CERITA DARI ALAS KAKI

Saya memiliki sepasang sepatu yang saya gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Setiap pengalaman yang saya lalui, turut ditapaki juga oleh sepatu ini. Warna netral pun menjadi pilihan saya untuk si alas kaki agar selalu cocok dengan setelan-setelan pakaian yang saya pakai. Oleh karena itu, bagi saya, sepatu bukan hanya sebuah fashion statement, melainkan cerita dan kenangan.

Dalam tiga tahun terakhir, saya memiliki tiga sepatu kesayangan dengan periode waktu yang berbeda-beda. Saya akan menggantung sepatu ketika si alas kaki tidak lagi layak untuk digunakan, seperti bagian bawah yang bolong (terutama di bagian tumit karena kebiasaan saya berjalan dengan diseret) dan bagian samping yang robek (karena telapak kaki saya berbentuk lebar). Kemudian, tibalah saatnya membeli sepatu baru, menapaki tanah, jalan, dan lantai lainnya, dengan tetap menyimpan cerita dari sepatu sebelumnya.

***

Converse, Chuck Taylor All Star

Sekitar 2011, teman-teman saya mulai memiliki Converse dan terlihat keren menggunakannya. Mengikuti tren tersebut, jadilah saya membeli sepatu merek ini. Saya memilih warna abu-abu muda dengan foxing stripe warna gradasi kuning-biru (beberapa kali dicuci, gradasi itu mulai pudar hingga tersisa warna kuningnya saja).

Namun, pada masa itu, saya lebih senang menggunakan flat shoes sehingga sepatu ini hanya dipakai ketika bepergian yang membutuhkan banyak jalan kaki, salah satunya ke Tembok Besar Tiongkok. Ketika mengunjungi tembok raksasa ini, saya hanya diberi waktu dua jam. Saya langsung naik sendirian, berusaha mencapai pos terjauh, tetapi lupa membawa minum. Sepatu ini mendukung misi itu dengan tidak memberatkan kaki saya saat melewati setiap anak tangga yang tingginya berbeda-beda. Akhirnya, setelah benteng ketiga, saya berhenti karena sudah lelah, dehidrasi, dan harus menyisakan waktu untuk kembali turun ke pos awal. Seorang bapak tua pun tertawa dan berbicara dalam bahasa Mandarin sambil menunjuk ke arah saya, pasti karena muka saya memerah dan nafas saya yang ngos-ngosan. Meskipun misi tidak terselesaikan, saya telah meninggalkan banyak jejak sepatu saya di tembok terpanjang di dunia itu.

Kenangan terakhir saya akan sepatu ini adalah Brown Canyon, Semarang pada 2015. Saya bersama teman-teman berada cukup lama di area tambang ini, berfoto-foto sambil menunggu matahari terbenam. Dalam kurun waktu tersebut, angin kencang yang berhembus sore itu menerbangkan banyak pasir dan debu memasuki sepatu saya yang mulai bolong. Hingga pulang ke Jakarta, benda-benda kecil itu bertahan di dalam sepatu saya yang membuatnya tak nyaman lagi untuk digunakan.

*

Vans, Suede & Suiting Era

Saya jatuh hati sejak pertama kali melihat Vans ini. Bagian vamp (depan) berwarna biru muda polos dan bagian quarters (tengah ke belakang) dihiasi beberapa jenis corak yang juga berwarna biru muda. Menghadirkan Vans yang klasik, tetapi tidak mainstream.

Sepatu ini tidak mencapai tempat-tempat fenomenal seperti yang sebelumnya, namun si alas kaki menjadi saksi pergolakan kultur ketika saya berkunjung ke Sumatera Barat. Bahasa Minang yang sulit saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alasannya. Terlepas dari itu, saya bisa berbaur dengan budaya Minang lainnya, seperti makanan. Sepatu ini pun berbaur dengan pakaian adat Minang yang saya coba di Istano Basa Pagaruyung, Tanah Datar. Karena hanya pakaian yang disewakan, jadilah saya menggunakan sepatu ini untuk berkeliling dan berfoto ria. Perpaduan antara budaya tradisional dan modern yang cocok, bukan?

