BELITUNG DALAM SEGELAS KOPI SUSU

Minggu lalu saya berkunjung ke Belitung untuk reuni keluarga besar. Kunjungan itu bukan perkenalan pertama saya dengan pulau penghasil timah ini. Saya mengenalnya sejak membaca novel-novel karya Andrea Hirata, yaitu tetralogi Laskar Pelangi (2005-2008) dan dwilogi Padang Bulan (2011).

Dalam novel-novel itu, sang penulis selalu membumbui ceritanya dengan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat Melayu yang telah mengakar dan menjadi ciri khas Belitung, termasuk soal warung kopi. Misalnya, tokoh Ikal yang mengamati para pelanggan warung kopi milik pamannya, Usah Kau Kenang Lagi, yang lebih senang minum kopi di warung itu ketimbang di rumah masing-masing.

Sudah sampai di sana, saya tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan Belitung di warung-warung kopinya.

*

Warung Kopi Kong Djie
Warung Kopi Kong Djie sudah membuka 18 cabang di Belitung dan beberapa cabang di kota-kota lain

Saya mampir ke warung kopi Kong Djie di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung. Warung yang sudah menyeduh kopi sejak 1943 ini tampil dalam kesederhanaan. Tempat yang tidak terlalu luas, meja dan kursi tanpa sandaran yang terbuat dari kayu, menggunakan pendingin ruangan alami, dan gelas-gelas kaca rumahan untuk menyajikan kopi. Walaupun sederhana, warung kopi ini selalu terisi penuh oleh para pelanggannya. Saya dan Bapak pun ‘menumpang’ di meja yang telah bertuankan dua orang bapak-bapak. “Silakan, silakan,” kata mereka menyambut kedatangan kami.

Tak begitu lama, pesanan saya tiba di atas meja: segelas kopi susu. Dalam satu gelas ini, terlihat susu kental manis di bagian bawah dan kopi di bagian atas yang belum diaduk, mungkin ingin membebaskan pelanggan menentukan sendiri volume susu yang pas untuk menemani pahitnya kopi. Karena saya bukan peminum kopi kelas berat, semua elemen yang ada di dalam gelas ini saya aduk rata menjadi sebuah kesatuan. Namun, meskipun telah menjadi satu, rasa kopinya tetap jauh lebih dominan, berbeda dengan kopi susu milik Kopi Es Tak Kie di Glodok, Jakarta Barat yang lebih membaurkan rasa kopi dengan susunya. Rasa kopi yang mendominasi itu berasal dari biji-biji kopi yang ditanam di Lampung (Belitung tidak punya kebun kopi) dan sudah melalui dua kali proses penyaringan. “Biar gak ada ampasnya, Dek,” ucap Ibu Pembuat Kopi sembari menuang kopi dari satu teko ke teko lainnya.

Warung Kopi Kong Djie
Ibu Pembuat Kopi sedang menuang kopi yang telah disaring ke teko-teko tinggi khas Warung Kopi Kong Djie
Warung Kopi Kong Djie
Segelas kopi susu di warung kopi ini dihargai Rp10.000,00

Sayangnya, jadwal acara reuni yang padat membuat saya harus buru-buru menghabiskan segelas kopi susu itu, meskipun bukan begitu seharusnya menikmati kopi di Belitung. Satu teguk kopi tampaknya selalu diikuti dengan obrolan panjang antarpelanggan, seperti dua orang bapak-bapak yang mejanya saya ‘tumpangi’ ini. Sedari tadi, mereka membicarakan soal Ketua DPR RI yang ditangkap atas tuduhan kasus korupsi, dilanjutkan dengan kondisi politik di Belitung menghadapi Pilkada tahun depan.

Warung Kopi Kong Djie
Bapak-bapak yang sibuk membicarakan masalah politik di Belitung dan tingkat nasional
Warung Kopi Kong Djie
Salah satu pelanggan yang tengah menikmati segelas kopinya

“Budaya ngopi di Belitung memang kuat sekali,” kata Mas Theo yang memandu tur dalam reuni kali ini. Menurutnya, warung kopi berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya informasi dan sosialisasi bagi masyarakat Belitung. Tak heran jika siapa saja bisa duduk berjam-jam di warung kopi dan membicarakan apa saja, mulai dari gosip tetangga hingga masalah politik. Saya jadi teringat tokoh Maryamah dalam salah satu novel Andrea Hirata, Cinta di Dalam Gelas, yang ingin mengalahkan mantan suaminya Matarom dalam turnamen catur. Ia langsung menjadi topik perbincangan di warung-warung kopi karena perempuan menantang laki-laki masih dianggap tabu.

