RASA UNTUK SEMERU

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa takut,
Terhempas di jalur berpasir menuju Mahameru,
Tertimpa batu-batu yang menggelinding dari Puncak Para Dewa,
Tersesat di jalur pendakian dan tak bisa pulang,
Akan kematian yang tak didambakan.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa sungkan,
Ketika pikiran dan tenaga tak lagi seirama,
Peluh dan lelah adalah riasan bagi setiap wajah,
Membebani bahu lain tidak menjadi pilihan,
Satu-satunya jalan pulang adalah terus mendaki.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa pilu,
Mendengar setiap mulut mengasakan sang Atap Tanah Jawa,
Melihat tetes demi tetes air mata menitik bersamaan dengan hujan malam itu,
Mengumpulkan kepingan hati yang tercecer karena mimpi tak lagi merekatkannya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa gamang,
Karena setiap cita dibangun di atas kaki sendiri,
Jangan berpegang pada kepala lain untuk mewujudkannya,
Potongan-potongan kejadian akan menamparmu,
Dengan keras hingga kau terbangun.

Processed with VSCO with hb2 preset

Semeru adalah tentang rasa suka,
Mengagumi keelokan alam dalam bingkai langit dan bukit,
Menghidupi hutan dengan aroma telur yang didadar,
Menertawakan kebodohan dengan sepantasnya.

*

Semeru, seharusnya, adalah tentang mengalahkan segala rasa,
Kegagahan dan kemegahannya mengecilkan kau dan aku,
Maka sampai padanya harus lebih dari rasa-rasa itu,
Semoga, di pendakian berikutnya.

BERKAWAN DENGAN PFN

Saya merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda. Kalau biasanya saya akan menonton film Indonesia di bioskop atau Kineforum di hari itu, kali ini saya merayakannya selama tiga hari dengan kawan baru saya: Studio Perum Produksi Film Negara (PFN).

Saat pertama kali berkenalan dengan PFN, saya merasa kasihan sekaligus kagum. Siapa yang tak merasa kasihan, gedung tua ini terlihat seperti gudang penyimpanan barang, berdebu, atapnya berlubang di beberapa bagian, lantainya pun tidak meyakinkan untuk dipijak. Namun, melihat rol-rol film yang diletakkan secara uwet-uwetan dalam sebuah kotak di salah satu sudut ruangan menghapus sedikit rasa kasihan saya. Rol-rol film itu menyadarkan saya, PFN bukan sekadar gedung tua, ia pernah menjadi sebuah adegan penting dalam perjalanan panjang film Indonesia. Waah, batin saya.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.54.37 AM
Persiapan pameran fotografi untuk perayaan Hari Film Nasional. Dulu, ruangan ini digunakan untuk proses cuci film sehingga masih terlihat tangki-tangki dan beberapa lemari untuk membantu proses tersebut

Menuju 30 Maret, berbagai usaha dilakukan untuk mempercantik dan mengembalikan PFN ke posisi adegan penting, tetapi beberapa orang yang telah mengenalnya lebih dulu tak bisa menyembunyikan kerapuhan kawan baru saya ini. “Kamu mau lihat itu banyak rol film di ruangan ini sampai sudah bau semua.” “Ini ruangan gelapnya sekarang buat kita simpan barang saja.” “Dulu pertama kali masuk ke sini, semua bau kimia karena untuk proses cuci film.” “Gak tau juga sih habis ini PFN mau dipakai untuk apa.”

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (3)
Pameran fotografi yang memanfaatkan sudut-sudut PFN

Akan tetapi, selama tiga hari perayaan Hari Film Nasional, kerapuhan PFN justru berhasil menjadi sorotan. Ada yang memfoto dan berfoto dengan kamera jadul beserta rol-rol film yang uwet-uwetan, ada yang penasaran dengan rupa ruangan gelap (dan harus kecewa karena sekarang hanya ruangan simpan barang), ada yang berusaha membangkitkan kembali kejayaan PFN seperti di masa lampau.

