Radit & Jaka

Kalau Radit dan Jani memiliki kisah cinta yang tidak berujung bahagia, maka kalau Radit dan Jaka memiliki kisah persahabatan yang simbiosis mutualisme.

Waktu sampai di Keraton Kaibon, Banten Lama, ekspektasi tinggi saya langsung dijatuhkan karena melihat tempatnya yang hanya “begitu” saja: tanah lapang luas yang ditumbuhi rerumputan dan puing-puing bangunan keraton yang tersebar di area tanah lapang tersebut. Ini apa yang mau difoto? pikir saya. Namun, saya kemudian berjumpa dengan kedua anak ini.

Ini Radit (kanan) dan Jaka (kiri). Walaupun badannya kecil dan kurus, tapi mereka lincah sekali. Dinding bangunan keraton bisa dipanjat dengan tangan kosong dalam waktu beberapa detik saja.

Setelah memanjat, Radit dan Jaka akan turun dari dinding tersebut dengan cara melompat. Mereka sama sekali tidak takut akan ketinggian, langsung melompat tanpa pikir panjang, dan mendarat dengan sempurna.

Selain memanjat dan melompat, Radit dan Jaka juga belajar silat bersama. Sebelum latihan dimulai, mereka akan memberi hormat ke depan, ke samping kanan dan kiri, dan ke belakang.

Radit dan Jaka sedang berlatih silat. Terlihat seperti bertengkar sungguhan, tapi mereka tidak saling menyakiti satu sama lain. Mereka belajar menyerang dan membuat pertahanan diri.

Selesai belajar silat, Radit dan Jaka ngaso dan bersenda gurau dalam bahasa Sunda di area keraton. Karena mereka belum masuk sekolah, hingga saya pulang, mereka masih asik bermain di sana.

Setelah bertemu Radit dan Jaka, Keraton Kaibon menjadi lebih menarik untuk saya, terutama untuk difoto. Puing-puing bangunan keraton yang tidak terawat ternyata masih bisa dimanfaatkan dua anak kecil ini untuk bermain dan belajar silat.

Dadaah Radit dan Jaka!

Advertisements

Ngalor Ngidul neng Banyuwangi

Berada di ujung timur Pulau Jawa dan disinggahi para wisatawan sebelum menyeberang ke Pulau Bali; itulah informasi umum tentang Banyuwangi. Warna biru dan hijau terangkai menjadi satu dalam bingkai alam di lor dan kidul; itulah informasi khusus tentang Banyuwangi.

*

Banyuwangi mulai memperbaiki wajah pariwisatanya sejak pergantian bupati yang lalu. Bandar udara mulai dibuka dan jalan-jalan mulai disambung kembali untuk mempermudah akses para wisatawan yang datang. Jasa guide dan penginapan yang ramah bagi para wisatawan asing—maksudnya, berbahasa Inggris dengan baik—mulai berkembang. Berbagai jenis festival diadakan sepanjang tahun untuk menambah daya tarik dan pemasukan kabupaten ini. Sebuah usaha untuk menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi utama pariwisata, bukan hanya sebuah “tempat singgah”.

Bermula dari pusat kota. Seperti kabupaten atau kota lainnya, Banyuwangi memiliki alun-alun yang dinamakan Taman Sritanjung dan terletak persis di depan Masjid Agung Baiturrahman. Penampakannya seperti taman pada umumnya, dengan beberapa tempat untuk duduk-duduk di sore hari dan warung-warung kecil yang menjajakan makanan dan minuman. Tak jauh dari situ, ada Taman Blambangan yang penampakannya lebih cocok disebut sebagai alun-alun: lapangan luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang untuk meneduhi pertukaran canda dan tawa para warga atau wisatawan. Beberapa kali melewati Taman Blambangan, lapangan luasnya sering dimanfaatkan untuk latihan baris-berbaris. (Lomba baris-berbaris sangat bergengsi di Banyuwangi dan boleh diikuti segala jenis usia. Mendekati tanggal 17 Agustus, warga yang ingin ikut serta dalam lomba tersebut mulai giat berlatih, dari siang hingga malam hari, dari memanfaatkan Taman Blambangan hingga jalan raya.)

Bergeser ke utara dari pusat kota. Karena ingin melihat blue fire, perjalanan dari kota dimulai pukul 00.30, kemudian menempuh waktu dua jam untuk sampai di basecamp Kawah Ijen. Dari basecamp, masih ada tanjakan, jalanan yang rata, turunan—yang terbagi dalam lima pos—yang harus dilalui dan tumpukan bebatuan yang harus dituruni untuk—akhirnya—melihat blue fire yang menyambar dan diikuti dengan asap belerang. (Kurang lebih dua jam yang dibutuhkan untuk melewati semua rintangan tersebut.)

IMG_2639.JPG
Tips untuk melihat blue fire: siapkan masker karena asap belerang setelah blue fire akan memedihkan mata dan membuat sesak napas! (Foto ini diambil oleh Pak Heri, guide kami yang dulunya penambang batu sehingga sudah biasa berdekatan dengan sang api)

Blue fire berasal langsung dari perut bumi. Selanjutnya, dengan segala akal dan kepintaran manusia, asap belerang yang dihasilkan dari api ini diolah sedemikian rupa dalam sebuah pipa, membeku, dan menghasilkan batu belerang. Batu belerang diminati oleh perusahaan pembuat kosmetik sehingga pemandangan para lelaki—baik yang tua maupun muda—yang menambang dan mengangkut batu-batu belerang dari kawah hingga ke basecamp sangat sering terlihat.

IMG_2641.JPG
Sudah menjadi kebiasaan bagi para guide dan pendaki Kawah Ijen untuk minggir dan memberikan jalan bagi para penambang batu yang lewat karena beban batu belerang yang mereka bawa sangat berat

Seorang penambang batu dapat mengangkut 70-100 kilogram batu belerang pada pundaknya (jika bapak penambang batu sudah berumur, biasanya batu yang diangkut hanya sekitar 30 kilogram) dalam satu kali angkut. Dalam satu hari, seorang penambang batu bisa dua sampai tiga kali bolak-balik untuk mengangkut batu belerang. (Satu kali perjalanan mengangkut batu dari kawah menuju basecamp kurang lebih ditempuh selama tiga jam dan biasanya para penambang batu mulai bekerja pukul 23.00 hingga pagi hari.) Namun, kerja keras tersebut kurang setimpal karena satu kilogram batu belerang hanya dihargai Rp1.000,00.

IMG_2643.JPG
Beban batu belerang yang dibawa bapak ini bisa mencapai 100 kilogram

Ketika matahari terbit, maka usailah fenomena blue fire. Danau luas berwarna biru kehijau-hijauan dan berisi air panas mulai terlihat. Bebatuan yang merintangi perjalanan menuju kawah masih tetap merintangi perjalanan para penambang batu yang hendak menyetor batunya di basecamp. Batu-batu belerang berukuran kecil yang telah dibentuk dan diukir (dibuat dengan bantuan belerang cair) dijajakan untuk meraup sedikit uang bagi para penambang. Jasa troli untuk mengangkut penumpang yang malas turun ke basecamp juga menghiasi sudut-sudut Kawah Ijen. Gunung Raung dan Gunung Meranti tak bosan-bosannya menemani perjalanan kembali ke basecamp.