Berbeda dengan Belitung, warung-warung kopi di Jakarta, yang umumnya modern dan disebut coffee shop, justru menjadi pilihan orang-orang ketika ingin ‘menyendiri,’ alias tidak ingin diganggu orang lain karena sedang me time atau harus berkonsentrasi menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Keinginan itu bisa diakomodasi oleh kebanyakan coffee shop melalui koneksi internet gratis, tempat duduk nyaman, dan ruangan dingin. Oleh karena itu, biasanya setelah memesan kopi, setiap orang hanya akan fokus memerhatikan gawai di hadapan mereka, tanpa memedulikan pelanggan lain di sekelilingnya. Saya pun terkadang menjadi bagian dari orang-orang itu, bahkan ditambah memasang earphone dan mendengarkan lagu. Sementara itu, fungsi sosialisasi yang dipegang warung kopi Belitung telah menjelma menjadi media sosial bagi masyarakat Ibu Kota. Sebab, interaksi lebih banyak ditemukan di ponsel pintar dalam bentuk follow, like, dan comment daripada percakapan antarmanusia.

Kopi dan obrolan hangat masih akan menghidupi warung-warung kopi di Belitung dalam jangka waktu lama. Pemerintah setempat yang belum mengizinkan pendirian mal berarti belum pula membuka pintu masuk bagi coffee shop yang telah menjamur di Jakarta untuk membuka cabang di pulau ini. Dengan demikian, Belitung masih dapat dirasakan dalam segelas kopi susu, atau mungkin lebih.

*

Kalau ada kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Belitung, tepatnya ke Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Saat saya melintas di jalan utamanya dalam perjalanan menuju Gantung, warung-warung kopi yang lebih sederhana berjejer di sepanjang jalan. Wilayah yang dijuluki Kota 1001 Warung Kopi ini pasti kaya dengan obrolan-obrolan menarik.

Advertisements

BELAJAR BINTANG DI BOSSCHA

Di film Petualangan Sherina (2000), Sherina dan Sadam bisa langsung masuk ke salah satu rumah teleskop di Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat untuk bersembunyi dari para penculiknya. Akan tetapi, adegan itu hanya terjadi dalam film.

Ternyata, saya perlu mendaftar sebagai peserta beberapa bulan sebelumnya untuk berkunjung ke tempat peneropongan benda langit ini. Saya tidak bisa datang begitu saja sebab Observatorium Bosscha bukan sekadar tempat wisata.

***

Alasan saya berkunjung ke Observatorium Bosscha memang karena film musikal karya Riri Riza itu. Saya ingin menghidupkan kembali kesenangan yang saya rasakan ketika pertama kali menonton petualangan yang dilalui Sherina dan Sadam. Namun, sesampainya di sana, saya justru lupa dengan dunia yang dibangun dua tokoh tersebut, setelah melihat teleskop Zeiss.

Rumah teleskop Zeiss
Rumah teleskop Zeiss sering dikira sebagai Observatorium Bosscha, padahal observatorium ini adalah sebuah kompleks yang terdiri dari sekitar 20 teleskop. Foto oleh Michael Tanuhardjo.

Teleskop Zeiss adalah teleskop paling besar yang dimiliki Bosscha dan ditempatkan di rumah teleskop yang gedungnya sangat ikonik. Panjangnya yang mencapai atap gedung menyiratkan kesan megah dan angkuh kepada siapa saja yang melihat dan menggunakannya (perlakuan secara khusus dan hati-hati pun diperlukan teleskop ini). Kesan itu pula yang membuat saya membatin Waaah sepanjang penjelasan oleh Mbak Pemandu dan semakin penasaran benda-benda langit apa saja yang bisa dilihat dengan bantuan teleskop ini. Sayangnya, hujan rintik-rintik mewarnai kunjungan saya malam itu sehingga teleskop Zeiss tidak dibuka untuk peneropongan (teleskop ini dan beberapa teleskop lain menggunakan bantuan listrik, jadi jika digunakan saat hujan sekecil apapun, kemungkinan bisa menyebabkan korslet).

