SABALEH HARI DI RANAH MINANG

Selamat datang di Sumatera Barat, di mana hamparan pantai serta barisan gunung ada di kanan-kiri jalan dan puluhan piring makanan enak selalu menghiasi setiap hari.

Saya menginjakkan kaki di tanah Minang tanpa banyak persiapan: untuk keterasingan. Cina, tidak berkerudung, tidak bisa sedikitpun bahasa Minang. Kombinasi yang pas untuk membumbui perjalanan ini.

*

HARI 01: Pesisir Selatan

Tujuan pertama adalah Mandeh. Layaknya Kepulauan Seribu, Mandeh juga membutuhkan kapal untuk mengantar para pengunjung menuju beberapa pulau dan sebuah hutan mangrove di dalamnya. Air lautnya masih sangat biru dan bersih, pulau-pulaunya masih banyak yang perawan tanpa penghuni, ikan-ikan dan terumbu karangnya sangat cantik dan indah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kapal yang mengantar ke pulau-pulau di Mandeh
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Gede: sangat sepi jika dikunjungi di hari kerja
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Setan: pelangi yang tiba-tiba muncul

Tujuan utama ke Mandeh adalah high cliff jumping. Salah satu pulau di Mandeh, Pulau Sironjong Ketek, menyediakan “jasa” untuk lompat dari puncak tebingnya. Tak pernah saya pikirkan sebelumnya bahwa memanjat tebing dengan bantuan tali adalah satu-satunya cara untuk sampai ke puncak tebing tersebut. Di ketinggian sekitar enam meter, bapak empunya kapal meneriaki saya untuk lompat dari situ saja—mungkin kemampuan memanjat saya yang kurang meyakinkan atau muka saya yang mulai pucat, lompat dari ketinggian sepuluh meter, seperti yang dilakukan kebanyakan pengunjung pulau ini, harus dikurangi empat meter. Selama sekitar sepuluh menit, saya asik dengan ketakutan saya sendiri: “Eh aduh gimana nih!”, “Duh kenapa sih mau nyoba?!”, “Aduh aduh aduh.”, “Lompat apa turun ya, mau turun gak bisa juga duh.”, “Aduuuh gila gila gila!”, “Hitungin dong dari sepuluh.” Dimulai dari kaki, seluruh raga saya meninggalkan tebing itu menuju air laut yang sangat asin dan membanting bagian belakang paha saya hingga menghasilkan lebam sebesar tangan. Jadilah saya pulang dengan kaki terpincang-pincang, namun senyum berseri di wajah.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pulau Sironjong Ketek: yang memakai kaos abu-abu adalah saya dari ketinggian enam meter

Meninggalkan Mandeh, hari sudah tak lagi terang, namun laut lepas masih terlihat dalam perjalanan kembali ke Padang berkat lampu kuning dari kapal-kapal yang berlabuh. Sungguh indah sampai sakitnya lebam di kaki tak terasa, untuk sejenak.

HARI 02: Padang

Berjalan-jalan di kota Padang sama rasanya dengan berjalan-jalan di kota Bogor. Teduh karena banyak pohon besar di samping kanan dan kiri jalan. Akan terasa berbeda ketika sudah melihat tepi laut, karena di Bogor tidak ada laut, bukan?

Di tepi laut ini, salah satu makanan khas Sumatera Barat bisa dinikmati, yaitu langkitang dan pensi. Sebelum ke makanan utama, disajikan makanan pembuka berupa kerupuk berbentuk bundar. Bagian atas kerupuk ini dibaluri dengan sambal dan mie. Enak memang, tapi agak bosan memakannya karena ukuran yang agak besar hingga menimbulkan rasa yang monoton.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Makanan pembuka: kerupuk dengan bumbu dan mie di bagian atasnya

Langkitang adalah makanan laut yang dimakan dengan cara dihisap dengan mulut. Warna cangkangnya—dan isinya—hitam, bentuknya agak lonjong, dan ada lubang di kedua sisinya. “Kalo gak bisa dihisap di lubang itu, hisap di lubang lainnya, De. Kalo masih gak bisa juga, balik lagi ke lubang pertama.” Begitu saran dari seorang teman. Dalam satu piring kecil, ada puluhan langkitang yang sudah dibumbui sehingga tidak terasa hambar ketika langkitang dihisap.