Cerita bersama sepatu ini ditutup dengan buruk sebab harus meninggalkannya di Jepang pada 2016. Hari itu, seluruh Jepang diguyur hujan. Sepatu saya pun basah hingga ke bagian dalamnya, membuat penampakan si alas kaki tak menarik untuk dilihat maupun layak untuk digunakan. Dengan kondisi itu, menyusuri toko-toko di sepanjang Ginza, Tokyo juga menjadi tidak nyaman. Akhirnya, dengan berat hati, saya membeli sepatu baru. Besoknya, saat hendak pulang ke Jakarta, Bapak saya mengambil foto sepatu ini sebagai kenang-kenangan, lalu saya memandanginya selama beberapa saat (dan mengucapkan salam perpisahan dalam hati) sebelum keluar dari kamar hotel.

*

Vans, Classic Slip-On

Inilah sepatu yang saya beli di Jepang untuk menggantikan Vans sebelumnya. Saya memilih sepatu ini karena paling sesuai dengan selera saya, dibanding sepatu lainnya di toko itu, dan ingin merasakan tidak perlu repot mengikat tali sepatu.

Bersama sepatu ini, saya lebih banyak menjelajahi Jakarta, mulai dari Pekojan, Pelabuhan Sunda Kelapa, sampai Cilincing. Bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan kendaraan umum yang jarang saya naiki, dan memperluas jejak sepatu saya di berbagai pojok ibukota.

Selain itu, saya juga memasuki gedung-gedung penting di kota metropolitan ini, seperti Balai Kota dan Kompleks Parlemen, ketika magang sebagai reporter Tempo beberapa waktu lalu. Saya meliput konferensi pers, berkenalan dengan reporter berbagai media, kemudian menunggu narasumber yang sama. Terkadang, saya keluar dari gedung tersebut tidak hanya dengan berita, melainkan injakan kaki secara tidak sengaja dari reporter lain saat mengejar narasumber yang tak mau bicara. Sepatu ini telah menjadi saksi bisunya.

Karena masa magang telah selesai, saya dan slip-on berwarna hitam ini kini kembali ke rutinitas mahasiswa, menapaki jalanan Kutek sambil membeli jajanan dan mengunjungi tempat-tempat lain di Jakarta guna membuat rangkaian cerita terakhir bersama.

***

Cara saya menyayangi sepatu adalah dengan menggunakannya, bukan dengan memajangnya di rak sepatu. Jadi, walaupun si alas kaki berakhir dengan penampakan yang kumal, perjalanan yang dilaluinya selesai dengan indah dan terus teringat.

Advertisements

HARI MERAH PUTIH

Sejarah adalah guru, saya percaya itu. Menatap masa lalu untuk menata masa depan, saya juga setuju dengan pernyataan itu. Namun, rasanya tidak perlu pula diartikan secara harfiah: “Di usia 26 tahun, Soekarno sudah mendirikan Partai Nasional Indonesia. Kita usia 26 tahun ngapain? Paling posting-posting di Instagram.”

Di masa Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, hampir seluruh pemuda berpikir dan berjuang untuk memerdekakan Indonesia dari kaum penjajah. Salah satu jalan yang bisa mengakomodasi tujuan tersebut adalah dengan mendirikan partai yang kemudian memiliki kapasitas untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu. Kini, di masa Indonesia telah 72 tahun berdiri sebagai sebuah negara, kemerdekaan yang diyakini setiap warganya tidaklah sama, begitu pun dengan perjuangannya. Oleh karena itu, kebiasaan mengunggah sesuatu di Instagram tidak seharusnya digeneralisasi sebagai kegiatan yang sepele, mungkin itu adalah cara seseorang untuk memerdekakan diri agar tidak melulu menjadi tanggungan orangtua.

Zaman bergeser, teknologi berkembang, generasi beralih, kepentingan berubah, dan rezim berganti. Apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan perlu dipandang secara kontekstual, kedua masa ini tidak bisa disamakan begitu saja.

