampu merah, Bapak melihat seseorang berjualan roti dari kejauhan, lalu berkata, “Tuh ada yang jualan roti, Papa makan roti ah, pasti nanti gak ditawarin.” Kemudian Bapak benar-benar makan roti dan benar-benar tidak ditawari roti oleh penjual yang terlihat dari kejauhan itu. “Bener kan gak ditawarin,” kata Bapak. (Gak penting, kan?) Pernah juga, ketika makan di sebuah restoran, Bapak menggunakan serbet makan di kerah bajunya. Kebetulan, baju Bapak saat itu berwarna merah dan serbet yang digunakan juga berwarna merah. Makan berjalan lancar dan kemudian kami pulang. Tepat ketika akan masuk rumah, Bapak nyeletuk, “Lah kok ini serbetnya masih dipake?!” Dan semua hanyut dalam tawa. Bolehlah Bapak aneh, tapi lucu kan?

Bapak saya memang aneh. Diajak menemani ke mana saja pasti di-iya-kan. Bapak sering menemani saya nonton teater, bahkan kadang saya yang ketiduran dan Bapak yang bertahan sampai akhir. Bapak sering menemani saya nonton di bioskop, walaupun Bapak akan sering ketiduran kalau film yang saya pilih bukanlah  film action atau laga. Bapak pernah menemani saya melihat pameran di galeri, walaupun saya tahu keputusan itu dibuat dengan berat hati. Baru parkir mobil saja mukanya sudah tidak enak, tapi toh tetap ditemani. Sampai akhirnya, Bapak terpaku pada sebuah karya. Saya juga bingung kenapa Bapak melihat karya itu lama sekali. Ternyata, “Ci, ini fotoin dong. Ini Papa yang buat. Wah boleh juga nih dipajang di galeri gini.” Muka Bapak langsung berubah seratus delapan puluh derajat dan saya lega melihatnya. Tapi, Bapak tidak pernah menemani saya ke museum. Saya tidak pernah mengajaknya karena beliau sempat berkata begini, “Ngapain sih Ci ke museum? Apa coba yang dilihat?!” Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau adalah teman saya yang paling setia, yang lebih memilih menemani saya daripada tak tega melihat saya pergi-pergi sendiri.

Bapak saya memang aneh. Sering menjadi penggugah tawa, tapi bisa juga menjadi pembangkit air mata. Setidaknya untuk saya. Melihat Ibu saya menangis, sudah biasa, walaupun saya akan turut sedih (bahkan meneteskan air mata) setelahnya. Melihat Bapak saya menangis, jarang sekali, dan akan mengiris hati saya. Melihat Bapak menangis, adalah hal terakhir yang ingin saya saksikan di hidup ini. Bapak adalah sosok yang humoris dan hal-hal kecil dapat membawa kebahagiaan untuknya, seperti tidur-tidur ayamnya yang hanya lima menit. Bapak adalah sosok pemimpi besar tapi tak lupa untuk percaya dan mewujudkannya menjadi nyata. Bapak adalah… Bapak. Yang tidak pernah saya bayangkan dapat menangis.

Bapak saya memang aneh. Tapi saya akan dengan sangat bangga untuk membicarakan Bapak saya, tentang pengalaman-pengalaman konyolnya saat sekolah dan kuliah, tentang kebersamaan dan kekompakan teman-teman kosnya, tentang kerja kerasnya membangun usahanya dari sekecil biji hingga mekar seperti bunga sekarang ini, tentang masa mudanya yang jomblo dan masa apel ke rumah Ibu, tentang kenakalannya dan hukuman-hukuman yang diberikan Oma, tentang keluarga kecil yang ia impikan, tentang anak perempuan dan anak laki-laki yang selalu ia ceritakan ke orang-orang. Tentang Bapak, yang aneh, tapi dilihat dari sisi manapun akan tetap menjadi suatu kebanggaan. (Saya akan sangat berterima kasih kepada orang yang berkata kepada saya, “Ceritakan soal bapakmu.”)

Bapak saya memang aneh. Tapi Bapak ulang tahun hari ini. Selamat bertambah usia, Pak. Ini bukan usia yang muda lagi, jaga makannya dan jangan suka sembarang jajan. Jangan kurangi keanehanmu, Pak, karena keanehanmu yang membuat banyak orang mencintaimu, yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang ini juga. Jangan bosan menjadi teman dan menemani saya, Pak, karena saya tak akan pernah bosan menjadi pengagummu. Jangan cerewet ya, Pak, kalau nanti sudah tambah tua dan pensiun, kasihan nanti Ibu. Sekali lagi, selamat menyandang usia baru, Pak, semoga apa yang dikatakan baik akan menjadi milikmu di usia ini.