*

PFN memang sudah tua, memang sudah rapuh, penampakan gedung ini tak bisa berkata lain. Namun, ia juga tak perlu sendirian merasakan masa tuanya. Di era Menteri Penerangan masih berkuasa, ia adalah saksi bisu jatuh-bangunnya film Indonesia. Di masa kini, ia seharusnya tidak ditinggalkan, melainkan berjalan beriringan dengan film Indonesia yang tahun lalu mencapai lebih dari 36 juta penonton.

“Saya senang, hari ini PFN punya banyak teman, juga didukung pemerintah.” Perayaan Hari Film Nasional telah menghadirkan banyak kawan bagi PFN, tapi semoga ‘hari ini’ bisa berlaku setiap hari, bukan hanya satu tahun sekali.

Menutup cerita tentang kawan baru saya ini, saya senang bisa merayakan Hari Film Nasional tahun ini dengan berbeda dan mengenal sepenggal sejarah lagi tentang film Indonesia melalui PFN. Selamat Hari Film Nasional.

WhatsApp Image 2017-04-06 at 12.37.53 AM (2)
Ini kenang-kenangan dari PFN. Tapi, semoga PFN tidak sekadar jadi kenangan.

 

JALAN DIPONEGORO 31

Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco

Lagu ‘Poco-poco’ yang disetel dari kaset mengiringi senam sore Oma saya dan beberapa temannya. Di halaman belakang sebuah rumah tua yang tidak dihuni lagi, saya menonton gerak kaki yang lincah dan mendengar gurauan yang disambung tawa para oma, sambil menggaruk kedua kaki saya yang digigit pasukan nyamuk kebun.

Itulah rutinitas Oma di sore hari, sekitar lima belas tahun yang lalu. Selesai bersenam ria, beliau akan memboncengi saya di sepeda onthelnya menuju rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang.

***

Rumah itu hampir selalu menjadi destinasi saya saat liburan sekolah di bulan Juni. Saya biasanya sampai di depan rumah itu pada pagi hari, setelah menempuh perjalanan semalaman dengan bus dari Jakarta. Mbak Rum, ditemani dua ekor anjing peliharaan Opa dan Oma, akan membukakan pintu pagar bagi saya. Begitu saya menginjakkan kaki di rumah itu, liburan pun dimulai!

Seperti para oma yang pada umumnya ingin memanjakan cucunya, Oma saya pun demikian. Nasi tahu dan sate ayam serepeh kesukaan saya sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan kadang sudah siap di meja makan saat saya baru datang. Dua jenis makanan ini dijual di warung dekat stasiun yang sudah menjadi langganan Oma. Nasi tahu berisi nasi, tahu, tauge, bumbu kacang, dan dibungkus dengan daun jati. Sate ayam serepeh itu seperti sate ayam pada umumnya, tapi menggunakan kuah serepeh.

Aksi memanjakan cucu belum selesai sampai di situ. Biasanya di hari selanjutnya, Oma mengajak saya sarapan di warung soto Mbak Pur. Soto di warung ini disajikan dengan piring, nasi tidak terlalu banyak, potongan daging sapi, kuah kuning yang encer, ditambah satu potong paru. Dagingnya empuk, kuahnya masih panas, semua terasa pas dan nikmat di indera perasa. Ini adalah soto kesukaan saya, setelah soto buatan Ibu.

Berikutnya, giliran Opa yang memanjakan saya. Opa suka mengajak saya ke Blora untuk makan sate ayam. Pukul tiga sore, kami biasanya meninggalkan Rembang menuju Blora. Kami sampai di sana tepat ketika bapak penjual sate baru membakar arang. Saya bisa menghabiskan sekitar dua puluh tusuk sate kulit ayam dan sepiring nasi. Walaupun di Jakarta banyak yang menjual sate Blora, rasa rindu baru terobati saat makan di daerahnya langsung.

Setelah sate, makanan penutup kesukaan saya adalah serabi. Rumah si penjual ditandai dengan botol kaca hitam yang ditaruh di tembok depan rumahnya. Serabi di sini masih dibuat dengan cara tradisional, yaitu dengan tempat dari tanah liat dan kayu bakar. Dijual Rp500,00 untuk satu tangkup (dua buah serabi), dibungkus dengan daun pisang, ditambah kuah santan. Selain makan di tempat, Opa biasanya membawa pulang beberapa tangkup serabi agar saya bisa makan di rumah.

