THAILAND: BELAJAR PADA KETIDAKPASTIAN

Saya pernah menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai kotak nyaman pertama dan kotak nyaman kedua. Ketika saya bosan dengan rutinitas atau kotak nyaman pertama, saya akan keluar dari kotak itu dan mulai membentuk kotak nyaman kedua melalui proses jalan-jalan.

Kemudian, seorang teman berkata, “Ah, dasar lo analoginya kotak-kotak. Keluar dari yang satu, tetap saja dibatasi sama kotak lainnya. Lebih bebas dong kalau jalan-jalan.”

Analogi kotak-kotak awalnya merupakan analogi asal-asalan yang saya buat karena hanya ingin menggambarkan bahwa proses jalan-jalan adalah cara saya untuk keluar dari kotak nyaman keseharian saya. Namun, apa yang teman saya katakan ada benarnya juga. Itulah saya selama ini, selama menjalani proses jalan-jalan. Penuh jadwal dan perhitungan. Penuh kepastian.

Jadi, bagaimana menjalani proses jalan-jalan dengan bebas? Jalan-jalan ke Thailand kurang lebih telah menjawabnya.

***

Perjalanan kemarin adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Thailand. Pertama kalinya pula, hanya pergi berdua dengan adik saya. Kami menyusun itinerary jauh sebelum hari keberangkatan, memesan apapun yang bisa dipesan lewat internet, berharap semua serba aman dan pasti selama perjalanan ini berlangsung. Tapi, toh, ada saja yang tidak berjalan sesuai rencana.

Di hari kedua, kami mengunjungi Santorini Park di Cha Am, sekitar tiga jam dari Bangkok. Menuju Cha Am, hampir semua aman terkendali. Kembali dari Cha Am, adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami ketika jalan-jalan: kami tidak tahu harus pulang naik apa.

Processed with VSCO with a6 preset
Santorini Park dominan dengan warna biru seperti ini
Processed with VSCO with a6 preset
Tempat ini sangat bagus sebagai spot untuk berfoto

Cha Am bukanlah kota tujuan utama wisata, ia hanya kota yang dilewati ketika para wisatawan ingin menuju kota wisata Hua Hin. Oleh karena itu, kami tidak menemukan transportasi umum, kecuali taksi yang harus di-charter dengan harga tidak terjangkau. Tidak ada pula halte atau terminal bus untuk menemukan mini van kembali ke Bangkok. Setelah bertanya sana-sini, kami dianjurkan untuk menyeberang jalan dan memberhentikan mini van menuju Bangkok yang lewat di jalan itu. Kami bingung dengan anjuran tersebut. Bagaimana cara menyeberang di jalan besar dengan setiap detiknya ada truk beroda lebih dari enam yang lewat. Benarkah kami boleh menyeberang begitu saja padahal tidak ada zebra cross maupun lampu merah untuk penyeberang jalan.

Processed with VSCO with a6 preset
Jalan besar yang kami seberangi untuk memberhentikan mini van menuju Bangkok

Akhirnya, kami mengabaikan semua kebingungan, menyeberangi jalan itu sambil berharap tidak ditabrak oleh truk-truk yang rodanya saja lebih besar dari tubuh kami. Sampai di seberang, kami mulai melambaikan tangan pada setiap mini van yang lewat.
“Kok itu kosong tapi gak mau berhenti sih?”
“Kayanya itu mini van pribadi deh. Carinya mini van yang banyak stikernya.”
“Dek, ini nyalain lampu, nyamperin ke sini nih!”
Iya, malam itu kami tidak harus menunda kepulangan menuju Bangkok.

Memberhentikan mini van di pinggir jalan besar adalah sesuatu yang baru pertama kali saya lakukan dan baru pertama kali saya rasakan. Setelah biasanya hanya turun-naik dari mobil sewaan ketika jalan-jalan, kini saya harus menarik perhatian sebuah mini van untuk menyelamatkan hari-hari berikutnya selama perjalanan di Thailand. Perasaan bingung, panik, deg-degan, takut, semua bercampur jadi satu. Lalu, ketika sebuah mini van menyalakan lampunya ke arah saya dan adik saya, berhenti di depan kami, dan sang supir mengiyakan pertanyaan saya, “To Bangkok?” semua perasaan tadi hanya bisa luruh menjadi sebuah senyum kelegaan. Itu rasanya ternyata, mengubah sebuah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti.

Processed with VSCO with a6 preset
Sukhumvit Rd di malam hari

Lima hari selanjutnya, saya tidak menolak datangnya ketidakpastian sehingga bisa menggenggam lebih banyak kebebasan. Jalan-jalan tanpa tujuan untuk melihat kehidupan malam di Sukhumvit Rd, di mana beberapa perempuan “dipajang” di depan bar, tempat massage, dan japanese karaoke guna memancing kedatangan pengunjung. Berjalan kaki dari Ao Nang Beach menuju hotel selama satu jam, bukannya naik taksi, lalu saya jadi bisa membeli es krim dan mengamati bulan purnama malam itu.

 ***

Saya membenarkan apa yang dikatakan oleh teman saya. Saya tidak lagi menganalogikan proses jalan-jalan sebagai sebuah kotak, melainkan bentuk abstrak yang mendefinisikan kebebasan atau tanpa batas. Kebebasan itu bisa tercipta dengan membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian.

Mengagungkan kepastian adalah hal yang wajar, saya salah satu penyembahnya dan mendapatkan banyak keuntungan dari itu. Namun, saya belajar bahwa ketidakpastian adalah tuan yang baik pula. Ia menyadarkan, kepanikan yang menguasai saya justru menjerumuskan saya dalam masalah yang lebih dalam, bukan menyelesaikannya. Ia mengajarkan, untuk mengolah setiap pergulatan rasa agar disyukuri dan diubah menjadi rasa senang. Ia merendahkan hati, karena segala jenis ekspektasi dan kemungkinan apapun bisa terjadi pada saya. Terakhir, ia mengingatkan, agar saya percaya.

Bagi saya, sulit untuk membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian, setelah selama ini selalu menjalani yang pasti-pasti saja. Akan tetapi, atas semua pembelajaran yang telah diberikan ketidakpastian, bahkan dalam satu kejadian saja, saya ingin mencoba lebih banyak berada dalam ketidakpastian perjalanan.

Mungkin di perjalanan selanjutnya, saya tidak perlu membuat itinerary. Hmm semoga bisa.

Processed with VSCO with a6 preset
Cheers to more uncertainty in the future!

Saya menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai dua bentuk yang berbeda. Rutinitas adalah sebuah kotak nyaman, sedangkan jalan-jalan adalah sesuatu yang abstrak. Bukankah saya bosan dengan rutinitas karena banyak garis batas dalam kotak itu? Jadi, saya akan keluar dari kotak nyaman untuk merasa bebas dengan garis batas yang hampir tiada melalui proses jalan-jalan.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

2 thoughts on “THAILAND: BELAJAR PADA KETIDAKPASTIAN”

    1. Santorini Park bagus banget kalo untuk berfoto-foto. Tapi, saran saya, berkunjung ke sini juga sekalian menjelajah tempat lainnya di Cha Am atau Hua Hin. Santorini Park bisa selesai dijelajahi hanya dalam satu jam, kurang sebanding dengan waktu perjalanan yang harus ditempuh dari Bangkok ke tempat ini dan sebaliknya. Hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s