Pensi berukuran sangat kecil, hanya seruas jari kelingking, dan berbentuk seperti kerang dara. Cara mengambil daging di dalam cangkangnya, pada umumnya, dengan gigi. Namun, sepertinya ukuran gigi saya terlalu besar, jadilah saya mengambil dagingnya dengan jari tangan. Pensi juga sudah dibumbui, seperti langkitang—bumbu keduanya agak serupa.

Pensi (kiri) dan langkitang (kanan)

Kedua makanan utama ini cukup ditutup dengan air putih karena bumbunya yang pedas.

HARI 03: Padang Panjang

Karena agak siang tiba di kota kecil ini, agak tanggung pula untuk pergi ke beberapa tempat wisata. Jadi, marilah saya berbagi fakta yang diceritakan seorang teman tentang tanah Minang.

Padang Panjang terkenal dengan 99 rasulnya sehingga  di sepanjang jalan, terdapat papan-papan—dengan jarak tertentu antarpapan—bertuliskan nomor dan sifat sang rasul, dalam aksara Arab dan bahasa Indonesia.

Daerah Singgalang terkenal dengan sebutan “bule Singgalang”. Sebutan ini muncul karena banyaknya anak yang terlahir albino akibat perkawinan sedarah.

Jangan heran, apalagi diambil hati, jika dilayani secara jutek oleh pramusaji atau pramuniaga di sini. Bahkan pramusaji/pramuniaga bisa marah kalau calon pembeli sudah bertanya tapi tidak membeli dagangannya.

Martabak manis dihargai hanya Rp20.000,00 satu loyangnya! (Ya ampun, luar biasa murah dan membahagiakan.)

Dari abang martabak, saya belajar untuk mengusir laron: bagian dalam plastik diolesi mentega, kemudian bagian dalamnya ditukar menjadi di luar sehingga laron-laron yang hinggap di lampu akan menempel

Padang Panjang dingin sekali di waktu malam. Saya tidur tanpa pendingin ruangan, tapi masih harus menggunakan selimut yang tebal agar hangat. Brr.

HARI 04: Bukittinggi

Menceritakan Bukittinggi akan sama saja dengan menulis novel sebab begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jam Gadang (tidak boleh ada bangunan di Bukittinggi yang lebih tinggi daripada jam ini), Kebun Binatang, Jambatan Limpapeh, Benteng Fort de Kock (digunakan oleh Belanda pada masa Perang Paderi), Ngarai Sianok, Goa Lubang Jepang (jika berada di dalam goa ini lebih dari 15 jam, maka sudah dipastikan akan paru-paru basah), Rumah Bung Hatta (yang tak sempat saya kunjungi).

Jam Gadang: bisa masuk ke dalam bangunannya pada jam-jam tertentu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kebun Binatang: tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak hewan-hewannya
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jambatan Limpapeh: menghubungkan Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock
Ngarai Sianok: jangan hanya melihat dari atas (Panorama Ngarai Sianok), cobalah turun ke bawah!
Goa Lubang Jepang: seluruh goa terbuat dari batu seperti ini dengan suasana yang dingin dan lembap

Begitu pula dengan kulinernya. Pertama, nasi kapau. Saat memasuki belakang pasar, bertemulah saya dengan sebuah petak berisi para penjual nasi kapau. Perbedaannya hanya terletak pada nama penjualnya. Nasi Kapau Ni Er. Nasi Kapau Uni Lis. (Pilih saja yang paling ramai karena biasanya itu yang paling enak.) Nasi kapau adalah nasi putih yang disajikan dengan rebung dan sayur nangka—sebagai ciri khasnya—kemudian pembeli bisa memilih lauk: ayam goreng, rendang ayam, dendeng, usus sapi, masih banyak lagi. Lauk-lauk tersebut dijejerkan secara bertingkat dan penjualnya berdiri lebih tinggi sehingga bisa mengambil lauk untuk pembelinya.

