RAHASIA OPA & OMA DI LASEM

Bukan sembarang rahasia, bukan pula sembarang opa dan oma yang menyimpannya. Karena rahasia dan para sesepuh inilah yang menghidupi Lasem hingga kini.

*

Setiap gang diisi oleh rumah-rumah dengan pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya. Ketika pintu itu saya ketuk, seorang opa atau oma akan membukanya, diiringi sapaan dalam bahasa Jawa dan senyuman ramah seolah menyambut kedatangan si cucu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya
Saya dijamu di ruang tamu di rumah utama, yang memungkinkan saya untuk melihat isi rumah itu. Perabotan rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu jati dan belum pernah diganti sejak rumah itu didirikan ratusan tahun yang lalu. Meja besar menyerupai altar untuk sembahyang, biasanya ada patung dewa, foto orang terkasih yang telah meninggal, makanan persembahan, dan hio di atasnya. Foto-foto hitam putih yang dibingkai dan digantung di dinding, mulai dari foto keluarga besar hingga foto tiap anggota keluarga. Seisi rumah itu bercerita tentang penghuninya yang sudah turun-temurun.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ruang untuk menyambut tamu yang terletak di rumah utama
Opa sudah berapa lama tinggal di sini? Oma tinggal di sini sejak kapan? Ada yang menjawab dengan tahun, ada yang menjawab dengan angkatan generasi. Ada yang memang mewarisi rumah itu, ada yang hanya diberi amanah untuk menjaga rumah itu. Kemudian, para opa dan oma akan lanjut bercerita. Ada opa yang sudah pikun dan bertanya saya menginap di mana hingga tiga kali, tapi beliau bisa menceritakan dengan jelas ingatannya akan orang yang nyeret candu di depan rumahnya. Ada oma yang sudah menjaga vihara (dulunya digunakan sebagai rumah) sejak tiga puluh tahun yang lalu, termasuk menjaga anjing-anjing miliknya agar tidak menggonggong ketika shooting acara uji nyali di vihara itu. Ada oma yang hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya dan sewaktu saya datang ke rumahnya, beliau curhat sambil memarahi adiknya yang tidak “laporan” saat pergi ke rumah tetangga. Ada opa yang mengizinkan rumahnya digunakan sebagai tempat pernikahan penjaga rumahnya dan menggantung foto beliau bersama kedua anak si penjaga rumah di ruang tamu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kalau Opa bosan di rumah, biasanya beliau akan “nongkrong” di bale-bale seberang rumahnya
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma yang menjaga dan membersihkan vihara sejak tiga puluh tahun yang lalu
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma tetap cantik dengan daster ungunya
Processed with VSCO with hb2 preset
Bapak penjaga rumah yang senyum-senyum melihat foto kedua anaknya bersama Opa pemilik rumah
Saya senang mendengar cerita-cerita itu karena menggambarkan seperti apa kota ini puluhan tahun yang lalu: saudagar-saudagar Tionghoa dengan usahanya yang sukses, para lelaki yang bebas nyeret candu di pinggir jalan, para ibu yang menggowes sepeda onthel menuju tempat membatik. Walaupun banyak yang diceritakan, jelas tetap ada yang belum terungkap. Entah karena kapasitas ingatan opa dan oma yang tidak lagi memadai atau karena belum pantas diceritakan pada pertemuan pertama. Entah kesepakatan macam apa pula, yang tidak bisa saya terjemahkan sendiri, yang pernah terjadi hingga para opa dan oma begitu setia dengan rumah dan kota ini, padahal mereka bisa membuat keputusan lain untuk pindah. Yang belum terungkap inilah, yang kemudian menjadi rahasia.

Segelas air putih, teh, atau sirup yang telah habis menandakan usainya cerita karena para opa dan oma harus beristirahat. Pamitan saya pun selalu dibalas dengan, “Main-main lagi ke sini kalau ke Lasem.”

*

Processed with VSCO with hb2 preset
Lasem yang tua dan sunyi

Lasem hari ini adalah kota yang tua dan sunyi, namun segudang rahasia tersimpan di ingatan para penghuninya dan membekas di tembok-tembok kota ini. Biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, biarlah rahasia tetap berada di Lasem, biarlah Lasem hidup.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s