Namun, liburan menyenangkan di rumah Opa dan Oma bukan hanya soal dimanja. Rumah itu luas sekali, karena harus bisa mengakomodasi keluarga di masa lampau yang jumlah anggotanya bisa mencapai puluhan orang, sehingga saya bisa jumpalitan sana-sini tanpa terbentur tembok atau barang lainnya. Saya suka kejar-kejaran dengan adik saya sambil naik sepeda atau adu bermain lompat tali. Saya suka mengganggu anjing peliharaan Opa dan Oma yang sedang berjemur atau bertanya dengan bawel tentang tanaman hias Oma yang beragam jenisnya.

Rumah itu juga menyimpan sejuta barang antik yang tidak saya temui lagi di Jakarta. Saya membantu Mbak Rum menimba air dari dalam sumur untuk mencuci baju. Saya membantu Oma di lumbung kecap untuk menempel cap kertas pada botol kecap yang hendak dijual. Saya iseng berdiri di atas timbangan dan meminta Mbak Rum untuk mengukur berat saya dengan mengatur biji kuningannya. Saya mandi cepat-cepat karena takut dengan ukuran kamar mandi yang bisa dimasuki lebih dari sepuluh orang.

Saya tidak pernah kehabisan aktivitas di rumah itu. Mungkin itu salah satu alasan saya selalu menantikan liburan sekolah di bulan Juni, selalu menantikan pintu pagar rumah itu dibuka, selalu menantikan untuk menginjakkan kaki di rumah itu. I’ll do it all over again if it’s possible.

***

Atas setiap kunjungan ke rumah itu saat liburan sekolah, saya berhasil melukis masa kecil yang menyenangkan.

Rumah di Jalan Diponegoro nomor 31, Rembang sekarang bukan lagi milik Opa dan Oma saya. Rumah itu dijual beberapa tahun yang lalu kepada pasutri yang baru menikah.

 

LANGITKU

Aku senang,
dengan rutinitas kita di senja hari

Aku akan berkata:
“Lihatlah langitku. Senja ini ia berwarna, paduan antara jingga, merah jambu, biru, dan nila. Banyak sekali bukan?”

Lalu kamu akan membalas:
“Ah sudah biasa. Lihatlah langitku. Biru terang, dengan sedikit jingga, ada bintangnya pula!”

Kita membandingkan langit,
langitku dan langitmu

Betapa angkuhnya,
mengaku itu langit kita

Padahal langit,
hanya melintas di depan rumah kita

(Commuter Line Jakarta Kota, 23 Desember 2016)

RAHASIA OPA & OMA DI LASEM

Bukan sembarang rahasia, bukan pula sembarang opa dan oma yang menyimpannya. Karena rahasia dan para sesepuh inilah yang menghidupi Lasem hingga kini.