Akan tetapi, menurut Mbak Pemandu, teleskop Zeiss belum tentu pula digunakan untuk meneropong benda langit meskipun langit sedang cerah. Teleskop ini baru akan digunakan saat ada objek yang ingin diamati dan diteliti aktivitasnya. Satu sisi dari atap gedung akan terbuka selebar dua meter, kemudian teleskop megah ini mulai menunjukkan rupanya kepada langit malam. Sisi atap yang terbuka maupun teleskop Zeiss tidak hanya terpatok di satu arah, keduanya bisa diputar sesuai dengan kebutuhan. “Kubahnya kan terbuka ke samping, terus bisa diputar ke arah barat atau timur, tergantung (letak) objek yang mau diamati,” kata Mbak Pemandu. Pasti mengagumkan sekali kalau teleskop Zeiss sedang beraksi.

Jika tidak sedang digunakan, teleskop Zeiss hanya ditemani oleh suasana rumah teleskop yang tampak tidak beradaptasi dengan zaman sekarang. Komputer dengan layar tabung, meja kayu dengan banyak laci (persis milik Opa saya), dan tuas-tuas untuk menyalakan listrik. Barang-barang itu, ditambah hawa dingin Lembang, membuat saya seperti terjebak di era 1990-an. Suasana yang demikian bukan dipertahankan untuk kepentingan tertentu, tetapi Observatorium Bosscha termasuk objek vital nasional yang tidak boleh dirombak secara besar-besaran. “Hal-hal yang minim boleh diganti, seperti lampu, tambah teleskop juga boleh,” tutur Mas Pemandu yang menjaga rumah teleskop Bamberg.

Kunjungan saya ke Observatorium Bosscha bukan pengalaman yang terbaik. Idealnya, ada empat kegiatan peneropongan yang dilakukan, namun saya hanya mencoba satu kali ke arah Bulan.  Kesimpulan dari Mas Pemandu, hal itu disebabkan oleh cuaca sekarang yang tak lagi bisa diprediksi. “Dulu kita buka kunjungan Oktober karena bulan segitu biasanya masih cerah. Sekarang, April saja bisa tiba-tiba hujan.” Selain itu, Lembang yang makin berkembang dengan permukiman penduduk juga meningkatkan polusi cahaya. Polusi ini bisa berasal dari lampu jalan atau lampu di depan rumah yang cahayanya mengarah hingga ke langit. Dengan kondisi-kondisi tersebut, langit di Lembang menjadi tidak ideal untuk pengamatan dan penelitian bidang astronomi.

Rumah teleskop Zeiss pada malam hari. Karena hujan, tidak ada bintang yang terlihat malam itu. Foto oleh Michael Tanuhardjo.

“Makanya, kita mau bikin observatorium baru, bukan memindahkan Bosscha loh ya, Bosscha tetap ada di sini, kemudian ada lagi di Amfoang, NTT. Rencananya, 2020 mulai beroperasi,” jelas Mas Pemandu.

***

Bintang-bintang di langit
Namamu indah
Canopus, Capella, Vega

Sher, Dam, ternyata ada satu bintang lagi yang namanya perlu diingat, yaitu VY Canis Majoris. Bintang ini berukuran paling besar di antara semua bintang yang telah diketahui dan kalau dikelilingi dengan pesawat terbang bisa memakan waktu 1.100 tahun! Pancaran sinar bintang sebesar itu pasti bisa menerangi jalan kalian.

____
Kunjungan saya ke Observatorium Bosscha beberapa waktu lalu tepat dengan hari terakhir kunjungan di 2017. Setiap tahun, pihak pengelola akan merilis tanggal-tanggal kunjungan (biasanya pada April-Oktober) yang bisa dilihat di sini. Cobalah berkunjung pada Juni-Agustus untuk kemungkinan langit cerah yang lebih besar. Jangan lupa juga mendaftar sebagai peserta. Ketika saya menelepon pada pertengahan Agustus untuk mendaftar, slot yang tersisa tinggal hari terakhir di Oktober.

JURU RAWAT ROL FILM DI SINEMATEK

Kalau film Janji Joni (2005) dibuat sekuelnya, mungkin ambisi Joni untuk mengantar rol film antarbioskop dengan tepat waktu telah berubah, yaitu untuk merawat dan melestarikan rol film tersebut di Sinematek Indonesia.

