THAILAND: BELAJAR PADA KETIDAKPASTIAN

Saya pernah menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai kotak nyaman pertama dan kotak nyaman kedua. Ketika saya bosan dengan rutinitas atau kotak nyaman pertama, saya akan keluar dari kotak itu dan mulai membentuk kotak nyaman kedua melalui proses jalan-jalan.

Kemudian, seorang teman berkata, “Ah, dasar lo analoginya kotak-kotak. Keluar dari yang satu, tetap saja dibatasi sama kotak lainnya. Lebih bebas dong kalau jalan-jalan.”

Analogi kotak-kotak awalnya merupakan analogi asal-asalan yang saya buat karena hanya ingin menggambarkan bahwa proses jalan-jalan adalah cara saya untuk keluar dari kotak nyaman keseharian saya. Namun, apa yang teman saya katakan ada benarnya juga. Itulah saya selama ini, selama menjalani proses jalan-jalan. Penuh jadwal dan perhitungan. Penuh kepastian.

Jadi, bagaimana menjalani proses jalan-jalan dengan bebas? Jalan-jalan ke Thailand kurang lebih telah menjawabnya.

***

Perjalanan kemarin adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Thailand. Pertama kalinya pula, hanya pergi berdua dengan adik saya. Kami menyusun itinerary jauh sebelum hari keberangkatan, memesan apapun yang bisa dipesan lewat internet, berharap semua serba aman dan pasti selama perjalanan ini berlangsung. Tapi, toh, ada saja yang tidak berjalan sesuai rencana.

Di hari kedua, kami mengunjungi Santorini Park di Cha Am, sekitar tiga jam dari Bangkok. Menuju Cha Am, hampir semua aman terkendali. Kembali dari Cha Am, adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami ketika jalan-jalan: kami tidak tahu harus pulang naik apa.

Processed with VSCO with a6 preset
Santorini Park dominan dengan warna biru seperti ini
Processed with VSCO with a6 preset
Tempat ini sangat bagus sebagai spot untuk berfoto

Cha Am bukanlah kota tujuan utama wisata, ia hanya kota yang dilewati ketika para wisatawan ingin menuju kota wisata Hua Hin. Oleh karena itu, kami tidak menemukan transportasi umum, kecuali taksi yang harus di-charter dengan harga tidak terjangkau. Tidak ada pula halte atau terminal bus untuk menemukan mini van kembali ke Bangkok. Setelah bertanya sana-sini, kami dianjurkan untuk menyeberang jalan dan memberhentikan mini van menuju Bangkok yang lewat di jalan itu. Kami bingung dengan anjuran tersebut. Bagaimana cara menyeberang di jalan besar dengan setiap detiknya ada truk beroda lebih dari enam yang lewat. Benarkah kami boleh menyeberang begitu saja padahal tidak ada zebra cross maupun lampu merah untuk penyeberang jalan.

Processed with VSCO with a6 preset
Jalan besar yang kami seberangi untuk memberhentikan mini van menuju Bangkok

Akhirnya, kami mengabaikan semua kebingungan, menyeberangi jalan itu sambil berharap tidak ditabrak oleh truk-truk yang rodanya saja lebih besar dari tubuh kami. Sampai di seberang, kami mulai melambaikan tangan pada setiap mini van yang lewat.
“Kok itu kosong tapi gak mau berhenti sih?”
“Kayanya itu mini van pribadi deh. Carinya mini van yang banyak stikernya.”
“Dek, ini nyalain lampu, nyamperin ke sini nih!”
Iya, malam itu kami tidak harus menunda kepulangan menuju Bangkok.

Memberhentikan mini van di pinggir jalan besar adalah sesuatu yang baru pertama kali saya lakukan dan baru pertama kali saya rasakan. Setelah biasanya hanya turun-naik dari mobil sewaan ketika jalan-jalan, kini saya harus menarik perhatian sebuah mini van untuk menyelamatkan hari-hari berikutnya selama perjalanan di Thailand. Perasaan bingung, panik, deg-degan, takut, semua bercampur jadi satu. Lalu, ketika sebuah mini van menyalakan lampunya ke arah saya dan adik saya, berhenti di depan kami, dan sang supir mengiyakan pertanyaan saya, “To Bangkok?” semua perasaan tadi hanya bisa luruh menjadi sebuah senyum kelegaan. Itu rasanya ternyata, mengubah sebuah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti.

Processed with VSCO with a6 preset
Sukhumvit Rd di malam hari

Lima hari selanjutnya, saya tidak menolak datangnya ketidakpastian sehingga bisa menggenggam lebih banyak kebebasan. Jalan-jalan tanpa tujuan untuk melihat kehidupan malam di Sukhumvit Rd, di mana beberapa perempuan “dipajang” di depan bar, tempat¬†massage, dan japanese karaoke guna memancing kedatangan pengunjung. Berjalan kaki dari Ao Nang Beach menuju hotel selama satu jam, bukannya naik taksi, lalu saya jadi bisa membeli es krim dan mengamati bulan purnama malam itu.