(Kepada Mas Pemandu Museum yang melontarkan pernyataan harfiah di atas, kemudian pernyataan serupa beberapa kali lagi dalam satu kali tur museum, bagi saya, Anda sudah memerdekakan saya dan orang-orang lain yang Anda pandu dari kebutaan sejarah. Tidak perlu menghadirkan kemerdekaan dalam bentuk yang besar dan mewah, dalam bentuk yang sederhana pun sudah memberikan arti yang cukup. Namun, Anda punya keyakinan sendiri tentang kemerdekaan yang tidak boleh saya ganggu gugat juga. Selamat berjuang memperoleh kemerdekaan lainnya, Bung!)

###

Foto-foto di bawah ini bukan ingin memutlakkan cara untuk merayakan 17 Agustus, hanya bentuk kerinduan saya akan lomba-lomba yang akrab saya ikuti dan amati di komplek perumahan (kecuali tong setan, ini pertama kalinya saya melihat aksi ajaib itu), tetapi sekarang sudah tak diadakan lagi.

Lomba membaca teks proklamasi atau lomba panjat pinang, keduanya adalah pilihan. Tidak perlu ada yang dinomorduakan karena bagaimana cara seseorang memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak menjadi tolok ukur ke-Indonesia-an orang tersebut.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Lomba anak-anak di Tanah Rendah, Jakarta Timur

Panjat Pinang Massal di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara

Tong Setan di Festival Aku BerIndonesia, Radio Dalam, Jakarta Selatan

JAKARTA KALA BERJALAN KAKI

Jakarta dan jalan kaki tampaknya bukan lagi kata-kata yang asing untuk dipasangkan. Trotoar yang semakin lebar dan jembatan penyeberangan orang yang semakin banyak membuat saya bisa menyelami Jakarta dalam hitungan yang lebih lambat: menikmati segala yang ditawarkan kota ini.

***

Saya mencoba jalan kaki yang lebih terarah dengan mengikuti Jakarta Walking Tour. Tur ini dipimpin oleh seorang pemandu, bermodalkan kaki sendiri, kemudian mengelilingi Jakarta dengan rute-rute tertentu—karena Jakarta tak akan habis dalam satu kali tur perjalanan. Rute yang disediakan pun mencakup daerah-daerah yang familiar bagi penghuni Jakarta, yang membuat saya tak ragu mendaftarkan diri sebagai peserta. Pasti ada yang saya lewatkan ketika mengunjungi daerah ini dengan kendaraan!

Jalan kaki menyusuri Jakarta

Hal-hal terlewatkan inilah yang akan memberikan oh moment bagi para peserta tur berjalan kaki ini, begitu menurut Mas Candha, salah satu pemandu Jakarta Walking Tour waktu saya ikut rute Cikini. Oh moment menjadi tanda para peserta mendapatkan cerita baru tentang Jakarta sehingga tidak selalu memberikan cap macet parah, panas banget, dan penuh dengan mall pada sang ibu kota negara ini.

Saya pun merasakan momen, “Ooh, ada juga yang kaya gini,” saat mencoba es krim Tjanang yang dijual di sebuah rumah makan di depan Taman Ismail Marzuki—padahal saya secara reguler mengunjungi TIM, tapi tidak pernah tahu ada es krim ini. Es krim Tjanang kini dijual dalam kemasan plastik yang dititipkan di satu lemari pendingin di rumah makan tersebut. Papan nama es krim Tjanang pun berukuran kecil sehingga jarang terlihat jika melewatinya dengan kendaraan. Es krim ini berjenis sorbet dan menonjolkan rasa-rasa warisan sejak dulu, seperti cokelat, ketan hitam, dan kacang hijau. Jenis sorbet membuat teksturnya menjadi padat sehingga sulit dikeruk dengan sendok ketika baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Oleh karena itu, saya membiarkan es krim rasa ketan hitam yang saya beli hari itu berada di bawah sinar matahari agar segera mencair dan bisa menyantapnya.