Sekuel film itu memang tidak pernah ada, tetapi saya bertemu seseorang yang serupa dengan Joni, memiliki kesetiaan dan kecintaan yang besar terhadap profesinya, ketika berkunjung ke pusat pengarsipan film Indonesia itu. Namanya Pak Firdaus, salah satu karyawan yang sudah bekerja di sana sejak 1996.

Pak Firdaus di salah satu sudut ruangan di Sinematek Indonesia (basement Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail), Jakarta Selatan

Hampir setiap hari, Pak Firdaus mengatur suhu dan kelembapan ruangan penyimpanan rol film (film vault) agar selalu dalam kondisi ideal. Saat saya masuk ke ruangan itu, hawa dingin langsung menyergap, sebab suhu hanya boleh berputar pada angka 10 dan 11 derajat Celcius. Sementara untuk kelembapan ruangan, persentase yang seharusnya masih sulit dicapai. “Idealnya itu maksimal 45 persen, tapi karena Indonesia negara tropis, paling maksimal hanya bisa 55 persen,” kata Pak Firdaus.

Di film vault ini, suasana yang terbangun cenderung mencekamsunyi, dingin, dan remang-remangjauh dari kesan mentereng seperti waktu pemutaran perdana dan penayangan film di bioskop. Akan tetapi, dalam suasana yang demikian, saya masih bisa mendapati sisa-sisa kejayaan ratusan film Indonesia mulai dari 1935 hingga 2015 melalui usaha Pak Firdaus (dan kawan-kawannya dulu) menyusun rapi rol-rol film beserta poster-posternya dalam setiap rak.

“Hampir semua film di sini sudah saya tonton, tapi paling ingat cerita film-filmnya Usmar Ismail, Tiga Dara (1957) lah paling suka,” tutur Pak Firdaus sambil menunjukkan rol film favoritnya.

Selesai bercengkerama dengan film vault, Pak Firdaus mengajak saya menuju meja kerjanya yang bertuliskan ‘Perawatan Film.’ Sesuai dengan tulisan di meja itu, Pak Firdaus biasanya merawat rol film dengan menetralkan kondisi asam agar tidak terlalu tinggi menggunakan Trichloroethylene (TCE). “Kalau film terlalu asam, nanti pitanya akan bergelombang, kemudian mengkristal. Kalau sudah begitu, film sudah rusak dan gak bisa diputar lagi,” jelas Pak Firdaus. Kondisi asam sendiri bisa disebabkan oleh kelembapan ruangan yang tidak ideal, bisa juga dari film negatif yang disimpan bersama dengan film positif atau siap rilis (gambar dan suara sudah menjadi satu).

Ketika melihat proses penetralan ini, saya sempat bingung mengapa Pak Firdaus dengan mudahnya memotong dan menyambung beberapa bagian pita film. Ternyata, kadang ada bagian-bagian yang tidak bisa diselamatkan dan harus dibuang. Lalu, pita film sebelum dan sesudah bagian yang dibuang perlu disambung lagi. Namun, buang-sambung pita film ini tidak bisa sembarangan dilakukan. Pak Firdaus perlu menghitung dan mengukur jumlah frame, panjang pita film, dan durasi detik yang dibuang, juga keseluruhan rol film. Karena tidak ada perhitungan pastinya, ia membaca berbagai buku dan menonton video-video di YouTube hingga menghasilkan sebuah rumus baru yang tercatat apik di bukunya.

Kesetiaan dan kecintaan Pak Firdaus terhadap profesinya telah memperpanjang umur rol-rol film yang diarsipkan di Sinematek Indonesia, bahkan beberapa film kini mulai memasuki proses digitalisasi. Sayangnya, Pak Firdaus belum bisa menularkan rasa cinta itu sebab belum ada penerus yang akan mengisi kursi ‘Perawatan Film’ setelah dirinya. “Dulu saya bertujuh dengan kawan-kawan, semua pada pensiun, sampai tinggal saya sendiri. Saya sebentar lagi juga pensiun, tapi gak tahu ini siapa yang meneruskan.”

