BROMO: MENGHAMBA MENTARI

Siapa yang ingin menjadi hamba. Tetapi tanpa sadar, beberapa manusia melakukannya, dengan sukarela.

Di Bromo. Para wisatawannya, yang adalah manusia, menjadi hamba bagi mentari. Mereka dengan sengaja memenuhi Penanjakan sejak gelap masih menguasai langit, menunggu semburat jingga pertama, dan mengantar mentari menuju singgasana.

Ketika waktunya tiba, mereka mulai mengangkat tinggi-tinggi telepon genggam masing-masing agar bisa mengabadikan momen terbitnya mentari. Momen ini juga menandai berakhirnya jasa penyewaan tikar sebagai alas duduk para wisatawan, digantikan dengan dagangan bunga edelweiss hasil petikan yang sudah dirangkai menyerupai boneka beruang dan bentuk lainnya, bahkan diwarnai.

Selesai menyambut sang mentari, para wisatawan melanjutkan penjelajahannya ke kawah Bromo, dengan tetap membawa sifat seorang hamba. Ada dua pilihan untuk sampai di titik terakhir sebelum menaiki tangga menuju kawah, yaitu dengan mengandalkan kaki sendiri atau dengan mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mengandalkan kaki-kaki kuda. Namun, kedua pilihan ini akan melalui jalur yang sama untuk sampai di titik terakhir tersebut. Karena kuda lebih besar daripada manusia dan lebih banyak rupiah yang dikeluarkan untuk seekor kuda, jadilah wisatawan yang mengandalkan kaki sendiri harus awas dan menyingkir ketika, “Minggir, minggir, kuda mau lewat.”

Sampai di titik terakhir, saatnya mempersiapkan diri untuk mengalahkan setiap anak tangga dan ego pribadi menuju kawah. Mengalahkan anak tangga adalah hal yang mudah, asal didukung dengan lutut yang siap ditekuk berulang kali. Mengalahkan ego pribadi adalah ujian bagi seorang hamba. Tangga itu hanya memiliki lebar sekitar dua petak (satu petak untuk naik dan petak lainnya untuk turun). Jumlah wisatawan yang membludak mengharuskan siapapun yang ingin sampai di kawah untuk mengantre. Namun, seorang wisatawan asing, masih muda, dan bisa melihat antrean yang panjang, melangkah di antara dua petak itu, melewati ratusan wisatawan yang mengantre di tangga.

Kawah Bromo sangatlah sempit, untuk jumlah wisatawan yang membludak, dengan pembatas yang seadanya. Pemandangan kawah yang tidak begitu memukau, mungkin menyebabkan kejadian ini terjadi: membuang sampah ke dalam kawah. Seorang bapak, di pinggir kawah, mencontohkan kepada anaknya seolah ini adalah semacam permainan, mengambil sampah botol plastik yang ditinggal di pinggir kawah, dan membuangnya ke dalam kawah. Dengan gembira dan tanpa rasa bersalah. Kemudian, diikuti oleh anaknya.

Bromo benar-benar dipenuhi lautan hamba. Tidak bisa memimpin dirinya sendiri dan perlu dibuatkan papan peringatan berbunyi “Harap antre” dan “Dilarang membuang sampah ke dalam kawah” agar dipatuhi dan dilakukan (masih ada kemungkinan papan peringatan itu akan diabaikan, sebenarnya).

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Sebagai seorang wisatawan yang mau mengantre dan tidak membuang sampah ke kawah, juga salah satu hamba mentari, saya sedih sekaligus tidak tahu harus berbuat apa melihat keindahan Bromo ternodai oleh beberapa hamba yang bermuka dua terhadap mentari: memuja di depannya, kemudian berlaku seenaknya di belakangnya.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s