JAKARTA (BUKAN) CUMA SEBUAH BENCANA

“Jakarta itu kaya luar negri ya.” Untuk pertama kalinya, saya mengatakan hal itu ketika hari ini naik Transjakarta menuju Kota. Apa yang saya lihat selama di dalam bus dan apa yang saya lihat ketika naik kendaraan umum di luar negri, ya kurang lebih hampir sama. (Para wanita di bagian depan dan para lelaki di bagian belakang atau sebagain wanita dan sebagian lelaki berbaur di bagian tengah, yang beruntung bisa mendapatkan kursi lalu duduk dan menikmati perjalanan, yang kurang beruntung bisa berdiri memasrahkan nasib keseimbangan tubuhnya pada pegangan yang telah disediakan.) Kecuali macetnya. Kecuali orang-orangnya yang tidak mau bersabar sedikit untuk masuk ke dalam bus sehingga harus terjadi adu dorong. Kecuali trotoarnya yang digunakan sepeda motor bukan pejalan kaki. Kecuali…

Tujuan pertama hari itu adalah Museum Bank Indonesia. (Tidak ada alasan tertentu mengapa mengunjungi museum ini lebih dulu, ya karena museum ini yang buka paling pagi, yaitu 08.30, maka kami langsung melangkah ke sana.) Masuk ke gedung museum ini, kami disuguhkan dengan ruang-ruang seperti kamar berukuran kecil yang dulu digunakan untuk transaksi antara teller dan nasabah pada zaman Belanda. (Museum ini dulunya memang berfungsi sebagai bank, De Javasche Bank namanya.) Komunikasi antara teller dan nasabah selama transaksi berlangsung dipisahkan oleh jeruji-jeruji, bukan bertatap muka secara langsung seperti di bank-bank sekarang ini, mungkin untuk menghindari adanya perampokan atau hal lain yang tidak diinginkan. Di ruangan berikutnya, disajikan perjalanan uang mulai dari zaman Marco Polo hingga sampai di genggaman masyarakat Indonesia, hingga peredarannya dari zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, jatuh-bangun inflasi, krisis moneter, dan saat ini. Informasi yang disajikan cukup menarik dengan adanya diorama-diorama berukuran sebesar manusia (bukan dalam bentuk kecil seperti di Lubang Buaya) dan dikelompokkan per periode sesuai zamannya. Di ruangan lain, kami menemukan koleksi uang dari zaman kerajaan yang bentuknya hanya sebesar kancing baju hingga uang kertas dengan seri Jenderal Soedirman!

Diorama berukuran sebesar manusia - Peletakkan logo
Diorama berukuran sebesar manusia – Peletakkan logo “BI” setelah nasionalisasi De Javasche Bank
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Melihat uang logam 1 sen dengan bantuan kaca pembesar
Bagian tengah Museum Bank Indonesia
Bagian tengah Museum Bank Indonesia

Jika sudah menonton film Comic 8, pasti tidak asing dengan setting-nya, yaitu di bank. Bank yang digunakan sebagai latar tempat film tersebut adalah Museum Mandiri. Museum yang terletak bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia ini terkesan lebih old dan lebih berasa vintage-nya. Terdapat banyak koleksi mesin tik, alat pemotong kertas, mesin penghitung uang, dan yang membuat saya sangat tertegun dan “waaah!” adalah lift pengantar surat! Lift ini sudah tidak berfungsi lagi, hanya ada kertas bertuliskan “Lift Pengantar Surat” di depannya sehingga saya tahu ini adalah lift pengantar surat. Lift ini letaknya di dalam tiang penyangga dan bisa mengantar surat naik ke atas atau turun ke bawah sehingga memudahkan komunikasi para pegawai. Itu hanya asumsi saya.

Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik
Koleksi mesin tik yang disusun secara menarik

Menyebrang sedikit, kami sudah sampai di Taman Fatahillah yang luas. Sebelum memasuki museum yang berisi sejarah kota Jakarta itu, kami memanjakan mata di Jakarta Artspace yang terletak di lantai dua Kantor Pos Fatahillah. Dibutuhkan beberapa lembar rupiah untuk menikmati karya seniman-seniman di pameran ini, yaitu Rp 25.000,00 untuk pelajar dan mahasiswa dan Rp 50.000,00 untuk umum. Seperti pada pameran lainnya, banyak karya seni yang, saya pribadi, tidak mengerti apa arti dan maksudnya namun ada juga karya seni yang membuat saya sadar dan terhenyuk. Tapi, itulah seni. Diinterpretasikan orang secara berbeda sesuai selera masing-masing, kan? Itulah juga mengapa saya suka melihat pameran seni. Tidak perlu orang yang pintar untuk menikmati seni. Kalau saya tidak mengerti seni yang Anda buat, bukan berarti saya bodoh, melainkan interpretasi seni saya yang berbeda dengan interpretasi Anda. (Ah, sudahlah.)

IMG_0200

IMG_0210

IMG_0216

Walalupun kaki sudah merengek ingin berhenti, kami tetap memaksa mereka untuk melangkah sedikit lagi menuju Museum Fatahillah. Sayangnya, museum ini baru saja selesai mengadakan konservasi sehingga banyak barang yang mungkin dipindahkan atau belom dikembalikan ke tempat semula sehingga banyak ruangan yang kosong atau tidak terisi secara lengkap. Meriam Si Jagur saja tidak terlihat di singgah sananya. Kami juga harus menggunakan sandal yang disediakan pengelola museum selama menjelajahi museum ini, entah apa maksudnya.

Bagian depan Museum Fatahillah
Bagian depan Museum Fatahillah

Pemberhentian terakhir adalah Museum Wayang. Sesuai dengan namanya, baru menjajakkan kaki di pintunya saja kami sudah disambut dengan wayang-wayang dari kisah Ramayana dan Punakawan. (Ternyata Bagong memang memiliki perut yang besar ya dalam bentuk wayangnya!) Selanjutnya, ada koleksi boneka Si Unyil dan kawan-kawannya, Si Jampang dan orang-orang Belanda, serta kisah Mahabharata. Sangat kecewa karena saya tidak bisa menemukan wayang Ekalaya.. Terdapat juga wayang-wayang dari luar Indonesia, seperti dari India dan Brunei Darussalam. Boneka-boneka kayu dari negara-negara Eropa juga menjadi koleksi Museum Wayang.

Koleksi boneka Si Unyil
Si Unyil dan kawan-kawan

Eksplorasi hari itu membuat saya yakin akan satu hal. Jakarta, bukan cuma sebuah bencana. Ya, mungkin Jakarta adalah sebuah bencana, tapi bencana yang akan segera usai, yang sudah menemukan titik terang untuk bangkit memulai hidup baru dari keterpurukan yang diakibatkan bencana itu. Jakarta adalah sebuah kebobrokan, tapi Jakarta juga adalah sebuah harapan. Harapan inilah, yang walaupun hanya sebesar biji jagung, harus dipertahankan untuk mengubah kebobrokan itu. Untuk menjadikan Jakarta sama kerennya seperti kota-kota besar di luar negri tanpa ada “kecuali…”.

Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga
Yang hari itu ikutan pegel-pegel juga: Novita dan Elga
Advertisements

Published by

Andrea Lidwina

mengejar matahari, mengagumi awan, mengindahkan senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s