IMG_2650.JPG
Danau luas berwarna biru kehijau-hijauan dan berisi air panas mulai menampakkan kemegahannya
Processed with VSCO with a6 preset
Bebatuan yang terus menjadi teman dan rintangan selama mendaki Kawah Ijen
Processed with VSCO with a6 preset
Para penambang meraup tambahan uang melalui batu-batu belerang kecil yang dibentuk dan diukir (ada yang bentuk bunga mawar dan kura-kura, dapat digunakan sebagai sabun, dan berkhasiat untuk menghilangkan alergi pada kulit) dan menyewakan troli untuk mengangkut penumpang ke basecamp
Processed with VSCO with a6 preset
Gunung Raung si teman perjalanan

Rasanya, dalam gelap maupun terang, pertunjukan tak pernah berakhir di Kawah Ijen.

Bergeser semakin ke utara dari pusat kota. Hamparan savana yang luas dan sebuah pantai yang tenang siap menyambut setelah papan bertuliskan “Taman Nasional Baluran” dilewati. Namun, ada beberapa cerita yang perlu disimak sebelum kaki melangkah gembira di taman nasional ini.

IMG_2667.JPG
Konon katanya, banyak kerbau yang dibunuh untuk dijual dagingnya

Taman Nasional Baluran adalah taman nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah, sehingga kondisi jalanan dari pos bayar tiket hingga Savana Bekol—kurang lebih sejauh 11 kilometer—cukup memprihatinkan. Pohon-pohon di hutan sebelah kanan dan kiri jalan juga terbengkalai tanpa pernah diurus dan dirawat. Selain itu, bapak-bapak yang menjaga pos bayar tiket tampak tidak peduli dengan berapa jumlah orang yang datang. Kami datang berenam, salah satu teman kami turun dari mobil untuk membayar tiga tiket masuk. Lolos begitu saja tanpa diperiksa.

IMG_2661.JPG
Kerbau yang kami kira adalah banteng. Mereka suka berendam di kubangan-kubangan yang ada saat hari mulai panas

Sajian pertama dari Taman Nasional Baluran adalah Savana Bekol. Savana ini sangat luas dengan latar belakang Gunung Baluran yang megah. Lebih baik mengitari savana ini dengan mobil karena peringatan untuk tidak berjalan-jalan ke tengah savana sudah terpampang jelas (karena savana ini merupakan habitat ular) dan matahari yang bersinar dengan kuat bisa membakar kulit tubuh matang-matang (saking panasnya, tanah di savana sangat kering hingga retak-retak).

IMG_2666.JPG
Luasnya Savana Bekol
IMG_2665.JPG
Ini dia Gunung Baluran yang megah!

Hanya ada satu jalan untuk menyusuri Taman Nasional Baluran. Kami menyusuri Savana Bekol sambil mencari keberadaan monyet dan rusa (yang ukurannya jauh lebih besar daripada di Bogor) yang hidup liar dan bebas, kemudian takjub setelahnya. Katanya, burung merak dan macan juga tinggal di taman nasional ini tapi kami belum beruntung untuk melihatnya. Setelah Savana Bekol, di ujung Taman Nasional Baluran, terlihatlah Pantai Bama.

IMG_2660.JPG
Satu-satunya jalan yang bisa dilalui untuk mengitari Savana Bekol hingga ke Pantai Bama
IMG_2662.JPG
Halo penghuni Baluran!

Pantai Bama tidak terlalu luas dan ombaknya sangat tenang. Cocok untuk bermain pasir di pinggir pantai atau hanya duduk-duduk menikmati semilir angin. Sebenarnya kegiatan yang dijual dari pantai ini adalah mangrove trail, ketimbang kegiatan di pantainya sendiri.

Processed with VSCO with hb2 preset
Pantai Bama yang tenang

Kembali ke pusat kota. Ada Pecel Pitik dan Sego Tempong yang wajib dicoba. Pecel Pitik adalah ayam kampung yang disuwir, kemudian dibakar, dan dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya pedas dan manis, pedas dari bumbu ayamnya dan manis dari parutan kelapanya. Pecel Pitik biasanya disandingkan dengan Sop Kesrut atau Uya Lodeh (ayam yang dijadikan sop).

IMG_2638.JPG
Satu porsi Pecel Pitik lengkap dengan nasi putih

Berikutnya, Sego Tempong. Sego Tempong adalah Nasi Ramesnya Banyuwangi. Nasi putih yang dilengkapi beberapa sayur dan lauk (sambal ikan teri dan bakwan jagung) wajib, ditambah lauk yang boleh dipesan oleh pembeli. Lauk yang disediakan cukup banyak: ikan pe, pepes tawon, ayam pedas (ayam kuah opor tapi pedas), ayam panggang (ayam bakar yang diberi bumbu), dan lain-lain.

IMG_2637.JPG
Sego Tempong berisi sayur dan lauk wajib ditambah ayam pedas

(Masih banyak makanan khas dari Banyuwangi yang patut dicoba, tapi ini rekomendasi dari saya yang sangat amat wajib untuk dicoba jika berkunjung ke Banyuwangi.)

Bergeser ke selatan dari pusat kota. Kali ini, Taman Nasional Meru Betiri yang siap menyambut. Sambutannya pun lebih baik daripada taman nasional sebelumnya karena jalan yang mulus dan perkebunan karet yang rapih di samping kanan dan kiri jalan (pohon karet akan tumbuh mengikuti cahaya matahari sehingga tumbuhnya bisa miring ke kanan atau ke kiri, tergantung darimana cahaya matahari berasal). Semakin ke dalam, perkebunan cokelat yang kali ini menyambut. Cokelat diolah dari bijinya, tetapi daging buahnya yang berwarna putih tetap bisa dimakan. (Buah cokelat tumbuh di batang.) Bentuknya kecil dan rasanya sedikit asam.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ombak mulai menyapa

Tujuan utama ke Taman Nasional Meru Betiri adalah Pantai Teluk Hijau. Sebelum sampai di pantai ini, Pantai Rajegwesi dan Pantai Batu akan dilewati terlebih dahulu. Setelah melewati Pantai Rajegwesi, mobil harus berhenti sebelum mencapai Pantai Batu dan Pantai Teluk Hijau. Kedua pantai ini hanya bisa dicapai dengan menggunakan perahu membelah lautan atau trekking melalui hutan. Karena biaya perahu cukup mahal dan ombak juga sangat tinggi di hari itu, kami memutuskan untuk trekking melalui hutan. (Hati-hati dengan barang bawaan, terutama plastik kresek, karena di dalam hutan ini masih banyak monyet yang hidup liar dan bebas.)

IMG_2674.JPG
Semakin dekat dengan pantai!

Setelah trekking selama setengah jam, tibalah di Pantai Batu. Di sepanjang pantai ini, hanya ada batu dan bukan pasir. Ombaknya juga sangat tinggi sehingga larangan untuk bermain air sudah terukir di papan penanda “Pantai Batu”.

IMG_2675.JPG
Bebatuan di sepanjang Pantai Batu

Trekking berlanjut dengan menyusuri Pantai Batu dan dibalik pantai tersebut, muncullah Pantai Teluk Hijau. Pantai yang tidak terlalu luas, tapi pasirnya putih dan air lautnya bening, walaupun ombak tetap tinggi sehingga tidak bisa bermain air terlalu jauh. Belum banyak juga orang yang mengunjungi pantai ini sehingga terasa seperti private beach.

IMG_2676.JPG
Pantai Teluk Hijau dengan airnya yang bening
IMG_2677.JPG
Serasa private beach

(Di dalam Taman Nasional Meru Betiri juga banyak terdapat rumah penduduk yang bekerja di perkebunan.)

Bergeser semakin ke selatan dari pusat kota. Terakhir adalah Taman Nasional Alas Purwo. Saat memasuki taman nasional ini, hutan musim pohon jati datang menyapa. (Pohon-pohon jati yang sedang meranggas serasi sekali dengan warna biru langit hari itu.) Kemudian, untuk menuju beberapa tempat wisata di Taman Nasional Alas Purwo, jalur yang ditempuh berbeda-beda—tidak seperti di Taman Nasional Baluran yang hanya satu jalur.