Ni Er sedang membungkus nasi kapau untuk pembelinya
Nasi kapau: siapkan selembar uang Rp20.000,00 dan Rp10.000,00 untuk satu piringnya

Kedua, es cendol. Berisi cendol yang terbuat dari tepung sagu, cendol yang terbuat dari tepung beras, dan lupis. Uniknya lagi, es cendol dimakan di atas piring, bukan di mangkok atau gelas. (Tidak banyak yang berjualan es cendol di petak nasi kapau ini.)

Es cendol: murah meriah hanya Rp6.000,00 per porsinya

HARI 05: Agam

Melihat danau dari ketinggian tertentu jelas lebih menyenangkan ketimbang melihat danau dari tepinya. Itulah yang saya rasakan ketika melihat Danau Maninjau, danau terbesar kedua di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dan hanya bisa membisu di dalam mobil—karena berusaha mengartikan dan mengerti percakapan antara teman saya dan teman-temannya dalam bahasa Minang, dan begitu saya mulai mengerti, percakapan sudah berganti ke topik lainnya—kabut Puncak Lawang mulai menyambut.

Puncak Lawang mirip dengan Gunung Pancar karena penampakan hutan pinusnya. Dilengkapi dengan fasilitas paralayang dan outbond untuk anak-anak. Dilengkapi pula dengan kabut tebal yang luar biasa indah jika diabadikan oleh kamera, namun menutupi pemandangan Danau Maninjau. Karena kabut tak kunjung pergi, meneruskan perjalanan ke tepi danau adalah keputusan yang tepat.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Kabut Puncak Lawang
Walaupun berkabut, aktivitas outbond di Puncak Lawang tetap dapat dilakukan, berbeda dengan aktivitas paralayang yang harus dihentikan

Belum jauh meninggalkan Puncak Lawang, kabut mulai memusnahkan dirinya dan tampaklah… Danau Maninjau. Luas, dikelilingi tebing-tebing di bagian kirinya, dikelilingi rumah-rumah penduduk dan tambak-tambak ikan di bagian kanannya. Megah sekali. Sungguh, tak pernah saya sebahagia itu melihat sebuah danau. (Bahkan masih terasa bahagianya ketika menuliskan ini.)

Processed with VSCOcam with hb2 preset
The Magical Lake Maninjau: maaf, danaunya harus terhalangi beberapa pohon

Untuk sampai ke tepi danau, ada Kelok 44 yang datang menantang. Jika kemampuan mengendarai mobil Anda masih di bawah rata-rata atau hanya sedikit di atas rata-rata, jangan mencobai kelok yang penuh dengan tikungan tajam dan membuat sekujur tubuh keringat dingin ini.

Ketika berada di tepi danau, tambak ikan tak ubahnya sebuah tambak ikan. B aja, begitu menurut tren zaman sekarang.

HARI 06: Tanah Datar

Sumatera Barat terkenal dengan rumah adatnya, yaitu Rumah Gadang, yang berbentuk rumah panggung dengan atap yang runcing di bagian ujungnya.

Di Istano Basa Pagaruyung, rumah adat Minang terdiri dari tiga tingkat. Di setiap tingkatan ada beberapa jendela besar. Mulai tingkat dua dan tiga, atap dan dindingnya dihiasi ukiran-ukiran yang cantik dan memiliki makna masing-masing. Terpisah dengan rumah utama, ada dapur di bagian belakang. Bagian bawah panggung yang umumnya digunakan untuk memelihara ayam, digunakan untuk meraup sedikit keuntungan melalui penyewaan pakaian adat Minang dan jasa foto. (Saya pun turut mencoba pakaian adat Minang warna merah, lengkap dengan suntiang. Rancak bana!) Di bagian depan rumah, biasanya ada dua lumbung padi, dibuat tinggi agar tidak dicuri orang.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Jendela besar yang ada di setiap tingkatan
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ukiran-ukiran cantik di bagian dinding dan atap
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Rumah dan pakaian adat Minang