Kangen Pak, kangen pulang malam lalu dijemput Bapak dan kita tetap menyempatkan makan nasi goreng kambing di pinggir jalan. Kapan-kapan lagi ya, Pak.

THE LAST DANCE

“Miss, pentasnya kapan sih?”

“Hmm…mungkin pertengahan November.”

“Oh. Aku udah mulai ngekos nih, Miss, abis lebaran.”

“Yaaah. Jadinya ngekos di mana?”

***

That was my last dance. That was my very last thank you.

Jumat, 25 Juli 2014 adalah titik akhir dari 13 tahun perjalanan saya menari ballet. Hari terakhir. Pertemuan terakhir. Tidak menari ballet lagi. Sedih, tentu. Ibaratnya seperti tidak akan makan ayam goreng lagi—makanan favorit saya—setelah selama hidup di dunia ini hanya bisa makan ayam goreng. Sedih. Dan kehilangan.

Menengok ke belakang, saya sudah menjadi murid ballet sejak usia 4 tahun. Sejak semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni saya ikuti—ballet, lukis, piano, vokal—dan akhirnya yang bertahan hingga sekarang hanya ballet (berhenti belajar lukis dan vokal karena kendala waktu, berhenti belajar piano karena malas latihan jadi jarang ada kemajuan). Hanya ballet yang bertahan, dan dipertahankan.

Selama 13 tahun belajar ballet, mood saya tidak selalu sama. Ketika memasuki usia 12-13 tahun, saya mulai malas ballet. Selalu mencari alasan untuk tidak masuk les—”Capek ah, Ma!”, “Duh, Cici banyak tugas nih.”, “Ya udah telat dong Ma kalo dateng jam segini.”, “Gapapa, lagi males aja. Minggu depan deh pasti ngeles.”—sampai akhirnya saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada Mama saya, “Ma, Cici boleh berhenti ballet gak?” Sesuai dugaan, hujan wejangan keluar dari mulut Mama saya—”Nggak, nanti kamu gak ada olahraga lagi!” Ya hanya wejangan itu sebenarnya yang saya ingat—dan tentunya tidak dikabulkan, setelah Mama saya menuruti kemauan saya untuk keluar dari les Mandarin. Dan selama tahun-tahun itu, saya semakin kreatif mencari alasan untuk menghindar dari les ballet.

Menjelang tahun-tahun terakhir di SMP, saya merasa ada sebagian dalam diri saya yang menginginkan perubahan. (Dan perubahan itu memang terjadi.) Saya menambah kelas ballet menjadi dua kali seminggu dan selalu menyisihkan waktu untuk ballet di hari Rabu dan Jumat. Saya tidak malas lagi, saya bisa menemukan kesenangan dalam menari ballet lagi, dan teknik ballet saya mengalami kemajuan. Tapi justru di tengah kemajuan itu, saya harus “rehat” dari ballet selama 7 minggu untuk persiapan Ujian Nasional. (Oh, oh, astaga.)

Setelah semua persiapan dan ujian sekolah selesai, semangat ballet saya tidak hilang. Saya tetap rajin masuk les, teknik saya sudah jauh lebih baik, dan bisa mengingat semua gerakan yang diajari. Puncak meningkatnya semangat ballet saya adalah ketika akan menghadapi ujian grade 8. Saya tahu bahwa ujian ini mungkin adalah ujian terakhir untuk saya (karena saya sudah memutuskan untuk berhenti ballet saat kuliah nanti) sehingga saya menargetkan untuk mendapat predikat distinction. Saya selalu datang tepat waktu saat les, ikut semua les tambahan persiapan ujian, berusaha menari dengan feel, dan melakukan masukan-masukan dari guru saya sebaik mungkin. Tapi, ujian itu gagal. Saya salah menarikan gerakan yang seharusnya sudah saya ingat luar kepala, kemudian saya mengacaukan tarian berikutnya karena sudah tidak fokus dan terlalu terpukul. Ah, ucapkan selamat tinggal pada predikat distinction. (Ketika hasil ujian keluar, hasilnya lebih baik dari yang saya perkirakan. Saya masih mendapat predikat merit, hehehe.)

