MENUNGGU MAGRIB DI PEKOJAN

Sekitar pukul lima sore, saya dan beberapa teman tiba di salah satu rumah warga di Pekojan, Jakarta Barat. Sang empunya rumah, Bang Hussein, menyambut kami di pelataran rumahnya dan mempersilakan kami masuk ke dalam. Saya terkejut dengan sambutan ini, bukan karena bahasa atau gestur yang digunakan, tapi karena paras Bang Hussein dan anggota keluarganya seperti orang Arab yang baru datang ke Jakarta, tidak ada ciri-ciri fisik orang Indonesia yang melekat pada mereka. Ketika saya masuk ke dalam rumah Bang Hussein, semakin banyak hal mengejutkan yang saya temui.

Salah satu kerabat Bang Hussein, yang asik menyantap ayam goreng di tengah ruangan ketika orang dewasa lainnya heboh mondar-mandir

*

Bukan secara tiba-tiba dan tanpa tujuan saya datang ke rumah Bang Hussein. Hari itu, tanggal 27 bulan Ramadan, warga Pekojan mengadakan buka puasa bersama satu kampung, bukan satu keluarga atau satu rumah, tapi satu kampung! Buka puasa bersama secara besar-besaran ini sudah menjadi tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Pekojan, atau biasa disebut Kampung Arab milik Jakarta. Sebutan itu mengakar dari masa pemerintahan Belanda, ketika para pendatang keturunan Arab diberikan tempat tinggal di satu daerah di luar tembok kota Batavia (sekarang wilayah Kota Tua), yaitu Pekojan. Namun, kini Pekojan tidak hanya dihuni oleh warga keturunan Arab, daerah ini mengenal baik pluralisme dan toleransi antarwarganya.

Oleh karena itu, seluruh warga Pekojan, dari keturunan dan agama apapun, bahkan beberapa orang yang bukan warga setempat seperti saya dan teman-teman, boleh mengikuti buka puasa bersama ini. Pelataran rumah dan jalan-jalan mulai ditutupi dengan terpal dan dihias dengan berpiring-piring kurma dan ratusan gelas air mineral. Para perempuan akan berkumpul di dalam rumah, kemudian memasak dan menyiapkan hidangan buka puasa bersama. Sementara para laki-laki akan berkumpul mulai dari pelataran rumah hingga ke jalan-jalan untuk membaca doa, sambil menunggu azan magrib berkumandang. Tugas telah dibagi dan harus dilaksanakan sesuai porsi masing-masing.

Kurma yang disajikan per piring untuk mendampingi Nasi Kebuli dan lauk-pauk

Karena saya berada di dalam rumah Bang Hussein, saya menyaksikan para perempuan yang tengah sibuk menyiapkan Nasi Kebuli beserta lauk-pauknya. Nasi sebanyak 150 liter yang disatukan dalam boks (untuk pertama kalinya saya melihat nasi sebanyak itu, seratus lima puluh liter!) dibagi ke dalam puluhan nampan, ditaburi bawang goreng yang telah dicampur dengan kismis, ditambah beberapa potong ayam goreng, kemudian ditumpuk dua mangkok berisi gulai kambing dan terong pedas, tak lupa ditumpuk lagi dengan sepiring acar dan sepiring kurma. Jadilah satu nampan Nasi Kebuli beserta lauk-pauk yang siap disantap oleh tiga hingga empat orang. Nampan-nampan ini kemudian disusun di sepanjang lorong rumah karena tak ada tempat lagi untuk menampungnya, para laki-laki pun masih membaca doa sehingga tidak bisa mendistribusikan Nasi Kebuli ini ke pelataran rumah dan sekitarnya. Kehebohan para perempuan di dalam rumah bukan hanya soal menyiapkan hidangan buka puasa bersama, tapi masih harus mengurus anak-anak dan cucu-cucu yang berusia di bawah lima tahun. β€œKenalin, ini anak aku yang ke delapan,” seru seorang ibu berusia sekitar 35 tahun dengan sumringah sambil menggendong anaknya, yang ke delapan, yang berusia sekitar 4 tahun.

 

Berkaca pada keluarga saya sendiri, yang masih memegang dan melakukan beberapa tradisi Tionghoa, acara besar-besaran seperti ini tidak pernah dilakukan. Makan besar biasanya dilakukan saat perayaan Imlek, namun itu pun dilakukan per keluarga dengan berkumpul di rumah saudara yang paling tua, bukan dengan merayakannya secara bersama-sama di satu lingkungan, seperti buka puasa bersama di Pekojan. Awalnya, saya kaget melihat begitu banyak jenis makanan yang disiapkan beserta jumlahnya yang juga sangat banyak (saya sudah sebutkan kalau nasi yang dimasak sebanyak 150 liter, bukan?). Karena keluarga saya tidak terlalu besar, Oma saya pun tidak pernah memasak nasi atau lauk-pauk sebanyak itu ketika perayaan Imlek. Tapi, melihat antusiasme para perempuan untuk menyiapkan hidangan buka puasa terbaik bagi seluruh warga Pekojan membuat saya merasakan kehangatan yang sama saat Oma saya memasak dua piring Galantin untuk keluarga yang berkumpul di rumahnya.

Akan tetapi, memiliki anak ke delapan di zaman sekarang ini bukan hal yang lazim terjadi di keluarga saya (dan membuat saya tetap merasa kaget setiap mengingat perkataan ibu tersebut). Hmm.

*

Mendekati pukul enam sore, TV di dalam rumah dinyalakan agar seisi rumah mengetahui kapan magrib datang. Azan pun berkumandang, namun kondisi TV yang buram dan kresek-kresek membuat seseorang berkata,”Tunggu dulu, itu azan Saudi apa Indonesia?!”

Bagian belakang rumah Bang Hussein dan beberapa kerabatnya yang sedang bercengkerama

Terima kasih kepada I Was Here karena sudah mengajak saya ikut buka puasa bersama di Pekojan!

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s