CERITA DARI ALAS KAKI

Saya memiliki sepasang sepatu yang saya gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Setiap pengalaman yang saya lalui, turut ditapaki juga oleh sepatu ini. Warna netral pun menjadi pilihan saya untuk si alas kaki agar selalu cocok dengan setelan-setelan pakaian yang saya pakai. Oleh karena itu, bagi saya, sepatu bukan hanya sebuah fashion statement, melainkan cerita dan kenangan.

Dalam tiga tahun terakhir, saya memiliki tiga sepatu kesayangan dengan periode waktu yang berbeda-beda. Saya akan menggantung sepatu ketika si alas kaki tidak lagi layak untuk digunakan, seperti bagian bawah yang bolong (terutama di bagian tumit karena kebiasaan saya berjalan dengan diseret) dan bagian samping yang robek (karena telapak kaki saya berbentuk lebar). Kemudian, tibalah saatnya membeli sepatu baru, menapaki tanah, jalan, dan lantai lainnya, dengan tetap menyimpan cerita dari sepatu sebelumnya.

***

Converse, Chuck Taylor All Star

Sekitar 2011, teman-teman saya mulai memiliki Converse dan terlihat keren menggunakannya. Mengikuti tren tersebut, jadilah saya membeli sepatu merek ini. Saya memilih warna abu-abu muda dengan foxing stripe warna gradasi kuning-biru (beberapa kali dicuci, gradasi itu mulai pudar hingga tersisa warna kuningnya saja).

Namun, pada masa itu, saya lebih senang menggunakan flat shoes sehingga sepatu ini hanya dipakai ketika bepergian yang membutuhkan banyak jalan kaki, salah satunya ke Tembok Besar Tiongkok. Ketika mengunjungi tembok raksasa ini, saya hanya diberi waktu dua jam. Saya langsung naik sendirian, berusaha mencapai pos terjauh, tetapi lupa membawa minum. Sepatu ini mendukung misi itu dengan tidak memberatkan kaki saya saat melewati setiap anak tangga yang tingginya berbeda-beda. Akhirnya, setelah benteng ketiga, saya berhenti karena sudah lelah, dehidrasi, dan harus menyisakan waktu untuk kembali turun ke pos awal. Seorang bapak tua pun tertawa dan berbicara dalam bahasa Mandarin sambil menunjuk ke arah saya, pasti karena muka saya memerah dan nafas saya yang ngos-ngosan. Meskipun misi tidak terselesaikan, saya telah meninggalkan banyak jejak sepatu saya di tembok terpanjang di dunia itu.

Kenangan terakhir saya akan sepatu ini adalah Brown Canyon, Semarang pada 2015. Saya bersama teman-teman berada cukup lama di area tambang ini, berfoto-foto sambil menunggu matahari terbenam. Dalam kurun waktu tersebut, angin kencang yang berhembus sore itu menerbangkan banyak pasir dan debu memasuki sepatu saya yang mulai bolong. Hingga pulang ke Jakarta, benda-benda kecil itu bertahan di dalam sepatu saya yang membuatnya tak nyaman lagi untuk digunakan.

*

Vans, Suede & Suiting Era

Saya jatuh hati sejak pertama kali melihat Vans ini. Bagian vamp (depan) berwarna biru muda polos dan bagian quarters (tengah ke belakang) dihiasi beberapa jenis corak yang juga berwarna biru muda. Menghadirkan Vans yang klasik, tetapi tidak mainstream.

Sepatu ini tidak mencapai tempat-tempat fenomenal seperti yang sebelumnya, namun si alas kaki menjadi saksi pergolakan kultur ketika saya berkunjung ke Sumatera Barat. Bahasa Minang yang sulit saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alasannya. Terlepas dari itu, saya bisa berbaur dengan budaya Minang lainnya, seperti makanan. Sepatu ini pun berbaur dengan pakaian adat Minang yang saya coba di Istano Basa Pagaruyung, Tanah Datar. Karena hanya pakaian yang disewakan, jadilah saya menggunakan sepatu ini untuk berkeliling dan berfoto ria. Perpaduan antara budaya tradisional dan modern yang cocok, bukan?