 ***

Saya membenarkan apa yang dikatakan oleh teman saya. Saya tidak lagi menganalogikan proses jalan-jalan sebagai sebuah kotak, melainkan bentuk abstrak yang mendefinisikan kebebasan atau tanpa batas. Kebebasan itu bisa tercipta dengan membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian.

Mengagungkan kepastian adalah hal yang wajar, saya salah satu penyembahnya dan mendapatkan banyak keuntungan dari itu. Namun, saya belajar bahwa ketidakpastian adalah tuan yang baik pula. Ia menyadarkan, kepanikan yang menguasai saya justru menjerumuskan saya dalam masalah yang lebih dalam, bukan menyelesaikannya. Ia mengajarkan, untuk mengolah setiap pergulatan rasa agar disyukuri dan diubah menjadi rasa senang. Ia merendahkan hati, karena segala jenis ekspektasi dan kemungkinan apapun bisa terjadi pada saya. Terakhir, ia mengingatkan, agar saya percaya.

Bagi saya, sulit untuk membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian, setelah selama ini selalu menjalani yang pasti-pasti saja. Akan tetapi, atas semua pembelajaran yang telah diberikan ketidakpastian, bahkan dalam satu kejadian saja, saya ingin mencoba lebih banyak berada dalam ketidakpastian perjalanan.

Mungkin di perjalanan selanjutnya, saya tidak perlu membuat itinerary. Hmm semoga bisa.

Processed with VSCO with a6 preset
Cheers to more uncertainty in the future!

Saya menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai dua bentuk yang berbeda. Rutinitas adalah sebuah kotak nyaman, sedangkan jalan-jalan adalah sesuatu yang abstrak. Bukankah saya bosan dengan rutinitas karena banyak garis batas dalam kotak itu? Jadi, saya akan keluar dari kotak nyaman untuk merasa bebas dengan garis batas yang hampir tiada melalui proses jalan-jalan.

THAI ICED TEA, PLEASE!

Minggu lalu saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya! Walaupun hanya satu minggu, juga baru mengunjungi Bangkok dan Krabi, tetap ada beberapa hal yang akan saya ingat dari negara bersimbol gajah ini.

(Klik foto-foto di bawah ini jika ingin melihat foto dengan ukuran yang lebih besar.)

***

Thailand is the land of street food.

Hampir di setiap sudut jalan, mulai dari sore hingga malam hari, saya menemukan jejeran gerobak dan kios yang menjual berbagai jenis jajanan. Yang menjadi favorit saya adalah daging bakar (baik ayam maupun babi, baik disate maupun dibakar begitu saja dan dipotong kecil-kecil) di bawah Phrom Phong BTS Skytrain Station dengan kisaran harga 10-60 baht. Dagingnya besar, sangat empuk, dan berlemak. Hanya dikecapi lalu dibakar, tetapi rasanya sangat meresap ke dalam daging. Jangan takut dagingnya sudah dingin karena akan dihangatkan atau dibakar kembali ketika kita datang membeli.

Selain di pinggir jalan, saya juga mencoba beberapa jajanan khas Thailand di Rod Fai Night Market (di belakang Esplanade). Salah satu jajanan yang saya coba adalah belalang goreng! Awalnya, saya enek memakannya karena bentuknya masih berupa belalang, namun ternyata rasanya renyah, seperti kulit ayam goreng (cukup mencoba saja, belalang goreng belum menjadi jajanan favorit saya..). Untuk menemukan kios yang menjual belalang goreng, saya perlu berjejalan di antara kios-kios makanan dan pernak-pernik yang sangat sempit jaraknya, tapi justru menambah keseruan berburu jajanan di night market ini. Akhirnya, untuk menghapuskan rasa dahaga dan kepanasan setelah berjejalan, saya membeli thai iced tea dengan ukuran gelas yang amat sangat besar. Walaupun kelihatannya berisi banyak, 70% dari gelas itu adalah es batu (yang melipatgandakan kesegaran thai iced tea yang saya beli malam itu).

*

Koh Hong gave me sunburned face.

Saya bermain-main ke pantai di daerah Ao Nang, Krabi. Dari sini, saya menyeberang dengan perahu ke Koh Hong. Pulau ini sangat menakjubkan bagi saya karena dikelilingi tebing-tebing tinggi dan air biru yang sangat jernih, langit cerah hari itu juga menambah keindahan pulau ini.

Ada beberapa pilihan aktivitas di Koh Hong, salah satunya bermain kayak. Instruksi selama lima menit bisa membuat saya mengayuh kayak keliling pulau, namun seluruh otot di tangan harus bekerja karena mengayuh kayak (bagi saya seperti menyingkirkan air laut) sangatlah berat. Karena baru pertama kali bermain kayak, ritme mengayuh saya dan adik saya pun perlu disamakan secara manual, “Kanan, kiri, kanan, kiri, Dek kiri dulu Dek, mau nabrak tebing nih!” Selain bermain kayak, wisatawan juga bisa berenang, snorkeling, atau sekadar berjemur di pantai.

Bermain kayak jam dua belas siang, jadilah muka saya berwarna merah terbakar matahari.

*

Helpful Thai people I met along the way.

