SATU TANGKAI EDELWEISS UNTUK MAMA

Hobi Mama memelihara berbagai jenis tanaman hias berdampak pada obsesinya untuk memiliki seikat edelweiss. Beberapa kali saya atau adik saya pergi naik gunung, pesan dari beliau hanya satu: Beliin Mama edelweiss ya, seikat aja. Dan berkali-kali pula saya bertitah bahwa edelweiss tidak boleh diambil apalagi dibeli (karena berarti sudah diambil secara ilegal oleh sang penjual). Tapi, karena hari ini Mama ulang tahun, setiap kebohongan yang pernah saya lakukan akan saya hargai satu tangkai edelweiss.

###

Tidur siang layaknya sebuah malapetaka bagi anak kecil karena harus menghentikan aktivitas bermain barang satu atau dua jam. (Sungguh, berbahagialah kamu yang masih punya waktu untuk tidur siang karena ketika dewasa, tidur siang adalah sebuah hadiah, indah dan sangat jarang didapat.) Dan hal itu pun terjadi pada saya. Waktu tidur siang saya bersamaan dengan jam tayang film-film India di televisi, yang sudah menjadi kegemaran saya karena tertular si Mbak yang suka menontonnya hampir setiap hari. Walaupun Mama tidak di rumah, tapi si Mbak tepat berada di hadapan saya dan kalau saya mangkir dari jadwal tidur siang, si Mbak bisa melapor kepada Mama. Jadi, tak ada gunanya memperdebatkan tidur siang dengan si Mbak. Saya masuk ke kamar, namun tetap gelisah. Guling-guling, bolak-balik, ingin nonton film India. Sekitar setengah jam kemudian, sebuah ide muncul. Saya mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit di bawah mata saya. Tahu kan seperti apa minyak kayu putih? Akhirnya mata saya menjadi lebih sipit, seperti orang baru bangun tidur, karena bau dan rasa diolesi minyak kayu putih. Ditambah acak-acak rambut sedikit, pasang muka agak lesu, kucek-kucek mata, masih membawa selimut, keluarlah saya dari kamar dan kewajiban tidur siang. Kok tidurnya cepet? tanya si Mbak. Iya, lagi gak bisa tidur. Dijawab dengan tetap lesu, tapi penuh kemenangan di dalam hati. Yes, film India! (Film India favorit saya adalah Mohabbatein.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Mudah bagi saya untuk masuk ke dalam peringkat 10 besar ketika duduk di bangku kelas satu dan dua SD. Mudah bagi saya, sebab mudah pula mencontek ketika ulangan berlangsung sehingga nilai saya bisa menjulang tinggi. Mudah untuk mencontek, sebab ada kolong di bawah meja untuk membuka buku cetak dan mencari jawaban dari soal-soal ulangan. Saya selalu belajar satu hari sebelum ulangan, Mama tahu itu. Tapi saya sering mencontek saat ulangan, saya rasa Mama tidak tahu soal itu.. (Untunglah, saya bertobat di kelas tiga SD, karena sudah tidak ada kolong lagi di bawah mejanya, dan perilaku mencontek yang saya lakukan bisa dihitung dengan jari sejak hari pertobatan itu hingga hari ini. Yang ini jujur, ya.) Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Kebiasaan selalu diantar dan dijemput membuat izin naik kendaraan umum adalah hal paling ribet untuk didapatkan dari Mama, dulu ketika saya duduk di bangku SMP hingga SMA. Kalaupun diizinkan, itu adalah keputusan yang terpaksa dan banyak wejangan yang dicurahkan. Ci, jangan lupa nomor taksinya BB ke Mama. Ci, kalo naik busway tasnya ditaroh di depan ya jangan di belakang. Dan untuk menghindari curahan wejangan itu, saya selalu mengatakan akan naik mobil teman untuk mencapai tempat yang dituju. Ma, nanti Cici naik mobilnya Marissa kok, dianterin papa-nya. Padahal yang saya lakukan adalah berpindah dari satu bus Transjakarta ke bus Transjakarta lainnya. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Prinsip saya adalah selalu jujur kepada Mama jika akan mendaki gunung. Dengan siapa saja, berapa hari, naik apa menuju ke daerahnya. Namun, dalam pendakian ke Gunung Prau, terjadi juga penodaan terhadap prinsip tersebut. Bilangnya, pergi berlima dengan tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Nyatanya, hanya pergi berdua dan perempuan semua. Bilangnya, sudah di basecamp tapi tidak bisa pulang di hari itu karena tidak keburu mengejar bus. Nyatanya, masih di atas gunung dan baru akan turun gunung esok harinya (syukur ada sinyal di atas gunung waktu itu). Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Ci, sudah sampai kost? Sudaah ma. Sdh makan malam dan mandi? Sudah ma. Ok, istirahat yah. Oke ma. Whatsapp dari Mama setiap hari sekitar pukul 18.00 dibalas dengan kebohongan hampir setiap hari. Pukul 18.00, saya masih di kampus dan belum ada niatan untuk pulang. Pukul 18.00, saya sudah makan siang dan tidak akan makan malam. Pukul 18.00, saya tentu belum mandi malam karena masih di kampus. Satu tangkai edelweiss untuk Mama. (Rasanya ingin memberi seribu tangkai karena kebohongan ini kemungkinan besar masih akan berlanjut hingga akhir kuliah.)

###

Mama yang cantik, yang awet muda, yang pintar, yang teliti, yang sabar, yang ramah, yang pandai memasak, yang cara makannya elegan, yang sangat suka sambal, yang rapih dan bersih, selamat ulang tahun.

Dan sejujurnya, saya tetap tidak bisa memberikan bertangkai-tangkai edelweiss untuk membayar kebohongan saya kepada Mama. Satu tangkai edelweiss untuk Mama.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s