Cerita bersama sepatu ini ditutup dengan buruk sebab harus meninggalkannya di Jepang pada 2016. Hari itu, seluruh Jepang diguyur hujan. Sepatu saya pun basah hingga ke bagian dalamnya, membuat penampakan si alas kaki tak menarik untuk dilihat maupun layak untuk digunakan. Dengan kondisi itu, menyusuri toko-toko di sepanjang Ginza, Tokyo juga menjadi tidak nyaman. Akhirnya, dengan berat hati, saya membeli sepatu baru. Besoknya, saat hendak pulang ke Jakarta, Bapak saya mengambil foto sepatu ini sebagai kenang-kenangan, lalu saya memandanginya selama beberapa saat (dan mengucapkan salam perpisahan dalam hati) sebelum keluar dari kamar hotel.

*

Vans, Classic Slip-On

Inilah sepatu yang saya beli di Jepang untuk menggantikan Vans sebelumnya. Saya memilih sepatu ini karena paling sesuai dengan selera saya, dibanding sepatu lainnya di toko itu, dan ingin merasakan tidak perlu repot mengikat tali sepatu.

Bersama sepatu ini, saya lebih banyak menjelajahi Jakarta, mulai dari Pekojan, Pelabuhan Sunda Kelapa, sampai Cilincing. Bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan kendaraan umum yang jarang saya naiki, dan memperluas jejak sepatu saya di berbagai pojok ibukota.

Selain itu, saya juga memasuki gedung-gedung penting di kota metropolitan ini, seperti Balai Kota dan Kompleks Parlemen, ketika magang sebagai reporter Tempo beberapa waktu lalu. Saya meliput konferensi pers, berkenalan dengan reporter berbagai media, kemudian menunggu narasumber yang sama. Terkadang, saya keluar dari gedung tersebut tidak hanya dengan berita, melainkan injakan kaki secara tidak sengaja dari reporter lain saat mengejar narasumber yang tak mau bicara. Sepatu ini telah menjadi saksi bisunya.

Karena masa magang telah selesai, saya dan slip-on berwarna hitam ini kini kembali ke rutinitas mahasiswa, menapaki jalanan Kutek sambil membeli jajanan dan mengunjungi tempat-tempat lain di Jakarta guna membuat rangkaian cerita terakhir bersama.

***

Cara saya menyayangi sepatu adalah dengan menggunakannya, bukan dengan memajangnya di rak sepatu. Jadi, walaupun si alas kaki berakhir dengan penampakan yang kumal, perjalanan yang dilaluinya selesai dengan indah dan terus teringat.

Advertisements

THAILAND: BELAJAR PADA KETIDAKPASTIAN

Saya pernah menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai kotak nyaman pertama dan kotak nyaman kedua. Ketika saya bosan dengan rutinitas atau kotak nyaman pertama, saya akan keluar dari kotak itu dan mulai membentuk kotak nyaman kedua melalui proses jalan-jalan.

Kemudian, seorang teman berkata, “Ah, dasar lo analoginya kotak-kotak. Keluar dari yang satu, tetap saja dibatasi sama kotak lainnya. Lebih bebas dong kalau jalan-jalan.”

Analogi kotak-kotak awalnya merupakan analogi asal-asalan yang saya buat karena hanya ingin menggambarkan bahwa proses jalan-jalan adalah cara saya untuk keluar dari kotak nyaman keseharian saya. Namun, apa yang teman saya katakan ada benarnya juga. Itulah saya selama ini, selama menjalani proses jalan-jalan. Penuh jadwal dan perhitungan. Penuh kepastian.

Jadi, bagaimana menjalani proses jalan-jalan dengan bebas? Jalan-jalan ke Thailand kurang lebih telah menjawabnya.

***

Perjalanan kemarin adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Thailand. Pertama kalinya pula, hanya pergi berdua dengan adik saya. Kami menyusun itinerary jauh sebelum hari keberangkatan, memesan apapun yang bisa dipesan lewat internet, berharap semua serba aman dan pasti selama perjalanan ini berlangsung. Tapi, toh, ada saja yang tidak berjalan sesuai rencana.

