THAI ICED TEA, PLEASE!

Minggu lalu saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya! Walaupun hanya satu minggu, juga baru mengunjungi Bangkok dan Krabi, tetap ada beberapa hal yang akan saya ingat dari negara bersimbol gajah ini.

(Klik foto-foto di bawah ini jika ingin melihat foto dengan ukuran yang lebih besar.)

***

Thailand is the land of street food.

Hampir di setiap sudut jalan, mulai dari sore hingga malam hari, saya menemukan jejeran gerobak dan kios yang menjual berbagai jenis jajanan. Yang menjadi favorit saya adalah daging bakar (baik ayam maupun babi, baik disate maupun dibakar begitu saja dan dipotong kecil-kecil) di bawah Phrom Phong BTS Skytrain Station dengan kisaran harga 10-60 baht. Dagingnya besar, sangat empuk, dan berlemak. Hanya dikecapi lalu dibakar, tetapi rasanya sangat meresap ke dalam daging. Jangan takut dagingnya sudah dingin karena akan dihangatkan atau dibakar kembali ketika kita datang membeli.

Selain di pinggir jalan, saya juga mencoba beberapa jajanan khas Thailand di Rod Fai Night Market (di belakang Esplanade). Salah satu jajanan yang saya coba adalah belalang goreng! Awalnya, saya enek memakannya karena bentuknya masih berupa belalang, namun ternyata rasanya renyah, seperti kulit ayam goreng (cukup mencoba saja, belalang goreng belum menjadi jajanan favorit saya..). Untuk menemukan kios yang menjual belalang goreng, saya perlu berjejalan di antara kios-kios makanan dan pernak-pernik yang sangat sempit jaraknya, tapi justru menambah keseruan berburu jajanan di night market ini. Akhirnya, untuk menghapuskan rasa dahaga dan kepanasan setelah berjejalan, saya membeli thai iced tea dengan ukuran gelas yang amat sangat besar. Walaupun kelihatannya berisi banyak, 70% dari gelas itu adalah es batu (yang melipatgandakan kesegaran thai iced tea yang saya beli malam itu).

*

Koh Hong gave me sunburned face.

Saya bermain-main ke pantai di daerah Ao Nang, Krabi. Dari sini, saya menyeberang dengan perahu ke Koh Hong. Pulau ini sangat menakjubkan bagi saya karena dikelilingi tebing-tebing tinggi dan air biru yang sangat jernih, langit cerah hari itu juga menambah keindahan pulau ini.

Ada beberapa pilihan aktivitas di Koh Hong, salah satunya bermain kayak. Instruksi selama lima menit bisa membuat saya mengayuh kayak keliling pulau, namun seluruh otot di tangan harus bekerja karena mengayuh kayak (bagi saya seperti menyingkirkan air laut) sangatlah berat. Karena baru pertama kali bermain kayak, ritme mengayuh saya dan adik saya pun perlu disamakan secara manual, “Kanan, kiri, kanan, kiri, Dek kiri dulu Dek, mau nabrak tebing nih!” Selain bermain kayak, wisatawan juga bisa berenang, snorkeling, atau sekadar berjemur di pantai.

Bermain kayak jam dua belas siang, jadilah muka saya berwarna merah terbakar matahari.

*

Helpful Thai people I met along the way.

Jarang sekali saya menemukan orang Thailand yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, aksen yang mereka miliki kurang mendukung untuk berbahasa Inggris sehingga kurang bisa saya pahami juga. Namun, setiap kali ditanya tentang jalan, tempat, atau transportasi, mereka sebisa mungkin membantu saya, baik dengan bahasa Inggris seadanya maupun dengan bahasa tubuh. Seperti percakapan yang terjadi antara saya dengan seorang ibu ketika bertanya soal keberadaan mini van ke Cha Am.

Mini van to Cha Am?” tanya saya kepada sang ibu setelah disuruh dua orang supir mini van yang tidak menuju Cha Am.
Ibu itu menggumam dalam bahasa Thailand dan raut wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir bagaimana harus menjawabnya dalam bahasa Inggris.
“Bus… Sai Tai Mai…” jawab ibu itu dengan bingung.
“Hmm?” saya kembali bertanya karena kurang jelas dengan jawaban ibu itu.
“Ya, Sai Tai Mai,” jawab ibu itu kembali meyakinkan.

Ternyata, setelah  mencari di Google, maksud ibu itu adalah saya harus menuju Sai Tai Mai, terminal bus di Bangkok, untuk menemukan mini van menuju Cha Am (dan saya berhasil sampai di Cha Am atas petunjuk ibu yang sangat membantu itu).

*

Everyone should visit Bangkok Art and Culture Centre!

Saya kira Bangkok Art and Culture Centre adalah art gallery seperti pada umumnya, tapi setelah memasuki dan melihat setiap lantainya, saya baru mengerti arti kata centre pada namanya. BACC tidak hanya berupa art gallery, tapi ada juga toko-toko yang menjual barang-barang kreatif serta tempat untuk launching buku dan workshop seni. Kemudian, di lantai-lantai teratasnya, ada sepuluh lantai di sini, barulah berisi pameran-pameran seni sementara.

Ketika saya berkunjung ke sana, sedang berlangsung pameran seni The Philosophy of Instructions karya Erwin Wurm. Ia hanya meninggalkan satu atau beberapa benda beserta instruksi bagaimana pengunjung harus memperlakukan benda-benda tersebut agar bisa menjadi instalasi tersendiri. Saya pun mencoba instruksi “roast yourself under the sun of Epikur” dan menaruh kepala saya di bawah sebuah lampu. Tadaa jadilah saya sebuah instalasi seni!

*

Thank you, my gondrong brother.

Adik saya adalah satu-satunya orang yang saya kenal selama perjalanan ke Thailand ini. Terima kasih sudah mengiyakan tawaran saya untuk berlibur bersama, sudah membantu menyusun itinerary yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sudah menemani tujuh hari kemarin dengan pertengkaran kecil dan berdamai lagi setelah membeli jajanan, dan sudah-sudah lainnya.

Selamat kembali kuliah dan menggondrongkan rambut, Dek!

***

Mari menyesap thai iced tea sambil membayangkan Chiang Mai yang belum kesampaian..

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

4 thoughts on “THAI ICED TEA, PLEASE!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s