IMG_2686.JPG
Memancing di tengah laut

Pertama adalah Savana Sadengan. Savana ini sebenarnya sangat luas, namun karena banyak banteng (lebih pendek daripada kerbau) dan kerbau bule (warnanya cokelat muda, tapi bukan sapi) yang masih hidup liar dan bebas dan mencari makan sendiri di savana tersebut, wisatawan hanya boleh menikmati savana ini sejauh pagar yang telah dibuat. (Siapkan lensa tele jika ingin memotret banteng dan kerbau yang ada di sana.) Bonusnya bagi kami adalah melihat elang yang sedang terbang mengintai mangsa di savana tersebut!

IMG_2683.JPG
Kumpulan banteng dan kerbau bule
IMG_2682.JPG
Pagar yang membatasi Savana Sadengan

Kedua adalah Pantai Pancur. Seperti pantai sebelumnya, Pantai Pancur juga berpasir putih, berair bening, dan berombak besar (walaupun tidak sebesar ombak Pantai Teluk Hijau). Pantai Pancur sangat luas dan banyak kerang-kerang berwarna unik dan berbentuk lucu yang kami temukan. Dari Pantai Pancur, para peselancar bisa naik mobil jeep dengan paket biaya tertentu untuk menuju Pantai Plengkung atau G-Land untuk surfing dengan ombak yang wah luar biasa.

IMG_2684.JPG
Memancing di Pantai Pancur

Ketiga adalah Penangkaran Penyu Meru Betiri. Walaupun kurang terawat, penangkaran penyu ini berusaha menyelamatkan telur-telur penyu yang ditinggalkan induknya (penyu akan kembali ke tempat ia lahir ketika meninggalkan telur-telurnya) di sepanjang pantai. Telur tersebut akan dirawat hingga menetas dan ketika usia anak-anak penyu tersebut mencapai tiga bulan, mereka siap dilepas ke laut. (Pengalaman yang lebih nyata bisa dirasakan di Pantai Sukamade di dalam Taman Nasional Meru Betiri, namun harus menginap di sekitar sana karena pelepasan penyu ke laut atau penyu yang meninggalkan telur-telurnya di sepanjang pantai biasanya terjadi di malam hari.)

IMG_2685.JPG
Sampai jumpa Banyuwangi!

Dalam perjalanan pulang, kami menerima bonus lagi. Seekor burung merak. Wah! (Burung merak baru akan membuka sayapnya saat musim kawin tiba untuk menarik perhatian lawan jenisnya.)

Kembali lagi ke pusat kota. Yang ini, untuk pulang. (Sangat menyarankan adanya kereta tujuan langsung Jakarta dari Banyuwangi, dan juga sebaliknya, agar tidak perlu bolak-balik naik dan turun kereta.)

*

Dari perjalanan ini, saya merasakan usaha yang kuat untuk menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi utama pariwisata. Sedikit lagi perbaikan, maka Banyuwangi akan bisa setara dengan pulau di dekatnya. (Ada beberapa wisatawan asing yang menjelajahi Banyuwangi, karena saya bertemu dengan mereka di beberapa tempat wisata, bukan hanya mengunjungi Kawah Ijen dan menyeberang ke Pulau Bali esok harinya.)

IMG_2617.JPG
Kiri ke kanan: Qolbi, Dian, Saya, Muthi, Hany, Disty

Ingin mengapresiasi teman-teman perjalanan saya ke Banyuwangi: Muthi, Qolbi, Disty, Dian, Hany. Karena mereka, liburan kali ini terasa menyenangkan dan tidak membosankan.

 

From Konnichi Wa to Arigatou

Bukan seorang penggemar anime atau apapun yang diproduksi Jepang, namun negara ini menyuguhkan hal-hal yang tetap bisa mencuri hati saya. Melalui foto-foto ini, saya ingin bercerita tentang Jepang dan apa yang membuat saya ingin kembali ke sana.

***

Processed with VSCO with a6 preset

Pertama sampai di Jepang, saya langsung jatuh cinta dengan gang-gang yang saya lihat, salah satunya gang yang ada di chinatown di Kobe  di mana foto di atas diambil. Penampakan kebanyakan gang di Jepang mirip dengan yang ada di kartun-kartun yang sering saya tonton saat kecil, seperti Doraemon, mulai dari pertokoan, rumah, mobil, sampai tiang lisrtiknya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mencoba street food di suatu negara adalah wajib hukumnya. Dan itulah salah satu hal yang saya lakukan di Jepang. Saya mencoba onde-onde berisi kacang merah, yang saya lupa namanya apa, sate crabstick, dan sate chicken karage. Sebetulnya masih banyak street food lainnya yang menggoda mata, namun apa daya lambung dan usus tak kuat menampungnya. Es krim rasa green tea juga sangat sering dijumpai di tempat-tempat wisata. Paha bawah ayam yang ukurannya dua kali lebih besar daripada ayam KFC juga sempat menarik perhatian saya. Takoyaki yang biasanya dijumpai di mall-mall di Jakarta, bahkan ada di depan toko-toko di pinggir jalan.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dari foto di atas. Pertama, foto ini diambil saat Indonesia sedang merayakan hari Lebaran pertama dan Jepang tidak merayakannya karena mayoritas penduduk Jepang beragama Shinto. Aktivitas sekolah maupun kerja berlangsung seperti biasanya. Kedua, seragam sekolah siswa-siswa di Jepang terlihat sederhana, warna dan bentuknya, dan rok seragam perempuannya tidak sependek yang ada di kartun-kartun. Ketiga, persimpangan jalan di Jepang sangat disiplin dan rapih. Semua kendaraan mematuhi lampu lalu lintas yang berlaku sehingga jarang sekali terjadi kemacetan dan pejalan kaki juga mendapatkan hak sepenuhnya untuk menyeberang jalan. Motor yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota di Jepang bukanlah sebuah pemandangan umum, alias sangat sedikit jumlahnya. Keempat, ada dua jenis plat kendaraan di Jepang, yaitu plat kuning dan putih. Perbedaan dari kedua warna plat ini adalah besarnya cc dari kendaraan tersebut, yang akan membedakan pula besarnya pajak yang harus dibayar.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Saya senang mengunjungi berbagai toko pernak-pernik di Jepang. Walaupun yang dijual kurang lebih hampir sama (gantungan kunci, gunting kuku, kipas, sandal, kartu pos, kertas washi, tas, miniatur bangunan-bangunan ternama, tempelan kulkas, mochi, cokelat, dan masih banyak lagi), tetapi suasana dan peletakan barang-barang yang dijual sangat lucu dan menarik. Selain itu, pramuniaga yang melayani juga sangat ramah dan sopan. Selesai membayar barang yang akan dibeli, barang tersebut akan dibawakan dan diberikan kepada pembelinya saat mereka akan keluar dari toko, kemudian pramuniaga tersebut akan mengucapkan “Arigatou!” sambil membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda hormat dan terima kasih.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca sebuah artikel di majalah National Geographic Traveler tentang sebuah desa di Jepang. Desa tersebut kemudian dijadikan sebagai situs atau tempat wisata, yang dikenal dengan Shirakawa-go. Rumah-rumah di dalam desa tersebut kebanyakan berarsitektur sama: atap berbentuk segitiga dengan sisi miring yang sangat curam dan tebal yang disusun dari jerami. Bentuk yang demikian berfungsi untuk menahan salju saat musim dingin tiba (salju jadi akan jatuh ke bawah dan tidak menggumpal di bagian atap). Salah satu rumah memang sengaja dibuka untuk dikunjungi oleh wisatawan dan rumah tersebut memiliki lima sampai enam tingkat (digunakan untuk menyimpan berbagai jenis barang yang dimiliki tuan rumah) karena atapnya yang tinggi. Selain itu, pertanian juga menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk di sana dengan banyaknya hamparan sawah yang terlihat di sana. Namun, nama desa yang identik dengan kata ‘tradisional’ tidak sepenuhnya melekat pada desa satu ini. Hampir di setiap rumah terlihat mobil atau motor di depannya yang digunakan untuk keperluan pergi ke kota. Cerita tentang Shirakawa-go yang saya baca di majalah NatGeo Traveler sesuai dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke sana kemarin (lebih baik mengunjungi Shirakawa-go saat musim dingin karena salju akan turun dan mulai menutupi rumah-rumah di desa tersebut).