Jarang sekali saya menemukan orang Thailand yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, aksen yang mereka miliki kurang mendukung untuk berbahasa Inggris sehingga kurang bisa saya pahami juga. Namun, setiap kali ditanya tentang jalan, tempat, atau transportasi, mereka sebisa mungkin membantu saya, baik dengan bahasa Inggris seadanya maupun dengan bahasa tubuh. Seperti percakapan yang terjadi antara saya dengan seorang ibu ketika bertanya soal keberadaan mini van ke Cha Am.

Mini van to Cha Am?” tanya saya kepada sang ibu setelah disuruh dua orang supir mini van yang tidak menuju Cha Am.
Ibu itu menggumam dalam bahasa Thailand dan raut wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir bagaimana harus menjawabnya dalam bahasa Inggris.
“Bus… Sai Tai Mai…” jawab ibu itu dengan bingung.
“Hmm?” saya kembali bertanya karena kurang jelas dengan jawaban ibu itu.
“Ya, Sai Tai Mai,” jawab ibu itu kembali meyakinkan.

Ternyata, setelah  mencari di Google, maksud ibu itu adalah saya harus menuju Sai Tai Mai, terminal bus di Bangkok, untuk menemukan mini van menuju Cha Am (dan saya berhasil sampai di Cha Am atas petunjuk ibu yang sangat membantu itu).

*

Everyone should visit Bangkok Art and Culture Centre!

Saya kira Bangkok Art and Culture Centre adalah art gallery seperti pada umumnya, tapi setelah memasuki dan melihat setiap lantainya, saya baru mengerti arti kata centre pada namanya. BACC tidak hanya berupa art gallery, tapi ada juga toko-toko yang menjual barang-barang kreatif serta tempat untuk launching buku dan workshop seni. Kemudian, di lantai-lantai teratasnya, ada sepuluh lantai di sini, barulah berisi pameran-pameran seni sementara.

Ketika saya berkunjung ke sana, sedang berlangsung pameran seni The Philosophy of Instructions karya Erwin Wurm. Ia hanya meninggalkan satu atau beberapa benda beserta instruksi bagaimana pengunjung harus memperlakukan benda-benda tersebut agar bisa menjadi instalasi tersendiri. Saya pun mencoba instruksi “roast yourself under the sun of Epikur” dan menaruh kepala saya di bawah sebuah lampu. Tadaa jadilah saya sebuah instalasi seni!

*

Thank you, my gondrong brother.

Adik saya adalah satu-satunya orang yang saya kenal selama perjalanan ke Thailand ini. Terima kasih sudah mengiyakan tawaran saya untuk berlibur bersama, sudah membantu menyusun itinerary yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sudah menemani tujuh hari kemarin dengan pertengkaran kecil dan berdamai lagi setelah membeli jajanan, dan sudah-sudah lainnya.

Selamat kembali kuliah dan menggondrongkan rambut, Dek!

***

Mari menyesap thai iced tea sambil membayangkan Chiang Mai yang belum kesampaian..

BROMO: MENGHAMBA MENTARI

Siapa yang ingin menjadi hamba. Tetapi tanpa sadar, beberapa manusia melakukannya, dengan sukarela.

Di Bromo. Para wisatawannya, yang adalah manusia, menjadi hamba bagi mentari. Mereka dengan sengaja memenuhi Penanjakan sejak gelap masih menguasai langit, menunggu semburat jingga pertama, dan mengantar mentari menuju singgasana.

Ketika waktunya tiba, mereka mulai mengangkat tinggi-tinggi telepon genggam masing-masing agar bisa mengabadikan momen terbitnya mentari. Momen ini juga menandai berakhirnya jasa penyewaan tikar sebagai alas duduk para wisatawan, digantikan dengan dagangan bunga edelweiss hasil petikan yang sudah dirangkai menyerupai boneka beruang dan bentuk lainnya, bahkan diwarnai.

Selesai menyambut sang mentari, para wisatawan melanjutkan penjelajahannya¬†ke kawah Bromo, dengan tetap membawa sifat seorang hamba. Ada dua pilihan untuk sampai di titik terakhir sebelum menaiki tangga menuju kawah, yaitu dengan mengandalkan kaki sendiri atau dengan mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mengandalkan kaki-kaki kuda. Namun, kedua pilihan ini akan melalui jalur yang sama untuk sampai di titik terakhir tersebut. Karena kuda lebih besar daripada manusia dan lebih banyak rupiah yang dikeluarkan untuk seekor kuda, jadilah wisatawan yang mengandalkan kaki sendiri harus awas dan menyingkir ketika, “Minggir, minggir, kuda mau lewat.”

Sampai di titik terakhir, saatnya mempersiapkan diri untuk mengalahkan setiap anak tangga dan ego pribadi menuju kawah. Mengalahkan anak tangga adalah hal yang mudah, asal didukung dengan lutut yang siap ditekuk berulang kali. Mengalahkan ego pribadi adalah ujian bagi seorang hamba. Tangga itu hanya memiliki lebar sekitar dua petak (satu petak untuk naik dan petak lainnya untuk turun). Jumlah wisatawan yang membludak mengharuskan siapapun yang ingin sampai di kawah untuk mengantre. Namun, seorang wisatawan asing, masih muda, dan bisa melihat antrean yang panjang, melangkah di antara dua petak itu, melewati ratusan wisatawan yang mengantre di tangga.