Mendengar pernyataan itu, saya ingin berterima kasih kepada Pak Firdaus. Dari sekian banyak kegiatan yang berhubungan dengan film, ia menambatkan hati pada kegiatan pengarsipan, sehingga generasi saya masih bisa menyaksikan film-film besutan Usmar Ismail, Teguh Karya, Nya’ Abbas Akup, atau Chaerul Umam, begitu juga sebaiknya bagi generasi yang lahir hingga 20 tahun mendatang. Sebab, bagi saya, pengarsipan bukan hanya perkara bisa menonton film lama. Ada pola kehidupan di dalam film yang bisa dimaknai, ada goresan prestasi yang buktinya tak boleh hilang di negeri sendiri.

Poster film November 1828 (1979) karya Teguh Karya yang ditempel bersama poster-poster film lainnya di dinding Sinematek Indonesia

Jabatan ‘Juru Rawat Rol Film’ di Sinematek Indonesia tidak selamanya dipegang Pak Firdaus. Oleh karena itu, semoga selalu ada sosok yang dengan senang hati mengisi jabatan tersebut dan setia merawat setiap rol film yang tersimpan di pusat pengarsipan film Indonesia ini, seperti apa pun zamannya.

CERITA DARI ALAS KAKI

Saya memiliki sepasang sepatu yang saya gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Setiap pengalaman yang saya lalui, turut ditapaki juga oleh sepatu ini. Warna netral pun menjadi pilihan saya untuk si alas kaki agar selalu cocok dengan setelan-setelan pakaian yang saya pakai. Oleh karena itu, bagi saya, sepatu bukan hanya sebuah fashion statement, melainkan cerita dan kenangan.

Dalam tiga tahun terakhir, saya memiliki tiga sepatu kesayangan dengan periode waktu yang berbeda-beda. Saya akan menggantung sepatu ketika si alas kaki tidak lagi layak untuk digunakan, seperti bagian bawah yang bolong (terutama di bagian tumit karena kebiasaan saya berjalan dengan diseret) dan bagian samping yang robek (karena telapak kaki saya berbentuk lebar). Kemudian, tibalah saatnya membeli sepatu baru, menapaki tanah, jalan, dan lantai lainnya, dengan tetap menyimpan cerita dari sepatu sebelumnya.

***

Converse, Chuck Taylor All Star

Sekitar 2011, teman-teman saya mulai memiliki Converse dan terlihat keren menggunakannya. Mengikuti tren tersebut, jadilah saya membeli sepatu merek ini. Saya memilih warna abu-abu muda dengan foxing stripe warna gradasi kuning-biru (beberapa kali dicuci, gradasi itu mulai pudar hingga tersisa warna kuningnya saja).

Namun, pada masa itu, saya lebih senang menggunakan flat shoes sehingga sepatu ini hanya dipakai ketika bepergian yang membutuhkan banyak jalan kaki, salah satunya ke Tembok Besar Tiongkok. Ketika mengunjungi tembok raksasa ini, saya hanya diberi waktu dua jam. Saya langsung naik sendirian, berusaha mencapai pos terjauh, tetapi lupa membawa minum. Sepatu ini mendukung misi itu dengan tidak memberatkan kaki saya saat melewati setiap anak tangga yang tingginya berbeda-beda. Akhirnya, setelah benteng ketiga, saya berhenti karena sudah lelah, dehidrasi, dan harus menyisakan waktu untuk kembali turun ke pos awal. Seorang bapak tua pun tertawa dan berbicara dalam bahasa Mandarin sambil menunjuk ke arah saya, pasti karena muka saya memerah dan nafas saya yang ngos-ngosan. Meskipun misi tidak terselesaikan, saya telah meninggalkan banyak jejak sepatu saya di tembok terpanjang di dunia itu.

Kenangan terakhir saya akan sepatu ini adalah Brown Canyon, Semarang pada 2015. Saya bersama teman-teman berada cukup lama di area tambang ini, berfoto-foto sambil menunggu matahari terbenam. Dalam kurun waktu tersebut, angin kencang yang berhembus sore itu menerbangkan banyak pasir dan debu memasuki sepatu saya yang mulai bolong. Hingga pulang ke Jakarta, benda-benda kecil itu bertahan di dalam sepatu saya yang membuatnya tak nyaman lagi untuk digunakan.

