FROM KONNICHI WA TO ARIGATOU

Bukan seorang penggemar anime atau apapun yang diproduksi Jepang, namun negara ini menyuguhkan hal-hal yang tetap bisa mencuri hati saya. Melalui foto-foto ini, saya ingin bercerita tentang Jepang dan apa yang membuat saya ingin kembali ke sana.

***

Processed with VSCO with a6 preset

Pertama sampai di Jepang, saya langsung jatuh cinta dengan gang-gang yang saya lihat, salah satunya gang yang ada di chinatown di Kobe  di mana foto di atas diambil. Penampakan kebanyakan gang di Jepang mirip dengan yang ada di kartun-kartun yang sering saya tonton saat kecil, seperti Doraemon, mulai dari pertokoan, rumah, mobil, sampai tiang lisrtiknya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mencoba street food di suatu negara adalah wajib hukumnya. Dan itulah salah satu hal yang saya lakukan di Jepang. Saya mencoba onde-onde berisi kacang merah, yang saya lupa namanya apa, sate crabstick, dan sate chicken karage. Sebetulnya masih banyak street food lainnya yang menggoda mata, namun apa daya lambung dan usus tak kuat menampungnya. Es krim rasa green tea juga sangat sering dijumpai di tempat-tempat wisata. Paha bawah ayam yang ukurannya dua kali lebih besar daripada ayam KFC juga sempat menarik perhatian saya. Takoyaki yang biasanya dijumpai di mall-mall di Jakarta, bahkan ada di depan toko-toko di pinggir jalan.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dari foto di atas. Pertama, foto ini diambil saat Indonesia sedang merayakan hari Lebaran pertama dan Jepang tidak merayakannya karena mayoritas penduduk Jepang beragama Shinto. Aktivitas sekolah maupun kerja berlangsung seperti biasanya. Kedua, seragam sekolah siswa-siswa di Jepang terlihat sederhana, warna dan bentuknya, dan rok seragam perempuannya tidak sependek yang ada di kartun-kartun. Ketiga, persimpangan jalan di Jepang sangat disiplin dan rapih. Semua kendaraan mematuhi lampu lalu lintas yang berlaku sehingga jarang sekali terjadi kemacetan dan pejalan kaki juga mendapatkan hak sepenuhnya untuk menyeberang jalan. Motor yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota di Jepang bukanlah sebuah pemandangan umum, alias sangat sedikit jumlahnya. Keempat, ada dua jenis plat kendaraan di Jepang, yaitu plat kuning dan putih. Perbedaan dari kedua warna plat ini adalah besarnya cc dari kendaraan tersebut, yang akan membedakan pula besarnya pajak yang harus dibayar.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Saya senang mengunjungi berbagai toko pernak-pernik di Jepang. Walaupun yang dijual kurang lebih hampir sama (gantungan kunci, gunting kuku, kipas, sandal, kartu pos, kertas washi, tas, miniatur bangunan-bangunan ternama, tempelan kulkas, mochi, cokelat, dan masih banyak lagi), tetapi suasana dan peletakan barang-barang yang dijual sangat lucu dan menarik. Selain itu, pramuniaga yang melayani juga sangat ramah dan sopan. Selesai membayar barang yang akan dibeli, barang tersebut akan dibawakan dan diberikan kepada pembelinya saat mereka akan keluar dari toko, kemudian pramuniaga tersebut akan mengucapkan “Arigatou!” sambil membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda hormat dan terima kasih.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Beberapa bulan sebelumnya, saya membaca sebuah artikel di majalah National Geographic Traveler tentang sebuah desa di Jepang. Desa tersebut kemudian dijadikan sebagai situs atau tempat wisata, yang dikenal dengan Shirakawa-go. Rumah-rumah di dalam desa tersebut kebanyakan berarsitektur sama: atap berbentuk segitiga dengan sisi miring yang sangat curam dan tebal yang disusun dari jerami. Bentuk yang demikian berfungsi untuk menahan salju saat musim dingin tiba (salju jadi akan jatuh ke bawah dan tidak menggumpal di bagian atap). Salah satu rumah memang sengaja dibuka untuk dikunjungi oleh wisatawan dan rumah tersebut memiliki lima sampai enam tingkat (digunakan untuk menyimpan berbagai jenis barang yang dimiliki tuan rumah) karena atapnya yang tinggi. Selain itu, pertanian juga menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk di sana dengan banyaknya hamparan sawah yang terlihat di sana. Namun, nama desa yang identik dengan kata ‘tradisional’ tidak sepenuhnya melekat pada desa satu ini. Hampir di setiap rumah terlihat mobil atau motor di depannya yang digunakan untuk keperluan pergi ke kota. Cerita tentang Shirakawa-go yang saya baca di majalah NatGeo Traveler sesuai dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke sana kemarin (lebih baik mengunjungi Shirakawa-go saat musim dingin karena salju akan turun dan mulai menutupi rumah-rumah di desa tersebut).