Es krim Tjanang rasa ketan hitam yang disajikan dalam kemasan plastik seharga Rp13.000,00

Selain cerita sejarah dari tempat-tempat yang dikunjungi, subjektivitas pemandu turut menambah oh moment bagi para peserta tur. Subjektivitas itu hadir dalam bentuk pengalaman pribadi sang pemandu di tempat yang dikunjungi atau ketertarikannya dengan isu-isu yang berkaitan dengan tempat tersebut. Mas Indra—pemandu saya waktu ikut rute Molenvliet—pun membagikan riset dan pengetahuannya tentang kuliner saat saya dan peserta lain tiba di depan Pecenongan, surga bagi pencinta makanan. Pecenongan awalnya hanya dipenuhi dengan restoran chinese food, namun lama-kelamaan bisnis martabak mulai tumbuh di sepanjang daerah ini. Uniknya, kedai martabak di Indonesia biasanya menawarkan dua jenis martabak, yaitu martabak manis dan martabak asin. Sementara itu, banyak kedai di Singapura dan Malaysia yang menjual dua jenis martabak ini secara terpisah, martabak manis atau martabak asin (karena keduanya berasal dari negara yang berbeda, martabak manis dari Tiongkok dan martabak asin dari India). Dan untuk setiap fakta itu, saya hanya bisa kagum dan berkata, “Ooh gitu.”

Dari sekian banyak oh moment, yang membekas di ingatan saya ternyata merupakan hal-hal yang simpel dan cenderung sepele, namun luput diceritakan dalam buku-buku sejarah yang saya pelajari ketika duduk di bangku sekolah. Bisa mengingat oh moment tersebut tentu disebabkan juga oleh bias pribadi yang saya miliki, misalnya berkaitan dengan kebiasaan saya sehari-hari atau menjawab pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran saya. Secara garis besar, cerita-cerita yang menyebabkan oh moment itu semacam menjadi pemuas yang masuk akal atas rasa penasaran dan keheranan mengenai apa yang saya alami dan sedang berkembang di Jakarta sekarang ini. Dari rasa yang terjawab itu, saya bisa menyusun garis waktu dan membayangkan rupa-rupa Jakarta saat cerita-cerita itu terjadi—saat saya belum lahir—hingga Jakarta yang kini saya tinggali. Lalu, dalam rangka ingin terus mengingatnya, saya menuangkan cerita-cerita tersebut dalam obrolan dengan beberapa teman, juga dalam bentuk tulisan di blog ini.

Qolbi, salah satu teman yang sering saya ceritakan soal Jakarta Walking Tour dan akhirnya ikut dalam tur ini

Akan tetapi, saya tak akan menyangkal, mengikuti Jakarta Walking Tour dengan berjalan kaki selama hampir tiga jam membuat saya selalu mencari tempat duduk setelahnya. Sambil meregangkan kaki-kaki yang mulai dirambati rasa pegal dan menyeka keringat di sela-sela wajah, saya memutar memori kembali ke hal-hal yang baru saja terjadi dalam tur ini: keramahan sang pemandu dengan tidak menyelipkan unsur menggurui dalam bercerita dan kesediaan para peserta tur untuk mendengarkan tanpa intervensi yang sarat dengan unsur paling paham. Suasana hangat yang tercipta dalam waktu singkat ini akan selalu saya nantikan ketika saya hadir lagi sebagai peserta di rute-rute Jakarta Walking Tour lainnya.

***

Jalan kaki hanya salah satu cara untuk menikmati setiap percumbuan dan menyiasati setiap pertengkaran dengan Jakarta. Saya ingin mengerti seluk-beluk kota yang saya tinggali ini, juga memahami apa yang mengisinya dan apa yang tidak terlihat lagi di dalamnya, agar saya tidak memberikan jawaban yang membosankan ketika ditanya soal Jakarta.

Informasi mengenai rute dan waktu jalan Jakarta Walking Tour bisa dilihat di sini. Selamat menikmati Jakarta!