Kawah Bromo sangatlah sempit, untuk jumlah wisatawan yang membludak, dengan pembatas yang seadanya. Pemandangan kawah yang tidak begitu memukau, mungkin menyebabkan kejadian ini terjadi: membuang sampah ke dalam kawah. Seorang bapak, di pinggir kawah, mencontohkan kepada anaknya seolah ini adalah semacam permainan, mengambil sampah botol plastik yang ditinggal di pinggir kawah, dan membuangnya ke dalam kawah. Dengan gembira dan tanpa rasa bersalah. Kemudian, diikuti oleh anaknya.

Bromo benar-benar dipenuhi lautan hamba. Tidak bisa memimpin dirinya sendiri dan perlu dibuatkan papan peringatan berbunyi “Harap antre” dan “Dilarang membuang sampah ke dalam kawah” agar dipatuhi dan dilakukan (masih ada kemungkinan papan peringatan itu akan diabaikan, sebenarnya).

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Sebagai seorang wisatawan yang mau mengantre dan tidak membuang sampah ke kawah, juga salah satu hamba mentari, saya sedih sekaligus tidak tahu harus berbuat apa melihat keindahan Bromo ternodai oleh beberapa hamba yang bermuka dua terhadap mentari: memuja di depannya, kemudian berlaku seenaknya di belakangnya.

SI SIPIT KE KAMPUNG ARAB

Membicarakan posisi minoritas di tengah mayoritas masyarakat Indonesia adalah sebuah cerita lama, klise. Namun, mengabaikan posisi dan garis batas minoritas-mayoritas itu akan mendatangkan cerita baru yang kikuk sekaligus hangat.

Kampung Arab, di kawasan Kota Tua Surabaya, membuka perjalanan saya dan tiga orang teman kali ini. Tanpa rasa gelisah sedikit pun, kami menyusuri kampung yang didominasi dengan dagangan kurma, minyak wangi, buku dan kitab, serta peci. Di ujung kampung, seorang ibu berkerudung menawarkan kami jasa melukis henna di tangan dan kaki, yang membuat kami langsung tertarik.

“Cina, ya?” tanya ibu pelukis henna¬†sambil menyodorkan buku berisi beragam jenis henna yang bisa kami pilih untuk dilukis di tangan dan kaki kami (mendengar nada sang ibu, pertanyaan itu dilontarkan dengan tujuan ingin tahu, bukan tujuan menyinggung atau tujuan tidak menyenangkan lainnya).

Pertanyaan itu hanya bisa membuat kami tersenyum, karena kaget tiba-tiba ditanya seperti itu dan bingung bagaimana harus menjawabnya, tetapi akhirnya jawaban keluar juga dari mulut kami, “Hehe iya, Bu.”

Sambil melukis henna di tangan kiri kami, sang ibu bercerita bahwa kampung ini tidak lagi dipenuhi dengan keturunan Arab, tetapi sudah bercampur dengan penduduk lokal. Kampung ini juga biasanya dikunjungi sebagai bagian dari wisata religi di Masjid Sunan Ampel, yang terletak di ujung kampung. Oleh karena itu, lebih banyak perempuan berkerudung yang datang ke kampung ini daripada perempuan keturunan Cina seperti kami.

Pertukaran jasa dengan uang dilakukan setelah henna terlukis dengan rapi di tangan kiri kami. Ketika hendak keluar dari kampung ini, seorang bapak yang melewati kami menyapa, “Where do you come from?

Mengunjungi Kampung Arab adalah sebuah bentuk pengabaian batas yang sarat pembelajaran tentang kultur Indonesia yang heterogen sekaligus homogen: suatu komunitas memiliki kesamaan kultur yang mendarah daging hingga terlupa akan kesamaan kultur komunitas lainnya, di mana ada perbedaan di antara kesamaan-kesamaan itu.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Sampai jumpa di langkah lainnya melampaui garis batas minoritas-mayoritas untuk merayakan perbedaan!

AMARAH KEPADA HUJAN

Hujan, banyak yang bilang kamu itu lambang dari romantisme, sumber inspirasi untuk berpuisi, dan momen untuk merenungi kehidupan. Tapi, aku justru membenci kamu.

Kamu itu mengganggu, Hujan. Aku jadi basah kuyup ketika sedang mencari martabak kesukaanku dan kamu menyerbu secara tiba-tiba.

Hujan, mengapa kamu selalu datang di saat yang tidak aku inginkan? Saat aku hendak pergi kuliah, saat aku sedang diboncengi di motor, saat aku sedang tidak membawa payung. Mengapa kamu tak datang saat aku sedang tidur saja?

Bagaimana perasaanmu, Hujan? Saat kamu membuat orang-orang di Bumi terlambat masuk kerja, kecipratan air genangan di jalan dari mobil-mobil yang lewat, menunggu di stasiun tanpa tahu berapa lama mereka harus menunggu. Senangkah kamu?

Aku tidak suka dengan kamu, Hujan! Aku tidak mengharapkan kehadiranmu. Doaku setiap hari adalah untuk tidak melihat kamu hari ini.

“Jangan ngambek sama Hujan.”

*

Selamat ulang tahun untuk salah satu teman terbaikku, walaupun sekarang statusnya sudah bukan teman lagi.

Kamu suka hujan karena udara sejuk, sedangkan aku tidak suka hujan karena membuat baju basah saat bepergian. Kamu menghadapi semua masalah dengan kepala dingin, sedangkan aku harus pakai emosi dulu untuk menghadapi semua masalah. Kamu menyikapi apapun yang terjadi di hidup kamu dengan lapang dada, sedangkan aku hanya peduli dengan apapun yang menguntungkan hidup aku.

Kamu belum berhasil membuat aku menyukai hujan, tapi kamu berhasil membuat aku merasa bodoh karena mengutuki hujan yang punya tubuh pun tidak.

Selamat ulang tahun, pengamat dan pecinta segala hal yang ada di kehidupan ini. [R]

RADIT & JAKA

Kalau Radit dan Jani memiliki kisah cinta yang tidak berujung bahagia, maka kalau Radit dan Jaka memiliki kisah persahabatan yang simbiosis mutualisme.

Waktu sampai di Keraton Kaibon, Banten Lama, ekspektasi tinggi saya langsung dijatuhkan karena melihat tempatnya yang hanya “begitu” saja: tanah lapang luas yang ditumbuhi rerumputan dan puing-puing bangunan keraton yang tersebar di area tanah lapang tersebut. Ini apa yang mau difoto? pikir saya. Namun, saya kemudian berjumpa dengan kedua anak ini.

Ini Radit (kanan) dan Jaka (kiri). Walaupun badannya kecil dan kurus, tapi mereka lincah sekali. Dinding bangunan keraton bisa dipanjat dengan tangan kosong dalam waktu beberapa detik saja.

Setelah memanjat, Radit dan Jaka akan turun dari dinding tersebut dengan cara melompat. Mereka sama sekali tidak takut akan ketinggian, langsung melompat tanpa pikir panjang, dan mendarat dengan sempurna.

Selain memanjat dan melompat, Radit dan Jaka juga belajar silat bersama. Sebelum latihan dimulai, mereka akan memberi hormat ke depan, ke samping kanan dan kiri, dan ke belakang.

Radit dan Jaka sedang berlatih silat. Terlihat seperti bertengkar sungguhan, tapi mereka tidak saling menyakiti satu sama lain. Mereka belajar menyerang dan membuat pertahanan diri.

Selesai belajar silat, Radit dan Jaka ngaso dan bersenda gurau dalam bahasa Sunda di area keraton. Karena mereka belum masuk sekolah, hingga saya pulang, mereka masih asik bermain di sana.

Setelah bertemu Radit dan Jaka, Keraton Kaibon menjadi lebih menarik untuk saya, terutama untuk difoto. Puing-puing bangunan keraton yang tidak terawat ternyata masih bisa dimanfaatkan dua anak kecil ini untuk bermain dan belajar silat.

Dadaah Radit dan Jaka!

NGALOR NGIDUL NENG BANYUWANGI

Berada di ujung timur Pulau Jawa dan disinggahi para wisatawan sebelum menyeberang ke Pulau Bali; itulah informasi umum tentang Banyuwangi. Warna biru dan hijau terangkai menjadi satu dalam bingkai alam di lor dan kidul; itulah informasi khusus tentang Banyuwangi.

*

Banyuwangi mulai memperbaiki wajah pariwisatanya sejak pergantian bupati yang lalu. Bandar udara mulai dibuka dan jalan-jalan mulai disambung kembali untuk mempermudah akses para wisatawan yang datang. Jasa guide dan penginapan yang ramah¬†bagi para wisatawan asing‚ÄĒmaksudnya, berbahasa Inggris dengan baik‚ÄĒmulai berkembang. Berbagai jenis festival diadakan sepanjang tahun untuk menambah daya tarik dan pemasukan kabupaten ini. Sebuah usaha untuk menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi utama pariwisata, bukan hanya sebuah “tempat singgah”.

Bermula dari pusat kota. Seperti kabupaten atau kota lainnya, Banyuwangi memiliki alun-alun yang dinamakan Taman Sritanjung dan terletak persis di depan Masjid Agung Baiturrahman. Penampakannya seperti taman pada umumnya, dengan beberapa tempat untuk duduk-duduk di sore hari dan warung-warung kecil yang menjajakan makanan dan minuman. Tak jauh dari situ, ada Taman Blambangan yang penampakannya lebih cocok disebut sebagai alun-alun: lapangan luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang untuk meneduhi pertukaran canda dan tawa para warga atau wisatawan. Beberapa kali melewati Taman Blambangan, lapangan luasnya sering dimanfaatkan untuk latihan baris-berbaris. (Lomba baris-berbaris sangat bergengsi di Banyuwangi dan boleh diikuti segala jenis usia. Mendekati tanggal 17 Agustus, warga yang ingin ikut serta dalam lomba tersebut mulai giat berlatih, dari siang hingga malam hari, dari memanfaatkan Taman Blambangan hingga jalan raya.)