*

Setiap gang diisi oleh rumah-rumah dengan pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya. Ketika pintu itu saya ketuk, seorang opa atau oma akan membukanya, diiringi sapaan dalam bahasa Jawa dan senyuman ramah seolah menyambut kedatangan si cucu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Pintu bertuliskan puisi dalam aksara Cina sebagai bentuk harapan bagi rumah dan penghuninya
Saya dijamu di ruang tamu di rumah utama, yang memungkinkan saya untuk melihat isi rumah itu. Perabotan rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu jati dan belum pernah diganti sejak rumah itu didirikan ratusan tahun yang lalu. Meja besar menyerupai altar untuk sembahyang, biasanya ada patung dewa, foto orang terkasih yang telah meninggal, makanan persembahan, dan hio di atasnya. Foto-foto hitam putih yang dibingkai dan digantung di dinding, mulai dari foto keluarga besar hingga foto tiap anggota keluarga. Seisi rumah itu bercerita tentang penghuninya yang sudah turun-temurun.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ruang untuk menyambut tamu yang terletak di rumah utama
Opa sudah berapa lama tinggal di sini? Oma tinggal di sini sejak kapan? Ada yang menjawab dengan tahun, ada yang menjawab dengan angkatan generasi. Ada yang memang mewarisi rumah itu, ada yang hanya diberi amanah untuk menjaga rumah itu. Kemudian, para opa dan oma akan lanjut bercerita. Ada opa yang sudah pikun dan bertanya saya menginap di mana hingga tiga kali, tapi beliau bisa menceritakan dengan jelas ingatannya akan orang yang nyeret candu di depan rumahnya. Ada oma yang sudah menjaga vihara (dulunya digunakan sebagai rumah) sejak tiga puluh tahun yang lalu, termasuk menjaga anjing-anjing miliknya agar tidak menggonggong ketika shooting acara uji nyali di vihara itu. Ada oma yang hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya dan sewaktu saya datang ke rumahnya, beliau curhat sambil memarahi adiknya yang tidak “laporan” saat pergi ke rumah tetangga. Ada opa yang mengizinkan rumahnya digunakan sebagai tempat pernikahan penjaga rumahnya dan menggantung foto beliau bersama kedua anak si penjaga rumah di ruang tamu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kalau Opa bosan di rumah, biasanya beliau akan “nongkrong” di bale-bale seberang rumahnya
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma yang menjaga dan membersihkan vihara sejak tiga puluh tahun yang lalu
Processed with VSCO with hb2 preset
Oma tetap cantik dengan daster ungunya
Processed with VSCO with hb2 preset
Bapak penjaga rumah yang senyum-senyum melihat foto kedua anaknya bersama Opa pemilik rumah
Saya senang mendengar cerita-cerita itu karena menggambarkan seperti apa kota ini puluhan tahun yang lalu: saudagar-saudagar Tionghoa dengan usahanya yang sukses, para lelaki yang bebas nyeret candu di pinggir jalan, para ibu yang menggowes sepeda onthel menuju tempat membatik. Walaupun banyak yang diceritakan, jelas tetap ada yang belum terungkap. Entah karena kapasitas ingatan opa dan oma yang tidak lagi memadai atau karena belum pantas diceritakan pada pertemuan pertama. Entah kesepakatan macam apa pula, yang tidak bisa saya terjemahkan sendiri, yang pernah terjadi hingga para opa dan oma begitu setia dengan rumah dan kota ini, padahal mereka bisa membuat keputusan lain untuk pindah. Yang belum terungkap inilah, yang kemudian menjadi rahasia.

Segelas air putih, teh, atau sirup yang telah habis menandakan usainya cerita karena para opa dan oma harus beristirahat. Pamitan saya pun selalu dibalas dengan, “Main-main lagi ke sini kalau ke Lasem.”

*

Processed with VSCO with hb2 preset
Lasem yang tua dan sunyi

Lasem hari ini adalah kota yang tua dan sunyi, namun segudang rahasia tersimpan di ingatan para penghuninya dan membekas di tembok-tembok kota ini. Biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, biarlah rahasia tetap berada di Lasem, biarlah Lasem hidup.

THAILAND: BELAJAR PADA KETIDAKPASTIAN

Saya pernah menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai kotak nyaman pertama dan kotak nyaman kedua. Ketika saya bosan dengan rutinitas atau kotak nyaman pertama, saya akan keluar dari kotak itu dan mulai membentuk kotak nyaman kedua melalui proses jalan-jalan.

Kemudian, seorang teman berkata, “Ah, dasar lo analoginya kotak-kotak. Keluar dari yang satu, tetap saja dibatasi sama kotak lainnya. Lebih bebas dong kalau jalan-jalan.”

Analogi kotak-kotak awalnya merupakan analogi asal-asalan yang saya buat karena hanya ingin menggambarkan bahwa proses jalan-jalan adalah cara saya untuk keluar dari kotak nyaman keseharian saya. Namun, apa yang teman saya katakan ada benarnya juga. Itulah saya selama ini, selama menjalani proses jalan-jalan. Penuh jadwal dan perhitungan. Penuh kepastian.