*

Vans, Suede & Suiting Era

Saya jatuh hati sejak pertama kali melihat Vans ini. Bagian vamp (depan) berwarna biru muda polos dan bagian quarters (tengah ke belakang) dihiasi beberapa jenis corak yang juga berwarna biru muda. Menghadirkan Vans yang klasik, tetapi tidak mainstream.

Sepatu ini tidak mencapai tempat-tempat fenomenal seperti yang sebelumnya, namun si alas kaki menjadi saksi pergolakan kultur ketika saya berkunjung ke Sumatera Barat. Bahasa Minang yang sulit saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alasannya. Terlepas dari itu, saya bisa berbaur dengan budaya Minang lainnya, seperti makanan. Sepatu ini pun berbaur dengan pakaian adat Minang yang saya coba di Istano Basa Pagaruyung, Tanah Datar. Karena hanya pakaian yang disewakan, jadilah saya menggunakan sepatu ini untuk berkeliling dan berfoto ria. Perpaduan antara budaya tradisional dan modern yang cocok, bukan?

Cerita bersama sepatu ini ditutup dengan buruk sebab harus meninggalkannya di Jepang pada 2016. Hari itu, seluruh Jepang diguyur hujan. Sepatu saya pun basah hingga ke bagian dalamnya, membuat penampakan si alas kaki tak menarik untuk dilihat maupun layak untuk digunakan. Dengan kondisi itu, menyusuri toko-toko di sepanjang Ginza, Tokyo juga menjadi tidak nyaman. Akhirnya, dengan berat hati, saya membeli sepatu baru. Besoknya, saat hendak pulang ke Jakarta, Bapak saya mengambil foto sepatu ini sebagai kenang-kenangan, lalu saya memandanginya selama beberapa saat (dan mengucapkan salam perpisahan dalam hati) sebelum keluar dari kamar hotel.

*

Vans, Classic Slip-On

Inilah sepatu yang saya beli di Jepang untuk menggantikan Vans sebelumnya. Saya memilih sepatu ini karena paling sesuai dengan selera saya, dibanding sepatu lainnya di toko itu, dan ingin merasakan tidak perlu repot mengikat tali sepatu.

Bersama sepatu ini, saya lebih banyak menjelajahi Jakarta, mulai dari Pekojan, Pelabuhan Sunda Kelapa, sampai Cilincing. Bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan kendaraan umum yang jarang saya naiki, dan memperluas jejak sepatu saya di berbagai pojok ibukota.

Selain itu, saya juga memasuki gedung-gedung penting di kota metropolitan ini, seperti Balai Kota dan Kompleks Parlemen, ketika magang sebagai reporter Tempo beberapa waktu lalu. Saya meliput konferensi pers, berkenalan dengan reporter berbagai media, kemudian menunggu narasumber yang sama. Terkadang, saya keluar dari gedung tersebut tidak hanya dengan berita, melainkan injakan kaki secara tidak sengaja dari reporter lain saat mengejar narasumber yang tak mau bicara. Sepatu ini telah menjadi saksi bisunya.

Karena masa magang telah selesai, saya dan slip-on berwarna hitam ini kini kembali ke rutinitas mahasiswa, menapaki jalanan Kutek sambil membeli jajanan dan mengunjungi tempat-tempat lain di Jakarta guna membuat rangkaian cerita terakhir bersama.

***

Cara saya menyayangi sepatu adalah dengan menggunakannya, bukan dengan memajangnya di rak sepatu. Jadi, walaupun si alas kaki berakhir dengan penampakan yang kumal, perjalanan yang dilaluinya selesai dengan indah dan terus teringat.

HARI MERAH PUTIH

Sejarah adalah guru, saya percaya itu. Menatap masa lalu untuk menata masa depan, saya juga setuju dengan pernyataan itu. Namun, rasanya tidak perlu pula diartikan secara harfiah: “Di usia 26 tahun, Soekarno sudah mendirikan Partai Nasional Indonesia. Kita usia 26 tahun ngapain? Paling posting-posting di Instagram.”