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mengunjungi beberapa kuil di Jepang, ada satu hal sama yang sering saya temukan: fortune teller. Karena keterbatasan bahasa dan belum rela mengeluarkan sejumlah uang, saya jadi tidak mencobanya dan hanya mengamati dari jauh orang-orang yang menggunakan “jasa” ini. Cara kerja fortune teller ini adalah dengan menuliskan harapan kita pada sebuah kertas. Kemudian, kita akan mengambil satu tongkat pendek yang diaduk atau dicampur dengan tongkat pendek lainnya dalam sebuah gelas. Setiap tongkat pendek tersebut memiliki nomor masing-masing. Nomor yang kita pilih akan ditukar dengan tulisan yang akan menggambarkan “nasib” atau harapan yang sudah kita tulis sebelumnya. Biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan “jasa” fortune teller ini kurang lebih sebesar ¥200 atau Rp26,000,00.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ginza, Tokyo. Surga bagi para penggila belanja. Di sepanjang jalan di Ginza, toko-toko brand lokal Jepang maupun yang ternama berjejer menanti datangnya para pengunjung. Uniqlo dengan dua belas lantai juga turut meramaikan daerah ini. Di akhir pekan, mulai sore hari, jalanan di Ginza akan ditutup untuk kendaraan sehingga pengunjung bebas menyeberang jalan dan berfoto ria seperti yang tertangkap dalam foto di atas. Mungkin butuh satu hari penuh untuk memasuk semua toko yang ada di Ginza, ditambah satu mall di ujung jalannya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ramalan cuaca di Jepang patut diacungi jempol. Jika hari ini diramalkan cerah, maka matahari akan berada di singgah sananya sepanjang hari. Jika besok diramalkan hujan, maka hujan akan turun satu hari penuh dan payung harus selalu siaga di hari itu. Karena ramalan cuaca yang akurat, hujan tidak menghentikan aktivitas orang-orang Jepang. Mobilitas mereka tetap tinggi, berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, ditemani payung-payung yang kebanyakan berjenis transparan. Saya juga menemukan sebuah toko yang menjual payung dengan warna polos, tetapi akan keluar motif tertentu jika terkena air. Wah!

*

Processed with VSCO with a6 preset

Kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo, kurang lebih mirip seperti Jakarta. Gedung-gedung perkantoran yang tinggi, padat bangunan perumahan, banyak kendaraan dan macet, dan dipenuhi banyak orang. Oleh karena itu, saya lebih senang berada di kota-kota kecil Jepang, seperti Nara. Tidak terlalu padat dengan bangunan, kendaraan, dan orang. Akan tetapi, kesamaan dari kota besar dan kota kecil di Jepang adalah jam beraktivitas orang-orangnya. Kebanyakan toko dan mall sudah tutup pada jam sembilan malam, begitu juga jalanan yang mulai sepi. Hanya stasiun kereta yang masih beroperasi hingga larut malam.

***

Masih banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari Jepang, yang menarik dari Jepang, yang membuat ingin kembali ke Jepang. Mulai dari Gunung Fuji yang menjadi tempat favorit untuk bunuh diri, tingkat kelahiran yang rendah hingga pemerintah Jepang bersedia membiayai kelahiran anak pertama dan kedua, jam kerja supir bus yang harus dua belas jam dan tidak boleh lebih, orang-orang yang tidur di depan vending machine di stasiun karena kelelahan bekerja, sampai pemandian air panas atau onsen tanpa menggunakan sehelai benang untuk menutupi anggota tubuh.

This post is how I viewed Japan, from day one to day six, from konnichi wa to arigatou.

Sinar Terakhir

Di antara lapisan awan
dan ribuan bintang
aku memilihmu
yang selalu memberi senyum terindah

Tapi pilihanmu bukan aku
kau selalu pergi
bersama kawan-kawanmu
meninggalkanku yang berusaha menangkapmu

Aku memilihmu
sebab rinduku hanya untukmu
dan di setiap sinar terakhirmu
aku akan menunggu

(Kelas Penulisan Populer, 7 Maret 2016)

Sabaleh Hari di Ranah Minang

Selamat datang di Sumatera Barat, di mana hamparan pantai serta barisan gunung ada di kanan-kiri jalan dan puluhan piring makanan enak selalu menghiasi setiap hari.

Saya menginjakkan kaki di tanah Minang tanpa banyak persiapan: untuk keterasingan. Cina, tidak berkerudung, tidak bisa sedikitpun bahasa Minang. Kombinasi yang pas untuk membumbui perjalanan ini.

*

HARI 01: Pesisir Selatan

Tujuan pertama adalah Mandeh. Layaknya Kepulauan Seribu, Mandeh juga membutuhkan kapal untuk mengantar para pengunjung menuju beberapa pulau dan sebuah hutan mangrove di dalamnya. Air lautnya masih sangat biru dan bersih, pulau-pulaunya masih banyak yang perawan tanpa penghuni, ikan-ikan dan terumbu karangnya sangat cantik dan indah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kapal yang mengantar ke pulau-pulau di Mandeh
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Gede: sangat sepi jika dikunjungi di hari kerja
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Setan: pelangi yang tiba-tiba muncul

Tujuan utama ke Mandeh adalah high cliff jumping. Salah satu pulau di Mandeh, Pulau Sironjong Ketek, menyediakan “jasa” untuk lompat dari puncak tebingnya. Tak pernah saya pikirkan sebelumnya bahwa memanjat tebing dengan bantuan tali adalah satu-satunya cara untuk sampai ke puncak tebing tersebut. Di ketinggian sekitar enam meter, bapak empunya kapal meneriaki saya untuk lompat dari situ saja—mungkin kemampuan memanjat saya yang kurang meyakinkan atau muka saya yang mulai pucat, lompat dari ketinggian sepuluh meter, seperti yang dilakukan kebanyakan pengunjung pulau ini, harus dikurangi empat meter. Selama sekitar sepuluh menit, saya asik dengan ketakutan saya sendiri: “Eh aduh gimana nih!”, “Duh kenapa sih mau nyoba?!”, “Aduh aduh aduh.”, “Lompat apa turun ya, mau turun gak bisa juga duh.”, “Aduuuh gila gila gila!”, “Hitungin dong dari sepuluh.” Dimulai dari kaki, seluruh raga saya meninggalkan tebing itu menuju air laut yang sangat asin dan membanting bagian belakang paha saya hingga menghasilkan lebam sebesar tangan. Jadilah saya pulang dengan kaki terpincang-pincang, namun senyum berseri di wajah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Ketek: yang memakai kaos abu-abu adalah saya dari ketinggian enam meter

Meninggalkan Mandeh, hari sudah tak lagi terang, namun laut lepas masih terlihat dalam perjalanan kembali ke Padang berkat lampu kuning dari kapal-kapal yang berlabuh. Sungguh indah sampai sakitnya lebam di kaki tak terasa, untuk sejenak.