Jadi, bagaimana menjalani proses jalan-jalan dengan bebas? Jalan-jalan ke Thailand kurang lebih telah menjawabnya.

***

Perjalanan kemarin adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Thailand. Pertama kalinya pula, hanya pergi berdua dengan adik saya. Kami menyusun itinerary jauh sebelum hari keberangkatan, memesan apapun yang bisa dipesan lewat internet, berharap semua serba aman dan pasti selama perjalanan ini berlangsung. Tapi, toh, ada saja yang tidak berjalan sesuai rencana.

Di hari kedua, kami mengunjungi Santorini Park di Cha Am, sekitar tiga jam dari Bangkok. Menuju Cha Am, hampir semua aman terkendali. Kembali dari Cha Am, adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami ketika jalan-jalan: kami tidak tahu harus pulang naik apa.

Processed with VSCO with a6 preset
Santorini Park dominan dengan warna biru seperti ini
Processed with VSCO with a6 preset
Tempat ini sangat bagus sebagai spot untuk berfoto

Cha Am bukanlah kota tujuan utama wisata, ia hanya kota yang dilewati ketika para wisatawan ingin menuju kota wisata Hua Hin. Oleh karena itu, kami tidak menemukan transportasi umum, kecuali taksi yang harus di-charter dengan harga tidak terjangkau. Tidak ada pula halte atau terminal bus untuk menemukan mini van kembali ke Bangkok. Setelah bertanya sana-sini, kami dianjurkan untuk menyeberang jalan dan memberhentikan mini van menuju Bangkok yang lewat di jalan itu. Kami bingung dengan anjuran tersebut. Bagaimana cara menyeberang di jalan besar dengan setiap detiknya ada truk beroda lebih dari enam yang lewat. Benarkah kami boleh menyeberang begitu saja padahal tidak ada zebra cross maupun lampu merah untuk penyeberang jalan.

Processed with VSCO with a6 preset
Jalan besar yang kami seberangi untuk memberhentikan mini van menuju Bangkok

Akhirnya, kami mengabaikan semua kebingungan, menyeberangi jalan itu sambil berharap tidak ditabrak oleh truk-truk yang rodanya saja lebih besar dari tubuh kami. Sampai di seberang, kami mulai melambaikan tangan pada setiap mini van yang lewat.
“Kok itu kosong tapi gak mau berhenti sih?”
“Kayanya itu mini van pribadi deh. Carinya mini van yang banyak stikernya.”
“Dek, ini nyalain lampu, nyamperin ke sini nih!”
Iya, malam itu kami tidak harus menunda kepulangan menuju Bangkok.

Memberhentikan mini van di pinggir jalan besar adalah sesuatu yang baru pertama kali saya lakukan dan baru pertama kali saya rasakan. Setelah biasanya hanya turun-naik dari mobil sewaan ketika jalan-jalan, kini saya harus menarik perhatian sebuah mini van untuk menyelamatkan hari-hari berikutnya selama perjalanan di Thailand. Perasaan bingung, panik, deg-degan, takut, semua bercampur jadi satu. Lalu, ketika sebuah mini van menyalakan lampunya ke arah saya dan adik saya, berhenti di depan kami, dan sang supir mengiyakan pertanyaan saya, “To Bangkok?” semua perasaan tadi hanya bisa luruh menjadi sebuah senyum kelegaan. Itu rasanya ternyata, mengubah sebuah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti.

Processed with VSCO with a6 preset
Sukhumvit Rd di malam hari

Lima hari selanjutnya, saya tidak menolak datangnya ketidakpastian sehingga bisa menggenggam lebih banyak kebebasan. Jalan-jalan tanpa tujuan untuk melihat kehidupan malam di Sukhumvit Rd, di mana beberapa perempuan “dipajang” di depan bar, tempat massage, dan japanese karaoke guna memancing kedatangan pengunjung. Berjalan kaki dari Ao Nang Beach menuju hotel selama satu jam, bukannya naik taksi, lalu saya jadi bisa membeli es krim dan mengamati bulan purnama malam itu.