Saya senang pernah belajar ballet. Saya senang pernah menjadi murid ballet. Saya senang karena saya pernah memutuskan (mengikuti keputusan Mama sebenarnya) untuk tidak berhenti ballet. Ballet memberikan saya hak untuk melepaskan semua beban pikiran atau amarah melalui gerakan-gerakan dan lagu-lagunya. Ballet memberikan saya kewajiban untuk menjadi diri saya sendiri dan membuat sebuah gerakan bersatu dengan diri saya sesuai style dan feel yang saya punya. Ballet telah memberikan saya kebebasan dan kebahagiaan, yang mungkin tidak saya temui dalam kegiatan lainnya sehingga hanya ballet yang bertahan. Yang mendapat tempat di hati saya. Yang susah saya lepaskan karena akan ada yang kurang. Hilang.

Ah, saya tidak mengira akan sesedih ini. Terlalu banyak kenangan manis selama menari ballet. Tarian bermain pasir saat masih kecil, menggunakan anting yang harus disambung dengan karet karena saya tidak punya lubang anting di telinga, ada yang mengompol saat les, teman-teman ballet yang terus berganti karena saya termasuk murid paling bertahan, masa-masa merasa sebal sama Angel karena dia sangat bagus dalam menari ballet yang mungkin menjadi sebab saya malas masuk les dan setelah dia berhenti les kemudian saya menjadi rajin, ngetawain Gaby yang sering lola saat diajarkan gerakan baru, sering ngobrol sama Kathy sampai ditegur Miss Susan, dan…oiya! And there’s Miss Susan.

Miss Susan. Begitulah saya memanggil guru ballet saya. Guru ballet saya yang sudah memasuki usia kepala 5 tapi ukuran tubuhnya bahkan lebih kecil daripada saya. Sangat talented. Sangat sabar. Sangat banyak pengalaman. Sangat anggun. Sangat elegan. Saya sungguh ingin memutar balik waktu dan menonton Miss Susan ketika menjadi penari ballet dulu. Dan hari Jumat kemarin, tepuk tangan yang diiringi ucapan “Thank you Miss Susan. Good bye Miss Susan.” menjadi yang terakhir bagi saya. Thank you and good bye, Miss Susan. And my beloved ballet friends.

***

“Di Depok, Miss.”

“Oh, kamu keterima ya di UI?”

“Iya, Miss, keterima makanya kos di Depok.”

Ada rasa bangga dan sakit ketika menjawab pertanyaan itu. Ketika tahu sebentar lagi ada yang hilang.

Dan mungkin ada yang baru untuk menggantikan.

JAKARTA (BUKAN) CUMA SEBUAH BENCANA

“Jakarta itu kaya luar negri ya.” Untuk pertama kalinya, saya mengatakan hal itu ketika hari ini naik Transjakarta menuju Kota. Apa yang saya lihat selama di dalam bus dan apa yang saya lihat ketika naik kendaraan umum di luar negri, ya kurang lebih hampir sama. (Para wanita di bagian depan dan para lelaki di bagian belakang atau sebagain wanita dan sebagian lelaki berbaur di bagian tengah, yang beruntung bisa mendapatkan kursi lalu duduk dan menikmati perjalanan, yang kurang beruntung bisa berdiri memasrahkan nasib keseimbangan tubuhnya pada pegangan yang telah disediakan.) Kecuali macetnya. Kecuali orang-orangnya yang tidak mau bersabar sedikit untuk masuk ke dalam bus sehingga harus terjadi adu dorong. Kecuali trotoarnya yang digunakan sepeda motor bukan pejalan kaki. Kecuali…

Tujuan pertama hari itu adalah Museum Bank Indonesia. (Tidak ada alasan tertentu mengapa mengunjungi museum ini lebih dulu, ya karena museum ini yang buka paling pagi, yaitu 08.30, maka kami langsung melangkah ke sana.) Masuk ke gedung museum ini, kami disuguhkan dengan ruang-ruang seperti kamar berukuran kecil yang dulu digunakan untuk transaksi antara teller dan nasabah pada zaman Belanda. (Museum ini dulunya memang berfungsi sebagai bank, De Javasche Bank namanya.) Komunikasi antara teller dan nasabah selama transaksi berlangsung dipisahkan oleh jeruji-jeruji, bukan bertatap muka secara langsung seperti di bank-bank sekarang ini, mungkin untuk menghindari adanya perampokan atau hal lain yang tidak diinginkan. Di ruangan berikutnya, disajikan perjalanan uang mulai dari zaman Marco Polo hingga sampai di genggaman masyarakat Indonesia, hingga peredarannya dari zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, jatuh-bangun inflasi, krisis moneter, dan saat ini. Informasi yang disajikan cukup menarik dengan adanya diorama-diorama berukuran sebesar manusia (bukan dalam bentuk kecil seperti di Lubang Buaya) dan dikelompokkan per periode sesuai zamannya. Di ruangan lain, kami menemukan koleksi uang dari zaman kerajaan yang bentuknya hanya sebesar kancing baju hingga uang kertas dengan seri Jenderal Soedirman!