Masih banyak yang menganggap sakral pakaian adat Minang, teman saya salah satunya. “Gak mau ah, gue nanti aja dong pakai pertama kalinya pas nikahan.” Dan bintang-bintang di langit tanah Minang menjadi saksi pernyataan itu.

HARI 07: Padang Panjang

Cuaca yang kurang bersahabat, alias hujan cukup deras, membuat hari itu menjadi Tour de Padang Panjang.

Padang Panjang adalah sebuah kota kecil yang akan dilewati jika akan menuju Bukittinggi atau Solok atau Payakumbuh atau Padang. Dengan tagline “Kota Serambi Mekkah”, nuansa Islam memang sangat terasa—saya sempat clingak-clinguk apakah ada perempuan lain yang tidak memakai kerudung selain saya. Oh, ternyata masih ada. Satu orang.

Selain itu, kulinernya wajib diacungi jempol. Sate Mak Syukur (seperti sate padang pada umumnya, tapi dagingnya lebih besar, dan banyak presiden yang sudah bersantap di sini!). Martabak manis seharga Rp20.000,00 per loyang (ini semacam special mention, setelah disebutkan sebelumnya dan sekarang disebutkan lagi, karena begitu murahnya martabak ini). Martabak kubang atau martabak mesir (martabak asin yang dikuahi dengan bumbunya, bukan dicocol). Roti cane isi pisang dan dibaluri keju-susu kental manis. Gorengan (ada ketan hitam goreng!). Bubur kampiun (paduan antara bubur putih, delima, kacang hijau, tape, lupis).

Kata diet tidak pernah ditulis dalam kamus rakyat Sumatera Barat.

HARI 08: Bukittinggi

Kembali ke sini, sebab masih ada kuliner yang belum dicoba: sate agam dan es tebak. Keduanya berjualan di petak yang sama—di Boutique Second—yang satu di bagian depan, yang lainnya di bagian belakang.

Sate agam, seperti sate padang pada umumnya. Empat sampai lima tusuk—kenapa selalu hanya empat sampai lima tusuk?! Apa tidak boleh lebih?!—sate, potongan ketupat, kuah kuning, bawang goreng di atasnya. Setelah beberapa kali makan sate padang, saya menyimpulkan bahwa kerupuk adalah makanan komplementer sate padang. Kerupuk jenis apapun. “Mana enak De makannya gak pake kerupuk?”

Sate agam: porsi full

Es tebak sangatlah menarik perhatian. Mungkin hari itu terlalu terik, mungkin orang di sebelah saya makan terlalu nikmat. Entahlah, es tebak memang menarik buat saya. Es tebak adalah es campur ala Minang yang disajikan dalam mangkok. Isinya mulai dari es serut, cincau, kacang merah, gula merah, susu kental manis, sirop, ketan hitam, hijau-hijau seperti cendol yang saya lupa namanya, sampai tape yang terbuat dari ubi.

Es tebak: e pada tebak dibaca seperti e pada sate

Jangan pula sedang sakit gigi jika berkunjung ke Sumatera Barat.

HARI 09: Padang

“De, lo pake lipstik gak sih? Bibir lo merah banget.”

“Hah, hmm, mungkin kebanyakan makan pedes.”

Bicara soal merah, hari itu saya diajak mengunjungi “kampung” saya. Iya, di mana kebanyakan orang Cina tinggal di Padang, daerah Kota Tua.

Sungguh terasa sekali “Cina”-nya—selain karena banyak bertemu orang-orang berkulit kuning dan bermata sipit seperti saya—masih banyak klenteng yang dipenuhi hiasan lampion menjelang Imlek, rumah duka, dan rumah himpunan keluarga untuk menyimpan abu. Lebih terasa seperti berada di Kampung Cina daripada di Kota Tua, sejujurnya.