HARI 02: Padang

Berjalan-jalan di kota Padang sama rasanya dengan berjalan-jalan di kota Bogor. Teduh karena banyak pohon besar di samping kanan dan kiri jalan. Akan terasa berbeda ketika sudah melihat tepi laut, karena di Bogor tidak ada laut, bukan?

Di tepi laut ini, salah satu makanan khas Sumatera Barat bisa dinikmati, yaitu langkitang dan pensi. Sebelum ke makanan utama, disajikan makanan pembuka berupa kerupuk berbentuk bundar. Bagian atas kerupuk ini dibaluri dengan sambal dan mie. Enak memang, tapi agak bosan memakannya karena ukuran yang agak besar hingga menimbulkan rasa yang monoton.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Makanan pembuka: kerupuk dengan bumbu dan mie di bagian atasnya

Langkitang adalah makanan laut yang dimakan dengan cara dihisap dengan mulut. Warna cangkangnya—dan isinya—hitam, bentuknya agak lonjong, dan ada lubang di kedua sisinya. “Kalo gak bisa dihisap di lubang itu, hisap di lubang lainnya, De. Kalo masih gak bisa juga, balik lagi ke lubang pertama.” Begitu saran dari seorang teman. Dalam satu piring kecil, ada puluhan langkitang yang sudah dibumbui sehingga tidak terasa hambar ketika langkitang dihisap.

Pensi berukuran sangat kecil, hanya seruas jari kelingking, dan berbentuk seperti kerang dara. Cara mengambil daging di dalam cangkangnya, pada umumnya, dengan gigi. Namun, sepertinya ukuran gigi saya terlalu besar, jadilah saya mengambil dagingnya dengan jari tangan. Pensi juga sudah dibumbui, seperti langkitang—bumbu keduanya agak serupa.

Pensi (kiri) dan langkitang (kanan)

Kedua makanan utama ini cukup ditutup dengan air putih karena bumbunya yang pedas.

HARI 03: Padang Panjang

Karena agak siang tiba di kota kecil ini, agak tanggung pula untuk pergi ke beberapa tempat wisata. Jadi, marilah saya berbagi fakta yang diceritakan seorang teman tentang tanah Minang.

Padang Panjang terkenal dengan 99 rasulnya sehingga  di sepanjang jalan, terdapat papan-papan—dengan jarak tertentu antarpapan—bertuliskan nomor dan sifat sang rasul, dalam aksara Arab dan bahasa Indonesia.

Daerah Singgalang terkenal dengan sebutan “bule Singgalang”. Sebutan ini muncul karena banyaknya anak yang terlahir albino akibat perkawinan sedarah.

Jangan heran, apalagi diambil hati, jika dilayani secara jutek oleh pramusaji atau pramuniaga di sini. Bahkan pramusaji/pramuniaga bisa marah kalau calon pembeli sudah bertanya tapi tidak membeli dagangannya.

Martabak manis dihargai hanya Rp20.000,00 satu loyangnya! (Ya ampun, luar biasa murah dan membahagiakan.)

Dari abang martabak, saya belajar untuk mengusir laron: bagian dalam plastik diolesi mentega, kemudian bagian dalamnya ditukar menjadi di luar sehingga laron-laron yang hinggap di lampu akan menempel

Padang Panjang dingin sekali di waktu malam. Saya tidur tanpa pendingin ruangan, tapi masih harus menggunakan selimut yang tebal agar hangat. Brr.

HARI 04: Bukittinggi

Menceritakan Bukittinggi akan sama saja dengan menulis novel sebab begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jam Gadang (tidak boleh ada bangunan di Bukittinggi yang lebih tinggi daripada jam ini), Kebun Binatang, Jambatan Limpapeh, Benteng Fort de Kock (digunakan oleh Belanda pada masa Perang Paderi), Ngarai Sianok, Goa Lubang Jepang (jika berada di dalam goa ini lebih dari 15 jam, maka sudah dipastikan akan paru-paru basah), Rumah Bung Hatta (yang tak sempat saya kunjungi).

Jam Gadang: bisa masuk ke dalam bangunannya pada jam-jam tertentu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kebun Binatang: tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak hewan-hewannya
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jambatan Limpapeh: menghubungkan Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock
Ngarai Sianok: jangan hanya melihat dari atas (Panorama Ngarai Sianok), cobalah turun ke bawah!
Goa Lubang Jepang: seluruh goa terbuat dari batu seperti ini dengan suasana yang dingin dan lembap

Begitu pula dengan kulinernya. Pertama, nasi kapau. Saat memasuki belakang pasar, bertemulah saya dengan sebuah petak berisi para penjual nasi kapau. Perbedaannya hanya terletak pada nama penjualnya. Nasi Kapau Ni Er. Nasi Kapau Uni Lis. (Pilih saja yang paling ramai karena biasanya itu yang paling enak.) Nasi kapau adalah nasi putih yang disajikan dengan rebung dan sayur nangka—sebagai ciri khasnya—kemudian pembeli bisa memilih lauk: ayam goreng, rendang ayam, dendeng, usus sapi, masih banyak lagi. Lauk-lauk tersebut dijejerkan secara bertingkat dan penjualnya berdiri lebih tinggi sehingga bisa mengambil lauk untuk pembelinya.

Ni Er sedang membungkus nasi kapau untuk pembelinya
Nasi kapau: siapkan selembar uang Rp20.000,00 dan Rp10.000,00 untuk satu piringnya

Kedua, es cendol. Berisi cendol yang terbuat dari tepung sagu, cendol yang terbuat dari tepung beras, dan lupis. Uniknya lagi, es cendol dimakan di atas piring, bukan di mangkok atau gelas. (Tidak banyak yang berjualan es cendol di petak nasi kapau ini.)

Es cendol: murah meriah hanya Rp6.000,00 per porsinya

HARI 05: Agam

Melihat danau dari ketinggian tertentu jelas lebih menyenangkan ketimbang melihat danau dari tepinya. Itulah yang saya rasakan ketika melihat Danau Maninjau, danau terbesar kedua di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dan hanya bisa membisu di dalam mobil—karena berusaha mengartikan dan mengerti percakapan antara teman saya dan teman-temannya dalam bahasa Minang, dan begitu saya mulai mengerti, percakapan sudah berganti ke topik lainnya—kabut Puncak Lawang mulai menyambut.

Puncak Lawang mirip dengan Gunung Pancar karena penampakan hutan pinusnya. Dilengkapi dengan fasilitas paralayang dan outbond untuk anak-anak. Dilengkapi pula dengan kabut tebal yang luar biasa indah jika diabadikan oleh kamera, namun menutupi pemandangan Danau Maninjau. Karena kabut tak kunjung pergi, meneruskan perjalanan ke tepi danau adalah keputusan yang tepat.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kabut Puncak Lawang
Walaupun berkabut, aktivitas outbond di Puncak Lawang tetap dapat dilakukan, berbeda dengan aktivitas paralayang yang harus dihentikan

Belum jauh meninggalkan Puncak Lawang, kabut mulai memusnahkan dirinya dan tampaklah… Danau Maninjau. Luas, dikelilingi tebing-tebing di bagian kirinya, dikelilingi rumah-rumah penduduk dan tambak-tambak ikan di bagian kanannya. Megah sekali. Sungguh, tak pernah saya sebahagia itu melihat sebuah danau. (Bahkan masih terasa bahagianya ketika menuliskan ini.)