 ***

Saya membenarkan apa yang dikatakan oleh teman saya. Saya tidak lagi menganalogikan proses jalan-jalan sebagai sebuah kotak, melainkan bentuk abstrak yang mendefinisikan kebebasan atau tanpa batas. Kebebasan itu bisa tercipta dengan membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian.

Mengagungkan kepastian adalah hal yang wajar, saya salah satu penyembahnya dan mendapatkan banyak keuntungan dari itu. Namun, saya belajar bahwa ketidakpastian adalah tuan yang baik pula. Ia menyadarkan, kepanikan yang menguasai saya justru menjerumuskan saya dalam masalah yang lebih dalam, bukan menyelesaikannya. Ia mengajarkan, untuk mengolah setiap pergulatan rasa agar disyukuri dan diubah menjadi rasa senang. Ia merendahkan hati, karena segala jenis ekspektasi dan kemungkinan apapun bisa terjadi pada saya. Terakhir, ia mengingatkan, agar saya percaya.

Bagi saya, sulit untuk membiarkan diri saya berada dalam ketidakpastian, setelah selama ini selalu menjalani yang pasti-pasti saja. Akan tetapi, atas semua pembelajaran yang telah diberikan ketidakpastian, bahkan dalam satu kejadian saja, saya ingin mencoba lebih banyak berada dalam ketidakpastian perjalanan.

Mungkin di perjalanan selanjutnya, saya tidak perlu membuat itinerary. Hmm semoga bisa.

Processed with VSCO with a6 preset
Cheers to more uncertainty in the future!

Saya menganalogikan rutinitas dan jalan-jalan sebagai dua bentuk yang berbeda. Rutinitas adalah sebuah kotak nyaman, sedangkan jalan-jalan adalah sesuatu yang abstrak. Bukankah saya bosan dengan rutinitas karena banyak garis batas dalam kotak itu? Jadi, saya akan keluar dari kotak nyaman untuk merasa bebas dengan garis batas yang hampir tiada melalui proses jalan-jalan.

THAI ICED TEA, PLEASE!

Minggu lalu saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya! Walaupun hanya satu minggu, juga baru mengunjungi Bangkok dan Krabi, tetap ada beberapa hal yang akan saya ingat dari negara bersimbol gajah ini.

(Klik foto-foto di bawah ini jika ingin melihat foto dengan ukuran yang lebih besar.)

***

Thailand is the land of street food.

Hampir di setiap sudut jalan, mulai dari sore hingga malam hari, saya menemukan jejeran gerobak dan kios yang menjual berbagai jenis jajanan. Yang menjadi favorit saya adalah daging bakar (baik ayam maupun babi, baik disate maupun dibakar begitu saja dan dipotong kecil-kecil) di bawah Phrom Phong BTS Skytrain Station dengan kisaran harga 10-60 baht. Dagingnya besar, sangat empuk, dan berlemak. Hanya dikecapi lalu dibakar, tetapi rasanya sangat meresap ke dalam daging. Jangan takut dagingnya sudah dingin karena akan dihangatkan atau dibakar kembali ketika kita datang membeli.

Selain di pinggir jalan, saya juga mencoba beberapa jajanan khas Thailand di Rod Fai Night Market (di belakang Esplanade). Salah satu jajanan yang saya coba adalah belalang goreng! Awalnya, saya enek memakannya karena bentuknya masih berupa belalang, namun ternyata rasanya renyah, seperti kulit ayam goreng (cukup mencoba saja, belalang goreng belum menjadi jajanan favorit saya..). Untuk menemukan kios yang menjual belalang goreng, saya perlu berjejalan di antara kios-kios makanan dan pernak-pernik yang sangat sempit jaraknya, tapi justru menambah keseruan berburu jajanan di night market ini. Akhirnya, untuk menghapuskan rasa dahaga dan kepanasan setelah berjejalan, saya membeli thai iced tea dengan ukuran gelas yang amat sangat besar. Walaupun kelihatannya berisi banyak, 70% dari gelas itu adalah es batu (yang melipatgandakan kesegaran thai iced tea yang saya beli malam itu).

*

Koh Hong gave me sunburned face.