Di hari kedua, kami mengunjungi Santorini Park di Cha Am, sekitar tiga jam dari Bangkok. Menuju Cha Am, hampir semua aman terkendali. Kembali dari Cha Am, adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami ketika jalan-jalan: kami tidak tahu harus pulang naik apa.

Processed with VSCO with a6 preset
Santorini Park dominan dengan warna biru seperti ini
Processed with VSCO with a6 preset
Tempat ini sangat bagus sebagai spot untuk berfoto

Cha Am bukanlah kota tujuan utama wisata, ia hanya kota yang dilewati ketika para wisatawan ingin menuju kota wisata Hua Hin. Oleh karena itu, kami tidak menemukan transportasi umum, kecuali taksi yang harus di-charter dengan harga tidak terjangkau. Tidak ada pula halte atau terminal bus untuk menemukan mini van kembali ke Bangkok. Setelah bertanya sana-sini, kami dianjurkan untuk menyeberang jalan dan memberhentikan mini van menuju Bangkok yang lewat di jalan itu. Kami bingung dengan anjuran tersebut. Bagaimana cara menyeberang di jalan besar dengan setiap detiknya ada truk beroda lebih dari enam yang lewat. Benarkah kami boleh menyeberang begitu saja padahal tidak ada zebra cross maupun lampu merah untuk penyeberang jalan.

Processed with VSCO with a6 preset
Jalan besar yang kami seberangi untuk memberhentikan mini van menuju Bangkok

Akhirnya, kami mengabaikan semua kebingungan, menyeberangi jalan itu sambil berharap tidak ditabrak oleh truk-truk yang rodanya saja lebih besar dari tubuh kami. Sampai di seberang, kami mulai melambaikan tangan pada setiap mini van yang lewat.
“Kok itu kosong tapi gak mau berhenti sih?”
“Kayanya itu mini van pribadi deh. Carinya mini van yang banyak stikernya.”
“Dek, ini nyalain lampu, nyamperin ke sini nih!”
Iya, malam itu kami tidak harus menunda kepulangan menuju Bangkok.

Memberhentikan mini van di pinggir jalan besar adalah sesuatu yang baru pertama kali saya lakukan dan baru pertama kali saya rasakan. Setelah biasanya hanya turun-naik dari mobil sewaan ketika jalan-jalan, kini saya harus menarik perhatian sebuah mini van untuk menyelamatkan hari-hari berikutnya selama perjalanan di Thailand. Perasaan bingung, panik, deg-degan, takut, semua bercampur jadi satu. Lalu, ketika sebuah mini van menyalakan lampunya ke arah saya dan adik saya, berhenti di depan kami, dan sang supir mengiyakan pertanyaan saya, “To Bangkok?” semua perasaan tadi hanya bisa luruh menjadi sebuah senyum kelegaan. Itu rasanya ternyata, mengubah sebuah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti.

Processed with VSCO with a6 preset
Sukhumvit Rd di malam hari

Lima hari selanjutnya, saya tidak menolak datangnya ketidakpastian sehingga bisa menggenggam lebih banyak kebebasan. Jalan-jalan tanpa tujuan untuk melihat kehidupan malam di Sukhumvit Rd, di mana beberapa perempuan “dipajang” di depan bar, tempat massage, dan japanese karaoke guna memancing kedatangan pengunjung. Berjalan kaki dari Ao Nang Beach menuju hotel selama satu jam, bukannya naik taksi, lalu saya jadi bisa membeli es krim dan mengamati bulan purnama malam itu.

 ***

Saya membenarkan apa yang dikatakan oleh teman saya. Saya tidak lagi menganalogikan proses jalan-jalan sebagai sebuah kotak, melainkan bentuk abstrak yang mendefinisikan kebebasan atau tanpa batas. Kebebasan itu bisa tercipta dengan membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian.

