TENTANG GUNUNG

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang sedikit orang yang ingin mendengar, tentang banyak orang yang bertanya-tanya apa tujuannya.

***

Semua berawal dari mendengar cerita pendaki lain. Entah secara langsung, melalui buku, ataupun melalui media sosial. Pendakian saya ke Gunung Prau adalah salah satunya, melihat foto-foto pemandangan gunung-gunung lain dari Bukit Teletubbies saat sunrise di Instagram menggugah semangat untuk sampai di gunung itu. Atau, cerita dari para senior yang telah mendaki gunung tertentu sebelumnya untuk melengkapi manajemen perjalanan dan logistik yang dibutuhkan.

Berlanjut ke masalah pangan. “Jauh-jauh ke gunung, kok masaknya masih Indomie sih,” tanggap seorang senior ketika junior-juniornya ini merebus beberapa bungkus Indomie untuk makan malam di Gunung Papandayan. Sejauh ini, makan di gunung memang sedikit lebih mewah daripada makan di kampus. Spaghetti bolognaise dan pudding mangga di Gunung Papandayan, chicken teriyaki dan chocolate fondue di Gunung Gede, chicken cordon bleu dan sup tom yum di Gunung Merapi. Walaupun Indomie rasa soto dengan telur tetap nikmat disandingkan dengan dinginnya malam di gunung, tapi apalah ia, seringkali hanya jadi pengganjal kekosongan di carrier. #janganjumawa

Sebelum mendaki Gunung Merapi, perasaan demot (demotivasi: kehilangan motivasi) terbesar akan dirasakan ketika packing. Melihat banyaknya barang yang akan dibawa, kemudian memasukkan ke dalam carrier, dan akan menggendong carrier itu dari kaki hingga puncak gunung. Rasanya keinginan untuk mendaki gunung harus dipertanyakan kembali.. “Ke pantai aja apa ya, bawaannya gak akan seberat ini.”, “Ya ampun, bawa apa sih gue, keranda mayat kali ya?!”, “Ini mah kalo gue duduk, juga yang duduk carrier gue bukan gue-nya.” Saya hanya berdua dengan teman saya, yang juga perempuan, ketika mendaki Gunung Prau. Berarti tenda, nesting, kompor, bahan makanan, air akan ada di pundak saya atau pundak teman saya, tidak ada pundak lainnya. Ketika selesai packing dan coba mengangkat carrier masing-masing, kalimat yang keluar setelahnya adalah: “Jalan-jalan di kota aja yuk, gak usah naik deh.” Tapi, toh, kami tetap berangkat mendaki juga, kami tetap membawa dan menjaga carrier dengan baik juga. Walaupun kami harus memperpanjang pendakian tersebut menjadi dua malam untuk menghabiskan bahan makanan karena tidak ingin pulang membawa beban berat lagi.

Carrier yang besar dan berat itu tentu akan menarik perhatian banyak orang jika digunakan di tempat yang tidak semestinya, seperti di kereta dan di halte TransJogja yang sempit. Memang sudah banyak pendaki yang naik kereta untuk mengantar mereka ke kota terdekat dengan gunung yang dituju, namun membawa carrier masih saja membuat kagum beberapa orang sampai terlontar pertanyaan: “Mau mendaki ke mana, Mbak?” Dan ketika dijawab, perasaan kagum itu akan berubah menjadi perasaan nostalgia. Waktu naik kereta menuju Jakarta setelah mendaki Gunung Merbabu, seorang bapak yang duduk di sebelah saya bercerita, setelah melihat saya membawa dan menaruh carrier di bawah kursi, bahwa ia bekerja di dekat Gunung Jayawijaya dan mendapat libur setiap 40 hari sekali. Waktu menunggu TransJogja di halte, mas penjaga halte bercerita bahwa temannya juga suka mendaki gunung dan ia tidak pernah ikut mendaki karena takut. Waktu di mikrobus menuju Wonosobo, seorang mas bercerita bahwa ia juga suka mendaki gunung saat kuliah, tapi sekarang ini sudah jarang karena tidak bisa libur seenaknya dari pekerjaan. Terakhir, ia mendaki Gunung Prau bersama istrinya beberapa bulan yang lalu. Ternyata, carrier yang mirip keranda mayat itu bisa menjinakkan ruang canggung di antara orang-orang yang tidak saling mengenal.

Dan, sampailah pada saat pendakian. Setiap gunung memiliki jalur masing-masing yang menjadikannya suatu cerita dan kenangan tersendiri. Pendakian ke Gunung Gede adalah pendakian miskom pertama saya. Karena banyak yang ikut, pendakian ini dibagi menjadi beberapa kelompok dan diusahakan untuk selalu bersama kelompoknya. Setelah pemberhentian di suatu pos, saya disuruh berjalan di depan tapi jangan lupa tengok ke belakang dan tunggu teman yang lain, begitu pesan dari senior saya. Tapi tampaknya, saya berjalan terlalu cepat dan lupa untuk mengecek keberadaan anggota kelompok yang lain sehingga saya sampai di Surya Kencana sekitar satu jam lebih cepat dari anggota lainnya. Yah, memang ini kesalahan saya dan tentunya tidak boleh terulang lagi. Pendakian ke Gunung Prau adalah pendakian malam pertama saya, hanya bersama seorang teman yang juga perempuan. Kaki yang sudah pencot (pencot: pegal, sakit, tidak fit seperti sedia kala) karena habis mendaki Gunung Merapi, pundak yang mulai lemas karena carrier yang berat, rasa takut yang entah akan apa bercampur menjadi satu. Ketika sampai di Bukit Teletubbies dan melihat ratusan headlamp menyala-nyala di dalam tenda yang sudah kokoh berdiri, hanya puluhan “Gila sih!!” yang mampu terucap dari mulut. Pendakian ke Gunung Merapi adalah pendakian di atas pasir pertama saya. Frustasi rasanya mendaki di atas pasir karena jika berpijak terlalu lama justru akan molos ke dalam dan jika menginjak bebatuan justru batu-batu itu akan jatuh ke bawah. Namun, rasa frustasi itu perlahan hilang ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di tengah perjalanan menuju puncak dan ketika saya sampai di puncak itu sendiri.

***

Ini adalah kisah tentang mendaki gunung; tentang kaki-kaki yang lelah, pundak yang terluka, nafas yang terengah-engah, tentang alam yang kemudian mengobati semuanya.

Terima kasih kepada Jejak Mollusca yang memberi banyak ilmu dan menemani setiap perjalanan, kepada Papa-Mama yang tetap mengizinkan anak perempuannya mendaki berbagai gunung di samping kekhawatiran yang luar biasa.

Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Papandayan, Jawa Barat
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Merbabu, Jawa Tengah
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Gede, Jawa Barat
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Gunung Merapi, Jawa Tengah
Processed with VSCOcam with lv03 preset
Gunung Prau, Jawa Tengah
Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s