Saya bermain-main ke pantai di daerah Ao Nang, Krabi. Dari sini, saya menyeberang dengan perahu ke Koh Hong. Pulau ini sangat menakjubkan bagi saya karena dikelilingi tebing-tebing tinggi dan air biru yang sangat jernih, langit cerah hari itu juga menambah keindahan pulau ini.

Ada beberapa pilihan aktivitas di Koh Hong, salah satunya bermain kayak. Instruksi selama lima menit bisa membuat saya mengayuh kayak keliling pulau, namun seluruh otot di tangan harus bekerja karena mengayuh kayak (bagi saya seperti menyingkirkan air laut) sangatlah berat. Karena baru pertama kali bermain kayak, ritme mengayuh saya dan adik saya pun perlu disamakan secara manual, “Kanan, kiri, kanan, kiri, Dek kiri dulu Dek, mau nabrak tebing nih!” Selain bermain kayak, wisatawan juga bisa berenang, snorkeling, atau sekadar berjemur di pantai.

Bermain kayak jam dua belas siang, jadilah muka saya berwarna merah terbakar matahari.

*

Helpful Thai people I met along the way.

Jarang sekali saya menemukan orang Thailand yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, aksen yang mereka miliki kurang mendukung untuk berbahasa Inggris sehingga kurang bisa saya pahami juga. Namun, setiap kali ditanya tentang jalan, tempat, atau transportasi, mereka sebisa mungkin membantu saya, baik dengan bahasa Inggris seadanya maupun dengan bahasa tubuh. Seperti percakapan yang terjadi antara saya dengan seorang ibu ketika bertanya soal keberadaan mini van ke Cha Am.

Mini van to Cha Am?” tanya saya kepada sang ibu setelah disuruh dua orang supir mini van yang tidak menuju Cha Am.
Ibu itu menggumam dalam bahasa Thailand dan raut wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir bagaimana harus menjawabnya dalam bahasa Inggris.
“Bus… Sai Tai Mai…” jawab ibu itu dengan bingung.
“Hmm?” saya kembali bertanya karena kurang jelas dengan jawaban ibu itu.
“Ya, Sai Tai Mai,” jawab ibu itu kembali meyakinkan.

Ternyata, setelah  mencari di Google, maksud ibu itu adalah saya harus menuju Sai Tai Mai, terminal bus di Bangkok, untuk menemukan mini van menuju Cha Am (dan saya berhasil sampai di Cha Am atas petunjuk ibu yang sangat membantu itu).

*

Everyone should visit Bangkok Art and Culture Centre!

Saya kira Bangkok Art and Culture Centre adalah art gallery seperti pada umumnya, tapi setelah memasuki dan melihat setiap lantainya, saya baru mengerti arti kata centre pada namanya. BACC tidak hanya berupa art gallery, tapi ada juga toko-toko yang menjual barang-barang kreatif serta tempat untuk launching buku dan workshop seni. Kemudian, di lantai-lantai teratasnya, ada sepuluh lantai di sini, barulah berisi pameran-pameran seni sementara.

Ketika saya berkunjung ke sana, sedang berlangsung pameran seni The Philosophy of Instructions karya Erwin Wurm. Ia hanya meninggalkan satu atau beberapa benda beserta instruksi bagaimana pengunjung harus memperlakukan benda-benda tersebut agar bisa menjadi instalasi tersendiri. Saya pun mencoba instruksi “roast yourself under the sun of Epikur” dan menaruh kepala saya di bawah sebuah lampu. Tadaa jadilah saya sebuah instalasi seni!

*

Thank you, my gondrong brother.

Adik saya adalah satu-satunya orang yang saya kenal selama perjalanan ke Thailand ini. Terima kasih sudah mengiyakan tawaran saya untuk berlibur bersama, sudah membantu menyusun itinerary yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sudah menemani tujuh hari kemarin dengan pertengkaran kecil dan berdamai lagi setelah membeli jajanan, dan sudah-sudah lainnya.

Selamat kembali kuliah dan menggondrongkan rambut, Dek!

***

Mari menyesap thai iced tea sambil membayangkan Chiang Mai yang belum kesampaian..