MENUNGGU MAGRIB DI PEKOJAN

Sekitar pukul lima sore, saya dan beberapa teman tiba di salah satu rumah warga di Pekojan, Jakarta Barat. Sang empunya rumah, Bang Hussein, menyambut kami di pelataran rumahnya dan mempersilakan kami masuk ke dalam. Saya terkejut dengan sambutan ini, bukan karena bahasa atau gestur yang digunakan, tapi karena paras Bang Hussein dan anggota keluarganya seperti orang Arab yang baru datang ke Jakarta, tidak ada ciri-ciri fisik orang Indonesia yang melekat pada mereka. Ketika saya masuk ke dalam rumah Bang Hussein, semakin banyak hal mengejutkan yang saya temui.

Salah satu kerabat Bang Hussein, yang asik menyantap ayam goreng di tengah ruangan ketika orang dewasa lainnya heboh mondar-mandir

*

Bukan secara tiba-tiba dan tanpa tujuan saya datang ke rumah Bang Hussein. Hari itu, tanggal 27 bulan Ramadan, warga Pekojan mengadakan buka puasa bersama satu kampung, bukan satu keluarga atau satu rumah, tapi satu kampung! Buka puasa bersama secara besar-besaran ini sudah menjadi tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Pekojan, atau biasa disebut Kampung Arab milik Jakarta. Sebutan itu mengakar dari masa pemerintahan Belanda, ketika para pendatang keturunan Arab diberikan tempat tinggal di satu daerah di luar tembok kota Batavia (sekarang wilayah Kota Tua), yaitu Pekojan. Namun, kini Pekojan tidak hanya dihuni oleh warga keturunan Arab, daerah ini mengenal baik pluralisme dan toleransi antarwarganya.

Oleh karena itu, seluruh warga Pekojan, dari keturunan dan agama apapun, bahkan beberapa orang yang bukan warga setempat seperti saya dan teman-teman, boleh mengikuti buka puasa bersama ini. Pelataran rumah dan jalan-jalan mulai ditutupi dengan terpal dan dihias dengan berpiring-piring kurma dan ratusan gelas air mineral. Para perempuan akan berkumpul di dalam rumah, kemudian memasak dan menyiapkan hidangan buka puasa bersama. Sementara para laki-laki akan berkumpul mulai dari pelataran rumah hingga ke jalan-jalan untuk membaca doa, sambil menunggu azan magrib berkumandang. Tugas telah dibagi dan harus dilaksanakan sesuai porsi masing-masing.

Kurma yang disajikan per piring untuk mendampingi Nasi Kebuli dan lauk-pauk

Karena saya berada di dalam rumah Bang Hussein, saya menyaksikan para perempuan yang tengah sibuk menyiapkan Nasi Kebuli beserta lauk-pauknya. Nasi sebanyak 150 liter yang disatukan dalam boks (untuk pertama kalinya saya melihat nasi sebanyak itu, seratus lima puluh liter!) dibagi ke dalam puluhan nampan, ditaburi bawang goreng yang telah dicampur dengan kismis, ditambah beberapa potong ayam goreng, kemudian ditumpuk dua mangkok berisi gulai kambing dan terong pedas, tak lupa ditumpuk lagi dengan sepiring acar dan sepiring kurma. Jadilah satu nampan Nasi Kebuli beserta lauk-pauk yang siap disantap oleh tiga hingga empat orang. Nampan-nampan ini kemudian disusun di sepanjang lorong rumah karena tak ada tempat lagi untuk menampungnya, para laki-laki pun masih membaca doa sehingga tidak bisa mendistribusikan Nasi Kebuli ini ke pelataran rumah dan sekitarnya. Kehebohan para perempuan di dalam rumah bukan hanya soal menyiapkan hidangan buka puasa bersama, tapi masih harus mengurus anak-anak dan cucu-cucu yang berusia di bawah lima tahun. “Kenalin, ini anak aku yang ke delapan,” seru seorang ibu berusia sekitar 35 tahun dengan sumringah sambil menggendong anaknya, yang ke delapan, yang berusia sekitar 4 tahun.

