JAKARTA KALA BERJALAN KAKI

Jakarta dan jalan kaki tampaknya bukan lagi kata-kata yang asing untuk dipasangkan. Trotoar yang semakin lebar dan jembatan penyeberangan orang yang semakin banyak membuat saya bisa menyelami Jakarta dalam hitungan yang lebih lambat: menikmati segala yang ditawarkan kota ini.

***

Saya mencoba jalan kaki yang lebih terarah dengan mengikuti Jakarta Walking Tour. Tur ini dipimpin oleh seorang pemandu, bermodalkan kaki sendiri, kemudian mengelilingi Jakarta dengan rute-rute tertentu—karena Jakarta tak akan habis dalam satu kali tur perjalanan. Rute yang disediakan pun mencakup daerah-daerah yang familiar bagi penghuni Jakarta, yang membuat saya tak ragu mendaftarkan diri sebagai peserta. Pasti ada yang saya lewatkan ketika mengunjungi daerah ini dengan kendaraan!

Jalan kaki menyusuri Jakarta

Hal-hal terlewatkan inilah yang akan memberikan oh moment bagi para peserta tur berjalan kaki ini, begitu menurut Mas Candha, salah satu pemandu Jakarta Walking Tour waktu saya ikut rute Cikini. Oh moment menjadi tanda para peserta mendapatkan cerita baru tentang Jakarta sehingga tidak selalu memberikan cap macet parah, panas banget, dan penuh dengan mall pada sang ibu kota negara ini.

Saya pun merasakan momen, “Ooh, ada juga yang kaya gini,” saat mencoba es krim Tjanang yang dijual di sebuah rumah makan di depan Taman Ismail Marzuki—padahal saya secara reguler mengunjungi TIM, tapi tidak pernah tahu ada es krim ini. Es krim Tjanang kini dijual dalam kemasan plastik yang dititipkan di satu lemari pendingin di rumah makan tersebut. Papan nama es krim Tjanang pun berukuran kecil sehingga jarang terlihat jika melewatinya dengan kendaraan. Es krim ini berjenis sorbet dan menonjolkan rasa-rasa warisan sejak dulu, seperti cokelat, ketan hitam, dan kacang hijau. Jenis sorbet membuat teksturnya menjadi padat sehingga sulit dikeruk dengan sendok ketika baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Oleh karena itu, saya membiarkan es krim rasa ketan hitam yang saya beli hari itu berada di bawah sinar matahari agar segera mencair dan bisa menyantapnya.

Es krim Tjanang rasa ketan hitam yang disajikan dalam kemasan plastik seharga Rp13.000,00

Selain cerita sejarah dari tempat-tempat yang dikunjungi, subjektivitas pemandu turut menambah oh moment bagi para peserta tur. Subjektivitas itu hadir dalam bentuk pengalaman pribadi sang pemandu di tempat yang dikunjungi atau ketertarikannya dengan isu-isu yang berkaitan dengan tempat tersebut. Mas Indra—pemandu saya waktu ikut rute Molenvliet—pun membagikan riset dan pengetahuannya tentang kuliner saat saya dan peserta lain tiba di depan Pecenongan, surga bagi pencinta makanan. Pecenongan awalnya hanya dipenuhi dengan restoran chinese food, namun lama-kelamaan bisnis martabak mulai tumbuh di sepanjang daerah ini. Uniknya, kedai martabak di Indonesia biasanya menawarkan dua jenis martabak, yaitu martabak manis dan martabak asin. Sementara itu, banyak kedai di Singapura dan Malaysia yang menjual dua jenis martabak ini secara terpisah, martabak manis atau martabak asin (karena keduanya berasal dari negara yang berbeda, martabak manis dari Tiongkok dan martabak asin dari India). Dan untuk setiap fakta itu, saya hanya bisa kagum dan berkata, “Ooh gitu.”

Dari sekian banyak oh moment, yang membekas di ingatan saya ternyata merupakan hal-hal yang simpel dan cenderung sepele, namun luput diceritakan dalam buku-buku sejarah yang saya pelajari ketika duduk di bangku sekolah. Bisa mengingat oh moment tersebut tentu disebabkan juga oleh bias pribadi yang saya miliki, misalnya berkaitan dengan kebiasaan saya sehari-hari atau menjawab pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran saya. Secara garis besar, cerita-cerita yang menyebabkan oh moment itu semacam menjadi pemuas yang masuk akal atas rasa penasaran dan keheranan mengenai apa yang saya alami dan sedang berkembang di Jakarta sekarang ini. Dari rasa yang terjawab itu, saya bisa menyusun garis waktu dan membayangkan rupa-rupa Jakarta saat cerita-cerita itu terjadi—saat saya belum lahir—hingga Jakarta yang kini saya tinggali. Lalu, dalam rangka ingin terus mengingatnya, saya menuangkan cerita-cerita tersebut dalam obrolan dengan beberapa teman, juga dalam bentuk tulisan di blog ini.

Qolbi, salah satu teman yang sering saya ceritakan soal Jakarta Walking Tour dan akhirnya ikut dalam tur ini

Akan tetapi, saya tak akan menyangkal, mengikuti Jakarta Walking Tour dengan berjalan kaki selama hampir tiga jam membuat saya selalu mencari tempat duduk setelahnya. Sambil meregangkan kaki-kaki yang mulai dirambati rasa pegal dan menyeka keringat di sela-sela wajah, saya memutar memori kembali ke hal-hal yang baru saja terjadi dalam tur ini: keramahan sang pemandu dengan tidak menyelipkan unsur menggurui dalam bercerita dan kesediaan para peserta tur untuk mendengarkan tanpa intervensi yang sarat dengan unsur paling paham. Suasana hangat yang tercipta dalam waktu singkat ini akan selalu saya nantikan ketika saya hadir lagi sebagai peserta di rute-rute Jakarta Walking Tour lainnya.

***

Jalan kaki hanya salah satu cara untuk menikmati setiap percumbuan dan menyiasati setiap pertengkaran dengan Jakarta. Saya ingin mengerti seluk-beluk kota yang saya tinggali ini, juga memahami apa yang mengisinya dan apa yang tidak terlihat lagi di dalamnya, agar saya tidak memberikan jawaban yang membosankan ketika ditanya soal Jakarta.

Informasi mengenai rute dan waktu jalan Jakarta Walking Tour bisa dilihat di sini. Selamat menikmati Jakarta!

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s