*

Processed with VSCO with a6 preset

Mengunjungi beberapa kuil di Jepang, ada satu hal sama yang sering saya temukan: fortune teller. Karena keterbatasan bahasa dan belum rela mengeluarkan sejumlah uang, saya jadi tidak mencobanya dan hanya mengamati dari jauh orang-orang yang menggunakan “jasa” ini. Cara kerja fortune teller ini adalah dengan menuliskan harapan kita pada sebuah kertas. Kemudian, kita akan mengambil satu tongkat pendek yang diaduk atau dicampur dengan tongkat pendek lainnya dalam sebuah gelas. Setiap tongkat pendek tersebut memiliki nomor masing-masing. Nomor yang kita pilih akan ditukar dengan tulisan yang akan menggambarkan “nasib” atau harapan yang sudah kita tulis sebelumnya. Biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan “jasa” fortune teller ini kurang lebih sebesar ¥200 atau Rp26,000,00.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ginza, Tokyo. Surga bagi para penggila belanja. Di sepanjang jalan di Ginza, toko-toko brand lokal Jepang maupun yang ternama berjejer menanti datangnya para pengunjung. Uniqlo dengan dua belas lantai juga turut meramaikan daerah ini. Di akhir pekan, mulai sore hari, jalanan di Ginza akan ditutup untuk kendaraan sehingga pengunjung bebas menyeberang jalan dan berfoto ria seperti yang tertangkap dalam foto di atas. Mungkin butuh satu hari penuh untuk memasuk semua toko yang ada di Ginza, ditambah satu mall di ujung jalannya.

*

Processed with VSCO with a6 preset

Ramalan cuaca di Jepang patut diacungi jempol. Jika hari ini diramalkan cerah, maka matahari akan berada di singgah sananya sepanjang hari. Jika besok diramalkan hujan, maka hujan akan turun satu hari penuh dan payung harus selalu siaga di hari itu. Karena ramalan cuaca yang akurat, hujan tidak menghentikan aktivitas orang-orang Jepang. Mobilitas mereka tetap tinggi, berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, ditemani payung-payung yang kebanyakan berjenis transparan. Saya juga menemukan sebuah toko yang menjual payung dengan warna polos, tetapi akan keluar motif tertentu jika terkena air. Wah!

*

Processed with VSCO with a6 preset

Kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo, kurang lebih mirip seperti Jakarta. Gedung-gedung perkantoran yang tinggi, padat bangunan perumahan, banyak kendaraan dan macet, dan dipenuhi banyak orang. Oleh karena itu, saya lebih senang berada di kota-kota kecil Jepang, seperti Nara. Tidak terlalu padat dengan bangunan, kendaraan, dan orang. Akan tetapi, kesamaan dari kota besar dan kota kecil di Jepang adalah jam beraktivitas orang-orangnya. Kebanyakan toko dan mall sudah tutup pada jam sembilan malam, begitu juga jalanan yang mulai sepi. Hanya stasiun kereta yang masih beroperasi hingga larut malam.

***

Masih banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari Jepang, yang menarik dari Jepang, yang membuat ingin kembali ke Jepang. Mulai dari Gunung Fuji yang menjadi tempat favorit untuk bunuh diri, tingkat kelahiran yang rendah hingga pemerintah Jepang bersedia membiayai kelahiran anak pertama dan kedua, jam kerja supir bus yang harus dua belas jam dan tidak boleh lebih, orang-orang yang tidur di depan vending machine di stasiun karena kelelahan bekerja, sampai pemandian air panas atau onsen tanpa menggunakan sehelai benang untuk menutupi anggota tubuh.

This post is how I viewed Japan, from day one to day six, from konnichi wa to arigatou.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s