Berkaca pada keluarga saya sendiri, yang masih memegang dan melakukan beberapa tradisi Tionghoa, acara besar-besaran seperti ini tidak pernah dilakukan. Makan besar biasanya dilakukan saat perayaan Imlek, namun itu pun dilakukan per keluarga dengan berkumpul di rumah saudara yang paling tua, bukan dengan merayakannya secara bersama-sama di satu lingkungan, seperti buka puasa bersama di Pekojan. Awalnya, saya kaget melihat begitu banyak jenis makanan yang disiapkan beserta jumlahnya yang juga sangat banyak (saya sudah sebutkan kalau nasi yang dimasak sebanyak 150 liter, bukan?). Karena keluarga saya tidak terlalu besar, Oma saya pun tidak pernah memasak nasi atau lauk-pauk sebanyak itu ketika perayaan Imlek. Tapi, melihat antusiasme para perempuan untuk menyiapkan hidangan buka puasa terbaik bagi seluruh warga Pekojan membuat saya merasakan kehangatan yang sama saat Oma saya memasak dua piring Galantin untuk keluarga yang berkumpul di rumahnya.

Akan tetapi, memiliki anak ke delapan di zaman sekarang ini bukan hal yang lazim terjadi di keluarga saya (dan membuat saya tetap merasa kaget setiap mengingat perkataan ibu tersebut). Hmm.

*

Mendekati pukul enam sore, TV di dalam rumah dinyalakan agar seisi rumah mengetahui kapan magrib datang. Azan pun berkumandang, namun kondisi TV yang buram dan kresek-kresek membuat seseorang berkata,”Tunggu dulu, itu azan Saudi apa Indonesia?!”

Bagian belakang rumah Bang Hussein dan beberapa kerabatnya yang sedang bercengkerama

Terima kasih kepada I Was Here karena sudah mengajak saya ikut buka puasa bersama di Pekojan!

RASA UNTUK SEMERU

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa takut,
Terhempas di jalur berpasir menuju Mahameru,
Tertimpa batu-batu yang menggelinding dari Puncak Para Dewa,
Tersesat di jalur pendakian dan tak bisa pulang,
Akan kematian yang tak didambakan.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa sungkan,
Ketika pikiran dan tenaga tak lagi seirama,
Peluh dan lelah adalah riasan bagi setiap wajah,
Membebani bahu lain tidak menjadi pilihan,
Satu-satunya jalan pulang adalah terus mendaki.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa pilu,
Mendengar setiap mulut mengasakan sang Atap Tanah Jawa,
Melihat tetes demi tetes air mata menitik bersamaan dengan hujan malam itu,
Mengumpulkan kepingan hati yang tercecer karena mimpi tak lagi merekatkannya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa gamang,
Karena setiap cita dibangun di atas kaki sendiri,
Jangan berpegang pada kepala lain untuk mewujudkannya,
Potongan-potongan kejadian akan menamparmu,
Dengan keras hingga kau terbangun.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa suka,
Mengagumi keelokan alam dalam bingkai langit dan bukit,
Menghidupi hutan dengan aroma telur yang didadar,
Menertawakan kebodohan dengan sepantasnya.

*

Semeru, seharusnya, adalah tentang mengalahkan segala rasa,
Kegagahan dan kemegahannya mengecilkan kau dan aku,
Maka sampai padanya harus lebih dari rasa-rasa itu,
Semoga, di pendakian berikutnya.

BERKAWAN DENGAN PFN

Saya merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda. Kalau biasanya saya akan menonton film Indonesia di bioskop atau Kineforum di hari itu, kali ini saya merayakannya selama tiga hari dengan kawan baru saya: Studio Perum Produksi Film Negara (PFN).

