LANGITKU

Aku senang,
dengan rutinitas kita di senja hari

Aku akan berkata:
“Lihatlah langitku. Senja ini ia berwarna, paduan antara jingga, merah jambu, biru, dan nila. Banyak sekali bukan?”

Lalu kamu akan membalas:
“Ah sudah biasa. Lihatlah langitku. Biru terang, dengan sedikit jingga, ada bintangnya pula!”

Kita membandingkan langit,
langitku dan langitmu

Betapa angkuhnya,
mengaku itu langit kita

Padahal langit,
hanya melintas di depan rumah kita

(Commuter Line Jakarta Kota, 23 Desember 2016)

SINAR TERAKHIR

Di antara lapisan awan
dan ribuan bintang
aku memilihmu
yang selalu memberi senyum terindah

Tapi pilihanmu bukan aku
kau selalu pergi
bersama kawan-kawanmu
meninggalkanku yang berusaha menangkapmu

Aku memilihmu
sebab rinduku hanya untukmu
dan di setiap sinar terakhirmu
aku akan menunggu

(Kelas Penulisan Populer, 7 Maret 2016)

MENUNGGU

Kata orang, menunggu adalah hal yang paling membosankan, hal yang paling dibenci, hal yang menghambat pekerjaan ini dan pekerjaan itu. Kataku, definisi menunggu tergantung pada suasana hati Anda. Ketika Anda sedang jengkel atau kesal, menunggu adalah momen di mana satu menit terasa seperti satu abad. Jarum panjang dan pendek yang bergerak tanpa henti seolah sedang mogok kerja bagi Anda, diam dan tak ubah. Udara panas Jakarta yang sudah biasa Anda rasakan setiap hari, bagaikan api neraka yang menggerogoti tubuh Anda. Pernyataan-pernyataan mengeluh keluar setiap detik dari mulut Anda. Rasanya, Anda hanya ingin marah karena telah dibuat menunggu, dibuat merasakan satu abad dalam neraka. Berbeda dengan suasana hati yang sedang damai dan tenang, menunggu adalah kegiatan paling menarik yang bisa mengasah kreativitas otak. Imajinasi.

Aku berdiri dalam keramaian yang sunyi, menjauh dari kerumunan orang, menunggu. Ketika pandangan mata ini beredar, kutemukan sesosok manusia, sepasang manusia, satu kelompok manusia, sesosok manusia lagi, sepasang manusia lagi, satu kelompok manusia lagi, dan lagi, lagi, lagi.

Sesosok manusia yang kutemukan berada pada arah pandang di sebelah kanan. Laki-laki, kira-kira usianya dua puluh akhir menjelang tiga puluh tahun. Sendiri… oh, aku lupa, dia bersama teman kecilnya, sebatang rokok. Dia menyalakan rokok itu dan mulai menghisapnya dan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya tanpa rasa bersalah, seolah semua orang di dunia ini adalah perokok. Tak tau apa yang dia cari dari sebatang rokok, namun dari wajahnya, dia bukan tipe orang yang sedang mengalami beban dan tekanan sehingga menjadikan rokok sebagai pelarian, wajahnya lebih menunjukkan keangkuhan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa sebatang rokok, tanpa ribuan batang rokok, bahwa dia adalah perokok sejati.

Ketika arah pandang ini berpidah 180 derajat dari posisi awalnya, kutemukan sepasang kekasih duduk bersebelahan dengan jarak yang tak lebih jauh dari renggang pada gigiku ini, hehe. Mereka bercerita dan terus bercerita. Muka si perempuan tampak sesekali muram dan si pria mulai merokok dan mereka masih terus berbincang. Aku telaah dari gerak-gerik mereka, pembicaraan itu bukan mengenai hubungan mereka yang makin menjauh atau ada kesalahpahaman di antara mereka, tidak, tidak, menurutku si perempuan sedang menceritakan masalah dalam hidupnya, entah pekerjaan atau teman atau keluarga, dan untuk mencairkan suasana tegang, si pria pun mulai merokok dan terus mendengarkan sementara si perempuan terus berbicara.

Kugerakkan kedua bola mataku sekali lagi dan beberapa meter dari tempat aku berdiri, aku temukan dua lelaki. Skinny jeans, kemeja yang dikancing sampai kancing paling atas hingga menyesakkan leher, press-body, sepatu branded, rambut cetar membahana dengan seribu rupa gel rambut, dan tak lupa sebuah gadget di tangan. Mereka sedang menunggu taksi, berdua. Mereka sehabis menghabiskan waktu di mall, berdua. Entah mereka adalah pasangan, entah hanya teman sepermainan. Ah, di sini terlalu banyak lelaki, yang berdua.

Selesai arah pandang dan kepalaku berputar, lalu kembali ke posisi semula, aku masih menunggu. Menunggu bersama gema klakson mobil-mobil yang bersliweran di depanku, datang menurunkan penumpang atau menjemput majikan. Ramai, sungguh ramai, namun manusia-manusianya hanya diam dalam keramaian ini, terjun bebas dalam lamunan masing-masing. Tetapi ketika dua taksi berhenti tepat di hadapanku dan turunlah sekelompok manusia Kaukasia, pikiran kami, manusia-manusia yang menunggu, telah melebur menjadi satu. Memperhatikan sekelompok manusia itu, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan baru datang pukul segini (bukan belanja, yang jelas), mengagumi pakaian mereka yang modis dan wajahnya yang rupawan, terus mengamati mereka yang tampak kebingungan harus masuk lewat mana untuk menuju ke dalam mall karena pintu utamanya sudah ditutup. Dan mereka pun, sekelompok manusia Kaukasia itu, tidak terlihat risih sedikitpun memerangi tatapan-tatapan mata kami. Ah, mereka sudah terbiasa tampaknya menjadi pusat perhatian.

Mobil-mobil mewah masih berlalu lalang, klakson dari mobil-mobil berisi manusia tak bisa sabar tetap berkumandang, yang lain tetap menunggu. Entah apa yang mereka tunggu.

Aku pun menunggu, dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans, tak lupa menggunakan sepatu hitam bertotol putih kesayanganku, aku masih menunggu. Aku melayang dalam lamunanku, bermain-main dengan imajinasiku. Ketika kembali sepenuhnya ke dunia nyata, aku tetap menunggu.

Menunggu. Toh malam masih panjang.

Menunggu. Aku harus sabar.

Menunggu. Aku mulai gusar.

Menunggu.

Aku tunggu…

Ayahku pun tiba menjemput dengan mobil hitam kesayangannya.

Dan setelahnya, aku pun menunggu, menunggu sampai di rumah dan melepaskan semua rasa lelah ini.

(Plaza Indonesia, 14 September 2013)