Di masa Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, hampir seluruh pemuda berpikir dan berjuang untuk memerdekakan Indonesia dari kaum penjajah. Salah satu jalan yang bisa mengakomodasi tujuan tersebut adalah dengan mendirikan partai yang kemudian memiliki kapasitas untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu. Kini, di masa Indonesia telah 72 tahun berdiri sebagai sebuah negara, kemerdekaan yang diyakini setiap warganya tidaklah sama, begitu pun dengan perjuangannya. Oleh karena itu, kebiasaan mengunggah sesuatu di Instagram tidak seharusnya digeneralisasi sebagai kegiatan yang sepele, mungkin itu adalah cara seseorang untuk memerdekakan diri agar tidak melulu menjadi tanggungan orangtua.

Zaman bergeser, teknologi berkembang, generasi beralih, kepentingan berubah, dan rezim berganti. Apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan perlu dipandang secara kontekstual, kedua masa ini tidak bisa disamakan begitu saja.

(Kepada Mas Pemandu Museum yang melontarkan pernyataan harfiah di atas, kemudian pernyataan serupa beberapa kali lagi dalam satu kali tur museum, bagi saya, Anda sudah memerdekakan saya dan orang-orang lain yang Anda pandu dari kebutaan sejarah. Tidak perlu menghadirkan kemerdekaan dalam bentuk yang besar dan mewah, dalam bentuk yang sederhana pun sudah memberikan arti yang cukup. Namun, Anda punya keyakinan sendiri tentang kemerdekaan yang tidak boleh saya ganggu gugat juga. Selamat berjuang memperoleh kemerdekaan lainnya, Bung!)

###

Foto-foto di bawah ini bukan ingin memutlakkan cara untuk merayakan 17 Agustus, hanya bentuk kerinduan saya akan lomba-lomba yang akrab saya ikuti dan amati di komplek perumahan (kecuali tong setan, ini pertama kalinya saya melihat aksi ajaib itu), tetapi sekarang sudah tak diadakan lagi.

Lomba membaca teks proklamasi atau lomba panjat pinang, keduanya adalah pilihan. Tidak perlu ada yang dinomorduakan karena bagaimana cara seseorang memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak menjadi tolok ukur ke-Indonesia-an orang tersebut.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Lomba anak-anak di Tanah Rendah, Jakarta Timur

Panjat Pinang Massal di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara

Tong Setan di Festival Aku BerIndonesia, Radio Dalam, Jakarta Selatan

JAKARTA KALA BERJALAN KAKI

Jakarta dan jalan kaki tampaknya bukan lagi kata-kata yang asing untuk dipasangkan. Trotoar yang semakin lebar dan jembatan penyeberangan orang yang semakin banyak membuat saya bisa menyelami Jakarta dalam hitungan yang lebih lambat: menikmati segala yang ditawarkan kota ini.

***

Saya mencoba jalan kaki yang lebih terarah dengan mengikuti Jakarta Walking Tour. Tur ini dipimpin oleh seorang pemandu, bermodalkan kaki sendiri, kemudian mengelilingi Jakarta dengan rute-rute tertentu—karena Jakarta tak akan habis dalam satu kali tur perjalanan. Rute yang disediakan pun mencakup daerah-daerah yang familiar bagi penghuni Jakarta, yang membuat saya tak ragu mendaftarkan diri sebagai peserta. Pasti ada yang saya lewatkan ketika mengunjungi daerah ini dengan kendaraan!

Jalan kaki menyusuri Jakarta

Hal-hal terlewatkan inilah yang akan memberikan oh moment bagi para peserta tur berjalan kaki ini, begitu menurut Mas Candha, salah satu pemandu Jakarta Walking Tour waktu saya ikut rute Cikini. Oh moment menjadi tanda para peserta mendapatkan cerita baru tentang Jakarta sehingga tidak selalu memberikan cap macet parah, panas banget, dan penuh dengan mall pada sang ibu kota negara ini.

Saya pun merasakan momen, “Ooh, ada juga yang kaya gini,” saat mencoba es krim Tjanang yang dijual di sebuah rumah makan di depan Taman Ismail Marzuki—padahal saya secara reguler mengunjungi TIM, tapi tidak pernah tahu ada es krim ini. Es krim Tjanang kini dijual dalam kemasan plastik yang dititipkan di satu lemari pendingin di rumah makan tersebut. Papan nama es krim Tjanang pun berukuran kecil sehingga jarang terlihat jika melewatinya dengan kendaraan. Es krim ini berjenis sorbet dan menonjolkan rasa-rasa warisan sejak dulu, seperti cokelat, ketan hitam, dan kacang hijau. Jenis sorbet membuat teksturnya menjadi padat sehingga sulit dikeruk dengan sendok ketika baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Oleh karena itu, saya membiarkan es krim rasa ketan hitam yang saya beli hari itu berada di bawah sinar matahari agar segera mencair dan bisa menyantapnya.

