JALAN DIPONEGORO 31

Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco

Lagu ‘Poco-poco’ yang disetel dari kaset mengiringi senam sore Oma saya dan beberapa temannya. Di halaman belakang sebuah rumah tua yang tidak dihuni lagi, saya menonton gerak kaki yang lincah dan mendengar gurauan yang disambung tawa para oma, sambil menggaruk kedua kaki saya yang digigit pasukan nyamuk kebun.

Itulah rutinitas Oma di sore hari, sekitar lima belas tahun yang lalu. Selesai bersenam ria, beliau akan memboncengi saya di sepeda onthelnya menuju rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang.

***

Rumah itu hampir selalu menjadi destinasi saya saat liburan sekolah di bulan Juni. Saya biasanya sampai di depan rumah itu pada pagi hari, setelah menempuh perjalanan semalaman dengan bus dari Jakarta. Mbak Rum, ditemani dua ekor anjing peliharaan Opa dan Oma, akan membukakan pintu pagar bagi saya. Begitu saya menginjakkan kaki di rumah itu, liburan pun dimulai!

Seperti para oma yang pada umumnya ingin memanjakan cucunya, Oma saya pun demikian. Nasi tahu dan sate ayam serepeh kesukaan saya sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan kadang sudah siap di meja makan saat saya baru datang. Dua jenis makanan ini dijual di warung dekat stasiun yang sudah menjadi langganan Oma. Nasi tahu berisi nasi, tahu, tauge, bumbu kacang, dan dibungkus dengan daun jati. Sate ayam serepeh itu seperti sate ayam pada umumnya, tapi menggunakan kuah serepeh.

Aksi memanjakan cucu belum selesai sampai di situ. Biasanya di hari selanjutnya, Oma mengajak saya sarapan di warung soto Mbak Pur. Soto di warung ini disajikan dengan piring, nasi tidak terlalu banyak, potongan daging sapi, kuah kuning yang encer, ditambah satu potong paru. Dagingnya empuk, kuahnya masih panas, semua terasa pas dan nikmat di indera perasa. Ini adalah soto kesukaan saya, setelah soto buatan Ibu.

Berikutnya, giliran Opa yang memanjakan saya. Opa suka mengajak saya ke Blora untuk makan sate ayam. Pukul tiga sore, kami biasanya meninggalkan Rembang menuju Blora. Kami sampai di sana tepat ketika bapak penjual sate baru membakar arang. Saya bisa menghabiskan sekitar dua puluh tusuk sate kulit ayam dan sepiring nasi. Walaupun di Jakarta banyak yang menjual sate Blora, rasa rindu baru terobati saat makan di daerahnya langsung.

Setelah sate, makanan penutup kesukaan saya adalah serabi. Rumah si penjual ditandai dengan botol kaca hitam yang ditaruh di tembok depan rumahnya. Serabi di sini masih dibuat dengan cara tradisional, yaitu dengan tempat dari tanah liat dan kayu bakar. Dijual Rp500,00 untuk satu tangkup (dua buah serabi), dibungkus dengan daun pisang, ditambah kuah santan. Selain makan di tempat, Opa biasanya membawa pulang beberapa tangkup serabi agar saya bisa makan di rumah.

Namun, liburan menyenangkan di rumah Opa dan Oma bukan hanya soal dimanja. Rumah itu luas sekali, karena harus bisa mengakomodasi keluarga di masa lampau yang jumlah anggotanya bisa mencapai puluhan orang, sehingga saya bisa jumpalitan sana-sini tanpa terbentur tembok atau barang lainnya. Saya suka kejar-kejaran dengan adik saya sambil naik sepeda atau adu bermain lompat tali. Saya suka mengganggu anjing peliharaan Opa dan Oma yang sedang berjemur atau bertanya dengan bawel tentang tanaman hias Oma yang beragam jenisnya.

Rumah itu juga menyimpan sejuta barang antik yang tidak saya temui lagi di Jakarta. Saya membantu Mbak Rum menimba air dari dalam sumur untuk mencuci baju. Saya membantu Oma di lumbung kecap untuk menempel cap kertas pada botol kecap yang hendak dijual. Saya iseng berdiri di atas timbangan dan meminta Mbak Rum untuk mengukur berat saya dengan mengatur biji kuningannya. Saya mandi cepat-cepat karena takut dengan ukuran kamar mandi yang bisa dimasuki lebih dari sepuluh orang.

Saya tidak pernah kehabisan aktivitas di rumah itu. Mungkin itu salah satu alasan saya selalu menantikan liburan sekolah di bulan Juni, selalu menantikan pintu pagar rumah itu dibuka, selalu menantikan untuk menginjakkan kaki di rumah itu. I’ll do it all over again if it’s possible.

***

Atas setiap kunjungan ke rumah itu saat liburan sekolah, saya berhasil melukis masa kecil yang menyenangkan.

Rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang sekarang bukan lagi milik Opa dan Oma saya. Rumah itu dijual beberapa tahun yang lalu kepada pasutri yang baru menikah.

 

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s