Oiya, sempatkan juga minum kopmil (kopi milo) Om Ping! (Tuhkan, Cina banget.)

Kopmil Om Ping: sangat terkenal dan sudah membuka cabang di mana-mana

HARI 10: Padang

Sumatera Barat terkenal dengan cerita rakyat Malin Kundang dan kisah perjodohan Siti Nurbaya.

Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu dapat ditemukan di Pantai Air Manis, bersama kapalnya yang terdampar di pinggir pantai. Baik batuan kapal maupun Malin Kundang, sudah tidak sempurna lagi karena terkikis air laut.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Pantai Air Manis: bisa menyebrang ke Pulau Pisang hanya dengan berjalan kaki karena ada daratan di antaranya (disebabkan oleh pertemuan dua arah ombak)

Kuburan Siti Nurbaya dapat ditemukan di Gunung Padang. (Lebih cocok disebut bukit daripada gunung.) Sebelum sampai di puncak, ada sebuah turunan menuju kuburan tersebut. Saya tidak punya cukup nyali untuk mengunjunginya karena lokasinya sedang sepi waktu itu.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Menuju kuburan Siti Nurbaya dan puncak Gunung Padang

Yang tak kalah terkenal dari dua tokoh tersebut adalah fakta bahwa mereka tidaklah nyata. Hanya legenda. Hanya karangan yang dikarang sangat hebat oleh pengarangnya hingga memengaruhi orang-orang yang mendengarnya untuk membuat semacam peringatan akan cerita tersebut.

Kesedihan saya mengetahui cerita Malin Kundang tidaklah nyata seiring dengan kesedihan karena masih ada yang menganggap saya datang dari negara Tiongkok.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Ni hao!

HARI 11: Payakumbuh

Setelah hari sebelumnya bermain dengan panas dan matahari, di hari terakhir ini giliran dingin dan lembah. Tujuan terakhir: Lembah Harau.

Begitu memasuki daerah Payakumbuh, paduan warna hijau dan cokelat dari sawah dan lembah langsung menyambut. Angin pun menyentuh wajah dengan lembut tanpa ada sedikitpun bau asap kendaraan. Damai sekali.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Lembah Harau. Mencoba Lembah Echo, berteriaklah maka akan ada gema yang mengikuti. Membeli bunga anggrek, yang aslinya ditanam di tebing-tebing Harau. Bermain air di beberapa air terjun dari tebing Harau yang sangat tinggi. Berjalan-jalan dan mengagumi kemegahan Lembah Harau.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Air terjun dari salah satu tebing Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Mengagumi kemegahan Lembah Harau
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Masih tetap mengagumi Lembah Harau

Tujuan terakhir ini adalah penutup yang merangkum seluruh perjalanan di Sumatera Barat. Mengagumkan.

*

Dalam setiap perjalanan, pasti ada suka-dukanya, pasti ada manis-pahitnya. Duka dan pahitnya adalah keterasingan yang saya rasakan—karena kesalahan saya sendiri juga yang datang tanpa persiapan mental, bukan persiapan kerudung ya—dan hanya lima persen dari keseluruhan sabaleh hari kemarin. Suka dan manisnya adalah tanah Minang itu sendiri yang mengagumkan, membahagiakan, mendamaikan, dan mengajarkan saya untuk berani makan pedas.

Sawahlunto, Solok, dan Lima Puluh Kota belum dijelajahi. Melihat Lembah Harau, Payakumbuh butuh dijelajahi lebih lanjut. Ngalau Indah dan Tarusan Kamang katanya indah. Gunung Singgalang yang misterius sangat menantang untuk disambangi. Kepulauan Mentawai yang masih kental adat dan budayanya membuat penasaran. So, West Sumatra, it isn’t a good bye but just a see you later, is it?

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s