Diorama berukuran sebesar manusia - Peletakkan logo
Diorama berukuran sebesar manusia – Peletakkan logo “BI” setelah nasionalisasi De Javasche Bank
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Bagian tengah Museum Bank Indonesia
Bagian tengah Museum Bank Indonesia

Jika sudah menonton film Comic 8, pasti tidak asing dengan setting-nya, yaitu di bank. Bank yang digunakan sebagai latar tempat film tersebut adalah Museum Mandiri. Museum yang terletak bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia ini terkesan lebih old dan lebih berasa vintage-nya. Terdapat banyak koleksi mesin tik, alat pemotong kertas, mesin penghitung uang, dan yang membuat saya sangat tertegun dan “waaah!” adalah lift pengantar surat! Lift ini sudah tidak berfungsi lagi, hanya ada kertas bertuliskan “Lift Pengantar Surat” di depannya sehingga saya tahu ini adalah lift pengantar surat. Lift ini letaknya di dalam tiang penyangga dan bisa mengantar surat naik ke atas atau turun ke bawah sehingga memudahkan komunikasi para pegawai. Itu hanya asumsi saya.

Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik
Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik

Menyebrang sedikit, kami sudah sampai di Taman Fatahillah yang luas. Sebelum memasuki museum yang berisi sejarah kota Jakarta itu, kami memanjakan mata di Jakarta Artspace yang terletak di lantai dua Kantor Pos Fatahillah. Dibutuhkan beberapa lembar rupiah untuk menikmati karya seniman-seniman di pameran ini, yaitu Rp 25.000,00 untuk pelajar dan mahasiswa dan Rp 50.000,00 untuk umum. Seperti pada pameran lainnya, banyak karya seni yang, saya pribadi, tidak mengerti apa arti dan maksudnya namun ada juga karya seni yang membuat saya sadar dan terhenyuk. Tapi, itulah seni. Diinterpretasikan orang secara berbeda sesuai selera masing-masing, kan? Itulah juga mengapa saya suka melihat pameran seni. Tidak perlu orang yang pintar untuk menikmati seni. Kalau saya tidak mengerti seni yang Anda buat, bukan berarti saya bodoh, melainkan interpretasi seni saya yang berbeda dengan interpretasi Anda. (Ah, sudahlah.)

IMG_0200

IMG_0210

IMG_0216

Walalupun kaki sudah merengek ingin berhenti, kami tetap memaksa mereka untuk melangkah sedikit lagi menuju Museum Fatahillah. Sayangnya, museum ini baru saja selesai mengadakan konservasi sehingga banyak barang yang mungkin dipindahkan atau belom dikembalikan ke tempat semula sehingga banyak ruangan yang kosong atau tidak terisi secara lengkap. Meriam Si Jagur saja tidak terlihat di singgah sananya. Kami juga harus menggunakan sandal yang disediakan pengelola museum selama menjelajahi museum ini, entah apa maksudnya.

Bagian depan Museum Fatahillah
Bagian depan Museum Fatahillah

Pemberhentian terakhir adalah Museum Wayang. Sesuai dengan namanya, baru menjajakkan kaki di pintunya saja kami sudah disambut dengan wayang-wayang dari kisah Ramayana dan Punakawan. (Ternyata Bagong memang memiliki perut yang besar ya dalam bentuk wayangnya!) Selanjutnya, ada koleksi boneka Si Unyil dan kawan-kawannya, Si Jampang dan orang-orang Belanda, serta kisah Mahabharata. Sangat kecewa karena saya tidak bisa menemukan wayang Ekalaya.. Terdapat juga wayang-wayang dari luar Indonesia, seperti dari India dan Brunei Darussalam. Boneka-boneka kayu dari negara-negara Eropa juga menjadi koleksi Museum Wayang.

Koleksi boneka Si Unyil
Si Unyil dan kawan-kawan

Eksplorasi hari itu membuat saya yakin akan satu hal. Jakarta, bukan cuma sebuah bencana. Ya, mungkin Jakarta adalah sebuah bencana, tapi bencana yang akan segera usai, yang sudah menemukan titik terang untuk bangkit memulai hidup baru dari keterpurukan yang diakibatkan bencana itu. Jakarta adalah sebuah kebobrokan, tapi Jakarta juga adalah sebuah harapan. Harapan inilah, yang walaupun hanya sebesar biji jagung, harus dipertahankan untuk mengubah kebobrokan itu. Untuk menjadikan Jakarta sama kerennya seperti kota-kota besar di luar negri tanpa ada “kecuali…”.

Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga
Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga