RASA UNTUK SEMERU

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa takut,
Terhempas diĀ jalur berpasir menuju Mahameru,
Tertimpa batu-batuĀ yang menggelinding dari Puncak Para Dewa,
Tersesat di jalur pendakian dan tak bisa pulang,
Akan kematian yang tak didambakan.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa sungkan,
Ketika pikiran dan tenaga tak lagi seirama,
Peluh dan lelah adalah riasan bagiĀ setiap wajah,
Membebani bahu lain tidak menjadi pilihan,
Satu-satunya jalan pulang adalah terus mendaki.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa pilu,
Mendengar setiap mulut mengasakan sang Atap Tanah Jawa,
Melihat tetes demi tetes air mata menitik bersamaan dengan hujan malam itu,
Mengumpulkan kepingan hati yang tercecer karena mimpi tak lagi merekatkannya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa gamang,
Karena setiap cita dibangun di atas kaki sendiri,
Jangan berpegang pada kepala lain untuk mewujudkannya,
Potongan-potongan kejadian akan menamparmu,
Dengan keras hingga kau terbangun.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa suka,
Mengagumi keelokan alam dalam bingkai langit dan bukit,
Menghidupi hutan dengan aroma telur yang didadar,
Menertawakan kebodohan dengan sepantasnya.

*

Semeru, seharusnya, adalah tentang mengalahkan segala rasa,
Kegagahan dan kemegahannya mengecilkan kau dan aku,
Maka sampai padanya harus lebih dari rasa-rasa itu,
Semoga, di pendakian berikutnya.

BERKAWAN DENGAN PFN

Saya merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda. Kalau biasanya saya akan menonton film Indonesia di bioskop atau Kineforum di hari itu, kali ini saya merayakannya selama tigaĀ hari dengan kawan baru saya: Studio Perum Produksi Film Negara (PFN).

Saat pertama kali berkenalan dengan PFN, saya merasa kasihan sekaligus kagum. Siapa yang tak merasa kasihan, gedung tua ini terlihat seperti gudang penyimpanan barang, berdebu, atapnyaĀ berlubang di beberapa bagian, lantainya pun tidak meyakinkan untuk dipijak. Namun, melihat rol-rol film yang diletakkan secara uwet-uwetan dalam sebuah kotak di salah satu sudut ruangan menghapus sedikit rasa kasihan saya. Rol-rol film itu menyadarkan saya,Ā PFN bukan sekadar gedung tua, ia pernah menjadi sebuah adegan pentingĀ dalam perjalanan panjang film Indonesia. Waah, batin saya.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.54.37 AM
Persiapan pameran fotografi untuk perayaan Hari Film Nasional. Dulu, ruangan ini digunakan untuk proses cuci film sehingga masih terlihat tangki-tangki dan beberapa lemari untuk membantu proses tersebut

Menuju 30 Maret, berbagai usaha dilakukan untuk mempercantik dan mengembalikan PFN ke posisi adegan penting, tetapi beberapa orang yang telah mengenalnya lebih dulu tak bisa menyembunyikan kerapuhan kawan baru saya ini. “Kamu mau lihat itu banyak rol film di ruangan ini sampai sudah bau semua.” “Ini ruangan gelapnya sekarang buat kita simpan barang saja.” “Dulu pertama kali masuk ke sini, semua bau kimia karena untuk proses cuci film.” “Gak tau juga sih habis ini PFN mau dipakai untuk apa.”

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (3)
Pameran fotografi yang memanfaatkan sudut-sudut PFN

Akan tetapi, selama tiga hari perayaan Hari Film Nasional, kerapuhan PFN justru berhasil menjadi sorotan. Ada yang memfoto dan berfoto dengan kamera jadul beserta rol-rol film yang uwet-uwetan, ada yang penasaran dengan rupa ruangan gelap (dan harus kecewa karena sekarang hanya ruangan simpan barang), ada yang berusaha membangkitkan kembali kejayaan PFN seperti di masa lampau.

*

PFN memang sudah tua, memang sudah rapuh, penampakan gedung ini tak bisa berkata lain. Namun, ia juga tak perlu sendirian merasakan masa tuanya. Di era Menteri Penerangan masih berkuasa, ia adalah saksi bisu jatuh-bangunnya film Indonesia. Di masa kini, ia seharusnya tidak ditinggalkan, melainkan berjalan beriringan dengan film Indonesia yang tahun lalu mencapai lebih dari 36 juta penonton.

“Saya senang, hari ini PFN punya banyak teman, juga didukung pemerintah.” Perayaan Hari Film Nasional telah menghadirkan banyak kawan bagi PFN, tapi semoga ‘hari ini’ bisa berlaku setiap hari, bukan hanyaĀ satu tahun sekali.

Menutup cerita tentang kawan baru saya ini, saya senang bisa merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda dan mengenal sepenggal sejarah lagi tentang film Indonesia melalui PFN. Selamat Hari Film Nasional.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (2)
Ini kenang-kenangan dari PFN. Tapi, semoga PFN tidak sekadar jadi kenangan.

 

JALAN DIPONEGORO 31

Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco

Lagu ā€˜Poco-pocoā€™ yang disetel dari kaset mengiringi senam sore Oma saya dan beberapa temannya. Di halaman belakang sebuah rumah tua yang tidak dihuni lagi, saya menonton gerak kaki yang lincah dan mendengar gurauan yang disambung tawa para oma, sambil menggaruk kedua kaki saya yang digigit pasukan nyamuk kebun.

Itulah rutinitas Oma di sore hari, sekitar lima belas tahun yang lalu. Selesai bersenam ria, beliau akan memboncengi saya di sepeda onthelnya menuju rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang.

***

Rumah itu hampir selalu menjadi destinasi saya saat liburan sekolah di bulan Juni. Saya biasanya sampai di depan rumah itu pada pagi hari, setelah menempuh perjalanan semalaman dengan bus dari Jakarta. Mbak Rum, ditemani dua ekor anjing peliharaan Opa dan Oma, akan membukakan pintu pagar bagi saya. Begitu saya menginjakkan kaki di rumah itu, liburan pun dimulai!

Seperti para oma yang pada umumnya ingin memanjakan cucunya, Oma saya pun demikian. Nasi tahu dan sate ayam serepeh kesukaan saya sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan kadang sudah siap di meja makan saat saya baru datang. Dua jenis makanan ini dijual di warung dekat stasiun yang sudah menjadi langganan Oma. Nasi tahu berisi nasi, tahu, tauge, bumbu kacang, dan dibungkus dengan daun jati. Sate ayam serepeh itu seperti sate ayam pada umumnya, tapi menggunakan kuah serepeh.

Aksi memanjakan cucu belum selesai sampai di situ. Biasanya di hari selanjutnya, Oma mengajak saya sarapan di warung soto Mbak Pur. Soto di warung ini disajikan denganĀ piring, nasi tidak terlalu banyak, potongan daging sapi, kuah kuning yang encer, ditambah satu potong paru. Dagingnya empuk, kuahnya masih panas, semua terasa pas dan nikmat di indera perasa. Ini adalah soto kesukaan saya, setelah soto buatan Ibu.

Berikutnya, giliran Opa yang memanjakan saya. Opa suka mengajak saya ke Blora untuk makan sate ayam. Pukul tiga sore, kami biasanya meninggalkan Rembang menuju Blora. Kami sampai di sana tepat ketika bapak penjual sate baru membakar arang. Saya bisa menghabiskan sekitar dua puluh tusuk sate kulit ayam dan sepiring nasi. Walaupun di Jakarta banyak yang menjualĀ sate Blora, rasa rindu baru terobati saat makan di daerahnya langsung.

Setelah sate, makanan penutup kesukaan saya adalah serabi. Rumah si penjual ditandai dengan botol kaca hitam yang ditaruh di tembok depan rumahnya. Serabi di sini masih dibuat dengan cara tradisional, yaitu dengan tempat dari tanah liat dan kayu bakar. Dijual Rp500,00 untuk satu tangkup (dua buah serabi), dibungkus dengan daun pisang, ditambah kuah santan. Selain makan di tempat, Opa biasanya membawa pulang beberapa tangkup serabi agar saya bisa makan di rumah.

Namun, liburan menyenangkan di rumah Opa dan Oma bukan hanya soal dimanja. Rumah itu luas sekali, karena harus bisa mengakomodasi keluarga di masa lampau yang jumlah anggotanya bisa mencapai puluhan orang, sehingga saya bisa jumpalitan sana-sini tanpa terbentur tembok atau barang lainnya. Saya suka kejar-kejaran dengan adik saya sambil naik sepeda atau adu bermain lompat tali. Saya suka mengganggu anjing peliharaan Opa dan Oma yang sedang berjemur atau bertanya dengan bawel tentang tanaman hias Oma yang beragam jenisnya.

Rumah itu juga menyimpan sejuta barang antik yang tidak saya temui lagi di Jakarta. Saya membantu Mbak Rum menimba air dari dalam sumur untuk mencuci baju. Saya membantu Oma di lumbung kecap untuk menempel cap kertas pada botol kecap yang hendak dijual. Saya iseng berdiri di atas timbangan dan meminta Mbak Rum untuk mengukur berat saya dengan mengatur biji kuningannya. Saya mandi cepat-cepat karena takut dengan ukuran kamar mandi yang bisa dimasuki lebih dari sepuluh orang.

Saya tidak pernah kehabisan aktivitas di rumah itu. Mungkin itu salah satu alasan saya selalu menantikan liburan sekolah di bulan Juni, selalu menantikan pintu pagar rumah itu dibuka, selalu menantikan untuk menginjakkan kaki di rumah itu. Iā€™ll do it all over again if itā€™s possible.

***

Atas setiap kunjungan ke rumah itu saat liburan sekolah, saya berhasil melukis masa kecil yang menyenangkan.

Rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang sekarang bukan lagi milik Opa dan Oma saya. Rumah itu dijual beberapa tahun yang lalu kepada pasutri yang baru menikah.

 

RAHASIA OPA & OMA DI LASEM

Bukan sembarang rahasia, bukan pula sembarang opa dan oma yang menyimpannya. Karena rahasia dan para sesepuh inilah yang menghidupi Lasem hingga kini.

*

Setiap gang diisi oleh rumah-rumah dengan pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya. Ketika pintu itu saya ketuk, seorang opa atau oma akan membukanya, diiringi sapaan dalam bahasa Jawa dan senyuman ramah seolah menyambut kedatangan si cucu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya
Saya dijamu di ruang tamu di rumah utama, yang memungkinkan saya untuk melihat isi rumah itu. Perabotan rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu jati dan belum pernah diganti sejak rumah itu didirikan ratusan tahun yang lalu. Meja besar menyerupai altar untuk sembahyang, biasanya ada patung dewa, foto orang terkasih yang telah meninggal, makanan persembahan, dan hio di atasnya. Foto-foto hitam putih yang dibingkai dan digantung di dinding, mulai dari foto keluarga besar hingga foto tiap anggota keluarga. Seisi rumah itu bercerita tentang penghuninya yang sudah turun-temurun.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ruang untuk menyambut tamu yang terletak di rumah utama
Opa sudah berapa lama tinggal di sini? Oma tinggal di sini sejak kapan? Ada yang menjawab dengan tahun, ada yang menjawab dengan angkatan generasi. Ada yang memang mewarisi rumah itu, ada yang hanya diberi amanah untuk menjaga rumah itu. Kemudian, para opa dan oma akan lanjut bercerita. Ada opa yang sudah pikun dan bertanya saya menginap di mana hingga tiga kali, tapi beliau bisa menceritakan dengan jelas ingatannya akan orang yang nyeret candu di depan rumahnya. Ada oma yang sudah menjaga vihara (dulunya digunakan sebagai rumah) sejak tiga puluh tahun yang lalu, termasuk menjaga anjing-anjing miliknya agar tidak menggonggong ketika shooting acara uji nyali di vihara itu. Ada oma yang hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya dan sewaktu saya datang ke rumahnya, beliau curhat sambil memarahi adiknya yang tidak “laporan” saat pergi ke rumah tetangga. Ada opa yang mengizinkan rumahnya digunakan sebagai tempat pernikahan penjaga rumahnya dan menggantung foto beliau bersama kedua anak si penjaga rumah di ruang tamu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kalau Opa bosan di rumah, biasanya beliau akan “nongkrong” di bale-bale seberang rumahnya
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma yang menjaga dan membersihkan vihara sejak tiga puluh tahun yang lalu
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma tetap cantik dengan daster ungunya
Processed with VSCO with hb2 preset
Bapak penjaga rumah yang senyum-senyum melihat foto kedua anaknya bersama Opa pemilik rumah
Saya senang mendengar cerita-cerita itu karena menggambarkan seperti apa kota ini puluhan tahun yang lalu: saudagar-saudagar Tionghoa dengan usahanya yang sukses, para lelaki yang bebas nyeret candu di pinggir jalan, para ibu yang menggowes sepeda onthel menuju tempat membatik. Walaupun banyak yang diceritakan, jelas tetap ada yang belum terungkap. Entah karena kapasitas ingatan opa dan oma yang tidak lagi memadai atau karena belum pantas diceritakan pada pertemuan pertama. Entah kesepakatan macam apa pula, yang tidak bisa saya terjemahkan sendiri, yang pernah terjadi hingga para opa dan oma begitu setia dengan rumah dan kota ini, padahal mereka bisa membuat keputusan lain untuk pindah. Yang belum terungkap inilah, yang kemudian menjadi rahasia.

Segelas air putih, teh, atau sirup yang telah habis menandakan usainya cerita karena para opa dan oma harus beristirahat. Pamitan saya pun selalu dibalas dengan, “Main-main lagi ke sini kalau ke Lasem.”

*

Processed with VSCO with hb2 preset
Lasem yang tua dan sunyi

Lasem hari ini adalah kota yang tua dan sunyi, namun segudang rahasia tersimpan di ingatan para penghuninya dan membekas di tembok-tembok kota ini. Biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, biarlah rahasia tetap berada di Lasem, biarlah Lasem hidup.

BROMO: MENGHAMBA MENTARI

Siapa yang ingin menjadi hamba. Tetapi tanpa sadar, beberapa manusia melakukannya, dengan sukarela.

Di Bromo. Para wisatawannya, yang adalah manusia, menjadi hamba bagi mentari. Mereka dengan sengaja memenuhi Penanjakan sejak gelap masih menguasai langit, menunggu semburat jingga pertama, dan mengantarĀ mentari menuju singgasana.

Ketika waktunya tiba, mereka mulai mengangkat tinggi-tinggi telepon genggam masing-masing agar bisa mengabadikan momen terbitnya mentari. Momen ini jugaĀ menandai berakhirnya jasa penyewaan tikar sebagai alas duduk para wisatawan, digantikan dengan dagangan bunga edelweiss hasil petikan yang sudah dirangkai menyerupai boneka beruang dan bentuk lainnya, bahkan diwarnai.

Selesai menyambut sang mentari, para wisatawan melanjutkan penjelajahannyaĀ ke kawah Bromo, dengan tetap membawa sifat seorang hamba. Ada dua pilihan untuk sampai di titik terakhir sebelum menaiki tangga menuju kawah, yaitu dengan mengandalkan kaki sendiri atau dengan mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mengandalkan kaki-kaki kuda. Namun, kedua pilihan ini akan melalui jalur yang sama untuk sampai di titik terakhir tersebut. Karena kuda lebih besar daripada manusia dan lebih banyak rupiah yang dikeluarkan untuk seekor kuda, jadilah wisatawan yang mengandalkan kaki sendiri harus awas dan menyingkir ketika, “Minggir, minggir, kuda mau lewat.”

Sampai di titik terakhir, saatnya mempersiapkan diri untuk mengalahkan setiap anak tangga dan ego pribadi menuju kawah. Mengalahkan anak tangga adalah hal yang mudah, asal didukung dengan lutut yang siap ditekuk berulang kali. Mengalahkan ego pribadi adalah ujian bagi seorang hamba. Tangga itu hanya memiliki lebar sekitar dua petak (satu petak untuk naik dan petak lainnya untuk turun). Jumlah wisatawan yang membludak mengharuskan siapapun yang ingin sampai di kawah untukĀ mengantre. Namun, seorang wisatawan asing, masih muda, dan bisa melihat antrean yang panjang, melangkah di antara dua petak itu, melewati ratusan wisatawan yang mengantre di tangga.

Kawah Bromo sangatlah sempit, untuk jumlah wisatawan yang membludak, dengan pembatas yang seadanya. Pemandangan kawah yang tidak begitu memukau, mungkin menyebabkan kejadian ini terjadi: membuang sampah ke dalam kawah. Seorang bapak, di pinggir kawah, mencontohkan kepada anaknya seolah ini adalah semacam permainan, mengambil sampah botol plastik yang ditinggal di pinggir kawah, dan membuangnya ke dalam kawah. Dengan gembiraĀ dan tanpa rasa bersalah. Kemudian, diikuti oleh anaknya.

Bromo benar-benar dipenuhi lautan hamba. Tidak bisa memimpin dirinya sendiri dan perlu dibuatkan papan peringatan berbunyi “Harap antre” dan “Dilarang membuang sampah ke dalam kawah” agar dipatuhi dan dilakukan (masih ada kemungkinan papan peringatan itu akan diabaikan, sebenarnya).

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Sebagai seorang wisatawan yang mau mengantre dan tidak membuang sampah ke kawah, jugaĀ salah satu hamba mentari, saya sedih sekaligus tidak tahu harus berbuat apa melihat keindahan Bromo ternodai oleh beberapa hamba yang bermuka dua terhadap mentari: memuja di depannya, kemudian berlaku seenaknya di belakangnya.

SI SIPIT KE KAMPUNG ARAB

Membicarakan posisi minoritas di tengah mayoritas masyarakat Indonesia adalahĀ sebuah cerita lama, klise. Namun, mengabaikan posisi dan garis batas minoritas-mayoritas itu akan mendatangkan cerita baru yang kikuk sekaligus hangat.

Kampung Arab, di kawasan Kota Tua Surabaya, membuka perjalanan saya dan tiga orang teman kali ini. Tanpa rasa gelisah sedikit pun, kami menyusuri kampung yang didominasi dengan dagangan kurma, minyak wangi, buku dan kitab, serta peci. Di ujung kampung, seorang ibu berkerudung menawarkan kami jasa melukis henna di tangan dan kaki, yang membuat kami langsung tertarik.

“Cina, ya?” tanya ibu pelukis hennaĀ sambil menyodorkan buku berisi beragam jenis henna yang bisa kami pilih untuk dilukis di tangan dan kaki kami (mendengar nada sang ibu, pertanyaan itu dilontarkan dengan tujuan ingin tahu, bukan tujuan menyinggung atau tujuan tidak menyenangkan lainnya).

Pertanyaan itu hanya bisa membuat kami tersenyum, karena kaget tiba-tiba ditanya seperti itu dan bingung bagaimana harus menjawabnya, tetapi akhirnya jawaban keluar juga dari mulut kami, “Hehe iya, Bu.”

Sambil melukis henna di tangan kiri kami, sang ibu bercerita bahwa kampung ini tidak lagi dipenuhi dengan keturunan Arab, tetapi sudah bercampur dengan penduduk lokal. Kampung ini juga biasanya dikunjungi sebagai bagian dari wisata religi di Masjid Sunan Ampel, yang terletak di ujung kampung. Oleh karena itu, lebih banyak perempuan berkerudung yang datang ke kampung ini daripada perempuan keturunan Cina seperti kami.

Pertukaran jasa dengan uang dilakukan setelah henna terlukis dengan rapi di tangan kiri kami. Ketika hendak keluar dari kampung ini, seorang bapak yang melewati kami menyapa, “Where do you come from?

Mengunjungi Kampung Arab adalah sebuah bentuk pengabaian batas yangĀ sarat pembelajaran tentang kultur Indonesia yang heterogenĀ sekaligus homogen: suatu komunitas memiliki kesamaan kultur yang mendarah dagingĀ hingga terlupa akan kesamaan kultur komunitas lainnya, di mana ada perbedaan di antara kesamaan-kesamaan itu.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Sampai jumpa di langkah lainnya melampaui garis batas minoritas-mayoritas untuk merayakan perbedaan!

RADIT & JAKA

Kalau Radit dan Jani memiliki kisah cinta yang tidak berujung bahagia, maka kalau Radit dan Jaka memiliki kisah persahabatan yang simbiosis mutualisme.

Waktu sampai di Keraton Kaibon, Banten Lama, ekspektasi tinggi saya langsung dijatuhkan karena melihat tempatnya yang hanya “begitu” saja: tanah lapang luas yang ditumbuhi rerumputan dan puing-puing bangunan keraton yang tersebar di area tanah lapang tersebut. Ini apa yang mau difoto? pikir saya. Namun, saya kemudian berjumpa dengan kedua anak ini.

Ini Radit (kanan) dan Jaka (kiri). Walaupun badannya kecil dan kurus, tapi mereka lincah sekali. Dinding bangunan keraton bisa dipanjat dengan tangan kosong dalam waktu beberapa detik saja.

Setelah memanjat, Radit dan Jaka akan turun dari dinding tersebut dengan cara melompat. Mereka sama sekali tidak takut akan ketinggian, langsung melompat tanpa pikir panjang, dan mendarat dengan sempurna.

Selain memanjat dan melompat, Radit dan Jaka juga belajar silat bersama. Sebelum latihan dimulai, mereka akan memberi hormat ke depan, ke samping kanan dan kiri, dan ke belakang.

Radit dan Jaka sedang berlatih silat. Terlihat seperti bertengkar sungguhan, tapi mereka tidak saling menyakiti satu sama lain. Mereka belajar menyerang dan membuat pertahanan diri.

Selesai belajar silat, Radit dan Jaka ngaso dan bersenda gurau dalam bahasa Sunda di area keraton. Karena mereka belum masuk sekolah, hingga saya pulang, mereka masih asik bermain di sana.

Setelah bertemu Radit dan Jaka, Keraton Kaibon menjadi lebih menarik untuk saya, terutama untuk difoto. Puing-puing bangunan keraton yang tidak terawat ternyata masih bisa dimanfaatkan dua anak kecil ini untuk bermain dan belajar silat.

Dadaah Radit dan Jaka!