Es krim Tjanang rasa ketan hitam yang disajikan dalam kemasan plastik seharga Rp13.000,00

Selain cerita sejarah dari tempat-tempat yang dikunjungi, subjektivitas pemandu turut menambah oh moment bagi para peserta tur. Subjektivitas itu hadir dalam bentuk pengalaman pribadi sang pemandu di tempat yang dikunjungi atau ketertarikannya dengan isu-isu yang berkaitan dengan tempat tersebut. Mas Indra—pemandu saya waktu ikut rute Molenvliet—pun membagikan riset dan pengetahuannya tentang kuliner saat saya dan peserta lain tiba di depan Pecenongan, surga bagi pencinta makanan. Pecenongan awalnya hanya dipenuhi dengan restoran chinese food, namun lama-kelamaan bisnis martabak mulai tumbuh di sepanjang daerah ini. Uniknya, kedai martabak di Indonesia biasanya menawarkan dua jenis martabak, yaitu martabak manis dan martabak asin. Sementara itu, banyak kedai di Singapura dan Malaysia yang menjual dua jenis martabak ini secara terpisah, martabak manis atau martabak asin (karena keduanya berasal dari negara yang berbeda, martabak manis dari Tiongkok dan martabak asin dari India). Dan untuk setiap fakta itu, saya hanya bisa kagum dan berkata, “Ooh gitu.”

Dari sekian banyak oh moment, yang membekas di ingatan saya ternyata merupakan hal-hal yang simpel dan cenderung sepele, namun luput diceritakan dalam buku-buku sejarah yang saya pelajari ketika duduk di bangku sekolah. Bisa mengingat oh moment tersebut tentu disebabkan juga oleh bias pribadi yang saya miliki, misalnya berkaitan dengan kebiasaan saya sehari-hari atau menjawab pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran saya. Secara garis besar, cerita-cerita yang menyebabkan oh moment itu semacam menjadi pemuas yang masuk akal atas rasa penasaran dan keheranan mengenai apa yang saya alami dan sedang berkembang di Jakarta sekarang ini. Dari rasa yang terjawab itu, saya bisa menyusun garis waktu dan membayangkan rupa-rupa Jakarta saat cerita-cerita itu terjadi—saat saya belum lahir—hingga Jakarta yang kini saya tinggali. Lalu, dalam rangka ingin terus mengingatnya, saya menuangkan cerita-cerita tersebut dalam obrolan dengan beberapa teman, juga dalam bentuk tulisan di blog ini.

Qolbi, salah satu teman yang sering saya ceritakan soal Jakarta Walking Tour dan akhirnya ikut dalam tur ini

Akan tetapi, saya tak akan menyangkal, mengikuti Jakarta Walking Tour dengan berjalan kaki selama hampir tiga jam membuat saya selalu mencari tempat duduk setelahnya. Sambil meregangkan kaki-kaki yang mulai dirambati rasa pegal dan menyeka keringat di sela-sela wajah, saya memutar memori kembali ke hal-hal yang baru saja terjadi dalam tur ini: keramahan sang pemandu dengan tidak menyelipkan unsur menggurui dalam bercerita dan kesediaan para peserta tur untuk mendengarkan tanpa intervensi yang sarat dengan unsur paling paham. Suasana hangat yang tercipta dalam waktu singkat ini akan selalu saya nantikan ketika saya hadir lagi sebagai peserta di rute-rute Jakarta Walking Tour lainnya.

***

Jalan kaki hanya salah satu cara untuk menikmati setiap percumbuan dan menyiasati setiap pertengkaran dengan Jakarta. Saya ingin mengerti seluk-beluk kota yang saya tinggali ini, juga memahami apa yang mengisinya dan apa yang tidak terlihat lagi di dalamnya, agar saya tidak memberikan jawaban yang membosankan ketika ditanya soal Jakarta.

Informasi mengenai rute dan waktu jalan Jakarta Walking Tour bisa dilihat di sini. Selamat menikmati Jakarta!