Mengagungkan kepastian adalah hal yang wajar, saya salah satu penyembahnya dan mendapatkan banyak keuntungan dari itu. Namun, saya belajar bahwa ketidakpastian adalah tuan yang baik pula. Ia menyadarkan, kepanikan yang menguasai saya justru menjerumuskan saya dalam masalah yang lebih dalam, bukan menyelesaikannya. Ia mengajarkan, untuk mengolah setiap pergulatan rasa agar disyukuri dan diubah menjadi rasa senang. Ia merendahkan hati, karena segala jenis ekspektasi dan kemungkinan apapun bisa terjadi pada saya. Terakhir, ia mengingatkan, agar saya percaya.

Bagi saya, sulit untuk membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian, setelah selama ini selalu menjalani yang pasti-pasti saja. Akan tetapi, atas semua pembelajaran yang telah diberikan ketidakpastian, bahkan dalam satu kejadian saja, saya ingin mencoba lebih banyak berada dalam ketidakpastian perjalanan.

Mungkin di perjalanan selanjutnya, saya tidak perlu membuat itinerary. Hmm semoga bisa.

Processed with VSCO with a6 preset
Cheers to more uncertainty in the future!

Saya menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai dua bentuk yang berbeda. Rutinitas adalah sebuah kotak nyaman, sedangkan jalan-jalan adalah sesuatu yang abstrak. Bukankah saya bosan dengan rutinitas karena banyak garis batas dalam kotak itu? Jadi, saya akan keluar dari kotak nyaman untuk merasa bebas dengan garis batas yang hampir tiada melalui proses jalan-jalan.

THAI ICED TEA, PLEASE!

Minggu lalu saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya! Walaupun hanya satu minggu, juga baru mengunjungi Bangkok dan Krabi, tetap ada beberapa hal yang akan saya ingat dari negara bersimbol gajah ini.

(Klik foto-foto di bawah ini jika ingin melihat foto dengan ukuran yang lebih besar.)

***

Thailand is the land of street food.

Hampir di setiap sudut jalan, mulai dari sore hingga malam hari, saya menemukan jejeran gerobak dan kios yang menjual berbagai jenis jajanan. Yang menjadi favorit saya adalah daging bakar (baik ayam maupun babi, baik disate maupun dibakar begitu saja dan dipotong kecil-kecil) di bawah Phrom Phong BTS Skytrain Station dengan kisaran harga 10-60 baht. Dagingnya besar, sangat empuk, dan berlemak. Hanya dikecapi lalu dibakar, tetapi rasanya sangat meresap ke dalam daging. Jangan takut dagingnya sudah dingin karena akan dihangatkan atau dibakar kembali ketika kita datang membeli.

Selain di pinggir jalan, saya juga mencoba beberapa jajanan khas Thailand di Rod Fai Night Market (di belakang Esplanade). Salah satu jajanan yang saya coba adalah belalang goreng! Awalnya, saya enek memakannya karena bentuknya masih berupa belalang, namun ternyata rasanya renyah, seperti kulit ayam goreng (cukup mencoba saja, belalang goreng belum menjadi jajanan favorit saya..). Untuk menemukan kios yang menjual belalang goreng, saya perlu berjejalan di antara kios-kios makanan dan pernak-pernik yang sangat sempit jaraknya, tapi justru menambah keseruan berburu jajanan di night market ini. Akhirnya, untuk menghapuskan rasa dahaga dan kepanasan setelah berjejalan, saya membeli thai iced tea dengan ukuran gelas yang amat sangat besar. Walaupun kelihatannya berisi banyak, 70% dari gelas itu adalah es batu (yang melipatgandakan kesegaran thai iced tea yang saya beli malam itu).

*

Koh Hong gave me sunburned face.

Saya bermain-main ke pantai di daerah Ao Nang, Krabi. Dari sini, saya menyeberang dengan perahu ke Koh Hong. Pulau ini sangat menakjubkan bagi saya karena dikelilingi tebing-tebing tinggi dan air biru yang sangat jernih, langit cerah hari itu juga menambah keindahan pulau ini.