Processed with VSCOcam with hb2 preset
The Magical Lake Maninjau: maaf, danaunya harus terhalangi beberapa pohon

Untuk sampai ke tepi danau, ada Kelok 44 yang datang menantang. Jika kemampuan mengendarai mobil Anda masih di bawah rata-rata atau hanya sedikit di atas rata-rata, jangan mencobai kelok yang penuh dengan tikungan tajam dan membuat sekujur tubuh keringat dingin ini.

Ketika berada di tepi danau, tambak ikan tak ubahnya sebuah tambak ikan. B aja, begitu menurut tren zaman sekarang.

HARI 06: Tanah Datar

Sumatera Barat terkenal dengan rumah adatnya, yaitu Rumah Gadang, yang berbentuk rumah panggung dengan atap yang runcing di bagian ujungnya.

Di Istano Basa Pagaruyung, rumah adat Minang terdiri dari tiga tingkat. Di setiap tingkatan ada beberapa jendela besar. Mulai tingkat dua dan tiga, atap dan dindingnya dihiasi ukiran-ukiran yang cantik dan memiliki makna masing-masing. Terpisah dengan rumah utama, ada dapur di bagian belakang. Bagian bawah panggung yang umumnya digunakan untuk memelihara ayam, digunakan untuk meraup sedikit keuntungan melalui penyewaan pakaian adat Minang dan jasa foto. (Saya pun turut mencoba pakaian adat Minang warna merah, lengkap dengan suntiang. Rancak bana!) Di bagian depan rumah, biasanya ada dua lumbung padi, dibuat tinggi agar tidak dicuri orang.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jendela besar yang ada di setiap tingkatan
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ukiran-ukiran cantik di bagian dinding dan atap
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Rumah dan pakaian adat Minang

Masih banyak yang menganggap sakral pakaian adat Minang, teman saya salah satunya. “Gak mau ah, gue nanti aja dong pakai pertama kalinya pas nikahan.” Dan bintang-bintang di langit tanah Minang menjadi saksi pernyataan itu.

HARI 07: Padang Panjang

Cuaca yang kurang bersahabat, alias hujan cukup deras, membuat hari itu menjadi Tour de Padang Panjang.

Padang Panjang adalah sebuah kota kecil yang akan dilewati jika akan menuju Bukittinggi atau Solok atau Payakumbuh atau Padang. Dengan tagline “Kota Serambi Mekkah”, nuansa Islam memang sangat terasa—saya sempat clingak-clinguk apakah ada perempuan lain yang tidak memakai kerudung selain saya. Oh, ternyata masih ada. Satu orang.

Selain itu, kulinernya wajib diacungi jempol. Sate Mak Syukur (seperti sate padang pada umumnya, tapi dagingnya lebih besar, dan banyak presiden yang sudah bersantap di sini!). Martabak manis seharga Rp20.000,00 per loyang (ini semacam special mention, setelah disebutkan sebelumnya dan sekarang disebutkan lagi, karena begitu murahnya martabak ini). Martabak kubang atau martabak mesir (martabak asin yang dikuahi dengan bumbunya, bukan dicocol). Roti cane isi pisang dan dibaluri keju-susu kental manis. Gorengan (ada ketan hitam goreng!). Bubur kampiun (paduan antara bubur putih, delima, kacang hijau, tape, lupis).

Kata diet tidak pernah ditulis dalam kamus rakyat Sumatera Barat.

HARI 08: Bukittinggi

Kembali ke sini, sebab masih ada kuliner yang belum dicoba: sate agam dan es tebak. Keduanya berjualan di petak yang sama—di Boutique Second—yang satu di bagian depan, yang lainnya di bagian belakang.

Sate agam, seperti sate padang pada umumnya. Empat sampai lima tusuk—kenapa selalu hanya empat sampai lima tusuk?! Apa tidak boleh lebih?!—sate, potongan ketupat, kuah kuning, bawang goreng di atasnya. Setelah beberapa kali makan sate padang, saya menyimpulkan bahwa kerupuk adalah makanan komplementer sate padang. Kerupuk jenis apapun. “Mana enak De makannya gak pake kerupuk?”

Sate agam: porsi full

Es tebak sangatlah menarik perhatian. Mungkin hari itu terlalu terik, mungkin orang di sebelah saya makan terlalu nikmat. Entahlah, es tebak memang menarik buat saya. Es tebak adalah es campur ala Minang yang disajikan dalam mangkok. Isinya mulai dari es serut, cincau, kacang merah, gula merah, susu kental manis, sirop, ketan hitam, hijau-hijau seperti cendol yang saya lupa namanya, sampai tape yang terbuat dari ubi.

Es tebak: e pada tebak dibaca seperti e pada sate

Jangan pula sedang sakit gigi jika berkunjung ke Sumatera Barat.

HARI 09: Padang

“De, lo pake lipstik gak sih? Bibir lo merah banget.”

“Hah, hmm, mungkin kebanyakan makan pedes.”

Bicara soal merah, hari itu saya diajak mengunjungi “kampung” saya. Iya, di mana kebanyakan orang Cina tinggal di Padang, daerah Kota Tua.

Sungguh terasa sekali “Cina”-nya—selain karena banyak bertemu orang-orang berkulit kuning dan bermata sipit seperti saya—masih banyak klenteng yang dipenuhi hiasan lampion menjelang Imlek, rumah duka, dan rumah himpunan keluarga untuk menyimpan abu. Lebih terasa seperti berada di Kampung Cina daripada di Kota Tua, sejujurnya.

Oiya, sempatkan juga minum kopmil (kopi milo) Om Ping! (Tuhkan, Cina banget.)

Kopmil Om Ping: sangat terkenal dan sudah membuka cabang di mana-mana

HARI 10: Padang

Sumatera Barat terkenal dengan cerita rakyat Malin Kundang dan kisah perjodohan Siti Nurbaya.

Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu dapat ditemukan di Pantai Air Manis, bersama kapalnya yang terdampar di pinggir pantai. Baik batuan kapal maupun Malin Kundang, sudah tidak sempurna lagi karena terkikis air laut.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pantai Air Manis: bisa menyebrang ke Pulau Pisang hanya dengan berjalan kaki karena ada daratan di antaranya (disebabkan oleh pertemuan dua arah ombak)

Kuburan Siti Nurbaya dapat ditemukan di Gunung Padang. (Lebih cocok disebut bukit daripada gunung.) Sebelum sampai di puncak, ada sebuah turunan menuju kuburan tersebut. Saya tidak punya cukup nyali untuk mengunjunginya karena lokasinya sedang sepi waktu itu.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Menuju kuburan Siti Nurbaya dan puncak Gunung Padang

Yang tak kalah terkenal dari dua tokoh tersebut adalah fakta bahwa mereka tidaklah nyata. Hanya legenda. Hanya karangan yang dikarang sangat hebat oleh pengarangnya hingga memengaruhi orang-orang yang mendengarnya untuk membuat semacam peringatan akan cerita tersebut.

Kesedihan saya mengetahui cerita Malin Kundang tidaklah nyata seiring dengan kesedihan karena masih ada yang menganggap saya datang dari negara Tiongkok.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ni hao!

HARI 11: Payakumbuh

Setelah hari sebelumnya bermain dengan panas dan matahari, di hari terakhir ini giliran dingin dan lembah. Tujuan terakhir: Lembah Harau.