Saat pertama kali berkenalan dengan PFN, saya merasa kasihan sekaligus kagum. Siapa yang tak merasa kasihan, gedung tua ini terlihat seperti gudang penyimpanan barang, berdebu, atapnya berlubang di beberapa bagian, lantainya pun tidak meyakinkan untuk dipijak. Namun, melihat rol-rol film yang diletakkan secara uwet-uwetan dalam sebuah kotak di salah satu sudut ruangan menghapus sedikit rasa kasihan saya. Rol-rol film itu menyadarkan saya, PFN bukan sekadar gedung tua, ia pernah menjadi sebuah adegan penting dalam perjalanan panjang film Indonesia. Waah, batin saya.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.54.37 AM
Persiapan pameran fotografi untuk perayaan Hari Film Nasional. Dulu, ruangan ini digunakan untuk proses cuci film sehingga masih terlihat tangki-tangki dan beberapa lemari untuk membantu proses tersebut

Menuju 30 Maret, berbagai usaha dilakukan untuk mempercantik dan mengembalikan PFN ke posisi adegan penting, tetapi beberapa orang yang telah mengenalnya lebih dulu tak bisa menyembunyikan kerapuhan kawan baru saya ini. “Kamu mau lihat itu banyak rol film di ruangan ini sampai sudah bau semua.” “Ini ruangan gelapnya sekarang buat kita simpan barang saja.” “Dulu pertama kali masuk ke sini, semua bau kimia karena untuk proses cuci film.” “Gak tau juga sih habis ini PFN mau dipakai untuk apa.”

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (3)
Pameran fotografi yang memanfaatkan sudut-sudut PFN

Akan tetapi, selama tiga hari perayaan Hari Film Nasional, kerapuhan PFN justru berhasil menjadi sorotan. Ada yang memfoto dan berfoto dengan kamera jadul beserta rol-rol film yang uwet-uwetan, ada yang penasaran dengan rupa ruangan gelap (dan harus kecewa karena sekarang hanya ruangan simpan barang), ada yang berusaha membangkitkan kembali kejayaan PFN seperti di masa lampau.

*

PFN memang sudah tua, memang sudah rapuh, penampakan gedung ini tak bisa berkata lain. Namun, ia juga tak perlu sendirian merasakan masa tuanya. Di era Menteri Penerangan masih berkuasa, ia adalah saksi bisu jatuh-bangunnya film Indonesia. Di masa kini, ia seharusnya tidak ditinggalkan, melainkan berjalan beriringan dengan film Indonesia yang tahun lalu mencapai lebih dari 36 juta penonton.

“Saya senang, hari ini PFN punya banyak teman, juga didukung pemerintah.” Perayaan Hari Film Nasional telah menghadirkan banyak kawan bagi PFN, tapi semoga ‘hari ini’ bisa berlaku setiap hari, bukan hanya satu tahun sekali.

Menutup cerita tentang kawan baru saya ini, saya senang bisa merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda dan mengenal sepenggal sejarah lagi tentang film Indonesia melalui PFN. Selamat Hari Film Nasional.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (2)
Ini kenang-kenangan dari PFN. Tapi, semoga PFN tidak sekadar jadi kenangan.

 

JALAN DIPONEGORO 31

Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco

Lagu ‘Poco-poco’ yang disetel dari kaset mengiringi senam sore Oma saya dan beberapa temannya. Di halaman belakang sebuah rumah tua yang tidak dihuni lagi, saya menonton gerak kaki yang lincah dan mendengar gurauan yang disambung tawa para oma, sambil menggaruk kedua kaki saya yang digigit pasukan nyamuk kebun.

Itulah rutinitas Oma di sore hari, sekitar lima belas tahun yang lalu. Selesai bersenam ria, beliau akan memboncengi saya di sepeda onthelnya menuju rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang.

***

Rumah itu hampir selalu menjadi destinasi saya saat liburan sekolah di bulan Juni. Saya biasanya sampai di depan rumah itu pada pagi hari, setelah menempuh perjalanan semalaman dengan bus dari Jakarta. Mbak Rum, ditemani dua ekor anjing peliharaan Opa dan Oma, akan membukakan pintu pagar bagi saya. Begitu saya menginjakkan kaki di rumah itu, liburan pun dimulai!