Ada beberapa pilihan aktivitas di Koh Hong, salah satunya bermain kayak. Instruksi selama lima menit bisa membuat saya mengayuh kayak keliling pulau, namun seluruh otot di tangan harus bekerja karena mengayuh kayak (bagi saya seperti menyingkirkan air laut) sangatlah berat. Karena baru pertama kali bermain kayak, ritme mengayuh saya dan adik saya pun perlu disamakan secara manual, “Kanan, kiri, kanan, kiri, Dek kiri dulu Dek, mau nabrak tebing nih!” Selain bermain kayak, wisatawan juga bisa berenang, snorkeling, atau sekadar berjemur di pantai.

Bermain kayak jam dua belas siang, jadilah muka saya berwarna merah terbakar matahari.

*

Helpful Thai people I met along the way.

Jarang sekali saya menemukan orang Thailand yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, aksen yang mereka miliki kurang mendukung untuk berbahasa Inggris sehingga kurang bisa saya pahami juga. Namun, setiap kali ditanya tentang jalan, tempat, atau transportasi, mereka sebisa mungkin membantu saya, baik dengan bahasa Inggris seadanya maupun dengan bahasa tubuh. Seperti percakapan yang terjadi antara saya dengan seorang ibu ketika bertanya soal keberadaan mini van ke Cha Am.

Mini van to Cha Am?” tanya saya kepada sang ibu setelah disuruh dua orang supir mini van yang tidak menuju Cha Am.
Ibu itu menggumam dalam bahasa Thailand dan raut wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir bagaimana harus menjawabnya dalam bahasa Inggris.
“Bus… Sai Tai Mai…” jawab ibu itu dengan bingung.
“Hmm?” saya kembali bertanya karena kurang jelas dengan jawaban ibu itu.
“Ya, Sai Tai Mai,” jawab ibu itu kembali meyakinkan.

Ternyata, setelah  mencari di Google, maksud ibu itu adalah saya harus menuju Sai Tai Mai, terminal bus di Bangkok, untuk menemukan mini van menuju Cha Am (dan saya berhasil sampai di Cha Am atas petunjuk ibu yang sangat membantu itu).

*

Everyone should visit Bangkok Art and Culture Centre!

Saya kira Bangkok Art and Culture Centre adalah art gallery seperti pada umumnya, tapi setelah memasuki dan melihat setiap lantainya, saya baru mengerti arti kata centre pada namanya. BACC tidak hanya berupa art gallery, tapi ada juga toko-toko yang menjual barang-barang kreatif serta tempat untuk launching buku dan workshop seni. Kemudian, di lantai-lantai teratasnya, ada sepuluh lantai di sini, barulah berisi pameran-pameran seni sementara.

Ketika saya berkunjung ke sana, sedang berlangsung pameran seni The Philosophy of Instructions karya Erwin Wurm. Ia hanya meninggalkan satu atau beberapa benda beserta instruksi bagaimana pengunjung harus memperlakukan benda-benda tersebut agar bisa menjadi instalasi tersendiri. Saya pun mencoba instruksi “roast yourself under the sun of Epikur” dan menaruh kepala saya di bawah sebuah lampu. Tadaa jadilah saya sebuah instalasi seni!

*

Thank you, my gondrong brother.

Adik saya adalah satu-satunya orang yang saya kenal selama perjalanan ke Thailand ini. Terima kasih sudah mengiyakan tawaran saya untuk berlibur bersama, sudah membantu menyusun itinerary yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sudah menemani tujuh hari kemarin dengan pertengkaran kecil dan berdamai lagi setelah membeli jajanan, dan sudah-sudah lainnya.

Selamat kembali kuliah dan menggondrongkan rambut, Dek!

***

Mari menyesap thai iced tea sambil membayangkan Chiang Mai yang belum kesampaian..

FROM KONNICHI WA TO ARIGATOU

Bukan seorang penggemar anime atau apapun yang diproduksi Jepang, namun negara ini menyuguhkan hal-hal yang tetap bisa mencuri hati saya. Melalui foto-foto ini, saya ingin bercerita tentang Jepang dan apa yang membuat saya ingin kembali ke sana.