Begitu memasuki daerah Payakumbuh, paduan warna hijau dan cokelat dari sawah dan lembah langsung menyambut. Angin pun menyentuh wajah dengan lembut tanpa ada sedikitpun bau asap kendaraan. Damai sekali.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Lembah Harau. Mencoba Lembah Echo, berteriaklah maka akan ada gema yang mengikuti. Membeli bunga anggrek, yang aslinya ditanam di tebing-tebing Harau. Bermain air di beberapa air terjun dari tebing Harau yang sangat tinggi. Berjalan-jalan dan mengagumi kemegahan Lembah Harau.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Air terjun dari salah satu tebing Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Mengagumi kemegahan Lembah Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Masih tetap mengagumi Lembah Harau

Tujuan terakhir ini adalah penutup yang merangkum seluruh perjalanan di Sumatera Barat. Mengagumkan.

*

Dalam setiap perjalanan, pasti ada suka-dukanya, pasti ada manis-pahitnya. Duka dan pahitnya adalah keterasingan yang saya rasakan—karena kesalahan saya sendiri juga yang datang tanpa persiapan mental, bukan persiapan kerudung ya—dan hanya lima persen dari keseluruhan sabaleh hari kemarin. Suka dan manisnya adalah tanah Minang itu sendiri yang mengagumkan, membahagiakan, mendamaikan, dan mengajarkan saya untuk berani makan pedas.

Sawahlunto, Solok, dan Lima Puluh Kota belum dijelajahi. Melihat Lembah Harau, Payakumbuh butuh dijelajahi lebih lanjut. Ngalau Indah dan Tarusan Kamang katanya indah. Gunung Singgalang yang misterius sangat menantang untuk disambangi. Kepulauan Mentawai yang masih kental adat dan budayanya membuat penasaran. So, West Sumatra, it isn’t a good bye but just a see you later, is it?

Satu Tangkai Edelweiss untuk Mama

Hobi Mama memelihara berbagai jenis tanaman hias berdampak pada obsesinya untuk memiliki seikat edelweiss. Beberapa kali saya atau adik saya pergi naik gunung, pesan dari beliau hanya satu: Beliin Mama edelweiss ya, seikat aja. Dan berkali-kali pula saya bertitah bahwa edelweiss tidak boleh diambil apalagi dibeli (karena berarti sudah diambil secara ilegal oleh sang penjual). Tapi, karena hari ini Mama ulang tahun, setiap kebohongan yang pernah saya lakukan akan saya hargai satu tangkai edelweiss.

###

Tidur siang layaknya sebuah malapetaka bagi anak kecil karena harus menghentikan aktivitas bermain barang satu atau dua jam. (Sungguh, berbahagialah kamu yang masih punya waktu untuk tidur siang karena ketika dewasa, tidur siang adalah sebuah hadiah, indah dan sangat jarang didapat.) Dan hal itu pun terjadi pada saya. Waktu tidur siang saya bersamaan dengan jam tayang film-film India di televisi, yang sudah menjadi kegemaran saya karena tertular si Mbak yang suka menontonnya hampir setiap hari. Walaupun Mama tidak di rumah, tapi si Mbak tepat berada di hadapan saya dan kalau saya mangkir dari jadwal tidur siang, si Mbak bisa melapor kepada Mama. Jadi, tak ada gunanya memperdebatkan tidur siang dengan si Mbak. Saya masuk ke kamar, namun tetap gelisah. Guling-guling, bolak-balik, ingin nonton film India. Sekitar setengah jam kemudian, sebuah ide muncul. Saya mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit di bawah mata saya. Tahu kan seperti apa minyak kayu putih? Akhirnya mata saya menjadi lebih sipit, seperti orang baru bangun tidur, karena bau dan rasa diolesi minyak kayu putih. Ditambah acak-acak rambut sedikit, pasang muka agak lesu, kucek-kucek mata, masih membawa selimut, keluarlah saya dari kamar dan kewajiban tidur siang. Kok tidurnya cepet? tanya si Mbak. Iya, lagi gak bisa tidur. Dijawab dengan tetap lesu, tapi penuh kemenangan di dalam hati. Yes, film India! (Film India favorit saya adalah Mohabbatein.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Mudah bagi saya untuk masuk ke dalam peringkat 10 besar ketika duduk di bangku kelas satu dan dua SD. Mudah bagi saya, sebab mudah pula mencontek ketika ulangan berlangsung sehingga nilai saya bisa menjulang tinggi. Mudah untuk mencontek, sebab ada kolong di bawah meja untuk membuka buku cetak dan mencari jawaban dari soal-soal ulangan. Saya selalu belajar satu hari sebelum ulangan, Mama tahu itu. Tapi saya sering mencontek saat ulangan, saya rasa Mama tidak tahu soal itu.. (Untunglah, saya bertobat di kelas tiga SD, karena sudah tidak ada kolong lagi di bawah mejanya, dan perilaku mencontek yang saya lakukan bisa dihitung dengan jari sejak hari pertobatan itu hingga hari ini. Yang ini jujur, ya.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Kebiasaan selalu diantar dan dijemput membuat izin naik kendaraan umum adalah hal paling ribet untuk didapatkan dari Mama, dulu ketika saya duduk di bangku SMP hingga SMA. Kalaupun diizinkan, itu adalah keputusan yang terpaksa dan banyak wejangan yang dicurahkan. Ci, jangan lupa nomor taksinya BB ke Mama. Ci, kalo naik busway tasnya ditaroh di depan ya jangan di belakang. Dan untuk menghindari curahan wejangan itu, saya selalu mengatakan akan naik mobil teman untuk mencapai tempat yang dituju. Ma, nanti Cici naik mobilnya Marissa kok, dianterin papa-nya. Padahal yang saya lakukan adalah berpindah dari satu bus Transjakarta ke bus Transjakarta lainnya. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Prinsip saya adalah selalu jujur kepada Mama jika akan mendaki gunung. Dengan siapa saja, berapa hari, naik apa menuju ke daerahnya. Namun, dalam pendakian ke Gunung Prau, terjadi juga penodaan terhadap prinsip tersebut. Bilangnya, pergi berlima dengan tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Nyatanya, hanya pergi berdua dan perempuan semua. Bilangnya, sudah di basecamp tapi tidak bisa pulang di hari itu karena tidak keburu mengejar bus. Nyatanya, masih di atas gunung dan baru akan turun gunung esok harinya (syukur ada sinyal di atas gunung waktu itu). Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Ci, sudah sampai kost? Sudaah ma. Sdh makan malam dan mandi? Sudah ma. Ok, istirahat yah. Oke ma. Whatsapp dari Mama setiap hari sekitar pukul 18.00 dibalas dengan kebohongan hampir setiap hari. Pukul 18.00, saya masih di kampus dan belum ada niatan untuk pulang. Pukul 18.00, saya sudah makan siang dan tidak akan makan malam. Pukul 18.00, saya tentu belum mandi malam karena masih di kampus. Satu tangkai edelweiss untuk Mama. (Rasanya ingin memberi seribu tangkai karena kebohongan ini kemungkinan besar masih akan berlanjut hingga akhir kuliah.)

###

Mama yang cantik, yang awet muda, yang pintar, yang teliti, yang sabar, yang ramah, yang pandai memasak, yang cara makannya elegan, yang sangat suka sambal, yang rapih dan bersih, selamat ulang tahun.

Dan sejujurnya, saya tetap tidak bisa memberikan bertangkai-tangkai edelweiss untuk membayar kebohongan saya kepada Mama. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Trashformation

“Kamu jangan gak sopan kaya gitu ya, telepon ini saya rekam!!”

“Keterlaluan banget deh.. Semua serba gak punya aturan.. Kalian yang bener dong..”

“Saya juga pusing lihat kalian kalau tidak mau diajak kerja sama gini.”

“Jaga kesehatan jangan lupa kalau begadang.”

“DE AYO NANGIS TERUSIN AJA TAPI JANGAN NYERAH YAAAA.”

“Acara yang bagus banget halangannya nggak mungkin kecil.”