Bergeser ke utara dari pusat kota. Karena ingin melihat blue fire, perjalanan dari kota dimulai pukul 00.30, kemudian menempuh waktu dua jam untuk sampai di basecamp Kawah Ijen. Dari basecamp, masih ada tanjakan, jalanan yang rata, turunan‚ÄĒyang terbagi dalam lima pos‚ÄĒyang harus dilalui dan tumpukan bebatuan yang harus dituruni untuk‚ÄĒakhirnya‚ÄĒmelihat blue fire yang menyambar dan diikuti dengan asap belerang. (Kurang lebih dua jam yang dibutuhkan untuk melewati semua rintangan tersebut.)

IMG_2639.JPG
Tips untuk melihat blue fire: siapkan masker karena asap belerang setelah blue fire akan memedihkan mata dan membuat sesak napas! (Foto ini diambil oleh Pak Heri, guide kami yang dulunya penambang batu sehingga sudah biasa berdekatan dengan sang api)

Blue fire berasal langsung dari perut bumi. Selanjutnya, dengan segala akal dan kepintaran manusia, asap belerang yang dihasilkan dari api ini diolah sedemikian rupa dalam sebuah pipa, membeku, dan menghasilkan batu belerang. Batu belerang diminati oleh perusahaan pembuat kosmetik sehingga pemandangan para lelaki‚ÄĒbaik yang tua maupun muda‚ÄĒyang menambang dan mengangkut batu-batu belerang dari kawah hingga ke basecamp sangat sering terlihat.

IMG_2641.JPG
Sudah menjadi kebiasaan bagi para guide dan pendaki Kawah Ijen untuk minggir dan memberikan jalan bagi para penambang batu yang lewat karena beban batu belerang yang mereka bawa sangat berat

Seorang penambang batu dapat mengangkut 70-100 kilogram batu belerang pada pundaknya (jika bapak penambang batu sudah berumur, biasanya batu yang diangkut hanya sekitar 30 kilogram) dalam satu kali angkut. Dalam satu hari, seorang penambang batu bisa dua sampai tiga kali bolak-balik untuk mengangkut batu belerang. (Satu kali perjalanan mengangkut batu dari kawah menuju basecamp kurang lebih ditempuh selama tiga jam dan biasanya para penambang batu mulai bekerja pukul 23.00 hingga pagi hari.) Namun, kerja keras tersebut kurang setimpal karena satu kilogram batu belerang hanya dihargai Rp1.000,00.

IMG_2643.JPG
Beban batu belerang yang dibawa bapak ini bisa mencapai 100 kilogram

Ketika matahari terbit, maka usailah fenomena blue fire. Danau luas berwarna biru kehijau-hijauan dan berisi air panas mulai terlihat. Bebatuan yang merintangi perjalanan menuju kawah masih tetap merintangi perjalanan para penambang batu yang hendak menyetor batunya di basecamp. Batu-batu belerang berukuran kecil yang telah dibentuk dan diukir (dibuat dengan bantuan belerang cair) dijajakan untuk meraup sedikit uang bagi para penambang. Jasa troli untuk mengangkut penumpang yang malas turun ke basecamp juga menghiasi sudut-sudut Kawah Ijen. Gunung Raung dan Gunung Meranti tak bosan-bosannya menemani perjalanan kembali ke basecamp.

IMG_2650.JPG
Danau luas berwarna biru kehijau-hijauan dan berisi air panas mulai menampakkan kemegahannya
Processed with VSCO with a6 preset
Bebatuan yang terus menjadi teman dan rintangan selama mendaki Kawah Ijen
Processed with VSCO with a6 preset
Para penambang meraup tambahan uang melalui batu-batu belerang kecil yang dibentuk dan diukir (ada yang bentuk bunga mawar dan kura-kura, dapat digunakan sebagai sabun, dan berkhasiat untuk menghilangkan alergi pada kulit) dan menyewakan troli untuk mengangkut penumpang ke basecamp
Processed with VSCO with a6 preset
Gunung Raung si teman perjalanan

Rasanya, dalam gelap maupun terang, pertunjukan tak pernah berakhir di Kawah Ijen.

Bergeser semakin ke utara dari pusat kota. Hamparan savana yang luas dan sebuah pantai yang tenang siap menyambut setelah papan bertuliskan “Taman Nasional Baluran” dilewati. Namun, ada beberapa cerita yang perlu disimak sebelum kaki melangkah gembira di taman nasional ini.

IMG_2667.JPG
Konon katanya, banyak kerbau yang dibunuh untuk dijual dagingnya

Taman Nasional Baluran adalah taman nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah, sehingga kondisi jalanan dari pos bayar tiket hingga Savana Bekol‚ÄĒkurang lebih sejauh 11 kilometer‚ÄĒcukup memprihatinkan. Pohon-pohon di hutan sebelah kanan dan kiri jalan juga terbengkalai tanpa pernah diurus dan dirawat. Selain itu, bapak-bapak yang menjaga pos bayar tiket tampak tidak peduli dengan berapa jumlah orang yang datang. Kami datang berenam, salah satu teman kami turun dari mobil untuk membayar tiga tiket masuk. Lolos begitu saja tanpa diperiksa.