***

Processed with VSCO with a6 preset

Pertama sampai di Jepang, saya langsung jatuh cinta dengan gang-gang yang saya lihat, salah satunya gang yang ada di chinatown di Kobe  di mana foto di atas diambil. Penampakan kebanyakan gang di Jepang mirip dengan yang ada di kartun-kartun yang sering saya tonton saat kecil, seperti Doraemon, mulai dari pertokoan, rumah, mobil, sampai tiang lisrtiknya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mencoba street food di suatu negara adalah wajib hukumnya. Dan itulah salah satu hal yang saya lakukan di Jepang. Saya mencoba onde-onde berisi kacang merah, yang saya lupa namanya apa, sate crabstick, dan sate chicken karage. Sebetulnya masih banyak street food lainnya yang menggoda mata, namun apa daya lambung dan usus tak kuat menampungnya. Es krim rasa green tea juga sangat sering dijumpai di tempat-tempat wisata. Paha bawah ayam yang ukurannya dua kali lebih besar daripada ayam KFC juga sempat menarik perhatian saya. Takoyaki yang biasanya dijumpai di mall-mall di Jakarta, bahkan ada di depan toko-toko di pinggir jalan.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dari foto di atas. Pertama, foto ini diambil saat Indonesia sedang merayakan hari Lebaran pertama dan Jepang tidak merayakannya karena mayoritas penduduk Jepang beragama Shinto. Aktivitas sekolah maupun kerja berlangsung seperti biasanya. Kedua, seragam sekolah siswa-siswa di Jepang terlihat sederhana, warna dan bentuknya, dan rok seragam perempuannya tidak sependek yang ada di kartun-kartun. Ketiga, persimpangan jalan di Jepang sangat disiplin dan rapih. Semua kendaraan mematuhi lampu lalu lintas yang berlaku sehingga jarang sekali terjadi kemacetan dan pejalan kaki juga mendapatkan hak sepenuhnya untuk menyeberang jalan. Motor yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota di Jepang bukanlah sebuah pemandangan umum, alias sangat sedikit jumlahnya. Keempat, ada dua jenis plat kendaraan di Jepang, yaitu plat kuning dan putih. Perbedaan dari kedua warna plat ini adalah besarnya cc dari kendaraan tersebut, yang akan membedakan pula besarnya pajak yang harus dibayar.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Saya senang mengunjungi berbagai toko pernak-pernik di Jepang. Walaupun yang dijual kurang lebih hampir sama (gantungan kunci, gunting kuku, kipas, sandal, kartu pos, kertas washi, tas, miniatur bangunan-bangunan ternama, tempelan kulkas, mochi, cokelat, dan masih banyak lagi), tetapi suasana dan peletakan barang-barang yang dijual sangat lucu dan menarik. Selain itu, pramuniaga yang melayani juga sangat ramah dan sopan. Selesai membayar barang yang akan dibeli, barang tersebut akan dibawakan dan diberikan kepada pembelinya saat mereka akan keluar dari toko, kemudian pramuniaga tersebut akan mengucapkan “Arigatou!” sambil membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda hormat dan terima kasih.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca sebuah artikel di majalah National Geographic Traveler tentang sebuah desa di Jepang. Desa tersebut kemudian dijadikan sebagai situs atau tempat wisata, yang dikenal dengan Shirakawa-go. Rumah-rumah di dalam desa tersebut kebanyakan berarsitektur sama: atap berbentuk segitiga dengan sisi miring yang sangat curam dan tebal yang disusun dari jerami. Bentuk yang demikian berfungsi untuk menahan salju saat musim dingin tiba (salju jadi akan jatuh ke bawah dan tidak menggumpal di bagian atap). Salah satu rumah memang sengaja dibuka untuk dikunjungi oleh wisatawan dan rumah tersebut memiliki lima sampai enam tingkat (digunakan untuk menyimpan berbagai jenis barang yang dimiliki tuan rumah) karena atapnya yang tinggi. Selain itu, pertanian juga menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk di sana dengan banyaknya hamparan sawah yang terlihat di sana. Namun, nama desa yang identik dengan kata ‘tradisional’ tidak sepenuhnya melekat pada desa satu ini. Hampir di setiap rumah terlihat mobil atau motor di depannya yang digunakan untuk keperluan pergi ke kota. Cerita tentang Shirakawa-go yang saya baca di majalah NatGeo Traveler sesuai dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke sana kemarin (lebih baik mengunjungi Shirakawa-go saat musim dingin karena salju akan turun dan mulai menutupi rumah-rumah di desa tersebut).

