BERKAWAN DENGAN PFN

Saya merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda. Kalau biasanya saya akan menonton film Indonesia di bioskop atau Kineforum di hari itu, kali ini saya merayakannya selama tiga hari dengan kawan baru saya: Studio Perum Produksi Film Negara (PFN).

Saat pertama kali berkenalan dengan PFN, saya merasa kasihan sekaligus kagum. Siapa yang tak merasa kasihan, gedung tua ini terlihat seperti gudang penyimpanan barang, berdebu, atapnya berlubang di beberapa bagian, lantainya pun tidak meyakinkan untuk dipijak. Namun, melihat rol-rol film yang diletakkan secara uwet-uwetan dalam sebuah kotak di salah satu sudut ruangan menghapus sedikit rasa kasihan saya. Rol-rol film itu menyadarkan saya, PFN bukan sekadar gedung tua, ia pernah menjadi sebuah adegan penting dalam perjalanan panjang film Indonesia. Waah, batin saya.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.54.37 AM
Persiapan pameran fotografi untuk perayaan Hari Film Nasional. Dulu, ruangan ini digunakan untuk proses cuci film sehingga masih terlihat tangki-tangki dan beberapa lemari untuk membantu proses tersebut

Menuju 30 Maret, berbagai usaha dilakukan untuk mempercantik dan mengembalikan PFN ke posisi adegan penting, tetapi beberapa orang yang telah mengenalnya lebih dulu tak bisa menyembunyikan kerapuhan kawan baru saya ini. “Kamu mau lihat itu banyak rol film di ruangan ini sampai sudah bau semua.” “Ini ruangan gelapnya sekarang buat kita simpan barang saja.” “Dulu pertama kali masuk ke sini, semua bau kimia karena untuk proses cuci film.” “Gak tau juga sih habis ini PFN mau dipakai untuk apa.”

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (3)
Pameran fotografi yang memanfaatkan sudut-sudut PFN

Akan tetapi, selama tiga hari perayaan Hari Film Nasional, kerapuhan PFN justru berhasil menjadi sorotan. Ada yang memfoto dan berfoto dengan kamera jadul beserta rol-rol film yang uwet-uwetan, ada yang penasaran dengan rupa ruangan gelap (dan harus kecewa karena sekarang hanya ruangan simpan barang), ada yang berusaha membangkitkan kembali kejayaan PFN seperti di masa lampau.

*

PFN memang sudah tua, memang sudah rapuh, penampakan gedung ini tak bisa berkata lain. Namun, ia juga tak perlu sendirian merasakan masa tuanya. Di era Menteri Penerangan masih berkuasa, ia adalah saksi bisu jatuh-bangunnya film Indonesia. Di masa kini, ia seharusnya tidak ditinggalkan, melainkan berjalan beriringan dengan film Indonesia yang tahun lalu mencapai lebih dari 36 juta penonton.

“Saya senang, hari ini PFN punya banyak teman, juga didukung pemerintah.” Perayaan Hari Film Nasional telah menghadirkan banyak kawan bagi PFN, tapi semoga ‘hari ini’ bisa berlaku setiap hari, bukan hanya satu tahun sekali.

Menutup cerita tentang kawan baru saya ini, saya senang bisa merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda dan mengenal sepenggal sejarah lagi tentang film Indonesia melalui PFN. Selamat Hari Film Nasional.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (2)
Ini kenang-kenangan dari PFN. Tapi, semoga PFN tidak sekadar jadi kenangan.

 

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s