BAPAK SAYA MEMANG ANEH

“Nanti kamu naik apa dari Stasiun Cikini ke TIM?”

“Ya, gampanglah. Bisa naik taksi kok.”

“Jangan naik taksi. Kamu jalan aja ke TIM dari stasiun, deket kok, kan tinggal lurus aja. Kalo naik taksi nanti harus muter lagi.”

“…Iya, nanti jalan kaki aja…”

***

Jarak dari Stasiun Cikini menuju TIM memang tidak sejauh itu dan dapat ditempuh dengan menggunakan kaki. Benar kata Bapak saya, kalau naik taksi memang akan muter lagi dan membuat jarak yang tidak jauh itu menjadi dua kali lipatnya. Saya tahu itu. Alasan “bisa naik taksi kok” yang saya gunakan adalah untuk mengurangi rasa cemas Bapak terhadap saya. Tapi, apa boleh dikata, Bapak saya memang aneh (dalam arti yang baik).

Bapak saya memang aneh. Tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik tapi kalau passportnya dibuka, cap-cap imigrasi dari banyak negara lain sudah tercantum di situ. Bapak adalah seorang pengusaha yang ulet, merintis usahanya dari pelanggan yang hanya bisa dihitung dengan jari sampai seperti sekarang, sering diajak melihat pameran mesin di luar negri secara gratis. Bapak tidak bisa bahasa Inggris, namun itu bukan penghalang. Masih ada bahasa Tarzan dan bahasa tubuh yang dapat digunakan. Dalam suatu perjalanan ke Korea Selatan, Bapak ingin memesan telur mata sapi pada sang koki tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya (karena tidak tahu bahasa Inggris dari telur mata sapi). Alhasil, yang keluar dari mulut Bapak adalah, “Egg… Eye… Cow…” Ngaco sengaco-ngaconya. Tapi yang tersaji di piring Bapak adalah sebuah telur mata sapi yang sempurna. Dalam perjalanan lain ke Cina, Bapak bahkan membawa kalkulator dagangnya ketika akan berbelanja di sebuah toko. Tawar-menawar terjadi dan Bapak selalu menang dengan harga yang bisa mencapai tiga perempat lebih murah dari harga yang ditawarkan sang empunya toko (yang kemudian bermuka muram). Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau tidak pernah takut mencoba. (“Pede aja kalo ngomong Inggris seadanya di luar negri, wong abis ini gak ketemu lagi kan. Salah-salah dikit gak apalah.”)

Bapak saya memang aneh. Definisi dari kata gengges yang sesungguhnya. (Gengges dalam kamus saya berarti melakukan sesuatu yang tidak penting tapi dianggap penting, mengganggu.) Pernah suatu kali, ketika berhenti di lampu merah, Bapak melihat seseorang berjualan roti dari kejauhan, lalu berkata, “Tuh ada yang jualan roti, Papa makan roti ah, pasti nanti gak ditawarin.” Kemudian Bapak benar-benar makan roti dan benar-benar tidak ditawari roti oleh penjual yang terlihat dari kejauhan itu. “Bener kan gak ditawarin,” kata Bapak. (Gak penting, kan?) Pernah juga, ketika makan di sebuah restoran, Bapak menggunakan serbet makan di kerah bajunya. Kebetulan, baju Bapak saat itu berwarna merah dan serbet yang digunakan juga berwarna merah. Makan berjalan lancar dan kemudian kami pulang. Tepat ketika akan masuk rumah, Bapak nyeletuk, “Lah kok ini serbetnya masih dipake?!” Dan semua hanyut dalam tawa. Bolehlah Bapak aneh, tapi lucu kan?

Bapak saya memang aneh. Diajak menemani ke mana saja pasti di-iya-kan. Bapak sering menemani saya nonton teater, bahkan kadang saya yang ketiduran dan Bapak yang bertahan sampai akhir. Bapak sering menemani saya nonton di bioskop, walaupun Bapak akan sering ketiduran kalau film yang saya pilih bukanlah  film action atau laga. Bapak pernah menemani saya melihat pameran di galeri, walaupun saya tahu keputusan itu dibuat dengan berat hati. Baru parkir mobil saja mukanya sudah tidak enak, tapi toh tetap ditemani. Sampai akhirnya, Bapak terpaku pada sebuah karya. Saya juga bingung kenapa Bapak melihat karya itu lama sekali. Ternyata, “Ci, ini fotoin dong. Ini Papa yang buat. Wah boleh juga nih dipajang di galeri gini.” Muka Bapak langsung berubah seratus delapan puluh derajat dan saya lega melihatnya. Tapi, Bapak tidak pernah menemani saya ke museum. Saya tidak pernah mengajaknya karena beliau sempat berkata begini, “Ngapain sih Ci ke museum? Apa coba yang dilihat?!” Bolehlah Bapak aneh, tapi beliau adalah teman saya yang paling setia, yang lebih memilih menemani saya daripada tak tega melihat saya pergi-pergi sendiri.

Bapak saya memang aneh. Sering menjadi penggugah tawa, tapi bisa juga menjadi pembangkit air mata. Setidaknya untuk saya. Melihat Ibu saya menangis, sudah biasa, walaupun saya akan turut sedih (bahkan meneteskan air mata) setelahnya. Melihat Bapak saya menangis, jarang sekali, dan akan mengiris hati saya. Melihat Bapak menangis, adalah hal terakhir yang ingin saya saksikan di hidup ini. Bapak adalah sosok yang humoris dan hal-hal kecil dapat membawa kebahagiaan untuknya, seperti tidur-tidur ayamnya yang hanya lima menit. Bapak adalah sosok pemimpi besar tapi tak lupa untuk percaya dan mewujudkannya menjadi nyata. Bapak adalah… Bapak. Yang tidak pernah saya bayangkan dapat menangis.

Bapak saya memang aneh. Tapi saya akan dengan sangat bangga untuk membicarakan Bapak saya, tentang pengalaman-pengalaman konyolnya saat sekolah dan kuliah, tentang kebersamaan dan kekompakan teman-teman kosnya, tentang kerja kerasnya membangun usahanya dari sekecil biji hingga mekar seperti bunga sekarang ini, tentang masa mudanya yang jomblo dan masa apel ke rumah Ibu, tentang kenakalannya dan hukuman-hukuman yang diberikan Oma, tentang keluarga kecil yang ia impikan, tentang anak perempuan dan anak laki-laki yang selalu ia ceritakan ke orang-orang. Tentang Bapak, yang aneh, tapi dilihat dari sisi manapun akan tetap menjadi suatu kebanggaan. (Saya akan sangat berterima kasih kepada orang yang berkata kepada saya, “Ceritakan soal bapakmu.”)

Bapak saya memang aneh. Tapi Bapak ulang tahun hari ini. Selamat bertambah usia, Pak. Ini bukan usia yang muda lagi, jaga makannya dan jangan suka sembarang jajan. Jangan kurangi keanehanmu, Pak, karena keanehanmu yang membuat banyak orang mencintaimu, yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang ini juga. Jangan bosan menjadi teman dan menemani saya, Pak, karena saya tak akan pernah bosan menjadi pengagummu. Jangan cerewet ya, Pak, kalau nanti sudah tambah tua dan pensiun, kasihan nanti Ibu. Sekali lagi, selamat menyandang usia baru, Pak, semoga apa yang dikatakan baik akan menjadi milikmu di usia ini.

Kangen Pak, kangen pulang malam lalu dijemput Bapak dan kita tetap menyempatkan makan nasi goreng kambing di pinggir jalan. Kapan-kapan lagi ya, Pak.

Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s