Seperti para oma yang pada umumnya ingin memanjakan cucunya, Oma saya pun demikian. Nasi tahu dan sate ayam serepeh kesukaan saya sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan kadang sudah siap di meja makan saat saya baru datang. Dua jenis makanan ini dijual di warung dekat stasiun yang sudah menjadi langganan Oma. Nasi tahu berisi nasi, tahu, tauge, bumbu kacang, dan dibungkus dengan daun jati. Sate ayam serepeh itu seperti sate ayam pada umumnya, tapi menggunakan kuah serepeh.

Aksi memanjakan cucu belum selesai sampai di situ. Biasanya di hari selanjutnya, Oma mengajak saya sarapan di warung soto Mbak Pur. Soto di warung ini disajikan dengan piring, nasi tidak terlalu banyak, potongan daging sapi, kuah kuning yang encer, ditambah satu potong paru. Dagingnya empuk, kuahnya masih panas, semua terasa pas dan nikmat di indera perasa. Ini adalah soto kesukaan saya, setelah soto buatan Ibu.

Berikutnya, giliran Opa yang memanjakan saya. Opa suka mengajak saya ke Blora untuk makan sate ayam. Pukul tiga sore, kami biasanya meninggalkan Rembang menuju Blora. Kami sampai di sana tepat ketika bapak penjual sate baru membakar arang. Saya bisa menghabiskan sekitar dua puluh tusuk sate kulit ayam dan sepiring nasi. Walaupun di Jakarta banyak yang menjual sate Blora, rasa rindu baru terobati saat makan di daerahnya langsung.

Setelah sate, makanan penutup kesukaan saya adalah serabi. Rumah si penjual ditandai dengan botol kaca hitam yang ditaruh di tembok depan rumahnya. Serabi di sini masih dibuat dengan cara tradisional, yaitu dengan tempat dari tanah liat dan kayu bakar. Dijual Rp500,00 untuk satu tangkup (dua buah serabi), dibungkus dengan daun pisang, ditambah kuah santan. Selain makan di tempat, Opa biasanya membawa pulang beberapa tangkup serabi agar saya bisa makan di rumah.

Namun, liburan menyenangkan di rumah Opa dan Oma bukan hanya soal dimanja. Rumah itu luas sekali, karena harus bisa mengakomodasi keluarga di masa lampau yang jumlah anggotanya bisa mencapai puluhan orang, sehingga saya bisa jumpalitan sana-sini tanpa terbentur tembok atau barang lainnya. Saya suka kejar-kejaran dengan adik saya sambil naik sepeda atau adu bermain lompat tali. Saya suka mengganggu anjing peliharaan Opa dan Oma yang sedang berjemur atau bertanya dengan bawel tentang tanaman hias Oma yang beragam jenisnya.

Rumah itu juga menyimpan sejuta barang antik yang tidak saya temui lagi di Jakarta. Saya membantu Mbak Rum menimba air dari dalam sumur untuk mencuci baju. Saya membantu Oma di lumbung kecap untuk menempel cap kertas pada botol kecap yang hendak dijual. Saya iseng berdiri di atas timbangan dan meminta Mbak Rum untuk mengukur berat saya dengan mengatur biji kuningannya. Saya mandi cepat-cepat karena takut dengan ukuran kamar mandi yang bisa dimasuki lebih dari sepuluh orang.

Saya tidak pernah kehabisan aktivitas di rumah itu. Mungkin itu salah satu alasan saya selalu menantikan liburan sekolah di bulan Juni, selalu menantikan pintu pagar rumah itu dibuka, selalu menantikan untuk menginjakkan kaki di rumah itu. I’ll do it all over again if it’s possible.

***

Atas setiap kunjungan ke rumah itu saat liburan sekolah, saya berhasil melukis masa kecil yang menyenangkan.

Rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang sekarang bukan lagi milik Opa dan Oma saya. Rumah itu dijual beberapa tahun yang lalu kepada pasutri yang baru menikah.