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mengunjungi beberapa kuil di Jepang, ada satu hal sama yang sering saya temukan: fortune teller. Karena keterbatasan bahasa dan belum rela mengeluarkan sejumlah uang, saya jadi tidak mencobanya dan hanya mengamati dari jauh orang-orang yang menggunakan “jasa” ini. Cara kerja fortune teller ini adalah dengan menuliskan harapan kita pada sebuah kertas. Kemudian, kita akan mengambil satu tongkat pendek yang diaduk atau dicampur dengan tongkat pendek lainnya dalam sebuah gelas. Setiap tongkat pendek tersebut memiliki nomor masing-masing. Nomor yang kita pilih akan ditukar dengan tulisan yang akan menggambarkan “nasib” atau harapan yang sudah kita tulis sebelumnya. Biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan “jasa” fortune teller ini kurang lebih sebesar ¥200 atau Rp26,000,00.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ginza, Tokyo. Surga bagi para penggila belanja. Di sepanjang jalan di Ginza, toko-toko brand lokal Jepang maupun yang ternama berjejer menanti datangnya para pengunjung. Uniqlo dengan dua belas lantai juga turut meramaikan daerah ini. Di akhir pekan, mulai sore hari, jalanan di Ginza akan ditutup untuk kendaraan sehingga pengunjung bebas menyeberang jalan dan berfoto ria seperti yang tertangkap dalam foto di atas. Mungkin butuh satu hari penuh untuk memasuk semua toko yang ada di Ginza, ditambah satu mall di ujung jalannya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ramalan cuaca di Jepang patut diacungi jempol. Jika hari ini diramalkan cerah, maka matahari akan berada di singgah sananya sepanjang hari. Jika besok diramalkan hujan, maka hujan akan turun satu hari penuh dan payung harus selalu siaga di hari itu. Karena ramalan cuaca yang akurat, hujan tidak menghentikan aktivitas orang-orang Jepang. Mobilitas mereka tetap tinggi, berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, ditemani payung-payung yang kebanyakan berjenis transparan. Saya juga menemukan sebuah toko yang menjual payung dengan warna polos, tetapi akan keluar motif tertentu jika terkena air. Wah!

*

Processed with VSCO with a6 preset

Kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo, kurang lebih mirip seperti Jakarta. Gedung-gedung perkantoran yang tinggi, padat bangunan perumahan, banyak kendaraan dan macet, dan dipenuhi banyak orang. Oleh karena itu, saya lebih senang berada di kota-kota kecil Jepang, seperti Nara. Tidak terlalu padat dengan bangunan, kendaraan, dan orang. Akan tetapi, kesamaan dari kota besar dan kota kecil di Jepang adalah jam beraktivitas orang-orangnya. Kebanyakan toko dan mall sudah tutup pada jam sembilan malam, begitu juga jalanan yang mulai sepi. Hanya stasiun kereta yang masih beroperasi hingga larut malam.

***

Masih banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari Jepang, yang menarik dari Jepang, yang membuat ingin kembali ke Jepang. Mulai dari Gunung Fuji yang menjadi tempat favorit untuk bunuh diri, tingkat kelahiran yang rendah hingga pemerintah Jepang bersedia membiayai kelahiran anak pertama dan kedua, jam kerja supir bus yang harus dua belas jam dan tidak boleh lebih, orang-orang yang tidur di depan vending machine di stasiun karena kelelahan bekerja, sampai pemandian air panas atau onsen tanpa menggunakan sehelai benang untuk menutupi anggota tubuh.

This post is how I viewed Japan, from day one to day six, from konnichi wa to arigatou.