IMG_2661.JPG
Kerbau yang kami kira adalah banteng. Mereka suka berendam di kubangan-kubangan yang ada saat hari mulai panas

Sajian pertama dari Taman Nasional Baluran adalah Savana Bekol. Savana ini sangat luas dengan latar belakang Gunung Baluran yang megah. Lebih baik mengitari savana ini dengan mobil karena peringatan untuk tidak berjalan-jalan ke tengah savana sudah terpampang jelas (karena savana ini merupakan habitat ular) dan matahari yang bersinar dengan kuat bisa membakar kulit tubuh matang-matang (saking panasnya, tanah di savana sangat kering hingga retak-retak).

IMG_2666.JPG
Luasnya Savana Bekol
IMG_2665.JPG
Ini dia Gunung Baluran yang megah!

Hanya ada satu jalan untuk menyusuri Taman Nasional Baluran. Kami menyusuri Savana Bekol sambil mencari keberadaan monyet dan rusa (yang ukurannya jauh lebih besar daripada di Bogor) yang hidup liar dan bebas, kemudian takjub setelahnya. Katanya, burung merak dan macan juga tinggal di taman nasional ini tapi kami belum beruntung untuk melihatnya. Setelah Savana Bekol, di ujung Taman Nasional Baluran, terlihatlah Pantai Bama.

IMG_2660.JPG
Satu-satunya jalan yang bisa dilalui untuk mengitari Savana Bekol hingga ke Pantai Bama
IMG_2662.JPG
Halo penghuni Baluran!

Pantai Bama tidak terlalu luas dan ombaknya sangat tenang. Cocok untuk bermain pasir di pinggir pantai atau hanya duduk-duduk menikmati semilir angin. Sebenarnya kegiatan yang dijual dari pantai ini adalah mangrove trail, ketimbang kegiatan di pantainya sendiri.

Processed with VSCO with hb2 preset
Pantai Bama yang tenang

Kembali ke pusat kota. Ada Pecel Pitik dan Sego Tempong yang wajib dicoba. Pecel Pitik adalah ayam kampung yang disuwir, kemudian dibakar, dan dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya pedas dan manis, pedas dari bumbu ayamnya dan manis dari parutan kelapanya. Pecel Pitik biasanya disandingkan dengan Sop Kesrut atau Uya Lodeh (ayam yang dijadikan sop).

IMG_2638.JPG
Satu porsi Pecel Pitik lengkap dengan nasi putih

Berikutnya, Sego Tempong. Sego Tempong adalah Nasi Ramesnya Banyuwangi. Nasi putih yang dilengkapi beberapa sayur dan lauk (sambal ikan teri dan bakwan jagung) wajib, ditambah lauk yang boleh dipesan oleh pembeli. Lauk yang disediakan cukup banyak: ikan pe, pepes tawon, ayam pedas (ayam kuah opor tapi pedas), ayam panggang (ayam bakar yang diberi bumbu), dan lain-lain.

IMG_2637.JPG
Sego Tempong berisi sayur dan lauk wajib ditambah ayam pedas

(Masih banyak makanan khas dari Banyuwangi yang patut dicoba, tapi ini rekomendasi dari saya yang sangat amat wajib untuk dicoba jika berkunjung ke Banyuwangi.)

Bergeser ke selatan dari pusat kota. Kali ini, Taman Nasional Meru Betiri yang siap menyambut. Sambutannya pun lebih baik daripada taman nasional sebelumnya karena jalan yang mulus dan perkebunan karet yang rapih di samping kanan dan kiri jalan (pohon karet akan tumbuh mengikuti cahaya matahari sehingga tumbuhnya bisa miring ke kanan atau ke kiri, tergantung darimana cahaya matahari berasal). Semakin ke dalam, perkebunan cokelat yang kali ini menyambut. Cokelat diolah dari bijinya, tetapi daging buahnya yang berwarna putih tetap bisa dimakan. (Buah cokelat tumbuh di batang.) Bentuknya kecil dan rasanya sedikit asam.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ombak mulai menyapa

Tujuan utama ke Taman Nasional Meru Betiri adalah Pantai Teluk Hijau. Sebelum sampai di pantai ini, Pantai Rajegwesi dan Pantai Batu akan dilewati terlebih dahulu. Setelah melewati Pantai Rajegwesi, mobil harus berhenti sebelum mencapai Pantai Batu dan Pantai Teluk Hijau. Kedua pantai ini hanya bisa dicapai dengan menggunakan perahu membelah lautan atau trekking melalui hutan. Karena biaya perahu cukup mahal dan ombak juga sangat tinggi di hari itu, kami memutuskan untuk trekking melalui hutan. (Hati-hati dengan barang bawaan, terutama plastik kresek, karena di dalam hutan ini masih banyak monyet yang hidup liar dan bebas.)

IMG_2674.JPG
Semakin dekat dengan pantai!