Riweh-riweh sejak satu minggu sebelum hari H

***

Melalui ini, saya ingin bercerita, meminta maaf, dan berterima kasih. Bercerita tentang saya yang untuk pertama kalinya memiliki peranan besar dalam sebuah acara yang diharapkan berdampak besar pula. Meminta maaf untuk perilaku saya yang saya sadari masih jauh dari dewasa. Berterima kasih atas bantuan orang-orang yang membuat acara ini terjadi.

Ketika beberapa orang mengacu pada LPJ (Lembar Pertanggungjawaban) dari acara tahun lalu untuk membuat acara yang lebih baik di tahun ini, saya tidak punya LPJ apapun. Ini adalah acara baru di tahun ini yang harus dimulai dari nol. Entah itu hal yang baik (karena orang jadi tidak punya ekspektasi dan pembanding) atau itu hal yang kurang baik (karena semua harus dimulai dari nol dan abstrak). Tapi, marilah kita mulai dari nol.

Semua kegiatan dalam acara ini dirancang sejak bulan April, mulai dari acara gradual, acara eventual, dan bagaimana menarik benang merah dari acara gradual menuju acara eventual. Setelah konsep, teknis perwujudan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut mulai membuat pusing lagi. Dari nol, kami sudah sampai di angka dua puluh sekarang.

Karena suatu dan lain hal, kegiatan-kegiatan gradual baru bisa dilaksanakan di semester genap, yaitu mulai bulan September. Walaupun demikian, persiapan terus berjalan dan menyita waktu liburan yang panjang tapi tak terasa panjang. Persiapan ini cukup menarik perhatian orang sekaligus membuat mereka heran. Dari angka dua puluh, kami tiba di angka empat puluh.

Dan tibalah bulan September! Satu per satu kegiatan gradual mulai berjalan, pujian dan hambatan tak berhenti menghadang, nasihat dan cek-cok terus merajam. Tak hanya sampai di kegiatan gradual, kegiatan eventual juga mulai dibedah dari konsep sampai teknisnya. Penyesuaian-penyesuaian harus terus dilakukan karena banyaknya keterbatasan di samping banyaknya keinginan. Empat puluh terbang dan mendarat di enam puluh.

Menuju delapan puluh, akan sangat bosan sesungguhnya kalau diceritakan karena setiap hari hanya akan diisi dengan persiapan – pusing – persiapan – mendengar nasihat – pusing – mendapat masukan – persiapan – pusing – persiapan – pusing. Begitu seterusnya sampai tiga hari menuju hari H.

Tiga hari menuju hari H adalah tiga hari tanpa menyentuh kasur, tiga hari harus menguatkan otak dan mata, tiga hari melatih kesabaran. Pulang ke kos hanya untuk mandi dan bertukar pakaian, sisanya dihabiskan di kampus. Dua kotak Nescafe dalam satu hari untuk mensugestikan kesegaran tubuh. Menjaga tingkat kesensian tapi gagal dan tetap saja menaikkan tensi dengan banyak orang. Sembilan puluh, sampai di sembilan puluh.

Hari H. Naik-turun tangga, pergi sana-sini, cek rundown, titip pesan ke panitia lain, bingung, beli teh susu, cek konsumsi, cek bingkisan, tersenyum. Itulah yang terjadi di hari H, mulai dari hari terasa sejuk hingga matahari terasa membakar tenggorokan.

Acara ini bernama FISIP Trashformation. FISIP Sampah, FISIP Setres, FISIP Sampah Berformasi, begitu kata orang-orang. Dan apapun kata orang-orang, acara ini dimulai dari angka nol dan selesai sampai di angka seratus. FISIP Trashformation, berubah bersama!

*

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang dalam kepanitiaan ini karena turut merasakan naik dan turunnya mood saya, terutama sejak satu minggu sebelum hari H. Sungguh, saya berusaha meningkatkan energi positif pada diri sendiri tapi selalu gagal dan berakhir pada tingkat kesensian yang lebih parah.

Pemintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang di luar kepanitiaan ini yang sudah sangat amat banyak membantu tapi tidak mendapat balasan yang layak dari acara ini. Semoga ke depannya lebih banyak balasan baik yang akan kalian terima dalam hidup. Amin.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang menjadi hambatan dalam acara ini, baik di kegiatan gradual maupun di kegiatan eventual. Maaf, saya belum sepenuhnya memberi maaf kepada kalian.

Permintaan maaf saya sampaikan kepada orang-orang yang belum puas dan merasakan dampak baik dari acara ini. Saya sangat memohon maaf atas segala kekurangan dan berharap diberikan kesempatan lain untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

*

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada 31 orang panitia FISIP Trashformation yang nama group-nya di LINE telah bertransformasi ribuan kali. Tupperware sebagai sponsor utama yang membantu menopang beban acara ini. Rindu yang rela diajak chat dan ketemu setiap hari hanya untuk membicarakan kemajuan dan kemunduran acara ini. Neri yang rela mengerjakan hal-hal lain di luar jobdesc-nya sebagai pengurus keuangan, termasuk bikin meme. Chitra, Aish, Eko, Adit yang mau bergabung dengan kepanitiaan ini. Kak Kodel, Kak Prima, Kak Bes, Kak Azka yang memberi banyak masukan untuk keberlangsungan acara ini. Kak Wita dan Kak Iik yang selalu membantu dan mendampingi. Bocosh yang membantu dalam doa, semangat, like dan share publikasi acara ini. Mas Min yang membantu menggergaji triplek dan mengaduk semen-pasir. Kak Argo yang banyak memberi tahu tempat-tempat di Depok untuk membeli barang-barang operasional. Bapak-ibu penjahit baliho di Lenteng Agung yang menyelamatkan baliho bala acara ini. Ibu penjual tali sol sepatu di Pasar Depok. Percetakan Pandawa. Percetakan sebelah Pandawa. Supplier danus. Food Hall. Bapak-ibu saya sendiri. Bapaknya Rindu yang menyempatkan diri datang dan mau memberi uang untuk membayar utang danus anaknya. Bapaknya Neri yang membantu dalam hal perkayuan. Bu Cil, Mang Ari, dan pedagang Takor lain yang membuang botol plastik di Basaltik. Tatank Galaw, film Joshua Oh Joshua, karaoke Eko-Gina, lagu Tak Ada Logika versi Eko, cem-ceman Gina yang memberikan hiburan di kala pusing dengan acara ini. Semua yang meminjamkan galon dan pompanya serta gelas dan piring cantik. Semua pemilik motor yang motornya pernah dipinjam untuk mengantar sampah ke Kukel. Semua yang ikut serta dalam Pre-Event di CFD. Abang sekoteng yang rela digodain sama cabe-cabe kepanitiaan ini. Pak Hasan dan Pak Dadang di Infras. Nanang Kopma, abang gorengan, penjual minuman, pak satpam, cleaning service. Sasari dan Javaz Maniez. Para hambatan yang memberikan sedikit bumbu pahit dalam acara ini. Segala macam gadget dan bentuk komunikasi. Bangmen Gedung G, AJS, Selasar Gedung C, Plasa. Rubem dan berbagai jenis barang ajaib yang tersimpan di dalamnya. Semua yang memberi doa dan semangat. Terakhir, semua yang berpartisipasi dalam acara ini: peserta, komunitas, sponsor, media partner, BEM FISIP UI. Terima kasih.

***

“Bagus kok seminarnya. Maksud gue, dalam empat jam semua terbahas secara mendalam.”

“Ini adalah peserta seminar terbanyak di tahun ini.”

“Nih, lihat dong gue pake tumbler sekarang minumnya.”