Setelah trekking selama setengah jam, tibalah di Pantai Batu. Di sepanjang pantai ini, hanya ada batu dan bukan pasir. Ombaknya juga sangat tinggi sehingga larangan untuk bermain air sudah terukir di papan penanda “Pantai Batu”.

IMG_2675.JPG
Bebatuan di sepanjang Pantai Batu

Trekking berlanjut dengan menyusuri Pantai Batu dan dibalik pantai tersebut, muncullah Pantai Teluk Hijau. Pantai yang tidak terlalu luas, tapi pasirnya putih dan air lautnya bening, walaupun ombak tetap tinggi sehingga tidak bisa bermain air terlalu jauh. Belum banyak juga orang yang mengunjungi pantai ini sehingga terasa seperti private beach.

IMG_2676.JPG
Pantai Teluk Hijau dengan airnya yang bening
IMG_2677.JPG
Serasa private beach

(Di dalam Taman Nasional Meru Betiri juga banyak terdapat rumah penduduk yang bekerja di perkebunan.)

Bergeser semakin ke selatan dari pusat kota. Terakhir adalah Taman Nasional Alas Purwo. Saat memasuki taman nasional ini, hutan musim pohon jati datang menyapa. (Pohon-pohon jati yang sedang meranggas serasi¬†sekali dengan warna biru langit hari itu.) Kemudian, untuk menuju beberapa tempat wisata di Taman Nasional Alas Purwo, jalur yang ditempuh berbeda-beda‚ÄĒtidak seperti di Taman Nasional Baluran yang hanya satu jalur.

IMG_2686.JPG
Memancing di tengah laut

Pertama adalah Savana Sadengan. Savana ini sebenarnya sangat luas, namun karena banyak banteng (lebih pendek daripada kerbau) dan kerbau bule (warnanya cokelat muda, tapi bukan sapi) yang masih hidup liar dan bebas dan mencari makan sendiri di savana tersebut, wisatawan hanya boleh menikmati savana ini sejauh pagar yang telah dibuat. (Siapkan lensa tele jika ingin memotret banteng dan kerbau yang ada di sana.) Bonusnya bagi kami adalah melihat elang yang sedang terbang mengintai mangsa di savana tersebut!

IMG_2683.JPG
Kumpulan banteng dan kerbau bule
IMG_2682.JPG
Pagar yang membatasi Savana Sadengan

Kedua adalah Pantai Pancur. Seperti pantai sebelumnya, Pantai Pancur juga berpasir putih, berair bening, dan berombak besar (walaupun tidak sebesar ombak Pantai Teluk Hijau). Pantai Pancur sangat luas dan banyak kerang-kerang berwarna unik dan berbentuk lucu yang kami temukan. Dari Pantai Pancur, para peselancar bisa naik mobil jeep dengan paket biaya tertentu untuk menuju Pantai Plengkung atau G-Land untuk surfing dengan ombak yang wah luar biasa.

IMG_2684.JPG
Memancing di Pantai Pancur

Ketiga adalah Penangkaran Penyu Meru Betiri. Walaupun kurang terawat, penangkaran penyu ini berusaha menyelamatkan telur-telur penyu yang ditinggalkan induknya (penyu akan kembali ke tempat ia lahir ketika meninggalkan telur-telurnya) di sepanjang pantai. Telur tersebut akan dirawat hingga menetas dan ketika usia anak-anak penyu tersebut mencapai tiga bulan, mereka siap dilepas ke laut. (Pengalaman yang lebih nyata bisa dirasakan di Pantai Sukamade di dalam Taman Nasional Meru Betiri, namun harus menginap di sekitar sana karena pelepasan penyu ke laut atau penyu yang meninggalkan telur-telurnya di sepanjang pantai biasanya terjadi di malam hari.)

IMG_2685.JPG
Sampai jumpa Banyuwangi!

Dalam perjalanan pulang, kami menerima bonus lagi. Seekor burung merak. Wah! (Burung merak baru akan membuka sayapnya saat musim kawin tiba untuk menarik perhatian lawan jenisnya.)

Kembali lagi ke pusat kota. Yang ini, untuk pulang. (Sangat menyarankan adanya kereta tujuan langsung Jakarta dari Banyuwangi, dan juga sebaliknya, agar tidak perlu bolak-balik naik dan turun kereta.)

*

Dari perjalanan ini, saya merasakan usaha yang kuat untuk menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi utama pariwisata. Sedikit lagi perbaikan, maka Banyuwangi akan bisa setara dengan pulau di dekatnya. (Ada beberapa wisatawan asing yang menjelajahi Banyuwangi, karena saya bertemu dengan mereka di beberapa tempat wisata, bukan hanya mengunjungi Kawah Ijen dan menyeberang ke Pulau Bali esok harinya.)

IMG_2617.JPG
Kiri ke kanan: Qolbi, Dian, Saya, Muthi, Hany, Disty

Ingin mengapresiasi teman-teman perjalanan saya ke Banyuwangi: Muthi, Qolbi, Disty, Dian, Hany. Karena mereka, liburan kali ini terasa menyenangkan dan tidak membosankan.